Mafioso In Action

Mafioso In Action
Surat Lagi dan Lagi #98


__ADS_3

Di pagi harinya. Berlin langsung pergi menemui rekan-rekannya yang berada di bengkel pribadinya untuk membicarakan soal tamu tak diundang yang datang ke rumahnya kemarin malam.


Dengan membawa surat dari tamu tak diundang itu yang ia temukan di teras rumahnya. Ia menjadikan surat itu sebagai bukti.


"Apa ada masalah?" tanya Kimmy kepada Berlin ketika berkumpul di ruang utama.


Teman-temannya langsung berkumpul ketika melihat Berlin datang berjalan memasuki ruang tengah dengan ekspresi dan aura yang cukup dingin.


"Maaf mengumpulkan kalian tiba-tiba begini," ucap Berlin berdiri di depan teman-temannya.


"Tidak masalah bagi kami," sahut Faris.


"Katakan saja apa yang membuatmu terlihat kesal seperti itu!" pinta Aryo melihat ekspresi Berlin yang tampak seperti sedang menahan kekesalannya agar tidak meledak-ledak.


"Sebenarnya ada sedikit masalah klise, yaitu aku mendapatkan surat peringatan yang juga mungkin bisa menjadi sebuah ancaman." Berlin langsung memberitahukannya di depan teman-temannya sekaligus menunjukkan surat yang ia temukan sebelumnya.


"Kami terus memantau dirimu, Berlin. Lindungi serta jagalah gadis itu selagi masih sempat!" Begitulah kalimat singkat yang tertulis pada surat yang ditemukan, dan di akhir kalimat terdapat nama sang pengirim surat yang tertulis "Nostra".


Rekan-rekannya cukup terkejut setelah mengetahui serta membaca pesan singkat pada surat tersebut. Mereka dibuat terkejut dengan nama sang pengirim dari surat tersebut. Nostra?


"Gadis itu? Siapa?" gumam Bobi ikut membaca surat yang ditunjukkan Berlin.


"Apakah gadis yang dimaksud adalah Nadia?" cetus Asep bertanya-tanya.


"Sekarang Nadia ada di mana? Dia baik-baik saja, 'kan?" sambung Adam.


"Ya, saat ini dia sedang berada di panti asuhan, dan aku pun juga sudah menyuruhnya untuk lebih berhati-hati," jawab Berlin.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan, Bos?" tanya Rony.


Berlin langsung terdiam dan tampak begitu berpikir. Terdapat banyak hal yang perlu ia pertimbangkan sebelum mengambil keputusan. Ditambah lagi dalam dua hari kemudian adalah hari yang sangat penting baginya dan juga mungkin dalam hidupnya.


Adam melangkah mendekati Berlin, ia memegang salah satu pundak milik rekannya itu dan mengatakan, "lebih baik kau tidak perlu begitu memikirkannya terlebih dahulu, dan serahkan masalah ini pada kami." Dan perkataan itu cukup membuat Berlin terkejut.


"Ya, benar apa yang dikatakan Adam. Untuk sementara ku sarankan kita bermain lebih pasif terlebih dahulu, setelah itu di waktu yang tepat baru kita meladeni permainan mereka!" timpal Asep.


"Kami setuju dengan apa yang dikatakan Adam dan Asep!" lanjut Kina berbicara mewakili teman-temannya.

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih," ucap Berlin lalu tersenyum di hadapan semua rekannya karena dirinya merasa sangat terbantu.


Berlin merasa jauh lebih tenang sekarang. Dirinya bisa lebih berpikir dengan tenang tanpa harus terlalu mengkhawatirkan atau mencemaskan banyak hal. Ia juga sangat bersyukur karena memiliki teman-teman yang menurutnya sangat hebat, dan mereka berada di pihaknya.


.


~


.


"Seperti biasa, ya? Kau selalu mencari udara di sini," ucap Prawira berjalan menghampiri Garwig yang tampak sedang bersandar santai di pagar pembatas atap kantor polisi pusat. Ia berjalan dengan membawa dua buah minuman kaleng dan memberikan salah satunya kepada Garwig.


Di siang hari ini, Garwig tampak sedang mengambil jam istirahatnya untuk bersantai di tempat favoritnya. Ia beberapa kali menghela napas berat.


"Kantor ini rasanya sudah seperti rumahku," ujar Garwig menerima dan lalu meminum minuman kaleng tersebut.


"Garwig, soal kasus ancaman yang ditujukan kepada Berlin itu. Apakah kau memiliki rencana untuk lusa?" tanya Prawira berdiri di samping Garwig.


