
Di hari yang berbeda, dan di siang harinya. Tampak Nicolaus sedang mengumpulkan semua anak buahnya di depan gudang persenjataan miliknya. Seluruh anak buahnya yang tentunya mengenakan seragam yang sama serba hitam, terlihat berbaris berjajar di hadapan Nicolaus.
"Aku mendapatkan informasi dari orang dalam, tentang penyergapan atau penyerangan yang akan dilakukan kepolisian terhadap markas atau wilayah kita ini," kata Nicolaus berdiri di depan semua orangnya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Nicolaus, seluruh orang-orangnya terlihat sangat bingung dan beberapa tidak terima. Namun Nicolaus kembali melanjutkan bicaranya. "Jika hal itu sampai terjadi, maka rencana utama dan semua usaha kita akan gagal sepenuhnya."
.
"Dan kita ... Matrix ... akan hancur di tangan kepolisian Gates, serta di hadapan seluruh kelompok di kota ini, terutama Ashgard," lanjutnya.
"Mana bisa begitu ?!" teriak salah satu orangnya yang berdiri di paling ujung barisan. Ia terlihat sangat marah tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Nicolaus.
"Ya, kita lawan, lah !" cetus kembali salah satu anak buahnya yang lain.
"Kita bantai aja langsung, nggak usah lama !" sambung anak buahnya yang lain.
Situasi terasa sangat panas di bawah teriknya matahari. Nicolaus terlihat sangat senang ketika mendapati semua reaksi dari semua anak buahnya.
DOR ...!
Ketika semua anak buahnya sedang berdebat satu sama lain untuk bertujuan melawan pemerintah. Tiba-tiba suara tembakan terdengar sangat keras dari pistol milik Nicolaus yang ia arahkan ke langit.
"Diam !" teriak Nicoalus dengan tegas sesaat setelah menembak.
Sontak semua anak buahnya terkejut dan langsung terdiam. Setelah semuanya tenang, Nicolaus kembali berbicara.
"Jika begini terus, aku ingin ... rencana utama kita akan dilaksanakan dalam waktu dekat ! Kalau bisa secepatnya !" ucap Nicolaus.
Dengan berjalan mondar-mandir di depan semua anak buahnya. Nicolaus menghujani mereka dengan banyak pertanyaan.
"Apakah di sini ada yang masih takut memegang senjata ? Apakah di sini ada yang takut ketika melihat darah ? Apakah di sini ada yang takut ketika melihat kematian ?" Pertanyaan-pertanyaan itu menghujani semua anak buahnya yang tertunduk ketika mendengarkannya.
.
"Dan, apakah di sini ada yang takut untuk mati demi keluarga ..?" lanjut Nicolaus menggunakan nada dan sikap yang sangat dingin dengan beberapa kali mengusap pistol berwarna putih miliknya.
Semua anak buahnya terlihat cukup gentar ketika mendapatkan semua pertanyaan yang terlontar dari mulut Nicolaus. Pertanyaan-pertanyaan kejam itu menghujani mereka tanpa jeda.
"Dalam waktu satu minggu, kalian akan menjalani latihan keras untuk melaksanakan rencana utama !" tegas Nicolaus kepada seluruh anak buahnya yang berdiri di hadapannya.
.
"Rencana utama akan dilaksanakan di minggu berikutnya, dan kalau bisa secepatnya ...!" lanjutnya.
"Bubar !" titah Nicolaus setelah selesai berbicara.
~
Setelah berbicara di depan seluruh anak buahnya. Carlos langsung menemui Nicolaus yang langsung masuk ke dalam ruangannya.
"Hey, apa maksudnya dengan penyergapan itu ?!" cetus Carlos langsung bertanya ketika memasuki ruangan milik Nicolaus.
Nicolaus berbalik badan dengan posisi sedang membaca sebuah buku di tangannya. Ia menjawab, "lihat saja sendiri," jawabnya sambil menunjuk sebuah tablet miliknya yang tergeletak di atas meja dengan keadaan layar masih menyala.
Carlos langsung melihat layar tablet tersebut, dan mendapati sebuah pesan dari seseorang yang menginformasikan tentang penyergapan atau penyerangan itu. Ia langsung terdiam ketika mengetahui hal itu.
"Apa yang bisa aku lakukan ?" cetus Carlos menatap serius Nicolaus.
"Kau adalah aset berharga ku, Carlos. Aku tidak memaksamu untuk melakukan sesuatu," jawab Nicolaus menutup buku yang ada di tangannya.
.
