
"Carlos?" cetus Nadia dengan sangat ketakutan dan gemetaran menatap Carlos yang berdiri tepat di hadapannya.
"Sudah sangat lama sekali kita tidak bertemu ya, Nadia?" cetus Carlos menghela napas berat.
"Terakhir ... kita bertemu itu ... waktu kau dengan tanpa pikir panjang menolak ajakan atau undangan makan malam ku," lanjutnya sembari bersandar di sebuah kotak kayu yang ada.
.
"Jujur saja, rasanya ... sangat sakit sekali, ketika ajakan ku ditolak langsung tanpa basa-basi oleh seorang wanita yang ku sukai sendiri. Dan itu terjadi dua kali di malam yang sama," lanjutnya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Carlos barusan, membuat Nadia mengingat kembali kejadian penolakan yang dilakukan olehnya.
***
Kilas balik: 3 tahun yang lalu.
Nadia Nayanika, 18 tahun.
Nadia sebelumnya pernah bertemu dengan Carlos. Tetapi itu sudah sangat lama sekali saat dirinya masih sebagai anggota polisi baru, tepatnya tiga tahun yang lalu. Pada pertemuan pertama dengan Carlos saat akademi, Nadia sama sekali tidak menghiraukan pria itu yang selalu mencari perhatian kepadanya. Dirinya selalu menaruh sikap acuh tak acuh kepada semua laki-laki di akademinya, termasuk Carlos sendiri yang hampir selalu mencoba untuk mendekatinya.
Di saat akademi keanggotaan. Nadia menjadi salah satu gadis yang paling diminati oleh banyak lelaki seangkatannya. Bahkan para senior dan juniornya pun ikut terpesona dengan kecantikannya dan sikap lemah lembutnya.
Carlos sendiri adalah salah satu pria seniornya yang selalu mencoba untuk mendekati Nadia dengan cara apapun. Dan itu tentunya membuat Nadia cukup risih, bahkan dirinya menganggap Carlos adalah pria yang mengerikan. Lantaran Carlos tidak segan-segan kepada semua laki-laki yang berani mendekati Nadia, termasuk teman atau sahabat milik Nadia sendiri. Tentu itu membuat Nadia sangat tidak suka, dan menyimpan rasa ketakutan tersendiri ketika berhadapan dengan Carlos.
Namun untungnya ada Prawira yang selalu memberikan bantuan kepada Nadia jika dirinya sedang kesusahan atau sedang diganggu. Prawira adalah orang yang mengadopsi Nadia dari salah satu Panti Asuhan di kota Metro, dan Nadia sendiri sudah menganggapnya selayaknya seorang Paman.
Prawira adalah orang yang sangat baik dan dewasa di mata Nadia, dan dia selalu membantu Nadia saat berada dalam kesulitan. Salah satunya ketika secara tiba-tiba Carlos menemui dirinya di malam hari tepat depan Kantor Polisi Pusat bersama dua orang berpakaian serba hitam yang sepertinya adalah pengawal milik Carlos.
Nadia sangat terkejut dan sedikit ketakutan ketika dikejutkan oleh Carlos yang menunggunya keluar dari kantor polisi.
"Nadia," sapa langsung Carlos menyambut Nadia ketika berjalan keluar dari kantor. Mau tidak mau langkah milik Nadia harus terhenti, karena Carlos secara tiba-tiba menghalangi dirinya seakan tidak boleh pergi ke mana-mana terlebih dahulu.
"Um, ada ... yang bisa ... aku bantu?" tanya Nadia dengan perlahan kembali melangkah mundur masuk ke dalam kantor polisi.
"Aku hanya ... ingin mengajakmu pergi makan malam, ku harap kamu mau pergi denganku," sahut Carlos dengan menatap Nadia dengan tatapan penuh harapan.
"Ma-ma-maaf, aku ---" belum selesai Nadia berbicara, tiba-tiba saja Carlos memotong dengan mengatakan, "ayolah, Nadia. Beri aku kesempatan sekali saja! Aku hanya ingin makan malam bersamamu di rumahku," ucapnya dengan nada sedikit memaksa.
Di saat yang tepat, Prawira berjalan keluar menghampiri Nadia yang terlihat sedang dalam masalah. Hati milik Nadia benar-benar lega ketika melihat Prawira berjalan menghampirinya.
