
Satu hari kemudian.
Pukul 12:00 siang.
Berlin datang kembali ke Kantor Polisi Pusat seorang diri. Ia datang dengan membawa kertas berisikan kontrak yang pernah diberikan Garwig sebelumnya. Setelah membicarakan soal itu kepada teman-temannya dan termasuk juga kepada Nadia. Dirinya pun sudah memiliki keputusan yang bulat untuk memberikan jawabannya.
"Berlin?" Prawira terkejut dengan kedatangan Berlin tanpa memberikan kabar terlebih dahulu.
"Maaf tidak memberi kabar terlebih dahulu," ucap Berlin berjalan melewati lobi dan mendekat ke arah Prawira yang berdiri di depan ruang loker.
Entah mengapa Prawira tersenyum senang melihat Berlin datang secara terang-terangan ke kantor polisi. "Tidak apa. Kemari, ikuti aku!" ajak Prawira yang lalu berjalan ke arah tangga di pintu belakang diikuti oleh Berlin di belakangnya.
Ketika berada di atap dari kantor polisi tersebut. Tampaknya Garwig baru saja mendarat menggunakan helikopter kepolisian, ia mematikan mesin dan langsung turun dari helikopter ketika melihat adanya Berlin bersama Prawira di sana.
"Patroli sambil menikmati pemandangan melalui udara?" celetuk Berlin menyapa Garwig dan lalu berjabat tangan dengannya.
Garwig terkekeh dengan sikap akrab Berlin padanya, "begitulah," jawabnya.
"Ada acara apa kau datang ke mari?" lanjut Garwig berjalan ke pinggir atap dan bersandar di pagar pembatas.
"Aku ingin memberikan jawabanku soal ini," jawab Berlin yang lalu menyodorkan kertas berisikan kontrak yang sebelumnya diberikan oleh Garwig padannya.
"Maaf menyela, tetapi sepertinya aku harus permisi dahulu," sela Prawira yang tampaknya mendapatkan panggilan tugas melalui radionya.
"Tak apa, terima kasih sudah membawa Berlin ke sini," sahut Garwig.
Prawira pun berjalan pergi kembali masuk dan menuruni tangga. Sedangkan Berlin melanjutkan perbicangannya dengan Garwig soal pekerjaan tetap itu.
"Aku sudah membicarakannya dengan yang lain, termasuk juga dengan Nadia, dan mereka semua setuju bila aku mengambilnya," ujar Berlin.
"Apalagi Nadia, dia tampak sangat ingin aku menyetujuinya ketika pertama kali mengetahuinya," lanjutnya.
"Lalu, bagaimana dengan dirimu sendiri?" tanya Garwig.
Berlin pun menjawab, "aku sendiri sudah kepikiran untuk menerimanya, karena mungkin saja kesempatan inilah yang diperlukan Ashgard."
__ADS_1
"Diperlukan Ashgard?" celetuk Garwig bertanya-tanya soal itu.
Berlin tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. Dirinya pun mengatakan, "andai kau tahu bagaimana awal Ashgard didirikan."
Setelah berkata demikian, Berlin pun sedikit menceritakan tentang kelompoknya Ashgard saat pertama kali terbentuk atau terbangun.
"Aku membangun Ashgard dengan maksud untuk berlindung dari berbagai ancaman kala itu. Ya ... kau seharusnya tahu seberapa bahayanya ketika sudah masuk ke dalam dunia kriminal atau dunia kelam itu," kata Berlin seraya menatap ke arah jalanan di depan kantor polisi yang ramai akan kendaraan.
"Ya, aku tahu," sahut Garwig.
"Aku mengumpulkan mereka semua, mereka yang sulit atau bahkan tidak memiliki pekerjaan sama sekali, dan mereka yang ingin bergabung denganku. Namun tak semua dan tak sembarang orang dapat masuk dan bergabung dengan Ashgard, karena aku yang memilihnya." Berlin kembali menceritakan sedikit soal orang-orang yang bergabung dalam kelompoknya.
"Semua pekerjaan akan kami lakukan tanpa memandang apakah pekerjaan itu bersih, atau bahkan itu pekerjaan kotor. Jadi tak hanya pekerjaan yang bersangkutan dengan tindak kriminal saja yang kami kerjakan, melainkan beberapa pekerjaan lain pun juga kami kerjakan."
"Meskipun aku terlahir dengan segala kekayaan yang ada, dan segala kecukupan yang berlebih. Tetapi aku tidak gunakan kekayaan itu ke dalam Ashgard, karena aku ingin Ashgard berdiri tanpa harus bergantung pada kekayaan seperti itu."
"Jadi begitulah kira-kira," Berlin mengakhiri ceritanya.
Garwig menyimak dan mendengarkan semuanya dari awal sampai akhir Berlin berbicara. Dirinya dapat memahami semua yang dikatakan dan diceritakan oleh Berlin, karena di sisi lain terdapat sedikit campur tangannyalah yang membuat Berlin seperti itu.
"Aku hanya ingin ... mengabulkan keinginan mereka yaitu menginginkan aku untuk menerima kontrak ini, dan mungkin itu juga bisa membantu untuk masa depan mereka. Aku hanya ingin berterimakasih sebagai orang yang mereka hormati," lanjutnya.
Garwig tersenyum bangga mendengar semua yang dikatakan oleh Berlin. Ia benar-benar tidak menyangka kalau dirinya dapat menyaksikan kembali sifat dari Berlin kecil yang dahulu selalu dibanggakan keluarga besarnya.
