
"Ada apa ? Kenapa kau memanggilku ?" tanya Carlos kepada Nicolaus.
Carlos terlihat sedikit kesal ketika dirinya dipanggil oleh Nicolaus ke ruang pribadinya. Namun mau tidak mau dirinya harus mematuhinya.
"Silakan duduk, dan tunggu sebentar !" jawab Nicolaus dengan tenangnya mempersilakan Carlos untuk duduk di sofa miliknya.
Carlos pun menurutinya dan duduk di sofa yang cukup mewah berwarna hitam pada ruangan tersebut. Dirinya harus menunggu entah sampai kapan sesuai dengan apa yang disuruh oleh Nicolaus.
Di tengah Carlos menunggu. Tiba-tiba kedua rekannya yaitu Cario dan Gee berjalan memasuki ruangan. Dirinya cukup begitu bingung dengan kehadiran dua rekannya di ruangan itu.
"Baik, sekarang apa ?" cetus Carlos kepada Nicolaus yang berdiri di depannya.
Nicolaus berjalan ke balik mejanya dan mengambil sebuah lembaran peta dari laci mejanya. Ia memberikan peta tersebut kepada Carlos dan kedua tekannya.
Carlos dan dua rekannya masih bingung dengan maksud dari Nicolaus memberikan peta kepada mereka.
"Ini misi untuk kalian bertiga !" ujar Nicolaus ketika memberikan peta tersebut.
Carlos, Cario, dan Gee saling beradu pandang setelah mendengar tugas yang diberikan untuk mereka.
"Misi apa itu ?" tanya Carlos.
"Demi berjalannya rencana utama dengan lancar, aku ingin kalian mengerjakan misi ini dengan sempurna," ucap Nicolaus dengan tenangnya.
"Jangan kembali ... jika misinya gagal !" lanjutnya dengan sikap yang cukup dingin.
Nicolaus pun mulai menjelaskan misi yang akan ia berikan kepada Carlos dan dua rekannya.
"Selama beberapa hari kedepan, kalian akan terus memantau keadaan Balaikota dan sekitarnya !" Nicolaus mulai berbicara dengan menunjuk-nunjuk lokasi atau tempat yang ia maksud.
"Kumpulkan banyak informasi dari sana ... seperti penjagaan, dan sebagainya," lanjutnya.
"Tunggu, beberapa hari ?!" sela Carlos dengan nada sedikit tidak terima.
Nicolaus menghentikan arahannya sejenak, dan melirik tajam kepada Carlos dengan lirikkan yang terlihat sangat kejam. Carlos pun langsung terdiam membisu dan menyimak kembali perintah serta arahan yang akan ia terima.
"Rencana utama sudah siap dan tinggal menunggu untuk dijalankan, serta target kita adalah Gedung Balaikota tersebut," ucap Nicolaus.
Mendengar hal tersebut membuat jidat milik Carlos mengerut. Dirinya benar-benar bingung karena tidak mengetahui detail dari rencana yang dimiliki oleh Nicolaus selama ini. "Gedung Balaikota ?" celetuk Carlos.
"Apa yang harus kami lakukan dengan Gedung Balaikota itu ?" tanya Cario.
"Kalian cukup memantaunya dari luar untuk memperoleh banyak informasi mengenai kemanannya. Selain itu, serahkan saja pada koneksi ku yang selama ini sudah bekerja menjadi bagian dari gedung tersebut," jawab Nicolaus.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan kepada gedung itu ?" tanya Carlos.
Seketika suasana menjadi hening selama beberapa saat. Kedua rekannya saling beradu pandang dengan tatapan heran dan penuh tanya.
Nicolaus menghela napas cukup panjang, dan dengan tenangnya menjawab, "bukan gedungnya yang aku incar, tetapi orang dan dampaknya," jawabnya menggelengkan kepala perlahan dan dengan nada yang terdengar cukup kejam.
"Baiklah, hanya itu ?" ujar Gee bertanya guna memastikan.
Nicolaus mengangguk pelan dan menjawab, "itupun kalau kalian tidak ketahuan."
"Gedung Balaikota berada di atas bukit kota, dan di sebelah Utara cukup banyak bukit kecil. Tentu kita bisa manfaatkan bukit-bukit itu," ucap Cario dan menoleh kepada kedua rekannya.
