Mafioso In Action

Mafioso In Action
Pria Misterius #30


__ADS_3

"Kita berhenti di mana, Bos ?" cetus Cario.


.


"Sudahlah, kau nyetir aja enggak, diam aja !" sahut Gee.


"Tidak apa, kita akan berhenti langsung di depan rumahnya. Dia juga sedang tidak berada di rumah," jawab seseorang yang mereka panggil dengan sebutan Bos.


Tidak menunggu waktu yang lama, mereka bertiga pun segera memberhentikan mobil van berwana hitam yang mereka kendarai. Mobil yang mereka kendarai berhenti tepat di sebuah rumah yang tidak terlalu besar di kompleks perumahan kota.


Seorang pria yang dipanggil dengan sebutan Bos oleh kedua temannya, telah bersiap dengan sebuah kotak kecil yang berisikan sesuatu untuk diberikan kepada sang pemilik rumah tersebut.


"Rumah nomor A22 ?" cetus Gee sesaat setelah turun dari mobil tersebut, dan melihat nomor yang terpampang di pintu berwarna hitam dari rumah yang menjadi target mereka.


"Cario, kau bersama Gee tunggu di luar saja dan pantau keadaan sekitar !" titah sang bos kepada kedua anak buahnya, dan berjalan mendekati pintu rumah tersebut dengan membawa sebuah kotak di tangannya.


"Siap, Bos !"


"Tenang ..., kalau cuma pantau itu adalah hal yang mudah !"


...


Dengan membawa sebuah kotak berwarna hitam pekat dan tertutup sangat rapat. Pria tersebut berjalan mendekati pintu rumah tersebut, dan mencoba untuk membuka pintu yang ternyata terkunci.


"Terkunci ...?" gumamnya setelah berkali-kali memutar gagang pintu dan mendorong pintu tersebut.


"Cario, tolong bukakan pintu ini !" titahnya kepada rekannya yang menunggu dan bersandar di samping mobil.


"Aku ?" sahut Cario dengan menunjuk dirinya.


"Udah cepat sana !" titah Gee dengan menarik dan mendorong Cario untuk segera bergerak.


"Iya, iya ...!" jawab Cario yang lalu berjalan menghampiri bosnya dengan membawa sebuah linggis di tangannya.


Cario pun segera berjalan mempercepat langkahnya dengan membawa sebuah linggis di tangannya, dan mulai membuka pintu yang terkunci itu menggunakan linggis tersebut.


Mereka bertiga juga terlihat sangat waspada dengan lingkungan sekitar. Walau suasana di kompleks perumahan kota itu sangat sepi dan jarang terlihat orang lain berlalu-lalang. Tetapi mereka melakukan rencana ini di siang hari, dan sangat terlihat mencurigakan bila sampai ada warga sekitar yang melihat mereka.


"Bisa tidak ?" tanya bos tersebut kepada Cario.


"Gampang ini mah ...!" jawab Cario yang lalu mulai bersiap untuk mendobrak pintu rumah tersebut.


DOBRAK ...!


Suara dobrakan yang dilakukan oleh Cario terdengar sangat keras. Dirinya dengan sangat keras mendobrak pintu yang terkunci itu dengan menabrakkan tubuhnya, sesaat setelah melonggarkan sela-sela pintunya menggunakan sebuah linggis yang ia bawa.


"Udah, Bos !" ucap Cario setelah berhasil mendobrak dan membuka pintu tersebut, serta terlihat merapikan kembali baju hitamnya yang sedikit berdebu.


"Oke, kau bersama dengan Gee langsung bersiap di dalam mobil saja !" titah bos tersebut kepada Cario.


.

__ADS_1


"Aku hanya ingin menaruh kotak ini di kamarnya," lanjutnya yang lalu berjalan perlahan memasuki rumah tersebut.


"Oke, lebih baik cepatlah ... karena ini siang hari dan pergerakan kita sangat mencolok," ucap Cario dengan santainya dan berjalan kembali menuju mobil van hitam yang terparkir tepat di depan rumah tersebut.


...


Dengan membawa kotak hitam di tangannya, pria tersebut berjalan melewati ruang tamu yang tempatnya cukup kecil tetapi terlihat sangat rapi. Tidak jauh dari ruang tamu tersebut, dirinya berjalan menghampiri sebuah kamar tidur yang terletak tepat di samping dari kamar mandi.


Rumah yang dijadikan target oleh pria tersebut untuk rencana keduanya, adalah rumah milik seseorang yang pernah memiliki peran sangat penting dalam hidupnya. Namun seseorang yang sudah ia anggap penting itu, justru tidak menganggap dirinya. Bahkan seseorang yang sempat berharga baginya itu, malah memilih pria lain yang ternyata tidak lain adalah saudaranya sendiri.


"Walau rumah mu kecil dan sempit, tetapi ... kau itu orangnya bersih dan rapi, ya ...," gumamnya sendiri saat memasuki kamar tidur yang bernuansa sederhana namun sangat nyaman, dengan perpaduan warna merah muda dan jingga yang sangat cantik mewarnai dinding sekeliling.


"Tetapi ... maaf, aku harus melakukan ini, dan ... kotak ini berisikan sebuah benda ... yang sebenarnya dahulu ... ingin 'ku berikan kepadamu, sebagai pengungkap perasaan 'ku."


.


"Namun ... kau malah tega menyakiti dan mengkhianati perasaan ini, maka dari itu ... aku sedikit menambah bumbu pada isi dari kotak hitam ini."


Pria tersebut berbicara sendiri sambil meletakkan kotak berwarna hitam yang ia bawa-bawa itu, di atas dari sebuah meja tata rias yang terletak tepat di samping dari ranjang.


