
"James, lokasimu sudah saya konfirmasi. Satu unit ambulans akan segera sampai ke lokasimu dalam satu menit!" ujar Siska yang berhasil menemukan lokasi milik James melalui peta digital pada layar monitor di Kantor Pusat.
"Baik, dimengerti !" jawab James melalui radio.
Siska ditugaskan oleh Prawira untuk mengawasi komando pusat dari Kantor Polisi Pusat. Tugas yang diamanahkan kepadanya adalah tugas yang memiliki peran sangat penting dalam rantai komando. Karena ia memantau semua pergerakan dari semua anggota polisi yang sedang bertugas, melalui layar monitor pada ruang pemantauan di Kantor Pusat.
Tugas itu juga dibuat oleh Prawira dengan tujuan untuk merombak ulang serta memperkuat kembali sistem rantai komandonya. Prawira sendiri juga telah membuat aturan baru serta menerapkan terobosan baru kepada seluruh anggotanya.
Masing-masing anggota polisi dari semua divisi di saat mereka bertugas. Prawira telah mewajibkan secara tegas dan keras, untuk tidak melepas alat pelacak yang terpasang pada seragam, rompi, dan perlengkapan yang mereka pakai selama bertugas.
Alat pelacak tersebut sudah langsung terhubung oleh satu layar monitor yang sangat besar di ruang pemantauan Kantor Polisi Pusat.
"Eagle Eye 01 izin melaporkan dari udara sekitar perbukitan kota perbatasan antara Metro dan Shandy Shell."
.
"Sejauh mata memandang, ciri-ciri dari pelaku yang disebutkan ... terpantau negatif pengelihatan!"
"Baiklah, saya minta untuk berpatroli selama dua jam ... di sekitar kota sampai perbatasan, Eagle Eye 01!" titah Prawira yang suaranya terdengar sangat jelas di radio.
"Ten-Four !" jawab pilot dari helikopter yang mendapatkan tugas tersebut dengan lantang.
"Siska, terus pantau, ya !" titah Prawira melalui radio kepada Siska yang masih terus mengawasi layar monitor di hadapannya.
.
"Kalau ada masalah ... langsung saja hubungi saya ...!" lanjutnya.
"Baik, Pak!" sahut Siska dengan menekan tombol radio yang ia pegang, dan duduk santai di kursi miliknya.
~
"Huh ...," Siska menghela napas panjang dan terlihat mulai bosan dengan tugas yang diberikan kepadanya. Namun ia tidak bisa meninggalkan tanggung jawab tersebut begitu saja.
"Nadia apa kabar, ya ...?" gumamnya yang tiba-tiba teringat oleh salah satu sahabatnya yang dahulunya adalah seorang anggota dan sama sepertinya, serta dalam satu divisi yang sama.
Tok ... Tok ... Tok ...!
Tiba-tiba pintu dari ruang kerja miliknya terdengar diketuk oleh seseorang dari luar. Siska pun segera membukakan pintu tersebut, dan melihat siapa yang ingin menemuinya.
Kreeekkk ...!
"Netty ? Ada apa ?" Siska cukup terkejut tiba-tiba rekannya yaitu Netty berdiri di depan pintu ruangan dengan kedua tangan penuh dengan camilan kentang goreng dan minuman.
Saat pintu tersebut dibukakan oleh Siska. Netty bisa melihat secara langsung ekspresi wajah milik Siska yang mulai bosan dan lelah dengan tugas serta amanahnya.
"Silakan masuk aja !" lanjut Siska yang mempersilakan Netty untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Nih ! Aku bawakan camilan dan minuman !" cetus Netty saat melangkah memasuki ruangan, dan lalu memberikan salah satu camila dan minumnya itu kepada Siska.
"Oh, terima kasih banyak," jawab Siska setelah menerimanya tersebut.
Netty berjalan dan duduk di salah satu kursi pada ruangan tersebut. Ruang pemantauan yang sekarang menjadi ruang kerja milik Siska itu tidaklah terlalu besar dan luas, karena hanya ada beberapa layar monitor dan peralatan sejenisnya di ruangan itu.