"Dan kita tidak bisa memantaunya dari arah Selatan, karena itu tebing dan tepat di bawahnya perumahan elit kota," sambung Gee.
"Dari kabar informasi yang masuk, di sekitar Barat, Utara, dan Timur dijaga ketat oleh pihak berwajib," ujar Nicolaus dengan menunjuk tiga lokasi pada peta yang ia bawa.
"Jadi ... semoga berhasil," lanjutnya melipat peta tersebut.
Sebelum Carlos dan kedua rekannya berangkat, Nicolaus berkata, "karena wilayah markas kita ini sudah diketahui, maka dari itu aku berharap kepada kalian, salah satunya kepadamu, Calros."
"Secepat mungkin kita harus segera melaksanakan rencana utama, sebelum kepolisian menyerang tempat ini," lanjutnya.
~
"Bagaimana dengan laporan renovasinya ?" tanya Prawira bangkit dari kursi kepada Netty yang berjalan menghampirinya.
"Renovasi pos penjagaan diperkirakan perlu waktu tiga hari lagi," jawab Netty dan memandang ke arah pos penjagaan Balaikota yang terlihat sedang dibangun ulang setelah terjadinya ledakan.
__ADS_1
Setelah selesai dari Kediaman Gates. Prawira dan Garwig langsung bergegas pergi ke Gedung Balaikota untuk meninjau lokasi di sana. Sesampainya di Gedung Balaikota, rupanya ia sudah ditunggu oleh sekertarisnya yaitu Netty.
"Renovasi Kantor Pusat, Kantor Shandy Shell, Kantor Satlantas, dan Pos Polisi serta Kantor Paletown juga berjalan lancar," sambung Netty memberikan lembaran berisikan laporannya kepada Prawira.
"Pos Penjagaan Perbatasan Harmony, Pos Polisi kota dekat rumah sakit, dan Lounge Caffe juga sudah diperbaiki," lanjut Netty ketika memberikan lembaran laporannya.
Dengan senang hati Prawira menerima dan membaca isi laporan yang sudah dibuatkan oleh rekannya itu. Dirinya merasa cukup lega dengan semua laporan yang dibuat dan diterima. Ia kembali duduk dengan santai di sebuah bangku pada halaman Gedung Balaikota sembari meninjau situasi sekitar.
"Ngomong-ngomong, apa semua anggota di sini tidak berlebihan ?" tanya Netty duduk di sebuah kursi tepat di samping Prawira.
Terlihat sangat banyak anggota polisi yang berjaga di setiap sudut dan tempat mengelilingi Gedung Balaikota tersebut. Tak hanya anggota polisi, tetapi juga bekerjasama dengan tim penjagaan walikota.
"Kurasa tidak, dan sudah sewajarnya," jawab Prawira sembari mengambil botol minumnya yang terletak di samping bangku dan lalu meminumnya.
"Dan juga ... ini semua atas perintah Garwig," lanjutnya setelah selesai minum.
Di tengah Prawira dan Netty duduk-duduk santai di halaman balaikota. Tiba-tiba seorang penjaga pintu masuk gedung berjalan menghampiri dan berkata, "Pak, Tuan Garwig memanggil anda," katanya dengan memberikan hormat menundukkan kepala.
"Baiklah, terima kasih," sahut Prawira.
Prawira pun mengikuti seorang penjaga tersebut berjalan menuju ke tempat Garwig yang sudah menunggunya. Tak mau ketinggalan, Netty juga ikut bersama Prawira untuk bertemu dengan Garwig.
Dengan berjalan memasuki Gedung Balaikota yang megah berwarna putih, Prawira dan Netty menemui Garwig yang sudah menunggu di ruang pertemuan.
Sesampainya di ruang pertemuan, penjaga yang tadinya mengantar kembali ke pintu depan dan berjaga.
"Masuk !" titah Garwig kepada Prawira dan Netty yang hanya berdiri di pintu.
Prawira dan Netty pun berjalan masuk ruangan, dan duduk di kursi yang sudah tersedia. Terlihat Garwig tak sendiri menunggu di ruangan itu, ia ditemani oleh Boni yang duduk di kursi sampingnya.
