Mafioso In Action

Mafioso In Action
Bersamamu (bagian dua) #33


__ADS_3

"Hah ...?!" kedua temannya yang sudah menunggu di teras rumah dibuat terkejut.


"Loh, kok ?!"


"Kalian berdua ?!"


Kedua temannya yang sudah menunggu di depan dibuat sangat terkejut ketika Berlin menyambut mereka bersama dengan Nadia.


"Hehehe," Nadia terlihat tertawa kecil saat kedua temannya itu mengetahui hal tersebut.


"Memangnya kenapa, sih ?" sahut Berlin.


"Oh begitu, oke, oke, baik. Aku paham kok, Bos!" ujar Adam dengan sedikit memberikan lirikan sinisnya kepada Berlin.


"Boleh juga cara main mu, Bos," lanjut Asep.


Berlin sangat memaklumi hal tersebut, ketika melihat kedua temannya yang terkejut saat mengetahui Nadia yang berada di rumahnya.


"Sudahlah, ada yang lebih penting !" sela Berlin yang memotong pembicaraan mereka berdua.


.


"Kalian ikut aku sini !" titah Berlin saat berjalan menuju garasi, dan diikut oleh Asep di belakangnya.


Berlin pun berjalan menuju mobil yang sebelumnya ia dikendarai, yang kini terparkir garasi depan.


***


"Hei, Cantik. Apa Berlin melakukan hal yang aneh kepadamu ?"


"Kalau terganggu, bilang aja kepadaku !"


Adam justru terlihat sedang asik menggoda Nadia yang sedang berdiri di depan pintu.


"Huh ...," gumam Nadia yang terlihat tidak begitu menghiraukan perkataan yang diucapkan oleh Adam.


***


"Baiklah, nggak akan ada jatah gaji untukmu, Adam !" bentak Berlin saat menghentikan langkahnya kepada temannya itu.


"Baik, ampun, Bos. Jangan dong, ya ...?" jawab langsung Adam yang lalu berjalan mendekati Berlin.


"Um ... aku ke halaman belakang terlebih dahulu, ya ?" cetus Nadia yang terlihat meminta izin kepada Berlin.


.


"Oke! Hati-hati saat menuruni tangga dan saat dekat dengan kolam renangnya, licin!" jawab Berlin yang lalu tersenyum kepada Nadia.


Nadia terlihat mengangguk, dan lalu berjalan mengarah halaman belakang rumah. Berlin pun melanjutkan berjalan bersama kedua temannya menuju garasi depan.


"Ada kolam renangnya ?" cetus Adam.


"Tentu ada, di belakang," jawab Berlin.


"Lewat mana ?" sahut Asep dengan menoleh ke arah belakang.


"Itu ada jalan untuk akses kebelakang rumah, dan nantinya akan sedikit menuruni tangga," jawab Berlin dengan menunjuk ke arah samping rumahnya dan ke sebuah jalan di samping rumahnya.


"Kalau aku menginap di sini boleh nggak, Bos ?" tanya Adam saat berjalan di samping Berlin.


.


Tanpa basa-basi Berlin langsung menjawab, "Nggak !"


"Yah ...," gumam Adam yang terlihat kecewa.


"Kalau mau menginap, pakai saja villa ku yang di atas bukit! Di sana kan juga ada Kimmy dan Sasha yang menempati," ucap Berlin.


.


"Ya, walau nantinya ... kau harus nurut sama Kimmy. Karena aku menyuruh dia untuk merawat tempat itu," lanjutnya.


"Ngomong-ngomong, hal penting apa yang membuat kami harus ke sini ?" ujar Asep yang sedikit memotong pembicaraan kedua temannya.


"Akan ku tunjukkan!" sahut Berlin yang lalu sedikit mempercepat langkahnya menuju garasi.


Beberapa kali mereka bertiga berbincang selama berjalan menuju garasi, walau letak garasi tersebut tidak terlalu jauh dan terletak di halaman depan.


...


Setelah berjalan tidak terlalu jauh, Berlin pun lebih memilih untuk membuka pintu kecil di samping garasi daripada pintu utama yang biasa di pakai keluar masuk kendaraan.


"Aku mau kalian berdua mendalami atau menyelidiki benda ini !" titah Berlin saat membuka bagasi dari salah satu mobil sedan yang sebelumnya ia pakai.


Berlin mengambil sebuah bungkusan kain putih berisikan kotak hitam yang sebelumnya ia temukan berada di dalam rumah milik Nadia, dan juga membuat Nadia terlihat cukup ketakutan saat melihatnya.