"Bagaimana ... pekerjaanmu ?" tanya Netty kepada Siska sembari memakan kentang goreng miliknya.
"Jujur ... aku mulai bosan," jawab Siska dengan nada yang sangat datar sesaat setelah menggeser dan lalu duduk di kursi miliknya.
"Hehehe ..., aku tidak heran kok," Netty tertawa kecil setelah mendengar jawaban langsung itu.
"Memang ... jika terus bekerja di dalam ruangan itu sangat bosan dan melelahkan, dibandingkan terjun langsung ke lapangan. Begitu pula sebaliknya, bukan ?" tutur Netty.
"I-iya, sih ...," jawab Siska.
"Sebenarnya sistem seperti ini itu sudah ada dari dahulu, mungkin ... saat kamu masih akademi," cetus Netty.
Mendengar ucapan tersebut, membuat Siska sedikit terkejut walau dirinya sendiri juga sudah menduga hal tersebut.
"Lalu ... siapa yang mendapatkan tugas sepertiku ini ...?" pertanyaan itu langsung tercetus di kepala Siska dan lalu menanyakannya kepada Netty.
Netty pun menjawab dan lalu sedikit menceritakan siapa orang yang pernah mendapatkan tugas yang sama seperti rekannya itu.
"Tentu ada, dia anggota wanita juga, sama sepertimu, Siska."
"Siapa ? Aku tidak tahu soal itu, sih ...," sahut Siska dengan ekspresi penuh pertanyaan.
"Menurutku ... dia adalah salah satu anggota yang hebat, aku jarang sekali ... bahkan belum pernah melihat dia memasang ekspresi lelah atau mengeluhnya dengan tugas yang diberikan kepadanya."
"Semua tugas ? Atau hanya tugas ini saja ?" cetus Siska saat mengunyah kentang goreng miliknya, dan terlihat cukup kagum dengan orang yang diceritakan oleh Netty.
"Iya juga, aku belum pernah melihatnya muak atau mengeluh dengan semua tugas yang diberikan kepadanya," jawab Netty saat mengingat-ingat kembali orang yang ia maksudkan itu.
"Woah ...!" Siska tertegun setelah mendengar jawaban tersebut. Sikap dan ekspresi kekanak-kanakannya sangat terlihat di raut wajahnya yang sangat cantik itu.
Netty sendiri memakluminya jika Siska mengeluh atau terlihat begitu kelelahan dengan tugas membosankan itu. Namun dirinya juga salut dengan rekannya itu, yang sekaligus sudah menjadi saudara angkatnya dalam keluarga besar miliknya. Karena diusianya yang cukup muda yaitu 19 tahun, Siska sudah berhasil dan sukses menjadi seorang anggota polisi, seperti dirinya.
Saat melihat ekspresi Siska yang cukup terlihat kekanak-kanakan itu. Netty justru teringat dengan seseorang yang ingin ia ceritakan kepada rekannya itu. Dirinya sangat melihat adanya kemiripan antara Siska dengan seseorang yang ingin ia ceritakan ini.
Netty tiba-tiba hanyut dan tenggelam dalam lamunannya dengan kedua matanya yang terus memandangi wajah cantik milik Siska.
"Kenapa melihatku seperti itu ?" cetus Siska saat menyadari Netty terus memandanginya dengan tatapan kosong.
.
"Ayo, lanjut ! Aku ingin tahu siapa orang itu !" lanjutnya dengan nada dan ekspresi cukup bersemangat.
DEG.
__ADS_1
"Eh ?!"
Netty terkejut setelah disadarkan dari lamunannya itu, dan lalu mulai kembali menceritakan tentang seseorang yang ia maksudkan.
"Sampai mana tadi ?" cetus Netty dengan kembali mengingat sampai mana obrolannya.
"Ish ...!" gusar Siska yang terlihat sedikit kecewa.
"Oke, oke, aku ingat !" sahut Netty yang lalu mulai kembali bercerita.
Netty pun mulai bercerita tentang seseorang yang ia maksudkan itu kepada rekannya, Siska. Siska sendiri terlihat sangat bersemangat saat mendengarkan Netty bercerita kepadanya. Ia terus saja memakan satu-persatu kentang goreng miliknya, saat mendengarkan Netty bercerita.
