Mafioso In Action

Mafioso In Action
Sinar Matahariku #34


__ADS_3

"Telah terjadi beberapa tembakan misterius yang dilakukan secara membabi buta, tanpa diketahui siapa dan dari mana tembakan tersebut berasal!"


"Pagi ini, saya izin melaporkan dari lokasi kejadian! Beruntung tidak ada korban luka-luka maupun korban jiwa dalam kasus ini. Lantaran beberapa waktu yang lalu telah terdengar suara tembakan berkali-kali di kawasan kompleks perumahan kota."


"Tembakan tersebut juga telah berhasil merusak beberapa fasilitas publik, namun untungnya tidak ada korban dalam kejadian ini. Hanya saja warga sekitar merasa ketakutan untuk melakukan aktivitas mereka sehari-hari."


"Saat ini kawasan perumahan kota telah diamankan oleh banyak petugas kepolisian, dan juga termasuk beberapa anggota Brimob yang ikut serta mengamankan TKP. Dan kepolisan menghimbau serta mewajibkan kepada seluruh warga untuk lebih berhati-hati dalam menjalani aktifitas sehari-hari."


"Diwajibkan juga kepada seluruh warga, bila menemui atau menjumpai seseorang yang mencurigakan, atau bahkan terbukti membawa senjata dalam bentuk apapun itu. Maka harus segera melaporkan hal tersebut kepada pihak berwajib secepat mungkin!"


Di keesokan harinya, dan di pagi hari menjelang siang yang sangat cerah ini, serta di saat Nadia selesai dari mandinya lalu memakai pakaian di kamarnya. Dirinya dikejutkan oleh berita yang tiba-tiba ditonton oleh Berlin di televisi ruang keluarga.


Berlin sendiri juga cukup terkejut dengan berita yang ia tonton itu. Lantaran lokasi kejadian yang disebutkan oleh reporter wanita itu dan ditampilkan di layar kaca, adalah kompleks perumahan di mana Nadia tinggal sebelumnya.


"Ada apa itu ?" tanya Nadia setelah selesai memakai pakaiannya dan berjalan keluar dari kamarnya menghampiri Berlin yang duduk di sofa.


Berlin sempat tertegun saat menoleh dan melihat Nadia yang tampak cantik sederhana dengan dress santai selutut berwarna hitam, dan kalung berbentuk hati kecil yang masih saja melingkar di lehernya. Serta terlihat membiarkan rambut hitam dan sedikit bergelombang itu terurai tanpa terikat.


Terlihat juga Nadia tidak begitu merias wajahnya, hanya saja ia memakai sedikit gincu untuk mewarnai bibir tipisnya itu. Serta juga terlihat sudah siap dengan tas kecil yang ia bawa di tangannya untuk menyimpan ponsel dan beberapa barang berharga miliknya.


"Kelihatannya ... mereka bikin ulah lagi," jawab Berlin dengan nada cukup datar.


Berlin pun mengambil remote yang ia letakkan di sampingnya, dan lalu mematikan televisi yang ia tonton. Setelah mematikan televisinya, ia bangkit dari duduknya dan berjalan bergandengan dengan Nadia menuruni tangga.


"Tidak baik juga jika kebanyakan nonton berita," ucap Berlin saat berjalan menggandeng kekasihnya itu.


Nadia merasa bingung dan terlihat cukup khawatir, setelah mendengar dan melihat berita yang ditonton oleh Berlin.


"Kenapa ... mereka ... malah menembaki perumahan yang padat penduduk ...?" cetus Nadia saat menuruni tangga.


"Namanya juga penjahat, mereka melakukan itu pasti karena ada rasa kepuasan tersendiri," jawab Berlin dengan sangat santai.


"Oh, begitu ya ...," gumam Nadia yang terlihat menyimpan rasa belas kasihnya kepada orang-orang yang terkena dampak dari kejadian itu.


Saat berada di lantai dasar, Nadia tiba-tiba sedikit menyindir penampilan yang dipakai oleh lelakinya itu hari ini.