"Boleh ku lihat isinya ?" tanya Adam.


Berlin pun membuka perlahan kotak hitam tersebut yang berisikan boneka beruang putih yang penuh darah, dan bercak darah yang mulai mengering di sekelilingnya.


"Kasihan bonekanya ...," gumam Asep pada saat mengetahui isi dari kotak yang ditunjukkan oleh Berlin.


"Iya, mana masih bagus, lagi !" sambung Adam.


Mereka berdua terlihat biasa saja saat melihat isi dari kotak hitam yaitu boneka itu dalam keadaan penuh dengan darah. Mungkin mereka sudah biasa melihat darah, dan tidak membuat mereka terkejut saat melihat darah lagi.


"Sebenarnya juga ada surat di dalamnya, yaitu surat ini ...," lanjut Berlin dengan menunjukkan robekan kertas dari surat sebelumnya.


"Oke, aku paham. Jadi ini semacam ancaman dan pemaksaan, begitu ?" ujar Asep saat melihat beberapa tulisan yang masih bisa di baca pada robekan kertas yang diberikan Berlin.


Robekan kertas tersebut sebenarnya sudah tidak dapat dibaca lagi kalimat tulisan yang tertulis, karena ada beberapa bagian yang hilang karena kegeraman Berlin saat membacanya.


"Buat apa seseorang melakukan ini kepada Nadia ? Padahal dia itu wanita yang baik, cantik pula, dan terlihat penurut, dambaan banget," sela Adam yang terlihat cukup tidak terima setelah melihat benda-benda itu.


"Setelah aku baca lengkap suratnya ... sebelum ku robek jadi potongan kecil-kecil. Sepertinya sempat terjadi masalah hati, dan membuat seseorang mengirimkan benda seperti ini," ucap Berlin dengan kembali menutup kotak hitam tersebut.


"Kalau sudah masalah hati, susah sih ...," gumam Adam.


.


"Tetapi nggak bisa dibiarkan! Nadia juga berhak menentukan hatinya, bukan ?!" gusarnya yang justru terlihat sangat kesal.


"Begini saja! Mungkin ... apakah kau mengetahui seseorang yang sebelumnya sempat mencoba dekat dengan Nadia?" tanya Asep.


"Sepengatahuan ku ... dia sangat jarang, bahkan dahulu dia sangat menutup diri dari orang-orang," jawab Berlin.


.


"Namun ... aku mencurigai satu orang, yang mungkin juga ada hubungannya dengan semua masalah yang sempat terjadi di kota!" lanjutnya.


"Siapa ?" sahut Adam.


"Inisial, atau bahkan namanya ?" sambung Asep.


"Namanya adalah Carlos ...," jawab Berlin dengan bersandar di bagasi mobilnya.


"Sepertinya aku pernah mendengar nama itu !" ujar Asep yang lalu membuka ponselnya.


"Nama yang tidak asing. Dia dari kelompok Mafioso yang terakhir bentrok dengan kita, 'kan ?" ucap Adam.


"Ya! Dan entah mengapa ... aku merasa ... sepertinya dia sangat membenci keberadaan ku, juga mungkin kita semua," jawab Berlin dengan melipat lengannya.


"Nah, ketemu !"


.


"Apakah ini nama lengkapnya ?" Asep terlihat menemukan informasi tentang orang yang disebut oleh Berlin, melalui ponselnya.


"Iya, benar. Carlos G Matrix," jawab Berlin.

__ADS_1


"Tunggu, namamu kenapa memiliki seperti marga yang sama dengan orang ini ?" sela Adam.


"Memang ..., karena ternyata ... dia adalah saudara ku sendiri ...," jawab Berlin yang lalu menghela napas panjang.


"Hah ?!"


"Apa ?!"


Kedua temannya terlihat sangat terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh Berlin. Karena mereka berdua, termasuk dengan teman-teman yang lainnya sama sekali tidak mengetahui tentang ini.


"Ceritanya sangat panjang, tetapi akan ku jelaskan kepada kalian secara singkat!"


Berlin pun mulai sedikit menjelaskan hubungan atau keterkaitan dirinya dengan seseorang bernama Carlos. Ia juga menjelaskan kepada kedua temannya, kalau dirinya sendiri tidak mengingat apapun di masa lalunya tentang keterkaitan ini.


Berlin juga sedikit menjelaskan tentang marga yang berada dalam nama lengkapnya, yaitu Gates yang disingkat dengan hanya inisial 'G'.