...
10 menit kemudian...
Setelah Netty sedikit menyingkat ceritanya, dan menceritakan semua tentang orang yang ia maksudkan itu. Siska malah terlihat memasang ekspresi wajah cukup kesal kepadanya, karena ia masih saja tidak diberitahu siapa nama dari orang yang dimaksud oleh Netty.
"Ya ... begitulah, dia orangnya sangat periang, penyabar, dan ramah kepada siapapun."
.
"Di sisi lain ... dia juga memiliki paras yang sangat cantik dan imut," lanjut Netty dengan terus memandangi wajah milik Siska yang duduk di hadapannya.
"Aku dari tadi belum mendengar nama, loh !" gusar Siska.
.
"Cepat beritahu aku ! Siapa namanya ?" lanjutnya.
"Oh iya, hehehe ...," sahut Netty yang lalu malah tertawa kecil saat melihat reaksi dari Siska yang kelihatannya cukup kesal.
"Siapa namanya ?" tanya Siska kembali
.
"Rasanya aku ingin berkenalan dengannya !" lanjutnya.
"Baik, baik, aku beritahu namanya, ya ..?" sahut Netty.
Siska pun terlihat sangat menunggu Netty untuk menyebutkan nama dari orang yang diceritakan itu.
"Dia adalah ... Nadia ...."
"Menurutku ... dia memang wanita yang hebat !" lanjut Netty dan lalu tersenyum sendiri.
DEG.
Seketika itu membuat Siska sangat terkejut saat mendengar nama yang diberitahukan kepada dirinya itu. Di sisi lain, dirinya juga terlibat sangat senang saat dapat mendengar nama itu kembali.
"Nadia ?!" sahut Siska dengan ekspresi sangat terkejut.
Siska tiba-tiba tersenyum sendiri setelah mendengar nama tersebut, dan menjawab, "iya. Dia senior ku saat masih akademi, dan satu-satunya senior terbaik yang pernah aku kenal," jawabnya dengan nada sungguh lembut.
.
"Bahkan ... aku sudah menganggapnya sebagai saudara sendiri. Tetapi mungkin ... dia tidak menyadarinya, karena aku mulai jarang berbincang dengannya saat setelah dilantik anggota, dan juga ... aku tidak memberitahukannya," lanjutnya
"Oh, begitu ya ?" sahut Netty dengan memegang salah satu pundak milik Siska.
"Rasanya ... aku ingin bertemu dengannya lagi, setelah ... aku sekarang tidak melihat dan mengetahui keberadaannya," ucap Siska dengan menatap kedua mata milik Netty di hadapannya.
.
"Aku juga ingin membuat dia sadar, bahwa ... dia tidak selalu sendiri, dan juga ... dia mempunyai aku yang sudah menganggapnya sebagai saudara sendiri," lanjutnya dengan sedikit tertunduk saat mengatakannya.
Netty dibuat tertegun dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah, dan sangat terasa hangat dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Siska kepadanya.
Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Siska. Netty pun menanggapinya dengan mengatakan, "mungkin ... aku bisa menyarankan, kalau Prawira bisa saja membantumu ...," ujarnya yang lalu tersenyum kepada rekannya itu.
Mendengar saran dari rekan sekaligus atasannya itu. Siska pun terlihat sangat senang dan bahagia setelah mendengarnya. Ia juga terlihat sangat bersemangat dan tidak sabar ingin bertemu dengan Nadia kembali.
"Ya sudah kalau begitu. Aku kembali ke ruanganku dahulu, ya ?" cetus Netty saat bangkit dari duduknya dan lalu melangkah keluar ruangan.
"Baik, terima kasih banyak sebelumnya," ujar Siska kepada Netty yang lalu berjalan keluar dari ruang kerjanya.
...
Setelah rekan sekaligus atasannya itu pergi dari ruang kerjanya. Siska semakin tidak bisa berhenti memikirkan tentang kabar dan kondisi dari Nadia, yang tidak ia ketahui selama ini keberadaannya.
