Mafioso In Action

Mafioso In Action
Di Balik Kabut #86


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Sore hari.


Vila Gates


Berada di vila milik Berlin. Semua teman-teman Berlin tampak sedang menghabiskan waktu bersantai mereka di sana. Tentu mereka dapat menggunakan villa milik Berlin setelah mendapatkan persetujuan langsung dari Berlin sendiri.


"Kamu mau ikut aku ke atas bukit?" ajakan Berlin kepada Nadia yang duduk di atas kursi rodanya dan tampak asik memandangi bunga-bunga yang bermekaran di halaman belakang vila.


"Atas bukit?" sahut Nadia menoleh dan menatap Berlin di sampingnya dengan tatapan bingung.


"Iya," jawab Berlin mengangguk dan tersenyum.


Nadia tidak begitu mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Berlin. Ke atas bukit?


"Baiklah, aku ikut." Nadia memberikan jawaban dari ajakan Berlin itu.


"Woaahh, hahahaha ...!"


"Bukan seperti itu, bodoh!"


"Hahahaha ...!"


Di tengah Berlin berbicara dengan Nadia. Tiba-tiba saja terdengar suara dari teman-temannya yang tampaknya sedang asik bersenang-senang di ruang tengah. Di sana juga ada Adam yang baru saja pulang setelah selesai mendapatkan perawatan inap di rumah sakit.


"Bos, mau ke mana?" cetus Asep ketika melihat Berlin berjalan melalui ruang tengah menuju pintu keluar bersama Nadia.


"Mau jalan-jalan sebentar," jawab Berlin menghentikan langkah dan dorongannya terhadap kursi roda milik Nadia.


"Silakan nikmati waktumu, Berlin!" celetuk Adam berjalan menghampiri Berlin bersama Sasha yang menggandengnya dan lalu tersenyum.


"Kau juga, bersenang-senanglah! Sudah bosan terlalu lama di rumah sakit, bukan?" sahut Berlin sedikit bergurau seraya memegang salah satu pundak temannya itu dan lalu tersenyum kepadanya.


Tampaknya kondisi Adam sudah benar-benar pulih, walaupun salah satu tangan dan kakinya masih terbalut perban. Namun dengan kembalinya Adam dari rumah sakit cukup membuat Berlin sangat senang, begitupula dengan teman-temannya.


~


Tidak jauh dari halaman depan vila. Terdapat sebuah bukit kecil tepat di seberang jalannya. Di lereng bukit tersebut terdapat sebuah jalan kerikil setapak yang sedikit mengitari bukit sebelum menuju ke puncak bukit.


"Aku tidak tahu kalau ada jalan seperti ini," gumam Nadia ketika melewati jalanan kerikil yang sedikit mengelilingi bukit itu.


"Nah, makanya tadi aku ajak kamu," sahut Berlin terus mendorong kursi roda Nadia menaiki lereng bukit melalui jalan tersebut.


Beberapa saat melewati jalanan kerikil. Tepat sebelum sampai ke puncak dari bukit kecil itu. Terdapat banyak tanaman bunga yang bermekaran dan sangat cantik dengan warna-warna yang indah. Bunga-bunga itu juga dikelilingi oleh cukup banyak kupu-kupu dengan warna-warna yang cantik.


Setelah melewati taman bunga yang indah itu. Terdapat sebuah bangku taman di ujung dari taman bunga yang menghadap ke arah vila yang berada tepat di bawah bukit.


Vila terlihat sangat jelas dari atas situ, tak hanya itu namun pemandangan kota yang jauh juga dapat di lihat dari atas bukit itu. Langit jingga yang indah serta cuaca juga cerah, sepertinya sangat mendukung untuk pasangan itu menghabiskan waktu.


"Bagaimana? Apa kamu suka dengan tempatnya?" tanya Berlin duduk di bangku taman tersebut kepada Nadia di sampingnya.


Nadia yang berpindah duduk di bangku tepat di sisi Berlin pun menyandarkan kepalanya pada bahu milik Berlin. "Aku menyukai pemandangan ini. Apa ini tempat yang kamu maksud waktu itu?" ucap Nadia bersandar dan sedikit memeluk lengan milik lelakinya seraya memandangi pemandangan indah di depan matanya.


"Bukan, sih. Tempat yang aku maksud waktu itu bukan di sini, dan tempatnya cukup jauh dari sini. Tetapi tempat itu memiliki pemandangan yang bisa lebih indah dari ini, dan mungkin kamu juga akan menyukainya," jawab Berlin.

__ADS_1


"Dasar kamu ini, selalu membuatku penasaran!" sahut Nadia semakin mempererat pelukannya.


Berlin hanya tertawa kecil saja. Beberapa kali ia membelai lembut rambut milik kekasihnya. Melihat wajah yang sangat ceria dari Nadia, dirinya merasa senang dan tenang jika Nadia juga senang atau bahkan bahagia saat bersamanya.


