
"Kamu tenang ya ..., kita langsung saja ke sana dan lihat kondisi dari adikmu itu ...," cetus Berlin kepada Vhalen.
Vhalen hanya mengangguk dan terus mengusap air mata yang membanjiri pipinya. Nadia pun terlihat ikut membantu untuk menenangkannya dengan merangkul serta mendekapnya.
"Dia pasti sudah mendapatkan perawatan yang terbaik, dan aku yakin dia akan baik-baik saja ...," gumam Nadia berbisik pelan kepada Vhalen yang terlihat bersandar lemas di bahunya.
"Langsung saja berkemas, dan tidak perlu membawa senjata atau barang ilegal apapun itu !" titah Berlin kepada semua rekan-rekannya.
Semua teman-temannya pun bersiap menuju kendaraan mereka masing-masing, serta beberapa berjaga untuk memantau situasi sekitar. Berlin kembali mendekati Vhalen yang terlihat sangat lemas dan cemas, lalu berkata, "Kita akan segera bertemu dengannya, ya ...," ucapnya dengan sangat pelan.
"Sayang, kamu ajak Vhalen langsung masuk ke dalam mobil saja ..., aku akan menyusul ...!" titah Berlin kepada Nadia yang terlihat terus mendekap serta menenangkan temannya itu.
.
"Baik."
Nadia pun berjalan perlahan dengan menuntun Vhalen untuk menuju mobil yang sudah siap. Kimmy yang melihatnya pun juga ikut membantu rekannya itu dengan membukakan pintu mobil yang terparkir di depan.
Berlin sendiri berjalan sedikit menjauh dari semua orang-orangnya, dan mengeluarkan ponsel genggam miliknya serta mulai menghubungi seseorang melalui telepon.
"Selamat siang, Pak ...."
.
~
.
~Beberapa waktu sebelumnya..
Keadaan serta situasi kota benar-benar mencekam dengan tidak adanya keramaian orang-orang seperti biasanya. Jalanan yang biasa ramai dan bahkan hampir penuh dengan banyak kendaraan, namun siang hari ini tidak terpantau satu pun kendaraan warga yang terlihat melintas.
Jalanan kota hanya dipenuhi dengan banyaknya anggota polisi yang terlihat sedang berjaga di seluruh kawasan. Prawira sendiri sudah menugaskan hampir semua anggotanya untuk berjaga di semua wilayah, walau dalam keadaan kekurangan anggota. Tetapi dirinya terus mencoba untuk mengamankan kota tercinta miliknya dengan penuh usaha.
Saat berada di Kantor Polisi Pusat, Prawira mengadakan rapat tertutup secara dadakan yang dihadiri oleh beberapa petinggi dari kepolisian. Hanya beberapa orang tertentu saja yang dapat menyaksikan serta mendengarkan isi dari rapat tersebut, dan bahkan tidak semua anggota polisi dapat mengetahui isi dari rapat tertutup itu.
Prawira dengan sengaja membuat rapat secara tertutup, karena dirinya ingin membahas beberapa hal internal dan tidak ingin sampai orang lain mengetahuinya.
"Yang belum hadir siapa ?" tanya Prawira yang duduk di kursi miliknya yang terletak paling depan.
"Hanya James dan Tambun saja ...," jawab Siska yang baru memasuki ruangan rapat.
Prawira pun menghubungi kedua rekannya itu melalui ponsel genggam miliknya. Semua orang yang hadir di depannya adalah hanya orang-orang tertentu saja. Mereka semua memiliki marga yang sama pada nama lengkap mereka masing-masing, begitu pula dengan Prawira sendiri.
"Kibo dan Bagas di mana ..?" cetus Netty yang tidak melihat kehadiran kedua rekannya itu.
"Hmm ...."
"Saya juga bertanya-tanya tentang mereka berdua ...," gumam Flix yang terlihat terus membersihkan pistol miliknya menggunakan sepotong kain.
"Bagaimana kondisi saat 'ku tinggal ?"
__ADS_1
.