"Ngomong-ngomong ... kamu tidak memakai hoodiemu hari ini ?" cetus Nadia yang mengomentari penampilan Berlin.


.


"Tetapi ... kamu terlihat berbeda hari ini," lanjutnya yang lalu tersenyum senang pada penampilan yang digunakan oleh Berlin.


Berlin berpenampilan sangat rapi hari ini dengan mengenakan kemeja santainya berwarna abu-abu polos, dan dengan celana panjang berwarna hitam, serta juga sepatu santai berwarna abu-abu. Rambutnya juga terlihat sangat tertata rapi, serta juga sebuah jam tangan berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Siapa bilang aku tidak memakai hoodieku itu ...?" sahut Berlin yang lalu mendekati sebuah sofa di ruang tamu.


"Kukira ...," gumam Nadia saat melihat Berlin mengambil dan membawa kembali hoodienya yang ia sampirkan di sofa ruang tamu.


"Hehehe ...," Berlin tertawa kecil saat mengambil dan membawa kembali hoodie tersebut di tangannya.


"Pasti hoodie sangat berharga, ya ?" tanya Nadia saat mereka berdua berjalan keluar ke teras rumah.


"Ya, seperti itulah ...," jawab Berlin dengan menghela napasnya.


.


"Tetapi aku hanya ingin membawanya aja, kok ...," lanjutnya dan lalu tersenyum kepada Nadia.


Berlin pun mengunci rapat pintu rumahnya, dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir di garasi. Sebenarnya hari ini dirinya berencana untuk bertemu dengan Prawira untuk membicarakan tentang apa yang terjadi. Namun sepertinya Prawira sedang sangat sibuk dan sulit untuk dihubungkan serta ditemui.


Namun juga khusus untuk hari ini, Berlin berencana untuk santai sejenak dengan menghabiskan waktunya seharian penuh bersama dengan kekasihnya itu. Dan juga sekaligus menenangkan pikirannya sejenak, tanpa memikirkan banyak masalah yang telah atau sedang terjadi.


~


Pada pagi menjelang siang hari ini. Berlin berencana untuk pergi berbelanja, sesuai dengan janjinya kemarin kepada Nadia. Tentunya ini adalah pertama kali bagi Berlin pergi berbelanja bersama seorang wanita yang ia cintai. Hal ini juga cukup mendebarkan baginya.


Saat berada tengah perjalanan yang masih belum tentu ke mana arahnya, Nadia pun bertanya, "Jadi ... hari ini ... kita mau ke mana dahulu ?" tanyanya kepada Berlin yang terlihat fokus menyetir.


"Eh ?"


"Um ... ba-bagaimana kalau kita ... makan dahulu ?"


Berlin menjawab pertanyaan tersebut dengan sikap sangat canggung dan dengan nada yang cukup gugup.


"Hahahaha ...!" sikap yang sangat ditunjukkan Berlin sontak membuat Nadia tertawa terbahak-bahak saat melihatnya.


"Kok ketawa, sih ...?!" sahut Berlin yang terlihat sedikit sebal.


"Tadi kamu terlihat lucu soalnya, hehehe ...," jawab Nadia yang lalu tertawa kecil dan menatap kepada Berlin.


"Huh ...." Berlin menghela napas sejenak untuk lebih menyantaikan dirinya.


.


"Kamu mau makan apa ?" sambungnya bertanya dengan sedikit menoleh kepada Nadia di sampingnya, namun juga harus fokus untuk menyetir.


"Um ... terserah, deh ...!" jawaban langsung dari Nadia.


Sesaat setelah mendengar jawaban tersebut, Berlin langsung menyahut, "oke, kalau terserah !"


"Yang penting enak dan terjangkau aja ...," lanjut Nadia yang lalu bersandar di jendela dengan menopang dagunya.