Mereka berdua pun menikmati waktu senja mereka di atas bukit kecil tersebut. Cuaca yang cerah dan angin yang berhembus pelan nan sejuk, itu menambah suasana yang lebih romantis untuk mereka.


Ditambah lagi, setelah melewati berbagai macam bahaya yang dapat merenggut nyawa. Itu cukup untuk membuat Berlin bersyukur bisa kembali dari semua kekacauan yang sempat terjadi dengan selamat. Dirinya juga bersyukur dirinya berhasil menyelamatkan Nadia dari kejadian itu.


"Aku sebenarnya tidak ingin menyia-nyiakan momen ini. Tetapi, aku ingin sesuai dengan rencana ku untuk menyatakannya di waktu dan kondisi yang tepat," batin Berlin seraya melirik lembut Nadia di sisinya yang tampak begitu menikmati pemandangan dari atas situ.


.


~


.


Pukul 20:00 malam.


Perairan perbatasan laut Tenggara.


"Selamat malam, Pak," ucap Prime memberikan hormatnya menyambut kedatangan Garwig melalui helikopter di atas sebuah kapal militer.


"Bagaimana situasinya?" tanya Garwig turun dari helikopter dan berjalan berdampingan dengan Prime menjauh dari landasan helikopter.


"Semuanya aman dan tidak terpantau kapal asing yang berlalu-lalang," jawab Prime.


Di tengah mereka berdua berjalan di atas geladak kapal. Tiba-tiba seorang marinir berjalan menghampiri Garwig, memberikan hormatnya dan berkata, "pesawat yang anda minta sudah siap, Pak. Tinggal menunggu perintah anda untuk menerbangkannya."


"Pesawat?" Prime bingung dan bertanya-tanya soal itu kepada dirinya sendiri. Sebuah kotak besi yang amat besar pun diturunkan dari helikopter milik Garwig.


"Baik, apakah bisa langsung diluncurkan?" sahut Garwig.


...


Sebuah pesawat tanpa awak berwarna perak dikeluarkan dari kotak besi yang diletakkan tepat di atas geladak kapal. Pesawat tanpa awak itu sangat familiar sekali dan mungkin lebih dikenal dengan sebutan 'drone'. Namun dengan desain dan tampilan yang berbeda karena tidak memiliki baling-baling di atasnya seperti selayaknya drone pada umumnya.


"Apakah diizinkan untuk menerbangkannya?" tanya marinir tersebut kepada Garwig yang berdiri di sampingnya. Ia sudah duduk di sebuah bangku dengan beberapa monitor dan tuas kemudi di depannya, yang sepertinya alat tersebut terhubung dengan pesawat tanpa awak itu.


"Ya!" sahut Garwig yang tampak tidak sabar menyaksikan bagaimana benda itu bekerja.


Marinir itu tampak sedang menghubungkan tuas kemudinya dengan pesawat tanpa awak yang sudah siap di atas geladak. Setelah itu, dirinya memacu kecepatan pesawat itu dengan sangat tinggi dan melesat terbang begitu saja.


WUUSSHHH ...!!!


Pesawat tanpa awak itu kini terbang tinggi pergi menjauhi kapal dengan sangat cepat.


Layar monitor yang ada di hadapan marinir itu pun menyala, dan menampilkan gambar-gambar yang dilintasi oleh pesawat tanpa awak itu. Gambar-gambar itu ditampilkan secara real time sesuai dengan apa yang didapat atau dilihat oleh kamera pesawat tanpa awak itu.


"Terbangkan menuju Tenggara!" pinta Garwig melipat kedua lengannya dengan mata terus memandangi layar monitor.


Marinir yang mengendalikan pesawat itupun melaksanakan apa yang diminta oleh Garwig. Dirinya mengarahkan terbang pesawat itu menuju ke arah tenggara, meskipun sejauh dari apa yang ditampilkan oleh kamera pesawat hanyalah laut lepas dan tidak terlihat apapun selain air laut.


"Apa kau yakin pulau yang kau maksud itu ada?" tanya Prime tidak yakin setelah menyaksikan apa yang ditampilkan kamera pesawat tanpa awak itu melalui layar kaca monitor.


"Pak, kita sudah jauh di luar teritorial milik kita. Apa anda yakin untuk terus meneruskannya?" tanya marinir itu.

__ADS_1


"Aktifkan mode senyap, jaga ketinggian, dan terus terbang ke arah tenggara!" pinta Garwig kembali.


"Baik," jawab marinir itu yang lalu mengaktifkan mode senyap pada pesawat tanpa awaknya.


Tampaknya tak hanya Prime dan Garwig saja yang penasaran dan ingin memastikan apakah pulau yang Garwig maksud itu benar-benar ada. Namun hampir semua personel awak kapal pun menyaksikan monitor yang menampilkan apa yang ditangkap oleh kamera pesawat itu.