"Tetapi, jika kau ingin melakukan sesuatu. Aku ingin ... kau menangani Berlin dan kelompoknya, jangan sampai mereka menghalangi kita !" lanjutnya sembari duduk santai di kursinya.
"Bagaimana dengan misi pemantauan Gedung Balaikota ?" tanya Carlos.
"Sepertinya cukup !" jawab Nicolaus.
.
"Namun aku memberimu misi baru, yaitu ... kau harus mendapatkan banyak informasi mengenai Ashgard, dan kalau bisa ... kau terus ganggu mereka dengan caramu sendiri, terserah mau bagaimana caramu !" lanjut Nicolaus memberinya misi.
Carlos tiba-tiba tersenyum sinis ketika menerima misi seperti itu. "Ini misi yang ku inginkan ..!" batinnya.
.
~
.
Di siang menuju sore hari, dan di bengkel pribadinya. Berlin terlihat sedang sibuk dengan brankasnya. Ia tengah memeriksa barang-barang pada brankasnya, terutama dengan persenjataan yang ia simpan untuk kelompoknya.
"Senjata berat hanya ada lima, dan sisanya senjata ringan," ujar Kimmy mencatat semua isi brankas pada buku catatan yang ia bawa.
"Baik, sepertinya masih cukup," sahut Berlin sembari menata beberapa pistol ke dalam brankas.
"Barang-barang yang hilang sudah aku catat," ujar Kimmy memberikan catatannya kepada Berlin.
Berlin membaca catatan tersebut dan berkata, "pistol cukup banyak yang hilang, tetapi masih balik modal, lah."
"Ini harus aku taruh mana ?" sela Nadia menghampiri Berlin dengan membawa sebuah kotak kardus.
"Oh, sini !" sahut Berlin yang langsung menerima kotak itu dan menyimpannya di samping Brankas.
__ADS_1
.
"Kamu masih mau nungguin aku ?" lanjut Berlin bertanya kepada Nadia.
Nadia mengangguk dan menjawab, "lagian, pekerjaan rumah hari ini sudah selesai, kok," jawabnya yang lalu tersenyum.
Berlin merasa tidak enak, karena kekasihnya itu sudah menunggu dan sekaligus membantu pekerjaannya. Walau begitu, Nadia terlihat sangat senang bisa ikut bersama Berlin. Di sisi lain, itulah yang diinginkan oleh Nadia.
"Kim, kumpulkan yang lain di ruang utama !" titah Berlin.
.
"Siap, Bos !" sahut Kimmy yang lalu berjalan keluar dari ruangan brankas menuju ruang utama.
"Sebentar ya ? Habis ini selesai, kok," ucap Berlin kepada Nadia.
"Iya," jawab Nadia kembali mengangguk dan tersenyum.
...
"Siang, Bos !" sapa Faris dan yang lainnya kepada Berlin yang berjalan menghampiri dan berdiri di hadapan mereka.
.
"Sore !" sahut Aryo menanggapi Faris.
"Udahlah, sama aja !" sahut Salva.
Berlin tertawa kecil dan geleng-geleng dengan sikap dari teman-temannya. Ia berjalan ke depan teman-temannya, diikuti oleh Nadia di belakangnya.
"Oke, tidak ada laporan terbaru ?" tanya Berlin kepada teman-temannya.
"Tidak ada, Bos," jawab Asep.
"Sasha masih menemani Adam di rumah sakit, ya ?" tanya Berlin kembali yang melihat ke sekeliling dan tidak menemukan seorang Sasha.
"Yup !" jawab Vhalen.
"Baiklah, kurasa ... tidak banyak yang dapat kita lakukan hari ini. Jadi, kalian silakan bersantai, dan tunggu nanti malam !" Berlin menyudahi basa-basinya dan mulai berbicara dengan serius.
.
"Tetapi ingat ! Kita masih dalam situasi yang cukup berbahaya dengan Mafioso, jadi kalian semua harus lebih berhati-hati," lanjutnya.
"Kau juga, Bos," sambung Asep.
.
"Yup ! Jangan cuma kami doang yang berhati-hati, tetapi kau juga, Bos !" lanjut Kent dan teman-teman yang lain.
.
"Mobil yang kemarin bagaimana, Sep ?" lanjut Berlin bertanya mengenai tiga mobilnya yang rusak karena dibawa ke acara malam kemarin.
"Biayanya perbaikannya sih ... cukup ... fantastis, bagaimana ?" jawab Asep mengerutkan keningnya dan terlihat pusing dengan biaya perbaikan mobil itu.
"Ya sudah, tidak apa, nanti aku ganti gajimu," jawab Berlin.
.