Berlin pun menambah kecepatan mobilnya untuk menuju ke sebuah restoran yang letaknya berada di perbukitan kota, dan bahkan tidak terlalu jauh dari kompleks perumahannya.


Sebuah restoran tersebut juga menjadi salah satu tempat yang ingin Berlin tunjukkan kepada Nadia, karena memiliki pemandangan yang sangat istimewa baginya.


...


"Emang ... kamu mau membawaku ke mana ?" Ditengah perjalanan yang melewati kompleks rumah milik Berlin, dan juga jalan menanjak ke arah Balaikota. Nadia bertanya-tanya kepada Berlin tentang tempat yang akan mereka tuju.


Berlin pun sedikit memperlambat kecepatan mobilnya untuk menjawab pertanyaan tersebut.


"Ada lah ... pokoknya !" sahut Berlin dengan melirik dan lalu tersenyum kepada kekasihnya itu.


"Ish ... kok gitu sih ...?!" sahut Nadia yang terlihat cukup sebal, dan lalu langsung sedikit mencubit salah satu lengan milik lelakinya itu.


"Aduh ...! Kok aku dicubit, sih ...?" sontak Berlin terlihat sedikit kesakitan saat lengannya terkena cubitan dari kekasihnya itu.


"Kan aku cuma mau tahu ...!" gusar Nadia yang lalu memalingkan wajahnya dari hadapan Berlin.


"Jangan-jangan ... kamu mau menculik aku, ya ...?" lanjutnya dengan menoleh dan menatap sinis kepada Berlin.


"Hahahaha ...!" Berlin langsung meresponnya dengan tertawa terbahak-bahak, saat Nadia berkata demikian.


.


"Bukannya ... kamu memang sudah aku culik, ya ...?" sambungnya dengan melirik sinis balik Nadia.


"Eh ?" Nadia merasa terkena serangan balik pada saat Berlin mengatakan begitu kepadanya. Tiba-tiba dirinya sedikit tersipu dan membuat kedua pipinya sedikit berubah memerah.


.

__ADS_1


Ia pun langsung tertunduk dan memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil, dan lalu mengatakan, "kok ... aku merasa ... itu ada benarnya, ya ...."


"Hahahaha ...!" Berlin kembali dibuat tertawa saat melihat reaksi yang sangat ditunjukkan kekasihnya itu.


Dengan pandangan tetap fokus ke arah jalanan di depannya. Berlin pun menjawab pertanyaan kekasihnya di awal, dengan berkata, "jadi ... saat ini ... kita sedang perjalanan menuju ke sebuah restoran."


.


"Aku yakin kamu pasti belum pernah ke sini !" lanjutnya.


"Emang di daerah bukit kota ini ada restoran ...?" tanya Nadia kembali.


.


"Aku tidak tahu, sih ...," lanjutnya dengan bergumam.


"Lihat saja nanti kalau sudah sampai tempatnya !" jawab Berlin dengan lalu kembali memacu kecepatan mobilnya melewati jalanan menanjak.


~


Tidak lama kemudian, Berlin bersama dengan Nadia pun akhirnya sampai di sebuah restoran yang terlihat sangat mewah dan indah.


"Jadi ini tempatnya ?!" cetus Nadia.


"Iyalah ...!" sahut Berlin yang mengendarai mobilnya memasuki halaman parkir.


"Oriental Rest" Begitulah tulisan yang terpampang jelas dan besar di atas restoran tersebut, serta dapat di lihat dari kejauhan. Nadia sendiri sangat mengetahui tentang restoran tersebut karena restoran ini sangat populer. Hanya saja dirinya tidak mengetahui dan tidak ada keinginan untuk mengetahui keberadaannya.


Bukan hanya sebuah restoran saja, unsur yang membuatnya sangat populer selain memiliki pemandangan yang indah, serta juga udara yang cukup sejuk. Tetapi juga memiliki sebuah penginapan yang terletak di sebelah barat dari restoran, dan sedikit berjarak menuruni lereng bukit.