"Soalnya ... saya tidak menerima laporan atau pembaruan tentang apapun itu," lanjut Prawira berkata seperti itu dengan meletakkan semua perlengkapan senjatanya di atas meja yang tepat berada di hadapannya.
"Sebenarnya ... cukup kacau ...," sahut Prime.
"Ya ... kami tidak bisa melakukan apapun, karena ... kami semua tidak memiliki kuasa untuk itu," lanjut Netty yang tepat duduk di sebelah Prawira.
Prawira menghela nafas panjang saat mendengar semuanya. Dirinya merasa sangat bersalah telah memberikan kepercayaan kepada orang yang salah, dan dengan dampak yang sangat tinggi.
"Itu memang salahku ... aku benar-benar meminta maaf," ujar Prawira dengan sangat bersalahnya.
"Sayang sekali, Nadia yang tersiksa karena mereka berdua, dan ... dia diberhentikan tidak dengan hormat oleh mereka ...," cetus Siska.
.
"Aku benar-benar kaget saat mendengar kabar itu, dan ... sampai sekarang aku belum bertemu dengannya ..., aku tidak tahu harus bagaimana meminta maaf kepadanya," Prawira menopang kepalanya dan sedikit tertunduk melihat secarik kertas kosong yang tergeletak di atas mejanya.
Prawira sendiri tidak menginginkan Nadia untuk keluar dari profesinya sebagai anggota, yang secara tidak langsung keluar dari keluarga besar miliknya. Namun karena "Pemberhentian Tidak Dengan Hormat" (PTDH) yang dilakukan oleh Bagas dan Kibo kepada Nadia tanpa sepengetahuannya, dan Prawira tidak bisa mencegah hal itu untuk tidak terjadi. Dirinya sangat kesal kepada dua orang tersebut yang sekarang tiba-tiba menghilang begitu saja.
Sebuah kesalahan yang sangat fatal ia lakukan karena terlalu percaya kepada rekannya sendiri, bahkan kedua orang tersebut juga termasuk dalam satu keluarga dengan dirinya. Tetapi Prawira cukup merasa lega saat mendengar kabar kalau Nadia aman bersama dengan Berlin. Karena entah mengapa ia merasa sangat percaya kepada Berlin, walau dirinya sendiri tahu profesi sebenarnya yang Berlin miliki.
"Sekarang ... apakah sudah mendapatkan bukti dan saksi dari beberapa ledakan yang terjadi ?" tanya Prawira kepada semua rekan-rekannya yang duduk di hadapannya.
"Saya sudah cek ... dua kamera pengawas yang terpasang di belakang dari Kantor Pusat, dari situ ... saya mendapatkan beberapa foto pelaku sekaligus rekamannya, tepat sebelum kamera tersebut hancur akibat ledakan," jawab Siska dengan melampirkan beberapa foto dari pelaku yang melakukan pengeboman di Kantor Polisi Pusat.
Prawira pun mengambil serta melihat salah satu dari banyaknya foto yang dilampirkan oleh Siska di hadapannya. Dirinya bisa melihat dengan cukup jelas, serta menyimpulkan secara pribadi bahwa semua pelaku dari pengeboman yang terjadi adalah kelompok hitam atau lebih dikenal dengan Mafioso. Prawira sangat yakin dengan kesimpulan miliknya, karena pada kasus penyanderaan sebelumnya para pelaku dari Mafioso identik dengan mengenakan seragam jas atau pakaian serba hitam mereka.
"Kalau untuk saksi ... terdapat cukup banyak saksi mata dari ledakan yang terjadi di Lounge Caffe, serta saya juga mendapatkan beberapa data tentang pelaku peledakan bom bunuh diri yang terjadi di Lounge Caffe." Prime ikut angkat bicara serta dengan melampirkan beberapa data diri dari pelaku bom bunuh diri tersebut.
"Untuk korban tewas dari anggota kita ... bagaimana, Pak ?" cetus Flix dengan melihat ke arah Prawira.
"Saya sudah menghubungi pihak keluarga mereka, serta ... tentu kita akan makamkan mereka secara layak," jawab Prawira dengan nada dan tatapan sendu.