"Nanti tolong mobilnya bawa ke Villa saja, ya !" lanjut Berlin kepada Asep.
"Siap, Bos ..!" sahut Asep.
.
5 menit kemudian.
.
Setelah semuanya selesai, Berlin pun pergi dari bengkel miliknya bersama Nadia untuk menuju ke suatu tempat.
"Kita mau ke mana, sih ?" dalam perjalanan, Nadia bertanya penasaran kepada Berlin yang sedang menyetir di sampingnya.
"Katanya kamu meminta aku untuk mengajarimu, bagaimana sih ?" sahut Berlin.
"Sekarang ?!" sahut Nadia yang tiba-tiba sangat bersemangat dan menatap Berlin dengan mata berbinar-binar.
Berlin tersenyum melihat sikap Nadia yang tiba-tiba berubah sangat bersemangat dan senang. Ia mengangguk dan menjawab, "iya, kita akan ke tempatnya."
~
Berlin kembali lagi ke Kediaman Gates untuk menggunakan lapangan tembaknya yang berada di halaman paling belakang dari rumah itu.
Nadia sendiri sudah menduga kalau itu tempat yang akan ditunjukkan Berlin. Namun dirinya merasa ragu untuk menggunakan tempat itu. "Apa ... tidak masalah ...?" tanya Nadia dengan nada sedikit berbisik kepada Berlin saat berjalan menuju lapangan tembak di halaman belakang.
"Aku sudah meminta kepada Garwig kemarin, jadi tenang saja," jawab Berlin.
.
"Lagi pula, Garwig mempercayakan tempat ini kepadaku, jadi secara langsung ... sekarang aku yang memegang penuh tempat ini," lanjutnya sembari terus berjalan di samping Nadia menuju halaman paling belakang.
...
__ADS_1
Sesampainya di lapangan tembak itu. Berlin langsung mengambil pistol dari sakunya, dan mengganti amunisinya menggunakan peluru karet.
Lapangan itu sangat terbuka, dan untungnya mereka berdua berada di sana saat sore hari tiba. Jadi, matahari sudah tidak lagi terik-teriknya. Mereka berdua terlihat sudah siap berdiri di depan pembatas untuk menembak.
Di saat Berlin sibuk mengganti amunisi pada pistolnya. Nadia terlihat sangat berdebar dan gemetaran melihat pistol berwarna putih yang dipegang Berlin.
"Kamu mengerti cara menggunakannya, 'kan ?" tanya Berlin selesai mengganti amunisinya dan menoleh kepada Nadia yang berdiri di sampingnya.
Nadia mengangguk dengan kikuk. Ia terlihat berusaha untuk tenang dan tidak gugup ketika memegang senjata api itu.
Ketika pistol berwarna putih mengkilap itu berpindah ke tangan milik Nadia. Ia terlihat sangat gemetaran gugup saat memegangnya, dan sangat sulit untuk mengendalikan dirinya.
"Tenanglah," bisik Berlin berdiri sangat dekat di belakang Nadia persisi, dan ikut menggenggam tangan milik Nadia yang sedang menggenggam pistol itu.
Nadia sangat berusaha untuk tenang ketika mengarahkan bidikannya ke salah satu papan sasaran yang berada cukup jauh di depannya. Namun tangannya sangat susah untuk berhenti bergetar, dan membuat bidikannya sangat sulit untuk difokuskan pada satu sasaran.
"Tarik napasmu secara perlahan, dan hembuskan secara perlahan juga," ucap Berlin sembari meluruskan tangan milik Nadia ke posisi yang benar untuk menembak.
.
"Aku yakin kamu pasti pernah menembak saat kamu masih sebagai polisi, 'kan ?" lanjut Berlin bertanya.
"Se-sebenarnya ... cuma sekali, dan ... itu waktu ... pelatihan," jawab Nadia sedikit tergagap karena saking gugupnya.
"Siapa yang menjadi pelatihmu ?" tanya Berlin kembali.
"Prawira," jawab Nadia.
"Aku ingat, dahulu ada seseorang yang mengajariku juga, dan dia berkata padaku. Katanya, kalau aku ingin menembak tepat sasaran, aku harus bisa menjadi pelurunya," cetus Berlin.
"Maksudnya ?" sahut Nadia menoleh tidak mengerti, ia menurunkan tangannya sejenak dari yang awalnya bersiap untuk menembak.
"Jangan dipikirkan," jawab Berlin menatap ke arah Nadia di hadapannya.
"Tetapi kalau menurutku, kamu harus bisa mengendalikan emosionalmu ketika ingin menembak. Karena jika emosional mengendalikan dirimu, sama saja kamu sedang dikendalikan oleh pistol yang sedang kamu pegang," ucap Berlin berpindah berdiri di samping Nadia.
