Mafioso In Action

Mafioso In Action
Meledak #21


__ADS_3

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 03:15 dini hari. Carlos menganggap sebagian anak buahnya sudah siap untuk menjadi bagian dalam misi. Ia pun memberikan perintahnya di radio, dan dapat di dengar dengan sangat jelas oleh seluruh anak buahnya yang terbagi-bagi menjadi beberapa regu atau tim.


"Saya akan menghitung mundur kepada kalian ... regu yang terbagi di kawasan Shandy Shell dan ... Paletown, untuk meledakkan Bom yang sudah kalian pasang!"


Carlos pun juga sudah siap dengan sebuah remote yang disertai dengan tombol berwarna merah. ia benar-benar sudah sangat tidak sabar untuk menekan tombol tersebut, dan menyaksikan Kantor Polisi Pusat yang akan meledak.


Di saat suasana radio menjadi sangat hening dan sepi, tiba-tiba terdengar suara seseorang di radio yang mengatakan, "Masih saya tunggu kabar baiknya ...."


Seseorang mengatakannya dengan suara yang terdengar berat dan dingin, semua personil mendengarnya dan sama sekali tidak ada yang berani menanggapinya.


Carlos pun menanggapi apa yang dikatakan orang tersebut dengan mengatakan, "Tidak akan lama lagi, tenang saja ...."


Carlos sendiri terdengar sangat akrab dengan orang itu, dan hanya dia yang mengenal dekat orang tersebut. Seseorang itu juga tampaknya sangat ditakuti oleh 'Mafioso', namun tidak dengan Carlos.


.


~


.


"Wah gawat ... kita nggak boleh gagal, kalau sampai gagal ... kita bisa habis sama Tuan," celetuk Leo yang terlihat sangat ketakutan dan kebingungan.


Leo dan keempat orang rekannya segera bergerak untuk masuk ke dalam Lounge Caffe, karena hanya tim dari mereka yang belum sama sekali melakukan tugasnya.


Dua orang yang bertugas membawa bahan peledak yaitu Riko, dan Varese, pun bergerak dengan mencoba agar tidak terlihat mencurigakan. Sedangkan tiga orang lainnya termasuk Leo sendiri, mencoba untuk melakukan pengalihan kepada dua penjaga keamanan yang sedang berjaga di depan Lounge Caffe.


Banyak sekali orang-orang dewasa dan remaja yang terlihat sedang menikmati waktu mereka. Berkali-kali terdengar suara-suara dari mereka, yang sedang bergurau dengan orang-orang terdekat mereka, berbincang dengan kekasih atau bahkan orang-orang yang mereka sayangi.


Mereka terdengar dan terlihat sangat bahagia dengan menghabiskan waktu mereka di sana, menghabiskan waktu mereka yang tersisa dengan orang-orang yang berharga yang mereka miliki.


...


Pada saat Leo dan rekan-rekannya berjalan melewati halaman parkir Lounge Caffe. Dua petugas yang berjaga itu mencurigai pergerakan mereka, yang terlihat seperti menutup-nutupi sesuatu di balik hoodie yang mereka kenakan.


"Kalian berlima, berhenti sebentar!" teriak salah satu petugas yang berjalan mendatangi Leo dan keempat rekannya.


Tahu akan kehadirannya diketahui, Leo dan keempat rekannya segera mempercepat langkah kaki mereka. Namun pergerakan yang mereka lakukan, justru membuat petugas tersebut semakin curiga terhadap mereka berlima.


Saat berusaha untuk melarikan diri dari petugas yang mengejar, tiba-tiba Carlos mengatakan kalau dirinya telah mengaktifkan waktu untuk bom yang berada di area kota.


"Untuk Bom di area kota telah diaktifkan, kalau kalian tidak ingin pergi ke neraka ... maka menjauh!"


Mengetahui hal tersebut, Leo kaget karena tidak mengetahui kalau ternyata bom yang ia dan rekannya bawa adalah bom waktu yang telah diatur oleh Carlos.