Sudah selama 30 menit pesawat tanpa awak itu terbang terus ke arah tenggara. Namun tetap saja hasilnya nihil. Yang dilihat dan ditangkap oleh kamera pesawat itu hanyalah luasnya lautan yang berwarna biru dan gelapnya malam.


"Apa kau masih ingin meneruskannya?" cetus Prime bertanya kepada Garwig yang berdiri di sebelahnya.


Garwig tampak tak percaya dengan hasil nihil tersebut, karena sebelumnya dirinya pernah melihat pulau yang ia maksud bertahun-tahun yang lalu ketika melakukan kegiatan militernya.


Ketika Garwig ingin memerintahkan marinir itu untuk menarik mundur pesawat tanpa awak itu. Tiba-tiba dirinya melihat sesuatu yang janggal di lautan itu melalui monitor.


"Tunggu! Kabut?" cetus Garwig yang lalu menunjuk ke arah monitor.


Situasi di dalam anjungan kembali dibuat penasaran dengan apa yang Garwig lihat. Begitupula dengan marinir yang mengendalikan pesawat tanpa awak itu.


"Bisakah kau cek itu?" tanya Garwig kepada marinir tersebut.


Marinir itupun menerbangkan pesawat tanpa awak itu ke arah kabut yang ditunjuk oleh Garwig untuk memastikan. Ketika pesawat itu mendekati kabut, kamera menampilkan seperti ada bayangan dari sebuah pulau yang terselimuti oleh kabut tersebut.


"Apakah kau bisa menerbangkannya ke dalam kabut itu?" tanya Garwig semakin yakin kalau dirinya menemukannya.


"Baik," jawab marinir itu.


Beberapa saat setelah pesawat tanpa awak itu terbang menembus kabut. Tiba-tiba saja kamera pada pesawat itu menampilkan gambar yang sungguh menjawab semua rasa penasaran yang dimiliki oleh Garwig, Prime, dan semua orang yang menyaksikannya.


Benar saja, di sana tepat di balik kabut terdapat sebuah pulau yang Garwig maksud. "Benar ada? Pulau itu benar ada!" seru Prime tampak tidak percaya dan lalu merangkul Garwig dengan rasa senang.


"Kan sudah ku bilang!" sahut Garwig yang juga tampak senang dan lega.


Tak hanya Prime saja yang merasa senang, namun semua awak kapal pun merasa senang karena rasa penasaran mereka terbayar.


Pulau tersebut tampak sangat indah sekali dari kamera pesawat yang terbang tepat di atasnya. Dan tampaknya pulau itu adalah pulau yang berpenghuni, karena terdapat gemerlap lampu dari pemukiman yang terletak di pinggir pulau.


Tak hanya itu, tampaknya pemukiman itu bukanlah pemukiman biasa, melainkan adalah pemukiman yang sangat mewah. Terdapat banyak rumah yang mungkin menjadi vila yang sangat mencolok dan sangat mewah di sana.


Di bagian pantainya juga terdapat sedang ada aktivitas laut. Namun aktivitas di bagian pantai dan laut dari pulau tersebut sangatlah mencurigakan bagi Garwig yang melihatnya.


"Tunggu, apakah kau melihat orang-orang itu hanya memakai pakaian serba putih? Atau mungkin aku yang salah lihat?" celetuk Garwig mendekat diri dan wajahnya menatap monitor yang menampilkan aktivitas di pantai pulau itu.


"Bisakah kau perbesar gambarnya?" sambung Prime bertanya.


Ketika kamera dari pesawat tanpa awak itu diperjelas dan diperbesar. Betapa terkejutnya Garwig dan Prime yang ternyata apa yang mereka lihat adalah benar. Bahkan tak hanya satu sampai tiga orang, melainkan hampir semua dari banyaknya orang di sana memakai pakaian dengan warna yang sama, yaitu berwarna putih.


Garwig tampak berpikir. Dirinya pun segera menghampiri sebuah peta besar yang ada di atas meja besar dalam anjungan tersebut.


"Prime, beritahu aku kalau pulau itu masuk dalam teritori sebuah negara! Mungkin saja negara tetangga kita, atau sebuah negara baru?" tanya Garwig seraya matanya melihat ke sana ke mari pada peta tersebut.


"Tidak ada, tidak ada negara apapun di area sekitar pulau itu!" sahut Prime.


"Tunggu, jika tidak ada negara dan wilayah yang mencakup pulau itu. Lalu, pulau itu milik siapa?" lanjut Prime bertanya-tanya dan dibuat bingung sendiri dengan pertanyaannya.


Garwig menoleh dan menatap Prime yang berdiri di sebelahnya, "perseorangan?" sahutnya dengan tatapan tajam namun penuh kewaspadaan.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2