
Siang hari.
Kantor Polisi Pusat.
Satu pekan telah berlalu. Setelah seluruh kekacauan yang sempat terjadi beberapa waktu dekat kemarin berhasil dikendalikan oleh pihak keamanan kota. Beberapa hari kemudiannya, semua orang sudah dapat beraktivitas masing-masing dengan aman.
Beberapa kerusakan properti juga sudah ditangani oleh pihak-pihak terkait. Mengingat tidak ingin terjadi kekacauan dan hal yang semacamnya terulang kembali. Garwig lebih mempertegas kepolisian di bawah kepemimpinannya, dan sekaligus memberikan pelajaran serta pelatihan khusus untuk para anggotanya.
"Prawira, bagaimana kalau pekan depan kita membuka pendaftaran untuk akademi?" tanya Garwig kepada Prawira saat di ruang kerjanya.
"Lulusan akademi kepolisian akan dilaksanakan lusa, dan mereka para calon anggota akan melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Jadi, tidak ada salahnya untuk membuka pendaftaran kembali," sahut Prawira yang duduk di sofa.
"Ngomong-ngomong, soal simulasi untuk anggota akan dilaksanakan kapan?" lanjut Prawira bertanya.
"Aku sudah serahkan tugas itu kepada Tambun untuk mengaturnya," jawab Garwig.
.
"Bagaimana keadaan Netty?" lanjut Garwig kemudian bertanya.
"Dia sudah membaik, dan bahkan sudah sedikit bisa melakukan aktivitas sehari-harinya," jawab Prawira.
.
"Namun, dia tetap masih menjalani pengobatan," lanjutnya.
"Hmm," gumam Garwig tampak berpikir.
.
"Kita membutuhkan orang untuk mengatur serta mengelola segala keperluan brankas. Tetapi siapa yang cocok untuk itu?" cetusnya seraya menopang dagu dan lalu menghela napas panjang.
"Bagaimana dengan Siska? Dahulu dia pernah membantu Nadia dalam hal itu, dan menurutku dia juga cukup baik jika ditugaskan untuk itu," sahut Prawira memberikan sarannya.
"Boleh juga. Prawira, tolong nanti langsung urus meja kerjanya!" pinta Garwig.
"Baik," jawab Prawira.
Garwig tampaknya sedang sibuk dengan pekerjaan, begitu pula dengan Prawira. Banyak yang harus mereka berdua urus dan selesaikan, salah satunya adalah soal memperketat keamanan kota agar kekacauan itu tidak terulang kembali.
.
~
.
Pukul 14:00 siang.
Rumah Sakit Pusat.
Setelah selama lima hari Nadia mendapatkan perawatan inap. Kini dirinya harus kembali lagi ke rumah sakit guna menjalani beberapa terapi untuk kakinya. Tentu dirinya tidak sendirian, karena selalu ada Berlin yang bersedia menemaninya.
"Kamu kalau bosan menungguku, kamu bisa pergi jalan-jalan sejenak, kok," cetus Nadia duduk di kursi roda kepada Berlin yang mendorong kursi rodanya.
"Baiklah," sahut Berlin. Dirinya perlahan mendorong kursi roda tersebut menuju ruang rehabilitasi yang letaknya ada di belakang gedung utama rumah sakit.
__ADS_1
Sesampainya di gedung rehabilitasi, Nadia langsung disambut baik oleh beberapa suster yang berjaga di sana. Mereka langsung membawa Nadia menuju ke sebuah ruangan berkaca.
Sedangkan Berlin hanya menunggu dan melihat Nadia melalui kaca ruangan. Dirinya dapat melihat semangat Nadia yang begitu membara untuk pulih dan kembali berjalan. "Semangat sekali, kamu," gumam Berlin tersenyum melihati Nadia melalui kaca ruangan.
.
Beberapa jam kemudian.
.
Beberapa jam pun berlalu, dan waktu senja pun tiba. Setelah cukup lama menjalani terapi, Nadia akhirnya selesai dan diperbolehkan untuk pulang. Namun dirinya tetap masih harus menjalani beberapa terapi di lain waktu.