Restoran tersebut tentunya juga memiliki halaman depan yang sangatlah luas, dan juga memilki dekorasi yang sangat mewah nan elegan yang sangat terlihat walau masih dari luarnya saja.


...


Setelah mobil yang dikendarai Berlin berhenti dan terparkir dengan rapi di halaman parkir yang juga ramai akan mobil para pengunjung. Ia pun segera turun dan membukakan pintu mobilnya untuk Nadia.


Nadia terlihat cukup bingung dengan tempat atau restoran yang Berlin tuju itu. Ia hanya terlihat diam saja dengan pandangan terus melihat ke arah sekelilingnya.


"Ayo ...!" cetus Berlin dengan mengulurkan tangannya sesaat setelah membukakan pintu mobil untuk Nadia.


"Ba-baik !" sahut Nadia yang lalu meraih tangan tersebut dan turun dari mobil dengan keadaan terlihat masih bingung.


SET!


Setelah Nadia turun dari mobilnya, Berlin pun menutup kembali pintu mobil tersebut dan lalu menguncinya.


"Kenapa ? Kok terlihat bingung, sih ?" tanya Berlin saat berjalan bergandengan dengan Nadia menuju pintu masuk.


"A-aku cuma ... belum pernah aja ke sini, hehehe ...," jawab Nadia dengan pelan dan lalu tertawa kecil.


"Maka dari itu, aku mengajakmu ke sini !" sahut Berlin saat menoleh menatap Nadia dan lalu tersenyum kepadanya.


Pandangan Nadia terus saja melihat ke sekelilingnya, dan terlihat cukup bingung karena ini pertama kalinya untuk dirinya mengunjungi restoran tersebut.


"Apa tidak apa-apa ?" cetus Nadia dengan menoleh menatap balik Berlin.


"Pasti restoran ini mahal !"


"Maaf ... jika aku merepotkan mu ...."


Tanpa pikir panjang, Nadia langsung mengatakan itu semua kepada Berlin.


"Tidak masalah ...!" jawab Berlin.


.


Nadia pun hanya terdiam setelah Berlin menjawabnya. Dirinya hanya mengikuti lelakinya itu berjalan dengan membiarkan tangannya terus digandeng, dan seakan ia tidak ingin melepaskan gandengan tersebut.


"Selamat siang ! Apakah sudah memesan meja ?" sapa dari salah satu dari dua pelayan wanita yang berdiri di pintu masuk kepada Berlin.


"Sudah, meja atas nama G !" jawab Berlin lalu menandatangani sebuah kertas yang dibawa oleh pelayan tersebut di atas nampan logamnya.


"Baiklah, mari saya antarkan ke meja, Tuan !" titah pelayan tersebut kepada Berlin.


Berlin pun mengikuti pelayan wanita tersebut ke meja yang sebelumnya sudah ia pesan tanpa sepengetahuan Nadia.


"Silakan, Tuan dan Nona ...!"


Berlin bersama Nadia pun sampai ke meja yang sudah terpesan. Nadia cukup terkejut karena meja untuk dua orang itu terletak di ruang terbuka, dan memiliki pemandangan yang sangat indah ke arah perkotaan indah Metro.


Tak hanya itu, meja untuk dua orang itu juga terlihat sudah tertata sangat rapi, dan terhiasi dengan sebuah bunga mawar dalam sebuah vas berwarna putih cantik yang diletakkan di tengah meja.


Nadia pun duduk di sebuah kursi kayu berwarna putih, dan disusul oleh Berlin yang duduk di kursi hadapannya.


DEG.


Angin dapat dirasakan bertiup sepoi-sepoi merepa ke arah Nadia. Pemandangan kota yang sangat indah dari atas itu juga terlihat menyambut dirinya.


"Apakah ... ini sebuah ... kencan ...?" Nadia bergumam di dalam hatinya. Jantungnya berdebar sangat kencang saat Berlin menatap dirinya.