Melihat waktu yang terletak pada bom yang dibawa oleh kedua rekannya, dan mulai berjalan mundur dalam dua menit lagi. Leo sangat bingung dan panik seketika, situasi yang sudah cukup rumit baginya menjadi lebih semakin rumit saat mendengar apa yang dikatakan Carlos.


"Sial, kok begini ...?!" cetus Leo yang benar-benar tidak tahu tentang bom waktu yang mereka bawa.


.


"Yaudah, ayo cepat!" sahut Varese yang semakin panik dan ketakutan, karena ia bertugas membawa bahan peledak itu dalam rompi yang ia kenakan.

__ADS_1


Mereka terlihat panik dan tergesa-gesa untuk segera merapat menuju Lounge Caffe, dengan waktu yang sangat-sangat singkat. Mereka berlima pun segera berlari untuk menuju belakang dari Lounge Caffe, dengan keadaan dikejar oleh dua petugas yang berusaha memberhentikan pergerakan mereka.


Namun sebelum sampai ke area belakang dari Lounge Caffe, Riko yang membawa bahan peledak itu tiba-tiba terjatuh karena kakinya tertembak oleh salah satu dari petugas yang mengejar.


Tembakan tersebut tidak diduga oleh Leo dan keempat rekannya, karena ia mengira kalau kedua petugas yang mengejarnya akan berpikir berkali-kali untuk melumpuhkan salah satu dari mereka berlima. Tapi ternyata itu diluar dugaan dan Riko terlumpuhkan dengan satu kali tembakan.


Mengetahui hal tersebut, Leo dan kedua rekannya membalas tembakan yang diberikan oleh kedua petugas tersebut.


Baku tembak pun sempat tidak terelakkan. Namun dua petugas keamanan yang mengejar mereka langsung tewas di tempat, dengan keadaan penuh dengan luka tembak.


Leo dan kedua rekannya pun menghampiri kedua petugas yang tewas di tempat itu, dengan maksud untuk merampas semua barang bawaannya.


"Gila, mereka berdua nggak mikir apa?!"


Di saat yang bersamaan, Varese berlari ke arah Riko dengan maksud untuk menolongnya.


"Tolong ... kaki kiri ku ... tertembak," rintih Riko dengan menahan rasa sakitnya.


Pada saat Varese ingin menolong rekannya, matanya secara tidak langsung melihat detik waktu pada bom yang ia dan rekannya bawa di rompi mereka.


Waktu tersebut terus berjalan mundur dengan cepat dan dalam satu menit kemudian akan meledak. Mengetahui hal itu, Varese tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk menolong rekannya. Fokusnya justru teralihkan untuk melepas rompi yang ia pakai, tanpa memedulikan temannya sama sekali.


Riko yang menyadari kalau dirinya terancam, ia juga mencoba untuk melepas dan membuang rompi yang ia kenakan dari tubuhnya. Namun kancing pada rompinya tersangkut oleh baju dan kabel-kabel dari bom yang melekat pada rompi tersebut.


"Varese, tolong ... ini tersangkut," cetus Riko yang terus mencoba melepaskan rompi yang tersangkut itu dari tubuhnya.


Tetapi Varese sama sekali tidak menghiraukan temannya yang membutuhkan bantuan darinya. Dirinya fokus untuk melepas rompi yang ia kenakan, karena dalam 45 detik kemudian bom tersebut akan meledak.


"Varese ... tolong bantu aku, ini tersangkut ..."


Tepat 20 detik sebelum bom itu meledak, Varese berhasil melepaskan rompi miliknya dari tubuhnya. Ia langsung meninggalkan rekannya Riko dalam keadaan terluka dan penuh bahan peledak di sampingnya.


"Kumohon tolong ...!" teriak Riko yang mencoba untuk merangkak ke arah Varese yang berlari meninggalkannya.


Varese berlari menuju ke arah Leo dan kedua rekan lainnya, serta menarik mereka bertiga untuk menjauh meninggalkan lokasi, karena bom tersebut tidak lama lagi akan meledak.


"20 detik lagi Bom akan meledak!" teriak Varese yang berlari menghampiri Leo dan kedua rekan lainnya.


