Mafioso In Action

Mafioso In Action
Bulan yang Terang Di Antara Percikan Api #72


__ADS_3

Pukul 21:25 malam.


Area Perbukitan Gedung Balaikota.


Langit malam tampak sangat indah dengan ribuan bintang dan Bulan yang sangat terang. Namun pemandangan indah itu dirusak oleh kekacauan masih saja terjadi. Suara-suara tembakan dan baku tembak masih saja terjadi tanpa ada hentinya. Tembakan-tembakan itu membuat perbukitan Gedung Balaikota menjadi medan peperangan yang disebabkan oleh Mafioso di malam ini.


Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi semua pihak yang terlibat.


"Prime, ayo!" titah Garwig kepada Prime. Dirinya langsung bergerak beserta semua personelnya, setelah melihat ledakan yang terjadi di lokasi di mana Berlin dan teman-temannya berada.


Dor ... Dor ...!


Beberapa lawan dari pihak Mafioso berhasil dilumpuhkan oleh pihak Garwig dan Prime, itu cukup membuat pihak mereka berdua untuk bergerak menghabisi kelompok kejahatan itu. Ditambah lagi, kekuatan dari personel gabungan semakin diperkuat dengan adanya personel dari pihak militer yang bergabung.


Garwiglah yang membawa personel dari pihak militer. Ia mengambil keputusan itu karena kekacauan yang diperbuat oleh Mafioso sudah termasuk dalam mengancam kedaulatan. Dirinya juga memiliki otoritas lebih pada pemerintahan untuk menggunakan kekuatan militer, maka dari itu ia mengambil keputusan tersebut.


...


Prime dan regunya langsung memisahkan diri dari pihak militer milik Garwig. Ia memisahkan diri ke arah lereng perbukitan guna melakukan penjepitan musuh dari dua arah dan sisi. Ditambah lagi pakaian taktis yang mereka gunakan berwarna hitam gelap dan tentunya sulit diketahui di bawah gelapnya malam.


"Lumpuhkan penjahat-penjahat itu! Jangan mau kalian sebagai aparat dipojokkan oleh mereka!" teriak Garwig seraya terus berlari mendaki bukit kecil bersama personelnya.


Tembakan-tembakan dari pihak Mafioso berkali-kali ditujukan ke arah Garwig dan personelnya. Beruntungnya peluru-peluru itu tak begitu melukai Garwig dan personelnya yang dilengkapi pakaian taktis anti peluru. Namun tetap saja rasa panas, pedih, sakit masih diterima dan dapat dirasakan.


"Prime, kesempatan mu!" seru Garwig kepada Prime melalui radionya.


"Baik!" sahut Prime.


DESING!


"Apa?!"


"Dari arah yang berlawanan?!"


Prime dan anggotanya melakukan penyerangan sesuai dengan perintah Garwig. Benar saja, serangan yang ia lakukan sangat mengejutkan orang-orang dari Mafioso itu sehingga membuat mereka panik dan tidak teratur.


Melihat kesempatan yang sangat besar, tentu Garwig tidak ingin kesempatan itu hilang. Ia dan personelnya terus saja bergerak maju, dan langsung melumpuhkan semua pelaku bersenjata itu.


***


"Sepertinya mereka berhasil, Bos!" seru Aryo berdiri dan menatap ke arah perbukitan sebelah Barat dari posisinya.


Terlihat percikan-percikan api, beserta suara-suara tembakan yang berasal dari senapan-senapan yang ditembakan di perbukitan sebelah Barat Laut dari Gedung Balaikota. Perbukitan itu adalah lokasi di mana Garwig, Prime beserta personelnya.


"Bagus, ini kesempatan!" cetus Berlin mulai berjalan perlahan mendaki bukit menuju ke lokasi Nicolaus.


"Salva, Bobi, Galang, kalian bertiga jaga di bagian belakang! Sedangkan Asep, Aryo, dan aku di depan!" titah Berlin dengan nada yang terdengar cukup dingin.


"Diterima dengan baik, Bos ..!" sahut teman-temannya seraya mempersiapkan kembali persenjataan mereka.


"Lalu, bagaimana dengan para pelaku ini?" sela Bobi bertanya soal beberapa pelaku yang berhasil mereka ringkus tanpa terbunuh.


"Ikat tangan dan kaki mereka, serta ikatkan tubuh mereka ke batang pohon dan tutup mulut mereka! Lalu kita biarkan saja!" jawab Berlin tanpa membalikkan badan dan menghadap ke Bobi yang berdiri di belakangnya. Ia hanya sedikit menoleh dan melirik tajam ketika memberi jawaban tersebut.


.