"Ngomong-ngomong ... saya juga mengamankan senjata milik pelaku bunuh diri, dan senjata yang ia pakai adalah ... pistol jenis Glock 17 yang seharusnya menjadi senjata wajib milik anggota," ujar Prime dengan sedikit menyela pembicaraan serta meletakkan sebuah bungkusan yang berisikan pistol tersebut di atas meja.
Prawira cukup terkejut saat melihat sendiri senjata yang seharusnya menjadi kepemilikan anggota polisi, dapat dimiliki oleh warga biasa seperti pelaku tersebut. Tidak hanya terkejut karena hal itu, dirinya juga kaget saat melihat secara detail dari pistol yang saat ini menjadi barang bukti. Karena pistol jenis Glock17 yang dibawa oleh pelaku termasuk ke dalam senjata yang telah dimodifikasi sendiri. Prawira bisa sangat yakin senjata tersebut adalah senjata modifikasi, saat dirinya melakukan pencocokan dengan pistol standar miliknya dengan jenis yang sama.
"Entah mengapa, saya semakin curiga ... kepada Bagas dan Kibo, walau mereka masih tetap satu keluarga dengan kita," cetus Flix setelah melihat barang bukti yang ditunjukkan oleh rekannya.
"Kau amankan barang bukti, jangan sampai pistol ini diketahui oleh anggota lain !" titah Prawira kepada Prime.
.
"Siap, Ndan !" sahut Prime yang lalu kembali membungkus senjata tersebut dengan sebuah kain berwarna putih.
...
Rapat tertutup tersebut berlangsung cukup lama dan dihadiri oleh orang-orang yang termasuk dalam keluarga besarnya sendiri. Dalam rapat tersebut Prawira sempat membahas beberapa hal di masa lalu dari keluarga besar miliknya, yang didirikan oleh seseorang yang sangat kaya dan sangat terkenal di masanya.
Masa lalu yang sangat kelam serta malapetaka telah menimpa keluarga besar miliknya, yang diharuskan untuk menuruti atau menghadapi takdirnya. Namun Prawira sendiri sangat menentang hal tersebut, dirinya berusaha untuk mencoba mematahkan sebuah kesepakatan dan perjanjian yang telah dibuat oleh lawan main atau rivalnya.
__ADS_1
Dirinya menentang hasil dari perundingan yang telah menemukan jawaban dari kedua belah pihak, dengan menculik salah satu dari kedua anak laki-laki dari keluarganya sendiri. Anak yang ia culik itu adalah anak yang akan dijadikan bahan pertukaran atau pembayaran sesuai dengan hasil perundingan.
Semua anggota keluarganya sempat tidak kuat dengan takdir dan malapetaka yang harus mereka jalani, dan alhasil satu-persatu dari mereka memutuskan ikatan dari keluarga besar miliknya. Bahkan sampai sekarang hanya beberapa saja orang-orang dari keluarganya yang masih sanggup bertahan.
...
"Jika memang benar pelaku atau dalang dibalik semua kejadian ini adalah saudara dari Dia, maka hanya Dia yang dapat menghentikan langkah dari saudaranya sendiri." Dengan lirikkan tajam, Flix menyela keheningan yang sempat tercipta dalam ruangan rapat.
"Prawira, kenapa kau tidak coba untuk menemui Dia, anak laki-laki itu ...?" cetus Prime melirik kepada Prawira yang terlihat sedikit tertunduk di meja terdepan.
"Ya ... aku pun setuju, setidaknya kau bertemu dahulu dengan anak itu ...!" imbuh Netty yang duduk di samping Prawira.
.
"Aku sendiri sebenarnya ... juga ingin bertemu dengan anak itu, soalnya 'ku dengar ... anak itu sekarang tumbuh dewasa, dan 'ku dengar ... dia cukup tampan," lanjut Siska dengan tersenyum-senyum sendiri seakan membayangkan dirinya sedang bertatapan langsung dengan anak laki-laki tersebut.