"Jadi ... kau sendiri tidak tahu menahu tentang Carlos ini ?" tanya Asep kepada Berlin.


Berlin menjawabnya dengan hanya menggelengkan kepalanya perlahan, dan terlihat sedikit tertunduk.


"Maaf ... aku merahasiakan hal ini. Aku mohon jangan beritahu kepada yang lain terlebih dahulu, biar aku sendiri saja pada waktu dan saat yang tepat nantinya!" ucap Berlin yang memohon kepada kedua temannya.


"Tenang saja, setiap orang pasti mempunyai rahasia sejarah hidupnya masing-masing, dan itu adalah aib yang sudah sepantasnya dirahasiakan," jawab Adam dengan nada yang terdengar cukup bijak.


"Baiklah, tugas kami berarti menyelidiki tentang orang ini, 'kan ?" tanya Asep dengan mematikan dan menyimpan kembali ponselnya.


"Iya, tolong kerjasamanya !" jawab Berlin dengan sedikit menundukkan kepalanya.


"Kau itu bos kami, dan sudah menjadi tugas bila kau menyuruh kami," ucap Adam yang menepuk salah satu pundak milik Berlin.


"Tenang, kami akan urus ini! Kita semua kan sudah seperti keluarga, dan juga termasuk dengan Nadia."


.


"Jadi nggak mungkin kami membiarkan salah satu anggota keluarga yang sedang dalam bahaya." Asep mengatakan beberapa hal tersebut kepada Berlin, seolah ia sedang menasehati temannya itu.


"Ya sudah, kotak beserta isinya dan robekan surat ini kami bawa!" ujar Adam yang membawa kotak beserta isinya dan robekan surat yang ditunjukkan oleh Berlin.


"Mohon bantuannya, ya ...," ucap Berlin dengan nada yang benar-benar memohon.


"Pasti! Kalau masalah seperti ini ...aku sudah handal, kau tenang saja, Bos !" sahut Asep.


Setelah perbincangan yang cukup panjang itu di dalam garasi. Kedua temannya yaitu Asep dan Adam pun pamit untuk kembali ke markas atau biasa disebut dengan bengkel.


***


"Sampai sebegitunya dia memohon kepada temannya ...," batin Nadia dengan tertunduk dan menggenggam erat kedua tangannya.


ternyata Nadia mengikuti dan menguping semua pembicaraan Berlin dengan kedua rekannya dari balik pintu garasi, tanpa sepengatahuan Berlin.


Nadia cukup tertegun dan hatinya dibuat sangat tersentuh dengan usaha yang dilakukan Berlin untuk menyelesaikan masalah teror atau pengancaman ini.


Ditengah dirinya bersembunyi di balik pintu samping garasi, tiba-tiba langkah kaki milik Berlin terdengar mendekat. Ia pun segera berlari untuk berpindah menuju halaman belakang secepat mungkin, dan berusaha agar dirinya tidak ketahuan oleh lelakinya itu.


***


Setelah membicarakan masalah tersebut dan meminta bantuan kepada kedua temannya itu. Berlin merasa sedikit lega karena ia telah terbantu oleh teman yang selalu ada di saat dirinya membutuhkan.


"Apa semuanya akan baik-baik saja, ya ...?" gumam Berlin saat keluar melewati pintu samping garasi, dan menutup pintu tersebut secara perlahan.


"Apa mungkin aku harus bicarakan ini kepada Prawira ?" gumamnya kembali sesaat setelah menutup pintu.


Ia pun berjalan menuju halaman belakang untuk menyusul Nadia yang sudah berada di sana.


~


Waktu terus berjalan dan langit yang sebelumnya berwarna jingga pun perlahan digantikan oleh gelapnya malam. Beberapa bintang juga sudah mulai terlihat menghiasi langit, sesaat sebelum berubah menjadi gelap.


Di saat Berlin berjalan menuruni anak tangga halaman belakang, dirinya mendapati Nadia yang terlihat tengah memandangi pemandangan kota dari atas situ.


"Pemandangan indah, bukan ?" cetus Berlin saat berjalan mendekati kekasihnya itu yang terlihat duduk di rerumputan dan memandangi arah kota.


Berlin pun duduk di atas rerumputan yang terasa sangat halus, dan tepat di samping dari kekasihnya itu.


Dengan pandangan terus ke arah perkotaan yang ada di bawah. Nadia tiba-tiba bersandar di bahu milik Berlin dan mengatakan, "terima kasih ya, karena kamu selalu mengurangi bahkan menghilangkan rasa takutku," ucapnya dengan nada yang sungguh pelan.


