Mafioso In Action

Mafioso In Action
Pesta Pernikahan #92


__ADS_3

Empat hari kemudian.


Pukul 15:00 sore.


Kediaman Berlin.


"Berlin, bagaimana ... penampilanku ...?" tanya Nadia keluar dari kamarnya dengan memakai gaun pesta berwarna putih cantik. Tak hanya gaun saja, namun Nadia semakin dipercantik dengan perhiasan seperti anting dan kalung hati pemberian Berlin.


Berlin yang sudah siap dengan jas berwarna hitam dan tampak menunggu di depan kamar Nadia. Ia dibuat tertegun sekaligus terkesima dengan kecantikan dari kekasihnya itu. Ditambah lagi Nadia tampak cukup tersipu ketika bertanya soal pengambilannya kepada Berlin.


"Sayang, kita datang sebagai tamu, bukan pengantin," rayu Berlin mendekati Nadia lalu membelai rambut indahnya.


"Berlin, aku tanya bagaimana penampilanku, kamu malah gitu!" gerutu Nadia seraya mengerucutkan bibirnya dan menatap Berlin.


Berlin terkekeh dan tersenyum bahagia ketika melihat Nadia yang tampil sangat cantik dengan gaun pesta serta riasannya. "Kamu sangat cocok dengan gaun pesta ini, tetapi akan lebih cocok bila pakai gaun pengantin di pernikahan kita nanti, sih," ucap Berlin seraya menggodanya.


"Kamu ini ...!" gusar Nadia kembali, namun Berlin hanya tertawa melihat ekspresi imutnya.


"Sudahlah, apa semuanya sudah siap? Acaranya dimulai sebentar lagi, loh," cetus Berlin.


"Iya, sudah, kok. Ayo!" seru Nadia yang lalu menggandeng tangan lelakinya menuruni tangga rumah.


...


Satu pekan telah berlalu, dan di hari ini Berlin diundang untuk datang ke sebuah acara pernikahan dari orang terdekatnya yaitu Prawira. Dirinya mendapatkan undangan pesta pernikahan tersebut, dan tentunya ia datang bersama dengan Nadia.


Berlin sendiri merasa cukup grogi, karena ini pengalaman pertamanya untuk datang ke pesta pernikahan bersama dengan Nadia. Ditambah lagi beberapa hari sebelumnya, dirinya menghabiskan waktu untuk menyiapkan banyak hal untuk acara yang sama.


"Di sana pasti banyak orang," celetuk Nadia di tengah perjalanan dan tampak tidak sabar untuk segera hadir di pesta tersebut.


"Kamu berpenampilan sangat cantik seperti itu, pasti di sana jadi bahan perhatian, deh!" cetus Berlin dengan nada menyindir seraya melirik tipis Nadia yang duduk di sampingnya.


"Kamu nggak suka aku berpenampilan seperti ini?" sahut Nadia bertanya dengan sikap lugunya menoleh dan menatap Berlin yang sedang menyetir.


Berlin tertawa kecil dan mengatakan, "tentu saja aku suka! Laki-laki mana yang nggak suka kalau kekasihnya berpenampilan cantik seperti ini, coba?" ucapnya seraya melirik kembali Nadia di sampingnya dan lalu tersenyum padanya.


"Aku hanya tidak begitu suka aja jika kamu jadi bahan perhatian banyak orang," lanjut Berlin.


Tiba-tiba Nadia menyanggah seraya mengerucutkan bibirnya ia berkata, "aku juga tidak suka ketika kamu diperhatikan banyak gadis di luar sana."


Berlin hanya terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu. "Itu kan dahulu!" bantah Berlin lalu tersenyum tipis dan kembali tertawa kecil.


Mereka berdua pun saling berbincang selama perjalanan menuju ke tempat di mana pesta pernikahan itu digelar.


.

__ADS_1


~


.


Pukul 15:30 sore.


Kediaman Prawira.


Setelah perjalanan yang cukup panjang menuju ke kompleks perumahan daerah barat kota. Mereka berdua pun akhirnya tiba di sebuah rumah yang cukup mewah dengan halaman yang cukup luas. Halaman rumah tersebut tampak sudah sangat ramai dengan tamu-tamu undangan.


"Kenapa? Bukannya tadi kamu semangat banget?" tanya Berlin kepada Nadia ketika menggandengnya berjalan memasuki halaman depan rumah tersebut.


Nadia tampak grogi ketika mengetahui kalau banyak mantan rekan kerjanya yang juga hadir pada pesta pernikahan tersebut.


"Bos, ku kira kau nggak datang," sapa Asep berjalan menghampiri Berlin.


"Masa iya nggak datang, sih?" sahut Berlin dengan nada bergurau.


"Ya sudah, ayo! Yang lain sudah menunggumu, loh," ajak Asep kemudian berjalan melewati jalan di samping rumah untuk menuju ke taman belakang.


Berlin bersama dengan Nadia pun mengikuti langkah Asep seraya berbincang-bincang.


...


Tampaknya pesta tersebut dijaga cukup ketat oleh pihak kepolisian, dan mau bagaimanapun juga pesta tersebut dihadiri oleh tamu-tamu dari para aparat atau anggota polisi.