Mendengar hal tersebut, kedua rekan lainnya langsung berlari menjauh serta menuju mobil mereka yang terparkir jauh dari lokasi.


"Tunggu ... Riko bagaimana?!" sahut Leo yang menahan Varese untuk berlari.


"Nggak bisa!" jawab Varese dengan menarik Leo untuk menjauh.


.


"Tapi--"


"Kau mau mati disini?!" celetuk Varese yang menyela perkataan Leo serta menariknya untuk menjauh.


Leo pun akhirnya terbujuk dan berlari meninggalkan Riko yang terus mencoba untuk merangkak menghampirinya, dengan keadaan dipenuhi bahan peledak di sekelilingnya, dan dengan keadaan terluka.

__ADS_1


"To..long ... kumohon ... jang---"


.


~


.


"3 ... 2 ... 1 ... Boom ...," gumam Carlos di radio.


DUAR !!!


Ledakan dari bom tersebut pun terjadi, dan seakan menghancurkan apapun yg berada di sekitarnya tanpa ampun serta memandang bulu.


Leo menyaksikan semua kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri, dan semuanya dengan cepat terjadi begitu saja.


...


Suara ledakkan berkali-kali terdengar seperti berasal dari segala penjuru kota, dan itu membangunkan hampir seluruh warga yang sedang bermimpi dengan tenang. Tidak hanya Kota Metro saja yang mendapatkan teror ini, namun dua kawasan lainnya yaitu Shandy Shell, dan Paletown juga mendapatkannya.


"Bagus ... berarti misi kalian berhasil ...," suara yang sangat berat kembali terdengar di radio, dan berasal dari seseorang yang memiliki peran sangat penting dibalik semua yang telah terjadi.


.


"Saya tunggu kalian semua di markas," lanjutnya.


"Semua personil yang ikut serta, kita kembali menuju markas, dan ... kita akan merayakannya!" teriak Carlos kepada semua anak buahnya melalui radio.


"Ada bonus kah ...?"


"Cair malam ini bisa sih ..."


"Let's start the party ..!"


Mereka terdengar sangat senang dan lega, karena sudah berhasil menjalankan misi yang sebenarnya sudah tertunda selama beberapa tahun yang lalu.


Misi itu sebenarnya sudah ada dan direncanakan sejak beberapa tahun yang lalu, sesuai dengan kesepakatan dari kedua belah pihak "****Keluarga****". Namun karena terjadinya beberapa masalah yang sempat terjadi selama beberapa tahun terakhir, misi yang mereka rencanakan ini sempat tertudan berkali-kali.


Seseorang dibalik semua ini merasa sangat senang dan lega, saat mendengar kabar bahwa misi yang mereka lakukan telah berhasil. Carlos sendiri juga merasa sangat lega karena telah berhasil melaksanakan misi mereka, dan membawa kabar baik kepada kelompoknya.


.


~


.


Pada saat perjalanan untuk kembali menuju markas, Leo sangat merasa bersalah karena telah meninggalkan rekannya. Ia berkali-kali melirik ke arah kursi di sampingnya yang kosong tanpa kehadiran Riko.


"Diam-diam aja kau, kita berhasil loh ..." celetuk Varese yang duduk di kursi belakang, dan terlihat sama sekali tidak merasa bersalah telah meninggalkan rekannya.


Namun Leo hanya diam saja, dan memilih untuk fokus menyetir mobil yang ia kendarai menuju markas. Dirinya bingung harus mengatakan apa, pada saat Niko menanyakan keberadaan Riko. Leo sadar kalau Niko akan merasa sangat marah dan sedih. Karena dirinya telah meninggalkan adiknya yaitu Riko, dan menjadikannya sebagai tumbal dari misi yang mereka jalankan.

__ADS_1


"Sial ... Niko bisa membunuh ku ... aku harus berkata apa soal Riko ...?" gumamnya dalam hati dengan keadaan yang samasekali tidak memperlihatkan ketenangan.


Bersambung.


__ADS_2