"Carlos, lagi-lagi kau mengganggunya. Tidakkah kau puas setelah tadi mengganggunya?" cetus Prawira berjalan dan berdiri tepat di depan Nadia dan menghadap Carlos.
"Ayolah, aku hanya ingin mengajaknya makan malam di rumahku, apa masalahnya?!" sahut Carlos memprotes Prawira.
"Lalu, apakah Nadia sudah menjawab?" tanya Prawira yang lalu menoleh kepada Nadia yang bersembunyi di belakangnya.
"Ma-maaf, aku tidak bisa, Carlos. Karena aku ada janji bertemu orang malam ini," ucap Nadia dengan menundukkan kepalanya karena tidak berani menatap Carlos.
Sebelum Carlos memberikan ajakan ini. Sebelumnya ia telah memberikan ajakan yang sama kepada Nadia, ketika Nadia sedang bekerja membuatkan sebuah SKCK untuk Carlos atas perintah atasannya. Namun jawaban yang diberikan Nadia masih sama.
"Jadi, apakah kau sudah mendengar jawabannya sekarang?" tanya Prawira kembali.
"Cih!" gusar Carlos terlihat kesal. "Baiklah, aku pergi saja!" ucapnya terlihat sangat kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh Nadia.
Ketika Carlos berjalan menghampiri mobilnya yang terparkir di parkiran depan kantor polisi. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan melirik tajam ke arah Nadia yang masih berdiri di depan pintu bersama Prawira.
Nadia yang menyadari mendapatkan tatapan tersebut pun dibuat cukup gemetaran. Namun Prawira tiba-tiba saja berbicara, "jika dia mengganggumu lagi, bilang saja ke aku, ya? Carlos memang orangnya seperti itu," ucapnya dengan tenang.
"Ba-baik," jawab Nadia mengangguk pelan.
***
Nadia Nayanika, 3 tahun kemudian.
"Siapa sangka, ternyata janji ketemuanmu dengan seseorang waktu itu, adalah bertemu dengan saudara ku sendiri," celetuk Carlos seraya menopang dagunya dan melirik tajam ke arah Nadia yang masih terduduk di atas tanah dan tersandarkan di dinding.
"Di-dia ... mengetahuinya ...?" batin Nadia terkejut ketika mendengar hal tersebut.
__ADS_1
"Ah sudahlah, masa lalu. Tetapi sekarang, kau sedang bersamaku, hanya kita berdua di sini," ucap Carlos melangkah mendekati Nadia dengan tatapan penuh kebencian.
Sontak itu sangat membuat Nadia ketakutan. Dirinya ingin mundur, namun tidak bisa karena sudah tersudut. Dirinya ingin berdiri dan melarikan diri, namun tidak bisa karena kakinya mengalami cidera cukup parah.
"Jangan mendekat! Aku akan memukulmu!" bentak Nadia walau dengan tatapan sedikit berkaca-kaca karena berharap bantuan segera datang untuknya.
"Hahaha!" Carlos tiba-tiba tertawa terbahak-bahak melihat reaksi dari Nadia yang sesuai dengan dugaannya. "Rencana yang sudah ku buat sangat lama, akhirnya terwujud!" teriaknya tiba-tiba.
"Nadia, sayang sekali kau tidak bisa meminta tolong kepada siapapun di sini, Berlin tidak akan mendengar mu, Prawira juga tidak akan mendengar mu, sudahlah!" ujar Carlos dengan ketus.
.
"Kau boleh berteriak sepuasnya, kok!" lanjutnya dengan tatapan tajam dan nada yang terdengar kejam.
Nadia benar-benar panik ketakutan. Matanya tiba-tiba saja meneteskan air mata, dan hatinya berkali-kali memanggil Berlin. Dirinya memejamkan mata sesaat dan sangat berharap akan ada bantuan yang datang.
Carlos benar-benar terlihat sangat senang sekali dan puas dengan berjalannya rencana miliknya dengan sangat lancar. Dirinya juga merasa sangat puas ketika mendapatkan laporan dari anak buahnya soal reaksi Berlin yang terlihat lemah ketika Nadia menjadi tawanannya.
"Berlin, ku mohon ...! Siapapun itu, ku mohon ...! Selamatkan aku ...!" batinnya dengan penuh berharap seraya air mata yang tanpa disadari menetes membasahi pipinya.
TAP ... TAP ... TAP ...!
Seorang pria berpakaian hitam yang sepertinya anak buah dari Carlos tiba-tiba berjalan menghampiri Carlos dengan membawa sebuah berita.