"Aku sudah membagikan lokasi ini kepada Prawira, jadi biar dia dan anggotanya yang menindak lanjuti mereka," lanjutnya mengambil ponsel dari sakunya dan lalu menyimpannya kembali.


Teman-temannya hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh Berlin. Mereka mengikat tujuh orang pelaku yang selamat dan tak terbunuh itu ke pepohonan yang ada. Persenjataan mereka juga sudah diamankan oleh Berlin dan teman-temannya.

__ADS_1


"Sudah?" tanya Berlin lagi-lagi tanpa menghadap ke teman-temannya yang sibuk mengikat para pelaku.


"Sudah, Bos ...!" jawab teman-temannya.


"Kalau begitu jangan buang waktu lagi. Ayo!" titah Berlin yang lalu berjalan menuju ke balik pepohonan dan semak-semak di lereng bukit.


Teman-temannya pun berjalan mengikuti Berlin, dan sesuai dengan formasi yang Berlin perintahkan sebelumnya. Mereka bergerak tampak sangat kompak dan terkoordinasi dengan rapi.


Kresekk ... Kresekk ...!


"Bos? Teman-teman? Apakah kalian baik-baik saja?" tiba-tiba saja terdengar suara melalui radio milik Berlin dan teman-temannya. Suara yang sangat tidak asing, dan ternyata suara itu adalah suara milik Kimmy.


Nada bicara Kimmy terdengar sangat mencemaskan kondisi Berlin dan yang lainnya setelah terjadinya ledakan.


"Ya. Kami baik-baik saja," jawab Berlin seraya terus berjalan.


"Anggota kepolisian akan ke lokasi kalian, tunggulah di sana terlebih dahulu ...!" ucap Kimmy.


"Tunggu, ya?" batin Berlin menolak perkataan Kimmy.


"Baguslah kalau begitu. Tetapi, aku tak bisa menunggu! Ada yang harus diselesaikan!" sahut Berlin.


"Be-berlin! Jangan melakuka ---"


Tuuuttt ....!


Ucapan Kimmy terpotong begitu saja karena Berlin langsung mematikan radionya tanpa mendengarkannya. Berlin terus berjalan dengan amarah yang cukup membara di hatinya tanpa menghiraukan perkataan Kimmy.


Berlin terlihat sangat kesal dan marah dengan orang yang bernama Nicolaus itu. Banyak sekali yang ingin ia luapkan dan pertanyakan, terutama dengan motif Nicolaus melakukan kekacauan yang sangat merugikan banyak orang dan pihak.


Ditambah lagi Nicolaus dan kelompok kejahatannya tampak begitu mengancam keberadaan Berlin dan orang-orang berharganya.


...


"Saranku, jangan memaksakan dirimu, Bos! Walau ku yakin kau tidak bakal menuruti saranku, sih," ucap Salva yang berjalan di belakang Berlin.


"Ya, aku baik-baik saja. Kalian tenanglah ...!" sahut Berlin menghela napas berat. Hoodie biru berlengan putih bertuliskan Ashgard itu sudah kotor dipenuhi darah dari para pelaku yang ia bunuh. Begitupula dengan beberapa luka gores yang terukir di lengannya. Namun itu masih tidak seberapa bagi Berlin sebelum dirinya bisa menyelesaikan masalahnya atau apa yang mengganjal di pikirannya.


"Kau tidak lupa 'kan, kalau ada yang menunggumu untuk pulang?" cetus Asep dan lalu tersenyum tipis setelah mengatakannya.


Hati milik Berlin tiba-tiba sedikit merasa tenang ketika mendengar apa yang dikatakan oleh temannya itu. Dirinya tersenyum sedikit ketika mengingat-ingat soal Nadia.


"Enaknya ...," celetuk Aryo sesaat setelah menghela napas dan dengan nada menyindir.


.


"Hei, Galang. Kau tidak memiliki niat untuk cari seorang kekasih apa?" lanjut Aryo melambatkan langkahnya dan merangkul Galang secara tiba-tiba.


"Kau sendiri bagaimana? Memangnya kau sudah punya?" sahut Galang.


"Eh, i-iya juga sih," jawab Aryo melepas rangkulan dan kembali ke formasi berjalan seraya sedikit menunduk menyembunyikan ekspresi malunya.


Lagi-lagi Berlin dibuat tertawa dan sedikit terhibur dengan kelakukan teman-temannya itu.


"Berlin, aku sudah lama mengenalmu, dan aku tahu bagaimana sifat serta sikapmu. Maka dari itu, aku ingin kau untuk tidak terlalu gegabah. Karena itu tidak hanya dapat merugikan dirimu saja, tetapi juga dapat merugikan orang-orang terdekatmu." Asep mencoba untuk memberikan sedikit nasihat kepada Berlin.