.


"Terima kasih banyak ...," lanjutnya yang lalu menghela napas sambil sedikit memejamkan matanya di sandaran tersebut.


"Oh iya, aku minta maaf, karena ... aku sengaja menguping pembicaraan mu dengan temanmu tadi," ujar Nadia dengan menatap kedua mata milik Berlin.


"Oh, begitu ya ...," gumam Berlin dengan menatap balik tatapan Nadia.


.


"Tidak apa-apa, mungkin juga sudah saatnya kamu mengetahui apa yang ku bicarakan tadi," lanjutnya yang lalu tersenyum.


"Orang yang kamu maksud itu ... memang sempat bertemu denganku dua kali, pada saat aku masih sebagai anggota polisi," ucap Nadia kepada Berlin dengan kembali menyandarkan kepalanya.


"Aku hanya bertemu dengan orang itu dua kali, dan ... aku tidak menyangka sampai seperti ini jika memang benar dia yang melakukan ini kepadaku."


"Atas perintah dari atasan ku yaitu Pak Bagas pada waktu itu, aku harus membuatkan Surat Keterangan Catatan Kepolisian untuk orang itu."


"Aku sendiri sudah merasa sangat tidak nyaman ... saat melihat orang yang selalu memberikan tatapan dan lirikan anehnya kepadaku. Tetapi ... mau tidak mau dan karena tuntutan pekerjaan, aku harus beberapa kali berbincang dengannya untuk membuatkan surat keterangan itu."


Nadia menjelaskan tentang orang yang dimaksud dan disebut oleh Berlin, kalau memang sebelumnya sempat bertemu dengannya. Pada saat dirinya masih sebagai anggota polisi.


"Itu pertemuan pertama, dan di pertemuan kedua ... dia yang memaksaku," ucap Nadia.


.


"Memaksa ?" sahut Berlin.


Nadia mengangguk dan mulai menjelaskan semuanya kepada Berlin.


.


"Iya, karena aku menolak permintaannya yang meminta untuk ikut bersamanya, dengan alasan mengajakku untuk makan malam. Namun pada saat itu ... untungnya ada Prawira yang membantuku, dan alhasil aku berhasil untuk tidak ikut makan malam dengannya," jawab Nadia.


"Begitu, ya ...," gumam Berlin.


Di bawah langit malam yang penuh dengan bintang, Nadia menjelaskan semuanya secara detail dan seingat dirinya kepada Berlin. Tidak ada lagi yang mengganjal di pikirannya untuk diceritakan, dan tidak ada lagi yang disembunyikan oleh dirinya dari lelakinya itu.


"Kalau kamu dihubungi oleh orang itu. Beritahu aku, ya!" titah Berlin dengan menoleh dan menatap kekasihnya itu.


.


"Dan ... kalau mau pergi ke manapun, kamu harus lebih berhati-hati, ya ?" lanjutnya.


"He'em, pasti!" jawab Nadia dengan mengangguk dan tersenyum kepada Berlin.


.


"Kamu juga hati-hati, karena orang itu kelihatannya sangat keras kepala," lanjutnya.


Berlin mengangguk paham. Karena orang yang dimaksudnya bukanlah orang sembarangan, juga termasuk orang yang cukup licik dan sangat berbahaya. Walau dirinya merasa sama sekali belum pernah bertemu dengan orang tersebut, tetapi firasatnya menandakan demikian.


...


Angin malam kembali berhembus dan sangat dapat dirasakan dinginnya. Berlin bersama dengan kekasihnya masih duduk santai memandangi pemandangan kota di malam hari, yang sudah bagaikan bintang dengan lampu-lampu kota yang menyala.


Suara gemericik air dari kolam pun ikut terdengar bersamaan dengan hembusan angin yang kian kencang.


"Aku mau tanya sesuatu, boleh ?" cetus Berlin tiba-tiba.


"Boleh," jawab Nadia sambil mengangguk.


"Kenapa ... kamu mau dekat dengan orang seperti ku?" tanya Berlin.

__ADS_1


.


"Padahal kamu tahu sendiri aku itu penjahat, bahkan ketua dari suatu kelompok kriminal," lanjutnya.


Nadia pun mulai menjawab dan sedikit memberikan nasihat kepada lelakinya itu. Ia sedikit menyangkal ucapan yang diucapkan oleh Berlin, yaitu bagian penjahat.