"Lelah?" tanya Berlin ketika sudah berada di dalam mobilnya bersama Nadia yang duduk di sampingnya.
"Lumayan," jawab Nadia yang tampak bersandar sembari masih mengatur napasnya.
"Sekarang mau jalan-jalan dahulu atau mau langsung pulang?" tanya Berlin menoleh dan menatap kekasihnya itu.
"Jalan-jalan dahulu! Boleh, ya?" sahut Nadia menatap Berlin dan memohon.
.
"Aku bosan lima hari berada di rumah sakit, dan dari kemarin hanya istirahat di rumah," lanjutnya seraya mengerucutkan bibirnya yang justru terlihat imut di mata Berlin.
Berlin tersenyum dan merasa tidak bisa menolak setelah mendapat tatapan seperti itu. "Oke, kalau lelah dan mengantuk ... kamu tidur saja," ujar Berlin tersenyum dan lalu mengelus perlahan kepala milik Nadia.
Nadia mengangguk dan kembali bersandar dengan ekspresi yang sungguh ceria. Berlin pun memacu mobilnya keluar dari halaman parkir rumah sakit.
...
Berlin terkekeh kecil dan tersenyum mendengar apa yang dikatakan Nadia. "Tidak apa-apa, sayang. Kamu tahu aku bos mereka, 'kan? Jadi tidak perlu khawatir," sahutnya.
"I-iya, sih. Tetapi ...." Belum selesai Nadia berbicara. Berlin memotong perkataannya dengan mengatakan, "teman-teman sudah pada tahu, kok. Dan syukurlah mereka semua dapat paham situasi ku. Di sisi lain, saat ini kesibukanku hanyalah denganmu, dan belum ada kesibukan yang lain selain itu."
Nadia merasa senang ketika mendengarnya. Pandangannya kembali menuju ke arah luar kaca mobil.
"Seharusnya ... hari ini aku bertemu dengan Garwig untuk membicarakan soal pekerjaan itu. Tetapi, Garwig menghubungi ku dan bilang kalau dirinya sedang sibuk," cetus Berlin yang lalu menghela napas panjang.
.
"Karena tidak jadi bertemu dengannya. Jadi seharian ini aku bisa bebas untuk menemanimu ke manapun," lanjutnya seraya sedikit melirik Nadia di sampingnya, dan lalu kembali fokus ke jalanan untuk menyetir.
Nadia tiba-tiba menoleh kepada Berlin. Perlahan ia menyandarkan kepalanya pada lengan milik Berlin dan mengatakan, "terima kasih."
"Kamu ini kebiasaan, aku sedang menyetir, loh!" ucap Berlin sedikit terkejut karena Nadia melakukannya secara tiba-tiba.
"Hehehe," Nadia justru malah tertawa kecil dan perlahan memeluk lengan milik lelakinya itu.
"Ampun, deh!" gumam Berlin tersenyum melirik Nadia yang tampak menejamkan matanya seraya memeluk lengannya.
Berlin terus melanjutkan perjalanannya dengan perlahan untuk menikmati suasana senja di tengah kota. Meskipun jalanan terpantau cukup ramai, namun tidak terlalu ramai. Orang-orang tampak sudah melakukan aktivitas mereka sehari-hari, terlepas dari ancaman kekacauan yang sempat terjadi beberapa waktu yang lalu.
"Sepertinya ... semuanya sudah kembali normal," gumam Berlin dengan sendirinya, seraya memandangi keramaian jalan di sekitarnya. Sesekali matanya melirik dan tertuju kepada Nadia yang tampaknya tertidur di bangku sampingnya.
"Apakah aku ... benar-benar bisa berubah menjadi lebih baik?" gumamnya kembali ketika memandangi wajah cantik Nadia yang sedang tertidur. Berlin kembali mengingat soal keinginan atau harapan Nadia tentang dirinya. Keinginan atau harapan untuk merubah Berlin menjadi lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
Sesekali juga Berlin menghela napas cukup berat, "aku harap saat-saat lenggang seperti ini bisa bertahan sedikit lebih lama," batinnya dan lalu tersenyum seraya melirik wajah cantik Nadia yang tampak tertidur di bangku sampingnya. Sepertinya dia kelelahan setelah menjalani terapi berjalan selama berjam-jam.