Walau sampai sekarang dirinya memiliki hubungan baik dengan anak tersebut yang ia culik sendiri. Namun Prawira sendiri cukup susah untuk pergi menemuinya, dikarenakan perbedaan profesi dan waktu yang menjadi pemisah diantara mereka berdua.
Di saat situasi ruangan rapat kembali hening dan sangat dingin dengan pendingin ruangan yang terus berhembus. Ponsel pintar milik Prawira tiba-tiba berdering mendapatkan telepon dari seseorang. Saat dirinya melihat ke sebuah tulisan dan kontak yang meneleponnya, Prawira sangat mengenal dekat orang tersebut dan segera mengangkat telepon itu.
"Siapa ?" cetus Netty dengan melirik layar ponsel milik Prawira yang berdering.
"Panjang umur, Dia ...," gumam Prawira mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja, lalu berjalan keluar dari ruangan rapat.
Sebelum dirinya keluar dari ruang rapat, Prawira sedikit memberi peringatan serta tugas kepada ketiga orang yang bersamanya dalam ruangan rapat.
"Oke, intinya saya minta dari masing-masing divisi ... untuk bekerjasama dalam kasus ini. Siska, jangan sampai database milik kita ... diketahui atau dicuri oleh mereka ... dan tugasmu adalah mempertahankan itu, serta menyelidiki informasi tentang mereka."
.
"Netty, tolong hubungi walikota saat ini ... apakah bisa bertemu atau tidak. Karena dalam waktu yang dekat ... akan diselenggarakannya pemilihan walikota baru," lanjutnya yang lalu berjalan keluar ruangan.
"Siap, untuk semua yang berurusan dengan komputer ... saya selalu siap ...!" sahut Siska.
"Dimengerti, Pak. Saya akan coba untuk menghubungi walikota," jawab Netty.
"Kurasa cukup untuk kali ini, kalian silahkan melanjutkan aktivitas kalian masing-masing," ucap Prawira yang lalu pergi dari ruang rapat serta mulai mengangkat telepon masuk tersebut.
...
Prawira sendiri merasa sangat berat untuk menghadapi semua masalah yang saat ini sedang menimpa dirinya, bahkan semua masalah itu sangat berdampak kepada masyarakat yang seharusnya ia lindungi.
Dirinya yang saat ini memegang kekuasaan tertinggi dalam keluarga besar tersebut, selalu berharap akan menemukan jalan keluar yang terbaik bagi semua pihak. Namun menurutnya sangat sulit jika mencari sebuah jalan keluar yang baik untuk semua pihak. Karena tetap akan ada satu pihak lain yang diharuskan atau diwajibkan untuk jatuh atau kalah dari semua permainan serta alur yang telah mereka buat.
Pihak mana saja yang akan kalah atau jatuh, itu akan sangat berdampak kepada seluruh masyarakat dari ketiga wilayah. Dampak yang akan didapatkan bisa saja berdampak baik, tapi juga bisa saja berdampak sangat buruk. Prawira berusaha untuk menjadikan dampak yang baik bagi masyarakatnya, dengan seluruh usaha yang telah ia lakukan. Bahkan semua usahanya sudah sampai mengorbankan banyak anggotanya yang telah gugur dalam bertugas.
Karena telah banyak anggota polisi yang gugur dalam bertugas, Prawira telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk menjadikan kematian dari semua anggotanya tidak sia-sia.
Prawira juga ingin segera bertemu dengan seorang anak yang ia culik sendiri, dan mencoba untuk mencari jalan keluar atau solusi dari semua masalah yang sedang menimpa hampir semua orang.
Dirinya sangat ingin kembali bertemu dengan anak itu dikarenakan anak yang ia selamatkan dari sebuah pertukaran, adalah anak yang disebut dalam sebuah "Ramalan" dari para tetuanya terdahulu. Ramalan tersebut juga tertulis dan pernah ia baca di buku keluarga miliknya, yang ia serahkan sendiri kepada anak itu pada saat bertemu di dermaga dekat dengan Danau Shandy Shell.
__ADS_1
.
Bersambung.