Garwig tampak kembali menghela napas berat dan memikirkan soal itu. "Dari interogasi dan pemeriksaan terhadap dua tersangka kemarin, mereka berdua sudah terbukti memiliki keterikatan dengan Clone Nostra," ucapnya.


"Dan dari penyelidikan soal ancaman tersebut, terdapat beberapa hal yang menguatkan kalau ancaman itu juga berasal dari Clone Nostra," lanjutnya.


Garwig terlihat menggelengkan kepala dan lagi-lagi menghela napas cukup berat. "Masih nihil soal itu, aku benar-benar ... buntu," jawabnya seraya sedikit tertunduk.


Garwig kembali menghela napas seraya menengadahkan kepalanya menatap ke arah langit biru yang cerah di siang itu. Dan ketika itu juga dirinya tiba-tiba terkekeh dengan sendirinya.


Prawira dibuat bingung dengan sikap rekan sekaligus atasannya itu yang tiba-tiba saja tertawa tanpa sebab.


"Um ... kau baik-baik saja, 'kan?" tanya Prawira seraya menepuk salah satu pundak milik rekannya itu.


"Tentu, aku baik saja," jawab Garwig menghentikan tawanya.


"Aku hanya sedang menyukai pekerjaan ini," lanjutnya lalu menyeringai tipis.


"Pekerjaan yang penuh dengan kerumitan," timpal Prawira lalu terkekeh dengan sendirinya.


"Besok mungkin aku akan sibuk menyelidiki kasus Nicolaus langsung, dan mungkin aku tidak akan kembali sampai lusa," ujar Garwig. "Untuk acara pernikahan Berlin, aku serahkan padamu, Prawira!" pintanya.

__ADS_1


"Tetapi kau tetap akan datang, 'kan?" sahut Prawira.


"Akan ku usahakan," jawab Garwig menoleh lalu kemudian tersenyum tipis. "Yang terpenting acara tersebut harus berjalan dengan aman dan lancar. Karena jika aku menjadi Clone Nostra, dan situasi ku sedang mengincar Berlin, aku pasti akan melakukan sesuatu di hari itu," lanjutnya.


Prawira cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Garwig. Namun itu bisa saja terjadi jika perhitungan Garwig memang benar.


"Namun itu hanyalah perhitungan ku saja, dan tentunya aku berharap semoga itu tidak terjadi," ujar Garwig kemudian.


.


~


.


WUSSHHH ...!!!


Angin berhembus cukup kencang dengan membawa aroma laut ke tepi dari sebuah pantai. Gemerecak suara ombak yang pecah ketika menabrak terumbu karang dan sampai ke bibir pantai juga ikut terdengar serta dapat disaksikan.


Di tepi pantai tersebut terlihat seorang pria berpakaian serba hitam, dan pria tersebut memiliki luka bakar di bagian wajah sebelah kanan.


Di tengah pria itu berdiri di tepi pantai dan memandangi ke arah laut yang indah itu. Dirinya tiba-tiba dihampiri oleh pria lain dengan pakaian serba putih yang sepertinya pria itu adalah rekannya.


"Acara pernikahan tersebut akan dilaksanakan lusa. apakah kau memiliki rencana, Nico?" tanya pria yang menghampirinya dan lalu berdiri di sampingnya.


"Apakah kau sudah mendapatkan informasi soal lokasi di mana diselenggarakannya?" sahut Nico melemparkan pertanyaan.


"Sudah, lokasi yang akan digunakannya adalah pantai dan sebuah vila yang ada tepat di pinggir pantai tersebut," jawab pria itu.


"Bagaimana dengan surat itu?" tanya Nico kembali.


"Kami sudah mengirimkannya semalam, dan dua orang kami berhasil mengirimkan surat tersebut langsung ke kediamannya," jawab pria berpakaian serba putih itu.


"Lalu bagaimana dengan rencana untuk lusa? Apa yang ingin kau lakukan?" lanjut pria tersebut.


"Tunggu saja besok, aku tidak ingin terlalu gegabah dan mengulangi kesalahan yang sama. Namun kalian tetaplah bersiap ...!" ujar pria yang dipanggil dengan panggilan Nico itu kepada rekannya.


Pria yang dipanggil dengan sebutan Nico itu tampak sedikit menyeringai sembari terus memandangi pemandangan lautan dan pantai di sekitarnya. "Kira-kira ... rencana apa yang cocok, ya?" batinnya seraya memikirkan hal tersebut.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2