Seketika Nadia dibuat cukup gugup dengan keramaian di sekitarnya, ditambah lagi cukup banyak pasang mata yang langsung tertuju pada penampilannya.


"Sudah ku bilang, 'kan? Kamu ini memang memiliki kemampuan menarik perhatian banyak mata, ya?" bisik Berlin kepada Nadia yang semakin mengeratkan gandengannya pada lengannya.


"Berlin ...!" gusar Nadia seraya mengeratkan genggamannya pada tangan Berlin.


Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja Prawira berjalan menghampiri Berlin bersama Netty yang menggandengnya.


"Akhirnya kau datang juga, aku benar-benar menunggu kehadiranmu, loh!" cetus Prawira ketika berjalan menghampiri Berlin.


"Mohon maaf, perjalanan untuk ke sini memerlukan waktu, ya ...!" sahut Berlin yang lalu tertawa kecil.


"Nadia, apa kau sudah bertemu dengan Siska?" tanya Netty.


"Belum, aku baru saja tiba bersama Berlin," jawab Nadia menggelengkan kepalanya.


"Ngomong-ngomong, selamat atas pernikahannya, Prawira," sela Berlin seraya menjabat tangan milik Prawira dan juga Netty.


"Terima kasih. Kalian berdua kapan? Aku sudah menunggunya, loh!" sahut Prawira yang tiba-tiba mencetuskan pertanyaan yang cukup mengejutkan mereka berdua.

__ADS_1


Berlin dan Nadia saling beradu pandang untuk beberapa saat sebelum menjawab, "doakan saja secepatnya," jawab Nadia.


"Iya, lagipula aku juga tidak ingin lama-lama," timpal Berlin.


Di tengah mereka sedang asyik berbincang. Tiba-tiba Garwig berjalan menghampiri dengan sebuah gelas minuman di tangannya dan berkata, "hei, hei, enak ya di sini pada berpasangan."


Seketika apa yang dikatakan Garwig mengundang gelak tawa Berlin dan Prawira yang melihatnya berdiri seorang diri.


"Maaf, pak. Bukannya gimana-gimana, tetapi ya mau gimana?" cetus Prawira seraya terkekeh.


"Bukannya seharusnya bapak dahulu sebelum Prawira?" tanya Berlin berhenti tertawa.


"Entahlah, Berlin. Akupun masih senang sendiri," jawab Garwig sembari menghela napas dan lalu meminum gelas yang sedari tadi ia bawa.


...


Pesta pernikahan itu berlangsung cukup meriah meskipun tamu undangan hanyalah dari pihak para aparat kepolisian. Prawira sendiri memang tidak menginginkan pesta terbuka dan mengundang banyak orang.


Pada pesta tersebut Nadia juga mendapati serta bertemu dengan rekan-rekan yang dahulu pernah menjadi rekan kerjanya. Ia tampak asyik berbincang dengan banyak rekan wanitanya ditemani oleh Siska di sana. Sedangkan Berlin terlihat asyik berbincang dengan teman-temannya sendiri.


"Hai, Nadia. Lama kita tidak berjumpa, ya?" di saat Nadia sedang asyik berbincang dengan Siska dan beberapa teman wanitanya. Tiba-tiba saja seorang pria tampak menghampiri dan menyapanya dengan sikap seolah sangat akrab dengannya.


"Tobias, apa kau masih ingin mengganggunya?!" tegas Siska memperingatkan.


"Tentu saja tidak, lagipula aku sudah tahu hubunganmu dengan Berlin, dan aku tidak ingin lagi bermasalah dengan pria itu," jawab Tobias dengan mengangkat satu alisnya yang tampak terdapat bekas jahitan pada alis tersebut.


"Baiklah kalau begitu, aku permisi," lanjut Tobias dengan mata cukup waspada melirik ke belakang dari Nadia yang berdiri di depannya.


"Dasar, entah mengapa dengan melihat wajahnya saja selalu membuatku kesal!" gerutu Siska setelah Tobias beranjak pergi dari hadapannya dan juga Nadia.


Nadia tertawa kecil dan berkata, "sudahlah, cuek saja dengan orang seperti itu." Ia pun juga mulai beranjak dari tempatnya berada bersama Siska menuju ke meja prasmanan.


Berlin melirik dan melihat semua itu dari kejauhan seraya berbincang dengan teman-temannya. Entah mengapa dirinya tak bisa melepaskan pantauannya dari Nadia.


"Dasar, sepertinya aku ini terlalu berpikir berlebihan," batinnya yang lalu menghela napas dan melepaskan jangkauan pandangannya dari Nadia.


***


"Apa perlu kita laporkan tentang pesta ini kepada bos?" tanya seorang pria kepada satu rekannya dengan hoodie berwarna putih dan tampak sedang memantau jalannya pesta tersebut dari kejauhan.


"Kita laporkan saja apapun itu tentang Berlin, karena dia tujuan utamanya," jawab rekannya yang lalu berjalan menuju ke sebuah mobil beroda enam yang terparkir di belakangnya.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2