"Aku menyesal ... karena tidak memberitahumu satu hal, Kak Nadia," gumam Siska dengan mendongak menatap ke arah langit-langit ruangan.
.
"Tetapi, aku akan mencarimu dan kembali bertemu denganmu, Kakak !" lanjutnya yang lalu senyum-senyum sendiri setelah mengatakannya.
.
~
.
Wiu ... Wiu ... Wiu ... !
Suara sirine dari mobil polisi dan amulans terdengar sangat jelas sepanjang perjalanan menuju ke Rumah Sakit Pusat. Mobil ambulans tersebut membawa seorang korban yang mendapatkan luka tembak, yang ternyata orang yang dikenal oleh James.
.
__ADS_1
...
.
Beberapa waktu sebelumnya...
"Tolong ...! Siapapun ... kumohon ... tolong ...!" teriak seorang wanita yang juga menjadi korban dari intimidasi para kelompok berpakaian hitam itu.
Terlihat seorang wanita itu tengah memangku seorang laki-laki yang kelihatannya mengalami luka tembak di tangan dan kakinya. Wanita itu terlihat menangis saat memangku korban laki-laki yang terkena luka tembak dan sudah cukup bersimbah darah.
James yang tidak jauh dari lokasi kejadian pun segera berlari dan memberikan pertolongan pertama kepada korban yang mendapatkan luka tembak itu.
DEG.
"Adam ?!" cetus James terkejut.
"Ugh ...," Adam berkali-kali merintih kesakitan dengan sudah mulai banyaknya darah yang mengalir keluar dari luka tembaknya di tangan dan kaki. Ia terlihat hanya terbaring lemas di pangkuan Sasha yang panik melihat kondisi Adam.
"James, kumohon ... tolong Adam !" titah seorang wanita yang ternyata adalah Sasha orang yang juga James kenal.
"Jangan banyak bergerak ! Aku akan tahan pendarahannya !" titah James kepada Adam yang terlihat sudah mulai bersimbah darah di tangan kanan dan kaki kirinya.
Dengan sesuai dengan apa yang dipelajarinya selama akademi sebelum dilantik menjadi anggota. James pun mulai berusaha menutup dan mencoba untuk menahan pendarahannya sebisa mungkin.
Adam terlihat sudah sangat lemas karena pendarahan yang terjadi pada luka tembak di tangan dan kakinya. Ia juga terlihat sangat tersiksa saat menahan kesakitan yang dirasakannya.
Dari kejauhan pun terlihat lima anggota polisi yang dikirim oleh Prawira, akhirnya sampai ke lokasi dan mulai mengamankan lokasi kejadian serta korban selamat. Keempat anggota polisi tersebut langsung membuat perimater untuk mengamankan lokasi kejadian, dan satu diantaranya berlari menghampiri James yang bersama kedua korban.
"Nona, apakah anda baik-baik saja ?" tanya salah satu anggota polisi yang menghampirinya James dan kedua temannya yang menjadi korban.
"Sa-saya tidak terluka, tetapi teman saya ...," jawab Sasha dengan pandangan terus memandangi Adam yang terbaring tak berada dalam keadaan darah di mana-mana.
Wiu ... Wiu ... Wiu ...!
Suara sirine ambulans pun akhirnya terdengar dan mendekat. Para petugas medis itu pun langsung turun dari ambulans untuk memindahkan Adam ke dalam ambulans.
"Hei, kau ! Segera amankan wanita itu ke kantor dan mintai keterangannya !" titah James kepada salah satu anggota polisi yang berjaga di perimater.
"Baik, Pak !" sahut anggota tersebut.
"Adam bagaimana ?!" cetus Sasha dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.
"Dia akan baik-baik saja ! Percayalah !" sahut James yang lalu naik ke ambulans.
.
"Setelah kamu memberikan keterangan, kamu bisa langsung saja ke rumah sakit !" lanjutnya sesaat sebelum pintu ambulans itu tertutup.
James yang terus menahan pendarahan pada luka tersebut pun ikut dengan Adam di dalam ambulans, serta menemani temannya itu yang terlihat sangat lemas tidak berdaya dengan darah yang membanjiri pakaiannya.