"Mungkin ... memang benar kata orang-orang, kalau cinta itu buta," jawab Nadia dengan memandang ke arah langit yang penuh dengan bintang.


.


"Tetapi, ada satu hal yang membuatku sangat ingin ... bahkan terus bersamamu. Hal itu adalah ... hati mu, Berlin," lanjutnya.


"Aku selalu percaya kalau kamu itu sebenarnya adalah orang yang baik, dan sekarang aku melihatnya."


"Aku juga selalu merasa aman dan nyaman saat bersamamu ..., mau itu di manapun kita berada."


"Dan ... kamu satu-satunya orang yang berhasil membawaku keluar dari dunia tertutup itu. Serta ... membuatku mengenal apa itu jatuh cinta."


Semua perkataan atau ucapan yang diucapkan oleh Nadia, seakan membuat Berlin tersadarkan akan suatu hal di keluarga besar miliknya yang sebenarnya, yaitu Gates.


"Iya, memang aku membawamu keluar dari dunia tertutup itu. Tetapi ... justru aku malah membawamu ke dunia yang kelam dan kejam ini," ujar Berlin dengan nada yang sungguh pelan nan lembut saat mengatakannya.


"Hehehe ...," Nadia tiba-tiba tertawa kecil ketika mendengar Berlin mengatakan seperti itu.


.


Ia langsung menyahut dan menyangkal pernyataan tersebut dengan mengatakan, "mungkin ... dunia memang tempat yang kejam. Namun itu tergantung dengan siapa kamu memandang dan mengenal dunia tersebut," sahutnya sembari menatap kedua mata milik Berlin.


.


"Memang benar ... dan aku sangat mengetahuinya, kalau dunia yang kamu jalani itu sangat kelam nan kejam. Tetapi ... kamu berhasil memperkenalkan dunia yang indah kepadaku, seperti saat ini ... saat aku bersamamu, Berlin!" lanjutnya dengan menggenggam salah satu tangan milik Berlin, dan memandang ke arah langit.


"Jadi ... lihat dan sadarilah dari sudut pandang yang berbeda, jangan hanya satu sudut pandang saja !" ucap Nadia dengan nada sungguh pelan, lalu menoleh dan memberikan senyuman tulusnya kepada Berlin yang saat itu terlihat tertegun dengan semua yang dikatakannya.


Saat menggenggam tangan tersebut, Nadia menatap langsung kedua mata milik Berlin dan membuat kedua pandangan mereka saling beradu. Sampai-sampai membuat Berlin cukup salah tingkah dibuatnya, dan terlihat sangat tersipu.


Ia kembali memalingkan pandangannya pada langit yang berbintang, dan mengatakan, "bila orang-orang di dunia ini memiliki harapan, keinginan, atau impian mereka masing-masing. Maka ... harapan, keinginan, dan impianku adalah ... bisa merubah atau membawa dirimu ke peran yang lebih baik dari sebelumnya."


Sesaat setelah mengatakan hal tersebut, Nadia langsung tersipu dan menjadi sangat malu setelah mengatakannya.


"Eh ?"


"Maaf, apa aku berlebihan?"


"Ya ampun, aku dari tadi berbicara apasih ?"


Ia tiba-tiba melepas genggaman tangannya, dan memalingkan wajahnya dari hadapan Berlin ke arah pemandangan kota. Nadia merasa sangat malu setelah mengatakan beberapa hal itu.


Namun Berlin hanya tersenyum, dan menjawab semua perkataan yang dikatakan oleh kekasihnya itu kepadanya.


.


"Terima kasih, ya ...," ucapnya dengan tiba-tiba mengelus kepala milik kekasihnya itu dari belakang dan secara perlahan.


DEG.


Perbuatan yang dilakukan oleh Berlin itu seketika mengejutkan Nadia dan membuat bulu kuduknya berdiri sesaat.


"Apa yang ...," bentak Nadia namun memelan secara perlahan dan lebih memilih untuk kembali menyandarkan kepalanya di bahu milik Berlin.


"Dasar ...," gumam Berlin menanggapi sikap manja yang sangat ditunjukkan oleh Nadia kepadanya.


"Hehehe ..., maaf kalau aku orangnya manja ...," Nadia tertawa kecil saat Berlin merangkul dirinya.


"Tidak apa, sikap seperti ini sudah wajar untuk seorang wanita kepada laki-lakinya," jawab Berlin sembari perlahan merangkul tubuh milik kekasihnya yang terasa sangat hangat.


.