"Ada apa memanggil saya ?" tanya Prawira saat duduk di kursinya.
"Aku hanya ingin sedikit membicarakan tentang keamanan saja. Apa keberatan ?" jawab Garwig.
"Tentu tidak," sahut Prawira.
~
"Sial, kenapa harus kita, sih ?! Padahal hari ini aku ingin bersantai," Carlos menggerutu dengan sendirinya ketika berjalan keluar dari ruangan Nicolaus ke arah sebuah gudang.
"Gimana kalau kau saja yang berangkat, Bos ?" cetus Gee berjalan di samping Carlos.
"Sialan juga kau !" sahut Carlos dengan memukul sedikit keras punggung milik temannya itu.
"Tetapi, ini bisa menjadi kesempatanmu, Bos. Karena perumahan milik Berlin ada di bawah bukit Gedung Balaikota itu, 'kan ?" ujar Cario kepada Carlos di sampingnya.
Carlos tiba-tiba diam dan berpikir sejenak dengan apa yang dikatakan oleh rekannya itu. "Benar juga, mungkin ini kesempatan bagiku untuk melakukan rencana itu ?" batinnya.
Tiba-tiba dengan semangatnya Carlos langsung naik ke dalam mobil yang terparkir di dalam gudang dengan terlihat sangat siap.
"Kenapa tiba-tiba begitu bersemangat ?" cetus Cario heran dengan sikap Carlos yang tiba-tiba berubah.
"Senjata jangan lupa !" ucap Gee mengambil dan menyimpan pistolnya.
Setelah semuanya sudah siap dengan rencana-rencana yang ada. Mereka bertiga pun segera berangkat menggunakan mobil beroda enam.
~
Setelah perjalanan yang cukup panjang dari markas mereka menuju ke Gedung Balaikota. Mereka akhirnya sampai ke tujuan.
Namun, baru sampai di sebuah pertigaan lereng bukit sebelum masuk ke area Gedung Balaikota. Penjagaan di sana terpantau sangat ketat. Setiap orang yang keluar masuk area Balaikota akan selalu melalui pengecekan yang hampir mustahil terbobol.
"Benar, dijaga ketat," ujar Cario menepikan dan menyembunyikan mobil yang dikendarai ke balik pepohonan yang ada.
"Saat ini kita berada di bagian timur, dan aku sangat yakin di bagian barat pun juga sama ketatnya. Bagaimana kalau kita memutar ke atas bukit dan mengambil tempat di bagian selatan ?" Carlos membuka peta pada layar monitor kecil yang terpasang di mobil, dan memberikan sarannya kepada kedua rekannya.
"Bisa saja, tetapi nanti kita harus meninggalkan mobil dan jalan kaki agar tidak mencolok," jawab Cario.
"Kita bisa mengambil titik ini jika mau, dari situ kita dapat melihat gedungnya," sela Gee dengan menunjuk satu lokasi pada peta digital tersebut.
Cario pun kembali mengendarakan mobilnya dan segera menuju ke tempat yang dimaksudkan oleh Gee. Tempat itu berada di puncak bukit kecil yang terletak di sebelah Utara dari Gedung Balaikota.
__ADS_1
Karena lokasi itu tidak mendapatkan akses jalan beraspal, terpaksa mereka bertiga harus menerjang jalanan tanah dan sedikit bebatuan.
"Berhenti !" titah Carlos kepada Cario.
Cario pun menepikan dan memarkirkan mobilnya di balik sebuah bukit kecil. Di sekitar bukit itu terlihat tidak terjaga, dan membuat mereka bertiga cukup aman saat ini.
"Tidak ada penjagaan di sini," ucap Gee turun dari mobil.
"Ya," sahut Cario yang juga turun dari mobil usai memarkirkannya.
Setelah mobil tersebut terparkir, mereka bertiga pun berjalan beberapa langkah menuju atas bukit kecil di depan mereka. Di bukit kecil itu tidak terdapat pepohonan, namun cukup banyak semak-semak besar yang bisa dijadikan tempat untuk bersembunyi.
"Wow, Balaikota benar-benar dijaga sangat ketat," gumam Cario terkejut saat melihat area sekitar Balaikota yang dipenuhi penjaga.
"Kelihatannya ... pos yang kita ledakan sedang diperbaiki," ujar Carlos melihat ke arah sebuah pos yang sedang direnovasi.