"Iya, aku tahu," sahut Berlin dengan pandangan sedikit tertunduk.


"Mungkin aku tidak bisa menasihatimu dengan baik selayaknya peran yang dimiliki oleh Adam. Tetapi, aku harap kau mengerti perasaan orang yang sedang menunggumu untuk pulang," celetuk Asep yang lalu tertawa kecil.

__ADS_1


"Yup! Lebih baik kedepannya kau lebih berhati-hati dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan," sambung Salva.


"Iya, terima kasih. Tenang saja, aku akan usahakan ...!" ucap Berlin kepada teman-temannya. Dirinya berterima kasih kepada teman-temannya yang sudah mengingatkannya.


Pandangan Berlin tiba-tiba teralihkan menuju ke arah bulan yang bersinar sangat terang di antara bintang-bintang langit malam. "Sepertinya ... ini akan menjadikan malam yang panjang dan melelahkan," batinnya.


.


~


.


Pukul 21:35 malam.


Lokasi Nicolaus Berada.


Kepanikan terjadi di antara anak-anak buahnya ketika perbukitan di sebelah Barat berhasil dilewati oleh personel gabungan, dan perbukitan sebelah Timur berhasil diatasi oleh Berlin dan teman-temannya.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Kibo terlihat cukup panik ketakutan kepada Nicolaus yang hanya bersandar santai di mobilnya. Kibo tampak tidak turun dari mobil sesuai dengan perintah Nicolaus untuk tidak meninggalkan kursi kemudi.


"Tetaplah berada di kursimu ...!" sahut Nicolaus.


"Bawakan mobil itu ke sini ...!" teriak Nicolaus kepada anak buahnya dengan menujuk ke sebuah mobil sedan berwarna hitam. Mobil sedan itu tampak sangat mencurigakan, lantaran seluruh kacanya tampak hitam dan sangat gelap seakan untuk menyembunyikan isi dalamnya.


Mobil tersebut diparkirkan tepat di dekat dengan mobil yang dinaiki oleh Kibo. Tampak pula Nicholaus sedang berbincang dan merencanakan sesuatu dengan anak buahnya di dekat mobil sedan tersebut.


Entah apa yang direncanakan Nicolaus, tetapi seluruh anak buahnya begitu menuruti rencana dan perintahnya.


"Sepertinya ... posisiku kali ini terjepit, ya ...?" gumam Nicolaus.


.


"Dan sepertinya ... ini akan menjadi malam yang menarik ...," lanjutnya.


"Baiklah, aku akan menunggu dan menyambut kalian berdua, Garwig, Berlin ...!" lanjutnya kembali bergumam dan berbicara sendiri dengan menatap ke arah bulan yang bersinar di langit malam.


.


~


.


Pukul 21:40 malam.


Rumah Sakit Pusat.


Siska melihat Nadia yang terbaring dengan tatapan kosong ke arah langit-langit kamar, dan tampak sangat mencemaskan suatu hal. Dirinya tahu betul apa yang sedang dipikirkan oleh Nadia saat ini.


Perlahan Siska menggenggam satu tangan milik Nadia dan sedikit mengelusnya. Nadia melirik ke arah Siska dengan tatapan seolah ingin menanyakan sesuatu.


"Maaf, aku tidak bisa menjawab pertanyaan mu itu," ucap Siska.


"Tetapi, aku yakin dia akan baik-baik saja sama seperti yang sudah ku katakan berkali-kali dari tadi," lanjutnya dan lalu tersenyum.


"Apa kamu tidak mendapatkan informasi sama sekali dari sana ...?" tanya Nadia dengan nada yang sungguh lemah.


Siska pun memilih untuk menjawab, "tidak." Meskipun dirinya tahu apa yang sedang terjadi di lokasi atau di Gedung Balaikota itu. Dirinya mengetahui beberapa informasi dari kekacauan yang terjadi di sana melalui ponsel genggamnya. Namun dirinya memilih untuk tidak memberitahukan itu kepada Nadia. Karena dirinya takut kalau Nadia akan lebih kepikiran dan khawatir yang berlebihan, dan bisa menyebabkan kondisinya melemah atau drop.


"Begitu, ya?" sahut Nadia sedikit kecewa dengan jawaban itu. Dirinya memalingkan wajahnya dari pandangan Siska ke arah kanan dan menatap dinding. Air matanya tiba-tiba saja menetes dengan terus mengharapkan sesuatu dari dasar hatinya, "Berlin, berhati-hatilah dan cepatlah kembali! Aku menunggumu," batin Nadia dengan satu tangan terus menggenggam kalung hati berwarna emas yang melingkar di lehernya.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2