"Bos, helikopter milik kepolisian sempat terpantau mengelilingi tempat ini, dan negosiator dari kepolisian sudah ada di depan," ucap pria tersebut berbicara kepada Carlos.
.
"Kurasa ... kau mengenali negosiator tersebut," lanjutnya kemudian melirik tajam kepada Nadia yang terduduk di sudut.
Mendengar laporan dan melihat gerak-gerik dari anak buahnya ketika menyampaikan laporan tersebut. Carlos sepertinya sudah mengetahui siapa yang datang. Ia sedikit tersenyum sinis dan mengatakan, "baik, aku akan segera menemuinya."
.
"Kau ikat tangan dan kakinya, dan tetap jaga dia di sini!" lanjut memerintahkan anak buahnya itu untuk mengikat Nadia dan menjaganya di sana.
"Siap, Bos!" sahut anak buahnya yang lalu langsung melaksanakan apa yang diperintahkan.
"Lepas! Jangan sentuh aku!" bentak Nadia saat tangannya akan diikat.
"Diam!" bentak pria tersebut.
SET.
Tiba-tiba saja sebuah pisau yang sangat tajam berhenti tepat di lehernya, dengan mata pisau yang sedikit lagi menusuk leher milik Nadia. Pria itu tampak kesal dan mengancam ketika sedang mengikat Nadia. Nadia langsung diam dengan keadaan sangat ketakutan. Tubuhnya tidak bisa berhenti gemetaran.
"Benar-benar sesuai dugaan ku," gumam Carlos menghela napas berat, dan lalu berjalan menuju depan gudang.
~
Pukul 15:00 sore hari.
Gudang Barat Danau Shandy Shell.
Saat Carlos berjalan keluar gudang, ia langsung bertemu dengan Berlin yang ternyata adalah negosiator yang dimaksud. Kedatangan Berlin ini sudah diprediksi oleh Carlos sendiri, dan sesuai dengan rencana yang sudah lama ia susun.
"Aku tidak terkejut jika kau datang ke sini, Sang Anak Emas dari keluarga Gates, Berlin Gates Axel," sapa Carlos menyambut kehadiran Berlin yang tampak marah kepada dirinya.
"Di mana dia?! Apa maumu?!" cetus Berlin ketus dengan melangkah lebih dekat dan menatap tajam Carlos.
Dua anak buah Carlos langsung menghalangi Berlin dan menyuruhnya untuk mundur menjaga jarak dari Carlos.
"Sudah, tidak perlu," ucap Carlos kepada dua anak buahnya. "Kalian sudah menyita barang-barangnya, 'kan?" lanjutnya berbisik kepada salah satu anak buahnya.
"Sudah, Bos," jawab anak buah itu.
"Cepat jawab pertanyaan ku! Apa maumu, Carlos?!" ucap Berlin dengan ketus.
__ADS_1
.
"Jika ada masalah di antara kita berdua, maka selesaikan denganku tanpa harus melibatkan dia!" lanjutnya.
"Memang benar, Berlin. Aku punya suatu masalah denganmu, namun mungkin kau melupakannya," sahut Carlos dengan dingin.
"Dan jika kau tanya apa mau ku. Maka aku ... hanya ingin membalaskan dendam ku kepada wanita itu dan kau, Berlin," lanjut Carlos menatap Berlin dengan sangat tajam.
Berlin terkejut setelah mendengar jawaban itu yang langsung tercetus dari mulut Carlos. Mungkin memang benar terdapat masalah di antara dirinya dan Carlos, tetapi dirinya tidak begitu menduga kalau Nadia ada kaitannya dengan masalah ini.
"Aku tidak menginginkan harta atau apapun itu, aku hanya ingin ... menjadikan Nadia sebagai tawananku, dan menancingmu untuk muncul di sini, Berlin," ucap Carlos kemudian. Setelah berkata demikian, Carlos melirik ke beberapa anak buahnya yang berdiri di sekeliling Berlin seakan memberikan perintah dari matanya.
"Baiklah, baiklah, aku akan menuruti permintaan mu, Carlos. Tetapi, Nadia harus ada di hadapanku terlebih dahulu!" sahut Berlin dengan tenang dan santainya sedikit mengangkat kedua tangannya seakan memberikan tanda untuk menyerah di hadapan Carlos.