Di tengah jantung milik Nadia yang berdebar tak karuan. Satu pelayan pria lain terlihat datang menghampiri meja milik mereka berdua, dengan mendorong sebuah meja troli yang penuh akan hidangan di atasnya. Hidangan seperti makanan dan minuman yang berada di atas troli itu terlihat masih tertutup oleh penutup saji yang terbuat dari logam.


"Baik, silakan ... sesuai dengan pesanan yang dipesan, Tuan ...!" ucap pelayan wanita kepada Berlin, dan mulai memindahkan dua buah piring yang masih tertutup itu ke atas meja di hadapan Berlin dan juga Nadia.


Setelah memindahkan dua buah piring tersebut yang berisikan makanan. Kedua pelayan itu lalu membuka penutup logam yang menutupi makanan pada kedua piring itu.


SET !


Setelah penutup itu terbuka, Nadia cukup terkejut karena isi pada piringnya adalah salah satu makanan favoritnya.


"Nasi goreng ...?" gumamnya saat melihat menu yang disajikan untuk dirinya itu, dan lalu melihat ke arah Berlin yang duduk tepat di hadapannya.


"Silakan untuk minumnya, dan ... selamat menikmati ...!" ucap bersamaan kedua pelayan itu dengan tersenyum dan lalu menundukkan kepala mereka, sesaat setelah memindahkan semua menu yang dipesan Berlin ke meja tersebut.


"Terima kasih," sahut Berlin kepada dua pelayan yang sudah membantunya.


...


Aroma yang sangat harum dan menggoda sangat dapat dirasakan pada dua piring yang berisikan menu yang berbeda. Secara diam-diam Berlin memesan nasi goreng yang sangat spesial di restoran tersebut hanya untuk kekasihnya itu. Walau terlihat seperti nasi goreng pada umumnya, namun sudah dipastikan memiliki rasa yang sangat istimewa dan berbeda dari menu nasi goreng biasa.


Sedangkan Berlin sendiri memesan menu yang cocok, dan mungkin juga sudah menjadi salah satu menu makanan favoritnya. Menu yang Berlin pesan adalah salah satu menu yang mungkin juga disukai oleh kebanyakan orang, yaitu steak daging sapi yang terlihat coklat keemasan karena tingkat kematangan yang pas, dan juga dengan aroma serta rasa yang pastinya sangat nikmat nan menggoda.


Nadia sendiri merasa senang karena ternyata tujuan Berlin mengajaknya ke restoran itu adalah untuk hal seperti ini. Ia juga merasa sangat senang karena menu yang dipesankan oleh Berlin itu sangat disesuaikan untuk dirinya.


"Jadi ... pertanyaanmu kemarin malam tentang makanan favorit ... karena untuk ini ...?" cetus Nadia kepada Berlin saat mengambil sendok dan garpunya.


"Menurutmu ...?" sahut Berlin saat terlihat sibuk untuk memotong kecil-kecil hidangan di hadapannya.


Berlin pun terlihat mulai menyantap dan menikmati hidangan miliknya dengan secara perlahan. Nadia pun juga mulai menyendok dan menyantap nasi goreng yang terlihat sama seperti nasi goreng pada restoran biasa, dan juga seperti yang biasanya juga ia masak sendiri.


DEG.

__ADS_1


"Enak ...."


"Aku belum pernah merasakan rasa seperti ini sebelumnya ...."


Saat Nadia memakan sesuap dari hidangan pada piringnya itu, ia bisa merasakan rasa yang sangat berbeda dari yang biasanya ia rasakan. Rasa yang begitu mewah dan bernilai tinggi sangat mendominasi di dalam mulutnya saat memakan menu tersebut.


"Padahal terlihat seperti nasi goreng biasa. Tetapi ... entah mengapa ... rasanya lebih enak yang ini ...?" gumam Nadia di dalam hatinya saat terus mengunyah dan menambah suapannya.