"Ya, walaupun ... terkadang, aku lebih sering membiarkan emosional mengendalikan ku. Tetapi lebih baik jangan seperti itu, ya !" lanjut Berlin.
"Namun, yang paling penting adalah ... kamu harus yakin terlebih dahulu sebelum menembak," lanjut Berlin kembali.
Berlin sudah terlihat seperti seorang guru terhadap Nadia. Beberapa kali ia menasehati Nadia, dan mencoba mengajarinya sebaik mungkin dengan caranya sendiri. Nadia senyum-senyum sendiri ketika dirinya melihat lelakinya itu sangat serius untuk mengajarinya.
"Baiklah !" seru Nadia yang lalu memposisikan dirinya kembali dan bersiap untuk menembak. Nadia terlihat sangat bersemangat, walau masih terdapat rasa gugup di dalam dirinya.
Berlin tersenyum ketika melihat semangat itu. "Kamu diperbolehkan untuk menembak ketika kamu sudah yakin !" ujar Berlin mundur satu langkah dan melihat Nadia yang sudah siap.
Nadia menutup satu matanya dan fokusnya tertuju pada bidikan pistol yang ia genggam. Ia berusaha untuk mempertahankan bidikannya pada satu sasaran yang sudah ia incar.
DOR ...!
DESING ...!
Pelatuk telah ditarik, dan peluru melesat begitu cepat menuju sasaran. Nadia sangat kaget dan hampir pistol yang ia pegang terpental terlepas dari tangannya.
"Huft ..!" Nadia menghela napas lega setelah satu tembakan berhasil ia lakukan.
"Lumayan, tetapi sayang ... masih sedikit meleset," cetus Berlin kembali mendekati Nadia, dan menunjuk ke arah papan sasaran.
Peluru yang ditembakan oleh Nadia hanya mengenai tepat sisi samping pada papan sasaran, dan hanya meninggalkan bekas goresan pada papan tersebut.
"Bagaimana ?" tanya Berlin.
"Aku ingin lagi !" gusar Nadia langsung kembali menembak papan sasaran itu.
Tembakan demi tembakan dilakukan oleh Nadia yang terus berusaha mengenai sasarannya. Namun tembakan-tembakan itu tidak memberi dampak yang berarti pada sasaran, dan kebanyakan meleset.
Cek ... Cek ... Cek ...!
Pistol yang digunakan Nadia pun akhirnya kehabisan peluru, dan membuat Nadia berhenti.
"Kurasa cukup hari ini, kamu juga sudah terlihat capai, tuh !" ujar Berlin melihat kekasihnya yang sudah mulai berkeringat.
"Baik," sahut Nadia terdengar cukup lelah, dan mengembalikan pistolnya kepada Berlin.
Nadia merasa sangat lelah, karena hampir semua energinya habis untuk mencoba untuk menenangkan dirinya dari kegugupan. Namun di sisi lain, dirinya merasa sangat senang dan puas karena akhirnya Berlin melatihnya.
"Aku sudah menembak, masa kamu tidak, sih ?!" cetus Nadia dengan memasang wajah sebalnya di hadapan Berlin.
"Nanti dibilang pamer, jadi aku nggak mau !" sahut Berlin dengan nada sedikit mengejek.
"Huft !" gumam Nadia memalingkan mukanya dan menunjukkan sikap kalau dirinya kesal.
"Hahaha ...!" Berlin tertawa melihat sikap itu. "Baiklah, sekali saja, ya !" ucapnya.
Berlin mengisikan satu peluru karet pada pistolnya dan langsung menebak ke arah sasaran yang lebih jauh dibandingkan sasaran milik Nadia.
DOR ...!
Satu tembakan yang dilakukan Berlin berhasil mengenai tepat gambar kepala pada sasaran, dan membuat papan sasaran itu terjatuh. Tampak, Berlin melakukannya tanpa menutup satu mata dan memposisikan dirinya seperti Nadia tadi.
Nadia tertegun melihatnya, ia terlihat kagum dengan kemampuan yang dipunya oleh lelakinya itu. "Cepat dan tepat," gumam Nadia berdecak kagum dengan cara Berlin menembak.
"Hehehe," Berlin hanya tertawa kecil dengan menggaruk tengkuknya. "Sudahlah, ayo kita lebih baik beristirahat dan bersiap untuk makan malam !" ucap Berlin menggandeng tangan milik kekasihnya dan lalu berjalan pergi dari lapangan tembak itu.
__ADS_1
.
Bersambung.