Carlos bingung dengan tindakan yang Berlin lakukan di hadapannya, karena ini tidak sesuai prediksinya. Ia mengira kalau Berlin akan langsung menolak untuk menurutinya dan bertindak melakukan perlawanan. Dirinya pun menyuruh semua anak buahnya untuk menjaga jarak dari Berlin, dan berjalan kembali memasuki gudang.
***
"Apakah itu tanda kita?" tanya Aryo berbisik kepada Asep saat bersembunyi di balik semak-semak.
"Bukan, tanda kita hanya ketika Berlin mengangkat dan melambaikan satu tangannya," sahut Asep.
"Lalu apa yang dilakukan Berlin?" tanya Faris kepada Kimmy.
"Aku tidak tahu," jawab Kimmy memasang wajah khawatir saat melihat Berlin di sana mengangkat kedua tangannya.
"Yang jelas, dia tidak mungkin menyerah begitu saja," sambung Asep.
Semua anggota dari regu yang dipimpin oleh Prime sudah sangat siap untuk melakukan penyerangan ketika Berlin memberikan tandanya. Begitu pula dengan kelompok milik Berlin yang juga sudah bersiap.
***
Nadia merasa kepalanya sangat pusing. Dirinya yang terduduk di tanah pun menyandarkan tubuhnya di dinding dari gudang dan mencoba untuk memejamkan matanya sesaat, berharap rasa pusingnya berkurang dan hilang. Kaki dan tangannya diikat dengan sangat kencang, itu membuat Nadia tak bisa berbuat banyak.
DRAP !
"Hei, bangun!" bentak Carlos berjalan menghampirinya dan secara tiba-tiba menarik tubuhnya untuk berdiri dengan kasar.
"Aduh," Nadia tak bisa berhenti merintih kesakitan, karena secara paksa ia menggunakan kakinya yang cidera untuk berdiri dan berjalan.
"Cepat!" bentak Carlos dengan langsung merangkul leher milik Nadia dan menodongkan pistol di kepalanya.
"Ba-baik," jawab Nadia gemetaran dan tanpa sadar air matanya jatuh karena saking takutnya.
...
Tak menunggu waktu lama. Berlin terkejut ketika melihat Nadia dibawa oleh Carlos dengan keadaan yang cukup memprihatinkan. Tangan dan kaki diikat kuat, terdapat darah yang keluar dari luka pada jidatnya, dan satu kaki cidera. Itu cukup menyulut emosi Berlin kepada Carlos.
"Apa yang ... kau lakukan ... padanya?!" batin Berlin tampak sangat kesal ketika melihat langsung kondisi Nadia yang seperti itu.
Carlos tertawa kecil ketika melihat reaksi Berlin yang sangat ingin ia lihat sejak lama "Ada yang marah sepertinya," ucap Carlos dengan nada sangat menyindir Berlin.
"Sialan!" gumam Berlin. Dirinya tak bisa berbuat semena-mena, karena Nadia masih berada di tangan Carlos dengan pistol yang terus tertodong di kepalanya.
"Berlin, maaf," ucap Nadia dengan nada sungguh pelan dan tatapan mata yang mulai nanar.
"Tenang saja, Berlin. Aku tidak akan membunuhnya. Bahkan dia seperti ini karena ulahnya sendiri yang terus-terusan melawan kami," ucap Carlos dengan santainya dan menurunkan pistol yang digunakan untuk menodong Nadia. Namun masih saja tidak melepaskan rangkulan atau cengkeramannya dari Nadia.
.
"Aku tidak ingin membunuh Nadia di sini, Berlin. Tetapi mungkin, itu tidak berlaku denganmu!" lanjutnya dengan pistol yang kini tertodong ke arah Berlin.
"Benar begitu, Berlin. Jangan bergerak! Jika kau melawan, maka nyawa Nadia-lah yang menjadi taruhannya."
Berlin benar-benar bingung. Apa yang harus ia lakukan, ia tidak mengetahuinya. Pikirannya benar-benar buntu ketika nyawa milik Nadia menjadi taruhannya. Tetapi dirinya juga tidak mungkin hanya diam saja dengan seakan menyerahkan diri begitu saja.
"Berpikirlah! Berpikir! Apa yang harus aku lakukan?!" batin Berlin seraya melirik ke sekelilingnya seolah mencari sebuah peluang untuk melawan, dan berujung menatap Nadia yang terlihat sangat kesakitan.
__ADS_1
.
Bersambung.