Berlin tersenyum dan terlihat senang saat melihat Nadia begitu menikmati menu yang ia pesan. Nadia yang menyadari hal tersebut pun sempat menghentikan suapannya, dan berkata, "oh, maaf ... aku terlalu fokus untuk makan, hehehe ...," ucapnya dengan mulut yang masih terisi makanan.


"Tidak apa-apa, syukurlah kalau kamu cocok dengan menu yang ku pesan," ujar Berlin yang lalu menyuap suapan potongan daging terakhirnya.


"Oh iya, kamu mengajakku ke sini bukan untuk makan saja, 'kan ?" cetus Nadia dengan melirik tajam kepada Berlin.


Berlin tiba-tiba tertawa kecil dan lalu menjawab, "dasar ...! Kamu memang hampir selalu berhasil membaca pikiranku, ya ...?" jawabnya saat menata kembali garpu dan pisau kecilnya di atas piring yang sebelumnya ia pakai untuk makan.


"Iya, aku tahu, kok. Katakan saja !" sahut Nadia dengan melanjutkan suapannya.


.


"Aku akan mendengarkannya," lanjutnya dengan nada yang sungguh lembut.


...


Berlin pun mulai menceritakan dan memberitahukan kepada kekasihnya itu, tentang keluarga besar yang bisa dibilang baru saja ia sadari keberadaannya. Ia menceritakan hampir semuanya, namun yang hanya dirinya ketahui saja. Serta juga hanya dari sudut pandangnya saja.


"Yang ku katakan kepada dua temanku saat berada di garasi kemarin itu, benar !"


"Prawira juga memberitahuku sedikit tentang orang yang namanya ku sebut kemarin, kalau ternyata dia sempat satu keluarga besar dengan ku." Saat Berlin mengatakannya, ia tidak berani untuk menyebut nama tersebut di tempat umum saat ini.


.


"Prawira juga memberitahuku, kalau ... orang itu adalah teman sekaligus saingan ku dalam akademi saat aku masih kecil," lanjutnya.


Nadia yang masih melanjutkan makannya terlihat mengangguk dan sangat memahami apa yang Berlin katakan.


"Aku sendiri tidak mengingat hal itu," ucap Berlin dengan menoleh melihat ke arah pemandangan kota di sampingnya.


.


"Bahkan aku saja tidak ingat kalau aku memiliki keluarga yang cukup besar ini," lanjutnya.


"Kenapa kamu tidak ingat ?" cetus Nadia yang akhirnya menyelesaikan suapan terakhirnya, dan lalu menata rapi sendok dan garpunya di atas piring.


"Aku tidak tahu kenapanya," jawab Berlin menoleh kepada Nadia.


"Padahal, itu adalah hal yang sangat berharga, bukan ?" tanya Nadia kembali.


"Iya, aku tahu. Aku saja sempat merasa kegirangan ketika aku mengetahui ... kalau aku memiliki keluarga," jawab Berlin.


"Berarti ... apakah masa kecilmu kamu habiskan di keluarga itu ? Dengan orang-orang yang kamu kenal dan dekat ?" cetus Nadia yang bertanya kembali.


"Mungkin saja, hanya saja aku tidak bisa memastikannya dengan siapa dan di mana," jawab Berlin dengan mencoba untuk mengingat kembali masa lalunya.


"Andai saja itu benar, maka ... kamu sangat beruntung !" sahut Nadia dengan menatap serius kepada Berlin.


.


"Masa kecilmu masih kamu habiskan dalam keluarga tersebut, dengan orang-orang terdekat dan berharga yang kamu miliki," lanjutnya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca dan sedikit tertunduk saat mengatakannya.


Menyadari sepetinya obrolan tersebut membuat Nadia merasa cukup sedih. Berlin pun menghentikan obrolannya tentang keluarga tersebut.


"Maaf, aku jadi mengingatkanmu tentang hal itu," ucap Berlin dengan menggenggam salah satu tangan milik Nadia yang berada di atas meja.