.
~
.
Pukul 17:00 sore.
Kantor Polisi Pusat.
Tampak Garwig sedang disibukkan dengan cukup banyak dokumen-dokumen di mejanya yang harus ia selesaikan. Ia tampak lelah dan pusing ketika harus berhadapan dengan tumpukan dokumen di mejanya.
"Mau mencari udara segar terlebih dahulu?" cetus Prawira memasuki ruangan kerja milik Garwig.
"Mungkin aku membutuhkannya," sahut Garwig menghela napas berat dan segera beranjak dari kursinya.
Garwig pun pergi mencari udara segar bersama Prawira untuk sedikit melepas penatnya. Namun dirinya memilih untuk pergi ke atap dari kantor polisi.
"Ini benar-benar tempat favorit mu dari dahulu, ya?" celetuk Prawira ketika berada di atap bersama Garwig.
Garwig bersandar di pagar pembatas seraya memandangi ke arah langit dan jalanan kota di bawah. "Mau bagaimana lagi? Tempat ini yang terdekat," jawab Garwig.
.
"Seharusnya hari ini aku menemui Berlin untuk membicarakan soal pekerjaan itu," lanjutnya.
"Tetapi banyak hal yang harus diurus dan segera diselesaikan. Lusa akan ada pemindahan siswa-siswi akademi setelah kelulusan, calon-calon anggota baru itu harus ditempa lagi." Garwig berbicara dengan sendirinya seolah sedang mencurahkan semuanya kepada Prawira yang mendengarnya di sampingnya.
"Selain itu, kasus kita soal Nicolaus belum selesai. Dia masih buronan yang harus kita tangkap," lanjut Garwig seraya memandangi ke arah jalan raya depan kantor polisi dari atas situ.
Prawira menghela napas panjang dan lalu berbicara, "kukira ... semuanya sudah selesai. Tetapi sepertinya tidak secepat itu."
"Pokoknya untuk saat ini, kita harus memperkuat tingkat keamanan agar masyarakat tetap merasa aman. Selain itu seluruh perbatasan baik darat, laut, dan udara juga sudah diperketat. Jadi seharusnya Nicolaus tidak dapat keluar dengan mudah dari wilayah kita," ucap Garwig.
.
"Kecuali, Nicolaus sudah menemukan celah dan melarikan diri keluar negeri sebelum penjagaan perbatasan diperketat," lanjutnya dengan tampak penuh khawatir dan rasa cemas.
"Bagaimana soal pulau yang kau maksud? Mungkin saja ada kemungkinan Nicolaus melarikan diri ke sana," sahut Prawira.
Garwig menoleh melirik Prawira setelah mendengar apa yang dikatakannya. Ia tampak memikirkan sesuatu. "Mungkin ... aku akan mencari tahu soal pulau itu," ucapnya.
"Bagaimana caranya? Bukankah katamu tempat itu berada di luar jangkauan otoritas kita?" tanya Prawira mengerenyitkan dahinya, menoleh kepada Garwig.
"Bagaimana lagi kalau tidak menggunakan fasilitas militer?" sahut Garwig yang lalu tersenyum tipis.
"Iya, aku tahu kau memiliki otoritas lebih atas pihak militer. Tetapi bukankah itu cukup terang-terangan? Seolah kita menginginkan perang secara terbuka terhadap mereka, jika pulau itu berada di sebuah negara." Tampaknya Prawira sedikit menyangkal rencana Garwig. Memang benar akan banyak resiko yang terjadi, dan Prawira
Garwig melirik kepada Prawira di sampingnya dan berkata, "tidak perlu khawatir soal itu, kita memiliki sesuatu untuk melakukan pemantauan," ucapnya dan lalu tersenyum tipis.
.
Bersambung.
__ADS_1