"Dan ... aku suka di saat kamu bersikap seperti ini ...," lanjutnya dengan berbisik di salah satu telinga milik Nadia.


Nadia benar-benar dibuat tersipu dan mukanya dibuat berubah memerah seketika, saat Berlin memperlakukannya seperti itu. Namun di sisi lain, dirinya sangat senang saat Berlin memperlakukan dirinya seperti itu. Ia terlihat memejamkan mata dan menunjukkan kalau dirinya merasa sangat nyaman ketika Berlin setengah memeluknya.


"Ngomong-ngomong, apakah makanan kesukaan kamu masih yang dahulu ? Atau udah berubah ?" cetus Berlin secara tiba-tiba.


"Dari dahulu sampai sekarang pun ... aku tetap masih suka nasi goreng !" jawab langsung Nadia.


.


"Memangnya kenapa ?" lanjutnya dengan menoleh kepada Berlin.


"Nggak apa-apa, cuma tanya aja ...," sahut Berlin yang lalu tersenyum pada kekasihnya yang terlihat bingung curiga.


"Tuh kan ...! Nggak adil, deh ...!" gusar Nadia dengan memasang ekspresi kesal yang justru terlihat cukup imut.


"Nanti juga kamu tahu sendiri, hehehe ...," ujar Berlin dengan mengelus perlahan rambut hitam panjang milik Nadia yang terurai dan memiliki wangi shampo yang khas.


"Ya sudah deh ...," gumam Nadia yang membiarkan Berlin beberapa kali memainkan rambutnya.


"Nggak jadi marah ?" cetus Berlin.


.


"Nggak ! udah malam, capek !" sahut Nadia dengan menyandarkan kepalanya dan tenggelam dalam pelukan Berlin.


"Hehehe ...," Berlin hanya tertawa kecil melihat tingkah dari kekasihnya yang sangat menunjukkan sikap manjanya ketika berada di dekatnya.


Berlin sendiri merasa sangat beruntung, karena baginya malam ini akan menjadi malam yang tepat untuk menenangkan pikirannya sejenak dari semua masalah-masalah itu.


"Aku yakin ... semuanya akan baik-baik, Nadia," gumam Berlin di dalam hatinya dan tersenyum saat setengah memeluk Nadia yang bersandar di dirinya.


.


"Terima kasih juga untuk nasihatnya, Sayang ...."


.


~


.


"Bagaimana, paketmu sudah terkirim, Carlos ?" cetus satu orang tertinggi dalam sebuah kelompok kepada Carlos saat berada di markasnya yang juga markas mereka.


"Sudah, dan pasti dia sangat ketakutan," jawab Carlos yang lalu tertawa jahat setelah mengatakannya, dan melakukan semua rencananya itu.


Tiba-tiba terdapat dua anak buah yang memasuki ruangan untuk menghampiri dirinya dan lalu mengatakan, "Bos, terpantau malam ini rumah nomor A22 itu kosong," cetusnya kepada Carlos.


"Sudah ku duga, kau tidak akan diam saja, Berlin," gusar Carlos yang terlihat sangat kesal dan benci saat mengatakan nama tersebut.


.


"Kalau begitu, aku ingin kalian semua mencari kediaman seseorang bernama *Berlin G Axel* dan menerornya. Sekaligus juga meneror semua anggota Ashgard, dan kalau bisa ... beri tahu juga ... mereka sedang berhadapan dengan siapa sekarang !" titahnya kepada kedua anak buah yang berlutut di hadapannya.


"Siap, Bos!" sahut kedua anak buah tersebut secara bersamaan dan lalu berlari keluar ruangan untuk mempersiapkan sesuai dengan perintah.


"Lebih baik kau jangan macam-macam denganku, Berlin !" gumamnya dengan terlihat sangat kesal.


Seseorang petinggi yang berdiri di belakang Carlos hanya sedikit tertawa kecil terhadap apa yang akan dilakukannya. Ia terlihat begitu membiarkan Carlos berkuasa atas puluhan, bahkan hampir ratusan anak buah miliknya.


"Kau sangat berkembang dan tidak seperti dahulu lagi, ya ...?" cetusnya kepada Carlos.


.


"Kita lihat. Apakah Berlin yang sekarang masih sama dengan Berlin yang dahulu ?" lanjutnya yang lalu tertawa jahat setelah mengatakannya.


Orang tersebut terlihat sangat mengenal dekat dengan Carlos, bahkan sampai mempercayakan Carlos untuk menggunakan otoritasnya atas seluruh anak buah dan perintahnya.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2