Nadia tiba-tiba menggelengkan kepalanya dan mengatakan, "justru aku merasa senang, saat kamu menceritakan tentang keluargamu itu," ucapnya dengan tersenyum dan lalu mengusap matanya yang sedikit berair.


.


"Hanya saja ... aku jadi ingin merasakannya, di mana masa kecil yang dapat dihabiskan bersama orang-orang terdekat," lanjutnya dengan menatap kedua mata milik Berlin dan lalu tersenyum kepadanya.


Masa kecil milik Nadia bisa dibilang memanglah suram, karena ia menghabiskannya hanya di Panti Asuhan. Tanpa seseorang yang ia kenal dekat dari lahir atau orang yang berperan penting dalam hidupnya, seperti orang tua.


Tanpa keluarga yang membuatnya bisa merasa tenang dan bahagia. Itu membuat Nadia saat masih kecil selalu penasaran, bahkan selalu ingin mencari keluarga yang mungkin cocok dan dapat memahami dirinya. Berbagai cara hampir rela ia lakukan demi hal tersebut.


Berlin tiba-tiba meraih dan mengusap salah satu pipi milik Nadia yang terasa sangat halus itu. Lalu dirinya mengatakan, "mungkin ... aku akan membuatmu merasakan, apa itu yang disebut dengan keluarga."


.


"Dan ... tentunya aku akan berusaha ...!" lanjutnya yang lalu tersenyum kepada kekasihnya itu.


Nadia memandang ke arah Berlin yang tiba-tiba memiliki aura berbeda dari biasanya. Ia memegang tangan milik lelakinya itu yang berada di salah satu pipinya. Lalu langsung tersenyum lebar kepada Berlin untuk mengungkapkan perasaannya, kalau saat ini dirinya marasa sangat senang dan bahagia.


"Terima kasih ...!" ucap Nadia dengan ekspresi berseri-seri dan bahagia.


DEG.


Ekspresi yang sangat berbeda ditunjukkan oleh Nadia, dan itu cukup mengejutkan untuk Berlin. Ia tertegun saat mendapatkan senyuman tulus dan hangat itu, dan merasa seperti menemukan cahaya matahari yang hanya diberikan untuk dirinya seorang.


Saat Nadia menunjukkan ekspresi bahagianya. Angin tiba-tiba bertiup sejuk mengarah ke arah Berlin, dan sinar matahari yang tidak terasa panas di siang hari itu seperti berpihak kepada Nadia. Seakan alam mendukung dan ikut senang saat melihat Nadia seperti itu.


"Rasanya ... aku ingin selalu melihat dan melindung senyuman ini ...."


"Juga dengan suara canda tawa dari semua orang yang ku kenal dan dekat."


Berlin dibuat bergumam di dalam hati ketika mendapatkan senyuman yang begitu indah diberikan oleh kekasihnya itu.


.


~


.


"James izin melapor kepada radio !"


"Telah terjadi penembakan di dekat saya, dengan ciri-ciri pelaku memakai pakaian serba hitam, dan berkelompok lebih dari lima orang menggunakan motor BWM R1200GS yang sekarang melarikan diri ke arah perbukitan menuju Shandy Shell."


"Saya sudah mengamankan dua korban, satu dari mereka terkena luka tembak dan membutuhkan penanganan medis segera !"


Prawira langsung dibuat terkejut dengan laporan dari anggotanya melalui radio gabungan. Lantaran laporan itu secara tiba-tiba menyela kehendingan radio, dan di saat sedang mengamankan area perumahan kota.


"Baiklah, lima anggota silahkan merapat !"


"Eagle Eye silahkan mengudara untuk menyusuri area perbukitan kota dan perbatasan Shandy Shell !"


Prawira pun langsung merespon secara cepat laporan yang masuk ke radionya.


"Siska, tolong konfirmasi lokasi James sekarang, dan kirim medis untuk menangani korban di sana !" titah Prawira kepada Siska melalui radio.


.


"Siap, Pak ! sahut Siska di radio tersebut.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2