...
Dengan kedua tangan terus sibuk menahan darah yang terus saja keluar dari kedua luka milik Adam. Di dalam ambulans James berkata, "bertahan, Dam ! sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit !" ucapnya dengan melihat Adam yang mulai lemas karena sudah cukup banyak darah yang keluar.
"James," gumam Adam dengan merintih kesakitan.
.
"To ... tolong ... beritahu ... Berlin ... soal ini ...!" lanjutnya dengan sedikit menarik seragam polisi milik James.
"Baik, aku akan beritahu dia setelah sampai rumah sakit !" sahut James yang terlihat cukup tidak kuasa menahan air matanya saat mengetahui korban tersebut adalah temannya sendiri.
"Berlin ... tidak mengetahui ... kalau ... saat ini ... dia sedang dicari ... oleh ... orang-orang itu ...," ucap Adam dengan nada yang sangat lemas dan sangat terpatah-patah karena sambil menahan rasa sakit luar biasa pada luka miliknya.
Sesampainya di rumah sakit, Adam pun langsung dilarikan menuju ke ruang operasi guna mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
.
...
.
Di sebuah kamar mandi laki-laki rumah sakit, dan di depan wastafel serta kaca cermin. James benar-benar terlihat tidak tenang setelah apa yang terjadi di depan matanya. Lantaran ia melihat dengan jelas semua kejadian dan kronologi dari sebelum Adam menjadi korban luka tembak.
Namun saat James melihat jumlah mereka yang sangat banyak dan beberapa kali menodongkan senjata api ke arah warga sekitar. Ketakutan seketika menyelimuti dirinya dan membuat dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, dan itu membuat dirinya menjadi sangat pasif serta memilih untuk keselamatan banyak orang di sekitarnya.
Saat James merenungkan dirinya, ia terus teringat kronologi di mana Adam dan Sasha mendapatkan perlakuan yang kurang enak dari orang-orang itu. Cekcok sempat terjadi antara lima orang lebih dengan Adam dan juga Sasha yang berusaha menutupi sesuatu dari mereka semua.
Namun sepertinya orang-orang itu tidak terima dan tidak lama kemudian suara tembakan pun terdengar dua kali, serta disaksikan sendiri oleh James kalau ternyata temannyalah yang menjadi korban dari dua tembakan yang keluar.
BUK ...!
James yang terlihat kesal dengan dirinya sendiri pun mulai untuk meluapkan kekesalannya, saat ia berada di kamar mandi rumah sakit. Beberapa kali juga ia memukul wastafel dan dinding di sampingnya saat menendangi wajahnya sendiri dari kaca cermin.
"Sial, kau itu anggota ! Kau itu polisi ! Kenapa kau takut dengan mereka walau sebanyak itu ?!" James meluapkan kekesalannya kepada dirinya sendiri melalui cermin.
"Nyawanya terancam, James ! Dan nyawa itu ternyata adalah nyawa temanmu sendiri ?!" gusarnya kembali yang lalu membasuh bercak darah milik Adam pada kedua telapak tangannya.
Tetapi itu semua sudah James usahakan untuk yang terbaik untuk semuanya. Keinginan untuk langsung menembak tidak bisa ia lakukan karena terbatasi oleh aturan. Namun dirinya sangat menyesal karena ketakutan yang menguasainya itu menyebabkan satu temannya terluka sangat parah.
Juga semua kejadian yang terjadi di depan matanya itu terjadi begitu cepat, dan sulit untuk ia terima.
"Berlin ... tidak mengetahui ... kalau ... saat ini ... dia sedang dicari ... oleh ... orang-orang itu ...."
James tiba-tiba teringat dengan ucapan Adam saat masih berada di dalam ambulans bersamanya. Ia sempat bingung dengan apa yang dimaksudkan oleh temannya itu, namun dirinya langsung saja memberitahukan Berlin tentang apa yang telah terjadi.
"Oh iya, Berlin ! Aku harus menghubunginya !" gumamnya yang lalu mengambil ponsel dari sakunya untuk menghubungi Berlin.
__ADS_1
.
Bersambung