"Berarti ... kita berhasil membuat mereka sampai seperti ini," sela Gee.
Mereka bertiga memantau area sekitar Balaikota dengan bersembunyi dari balik bukit dan semak-semak. Mereka juga terlihat begitu terkejut dengan situasi Balaikota yang penuh dengan penjagaan.
"Kita di sini ... sampai kapan ?" tanya Gee menoleh kepada Carlos yang duduk bersandar di sebuah pohon kecil.
"Aku tidak tahu, tetapi yang jelas ... aku di sini tidak akan hanya melaksanakan satu misi," jawab Carlos.
"Ngomong-ngomong, apakah kau tahu tentang rencana utama yang dimiliki Bos Nicolaus ?" sela Cario bertanya demikian kepada Carlos.
"Sebenarnya ... aku tidak begitu menahu soal rencana utama itu, aku hanya tahu kalau rencana itu bertujuan untuk menguasai kota," jawab Carlos dengan santainya duduk di bawah pohon kecil dan di bawah teriknya matahari.
"Menguasai kota ?" sahut Gee.
"Ya, dan tentunya ... akan melibatkan banyak pihak," sahut Carlos.
"Bagaimana dengan rencanamu sendiri, Bos ?" tanya Cario kembali.
Carlos menoleh ke arah Cario dan menjawab, "kita akan melakukannya di sela-sela misi ini."
~
Setelah berbincang panjang lebar dengan Gariwg dan Boni. Prawira kembali membahas tentang kelompok Mafioso di hadapan mereka. Ia juga membahas tentang rencananya yang akan mengambil alih serta membereskan wilayah Bukit Sunyi, yang di mana wilayah tersebut adalah wilayah yang ia diduga markas dari Mafioso.
"Berarti ... kita akan melakukan penyerangan ?" sahut Boni menyela setelah Prawira sedikit menjelaskan rencananya.
"Bisa dibilang begitu," jawab Prawira.
"Karena yang saya takutkan, mereka akan menyerang kita lebih dahulu dengan skala yang lebih besar," lanjutnya menunjukkan catatan banyaknya kasus yang sudah disebabkan oleh kelompok Mafioso itu.
Garwig diam dan menyimak dengan saksama semua yang dijelaskan oleh Prawira di hadapannya.
"Bila begitu, apakah bisa dijamin untuk keamanan para warga ?" sahut Boni mengerutkan dahinya dan dengan tatapan penuh kecemasan.
"Apakah kepolisian bisa menanganinya ?" lanjutnya dengan serius ketika menanyakan hal tersebut.
Prawira langsung memandang ke arah Garwig. Begitu juga dengan Garwig. Sehingga mereka berdua saling beradu pandang dengan tatapan tidak begitu meyakinkan.
"Jika terpaksa nantinya, saya akan menyatakan status kota menjadi siaga satu, dan saya sendiri yang akan menjaminnya," jawab Garwig melirik kepada Boni dengan lirikkan yang sangat serius.
"Mengingat orang-orang Mafioso itu sangatlah banyak, kepolisian akan melatih lebih banyak anggota lagi demi mengamankan kota," sambung Prawira.
"Aku sangat percaya kepada kalian, aku menyerahkan semua kasus ini kepada kalian," ucap Boni memandang kepada Prawira dan Garwig.
"Sudah menjadi kewajiban kami untuk menangani kasus-kasus ini," sahut Garwig menoleh dan sedikit menunduk kepalanya kepada Boni.
Garwig kembali mengangkat kepalanya dan melirik ke arah Prawira dengan sedikit mengangguk seperti memberi kode sesuatu.
***
"Bagus ...!" gumam seorang penjaga.
Tanpa disadari oleh satu orang pun di dalam ruangan tersebut. Seorang penjaga terlihat berjalan melewati pintu ruang pertemuan setelah semua pembicaraan pada ruangan itu telah selesai.
Penjaga tersebut ternyata adalah seorang penjaga yang sebelumnya menghampiri Prawira saat duduk di bangku halaman Balaikota. Ia terlihat berjalan sembari menggenggam sebuah ponsel dan terlihat seperti sedang menghubungi seseorang.
__ADS_1
Bersambung.