"Aku dapat memahami semua yang kau katakan, karena semua yang kau lalui itu adalah dampak dari sedikit campur tanganku." Garwig pun merangkul pundak milik Berlin yang berdiri di sampingnya.
"Ya, aku meminta maaf soal itu, maka dari itu aku memberikan tawaran pekerjaan ini, dan juga aku akan berusaha mengabulkan apa yang kau minta," lanjutnya dan lalu tersenyum lebar kepada Berlin.
"Ngomong-ngomong, aku datang ke sini juga ingin menagihmu soal katamu yang ingin menjelaskan pekerjaannya," cetus Berlin mengingat soal pesan yang dikirimkan oleh Garwig sekitar satu pekan yang lalu.
"Oh, soal itu!" seru Garwig mengingatkannya. "Baik, aku akan menjelaskannya," lanjutnya.
Garwig pun menjelaskan soal pekerjaan yang akan Berlin dan kelompoknya lakukan saat ia menerima pekerjaan itu. Dirinya menjelaskannya kepada Berlin secara rinci dan jelas.
"Pekerjaan yang akan Ashgard terima itu hampir sama dengan tugas-tugas atau pekerjaan seorang anggota polisi. Namun bedanya, Ashgard akan lebih berperan seperti mata-mata. Jadi kau dan kelompokmu tidak memerlukan seragam untuk itu."
__ADS_1
"Namun Ashgard tidak akan dan tidak perlu bekerja di dalam kantor, dan juga tidak perlu bertugas selayaknya polisi yang berpatroli dan lain sebagainya."
"Tugas yang akan diterima Ashgard adalah ... menjadi kelompok informan untuk kepolisian. Kalian tetap diperbolehkan untuk bertransaksi ilegal dan semacamnya, namun semua hasil itu harus diserahkan kepada kepolisian, dan tentu kami akan membayarnya."
"Diusahakan juga untuk tidak membuat kasus kriminal! Kecuali ... kalian dilempar kasus, mungkin itu berbeda lagi masalahnya."
Garwig juga menjelaskan serta memberitahu banyak hal soal tugas-tugas dan beberapa peraturan penting sebagai anggota polisi. Meskipun Berlin dan kelompoknya tidak akan berperan sebagai anggota, tetapi mungkin pengetahuan tentang itu akan berguna bagi dirinya.
"Yang terakhir perlu diingat! Jika terjadi sebuah kasus yang besar seperti contoh kekacauan kemarin. Mungkin peran kalian akan menjadi penting dan sangat dibutuhkan kami. Maka dari itu, aku memohon kerjasamanya," ucap Garwig terakhir dan memohon seraya menundukkan kepalanya di depan mata Berlin. Tampaknya Garwig memang sungguh-sungguh memohon.
Berlin terkejut ketika Garwig memohon kepada dirinya. "Tolong angkat kepalamu!" pinta Berlin. "Kau tidak perlu sampai memohon seperti itu, lagian aku malah berterimakasih," lanjutnya.
Garwig mengangkat kepalanya. Dirinya merasa sangat senang jika Berlin akan bergabung kembali ke pihaknya setelah bertahun-tahun yang lalu. Ini juga menjadi salah satu harapan Garwig sendiri, setelah dirinya dengan sengaja melepas dan membuat Berlin menjadi jauh dari keluarga besarnya bertahun-tahun yang lalu.
"Dengan ini ku harap ... aku bisa menebus semua kesalahanku, karena sudah menghilangkan semua kenangan masa kecilmu dan membuatmu jauh dari keluargamu yang sebenarnya, Berlin. Aku benar-benar meminta maaf sebesar-besarnya soal itu," batin Garwig memandangi Berlin yang kini sudah jauh lebih dewasa dari Berlin kecil yang dahulu ia kenal.
Berlin menghela napas dan berbicara dengan sendirinya. "Asal kau tahu. Setelah semua kekacauan kemarin selesai, aku sempat terlintas niatan untuk membubarkan Ashgard atau bahkan mengundurkan diri dari sana. Karena, aku ingin pekerjaan yang lebih baik dari semua yang ku kerjakan di kelompok itu." ucapnya dengan pandangan ke bawah ke arah jalanan di depan kantor polisi.
"Namun tiba-tiba ... kau memberikan kesempatan dan mengubah niat ku, karena tentu ... aku sungguh berat hati jika harus membubarkannya. Jadi ... terima kasih banyak atas kesempatan itu," lanjutnya menoleh dan menatap Garwig dengan tatapan penuh rasa syukur.
Mendengar hal tersebut. Garwig tertawa kecil dan dirinya langsung merangkul Berlin di sampingnya dengan berbicara, "jangan sampai kau melupakan kalau kita itu keluarga, Berlin! Katakan saja apapun yang kau perlukan, dan apapun yang kau inginkan dariku. Aku pasti akan berusaha untuk memenuhinya."
"Ayolah, aku bukanlah anak laki-laki yang sedang menginginkan mobil-mobilan!" celetuk Berlin dengan nada mengingatkan.
Garwig terkekeh mendengar itu. "Namun kau tetaplah anak yang berharga dari keluarga besar Gates," ucapnya.
"Oh iya, apakah aku boleh menanyakan sesuatu? Sesuatu yang selalu membuatku penasaran," cetus Berlin melirik Garwig.
"Apa itu?" sahut Garwig tampak siap menjawab pertanyaannya.
Berlin pun mengajukan pertanyaannya, pertanyaan yang masih menjadi misteri tersendiri baginya. Yaitu, "Siapakah orang tua ku? Dan jika mereka masih ada, dimanakah mereka berada saat ini?"
.
Bersambung.
__ADS_1