Tidak memakan waktu yang lama, pria tersebut pun segera pergi bersama dengan kedua rekannya yang menunggunya. Dengan mengendarai kembali mobil van berwarna hitam itu, mereka bertiga pun pergi meninggalkan rumah itu dan menganggap rencana kedua telah berhasil dijalankan.


Beruntungnya mereka bertiga pada saat melakukan aksi adalah tidak ada saksi mata atau tetangga sekitar yang melihat pergerakan mereka bertiga, yang tentunya sudah terlihat sangat mencurigakan mencolok seperti pencuri. Namun karena lingkungan dari kompleks perumahan kota termasuk ke dalam lingkungan individual, maka dari itu suasana di sekitarnya sangat sepi seperti tidak ada kehidupan. Walau sebenarnya rumah-rumah di kompleks tersebut sudah dimiliki dan ada yang menempatinya.


.


~


.


Di sore hari yang indah itu, dan di sebuah Kantor Polisi Pusat Metro, Prawira dikejutkan dengan mendengar kabar tentang walikota yang amat mendadak. Dirinya sempat berpikir kalau itu hanyalah isu atau kabar burung belaka. Tetapi ternyata tidak, karena ia mendengar langsung dari mulut Pak Walikota yang mendatanginya ke kantor.


"Apa ?! Anda jangan bercanda, Pak !" pekik Prawira yang bangkit dari tempat duduknya di ruang jenderal.


"Benar, Pak. Jujur ... Saya tidak bisa mengatasi semua yang telah atau bahkan sedang terjadi. Dan ... para calon pemilihan walikota baru juga ... pada ditarik mundur dari pencalonan, dengan alasan keselamatan mereka," ucap Boni saat duduk di sofa tepat di depan meja jenderal yang ditempati oleh Prawira.


Boni Jackson adalah seseorang yang memiliki peran sangat penting bagi pemerintahan dari ketiga wilayah langsung untuk sekarang. Namun saat dia mendatangi Prawira di ruang jenderal, sangat terlihat raut wajah tertekan, kebingungan, ketakutan, dan bimbang yang terukir jelas.


Prawira sangat dibuat bingung dengan apa yang membuat Boni sampai seperti itu, dan dirinya juga bingung dengan masalah apa yang sedang dihadapi oleh Boni.


"Kalau Anda mengundurkan diri sekarang, lalu ... siapa yang memimpin pemerintahan ...?" tanya Prawira dengan kembali duduk serta menenangkan dirinya yang cukup terpancing emosi.


.


"Lagian ... tidak sembarang orang bisa menduduki jabatan mu yang sekarang ini, anda pasti tahu itu, 'kan ?" lanjutnya.


"Iya, saya tahu, Pak. Tetapi masyarakat sendiri yang menginginkan saya untuk turun dari jabatan yang saya duduki sekarang. Bahkan akun pemerintahan sempat hampir terbajak karena bentuk protes dari masyarakat," jawab Boni dengan menopang kepalanya yang tertunduk lesu.


.


"Tidak hanya itu, saya dan termasuk seluruh staf walikota, sudah berkali-kali mendapatkan ancaman. Bahkan salah satu staf kami sempat hampir terbunuh, karena mendapat tembakan timah panas misterius yang asalnya entah dari mana," lanjutnya.

__ADS_1


"Sebelumnya ... saya mau jujur juga. Kepolisian sekarang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, dan sedang mengalami krisis anggota. Kami juga sudah berencana untuk membuka pendaftaran di pekan depan."


.


"Terdapat juga banyak berkas kasus yang tertumpuk dan membuat kewalahan para anggota untuk menuntaskannya. Semua kasus tersebut kebanyakan ulah dari kelompok yang mengatasnamakan Mafioso, yang tentunya sekarang sedang dalam pendalaman oleh salah satuan Intel dari Brimob." Prawira mencoba untuk menjelaskan dan jujur kepada Boni tentang beberapa masalah yang sedang menimpa instansi yang ia pimpin sekarang ini.


"Oh ..., begitu ya ...?" ucap Boni yang lalu menghela napas panjang dan terus tertunduk lesu.


"Tetapi ... anda termasuk dengan keluarga anda aman-aman saja sampai sekarang, 'kan ?" tanya Prawira kembali.


"Saya tidak tahu kedepannya ..., namun ... untuk sekarang dan sementara ... kami masih aman-aman saja ... di bawah perlindungan tim penjagaan walikota," jawab Boni dengan napas yang cukup terengah-engah.


.


"Intinya ... saya datang ke sini ... hanya untuk menyampaikan ini semua, dan juga ... waktu saya sudah tidak lama lagi di pemerintahan. Saya tidak bisa untuk menjadi walikota lagi di periode berikutnya, karena ... saya juga ingin beristirahat dari dunia politik ini !" lanjutnya dengan melirik ke arah Prawira.


"Baik, saya mengerti apa yang anda rasakan dan pikirkan," sahut Prawira dengan bersandar nyaman di kursinya.


.


"Tetapi saya mohon ..., untuk sementara ... anda tetaplah berada di jabatan itu ! Karena ... jika sampai kursi jabatan tertinggi di kota ini kosong, maka ... akan kacau nantinya," lanjut Prawira dengan melihat ke arah Boni.


"Tentu saya juga tahu itu, saya tidak bisa melepas tanggung jawab ini begitu saja, 'kan ?" sahut Boni dengan sedikit mendongak serta lalu menarik napas panjang.


"Tentunya ... saya akan terus usahakan untuk keamanan anda, termasuk dengan staf dan keluarga anda !" ucap Prawira sesaat setelah bangkit kembali dari duduknya, dan menunduk memberikan hormat kepada Boni.


"Hahaha ..., sudahlah ... angkat kepala mu !" titah Boni sesaat setelah tertawa kecil.


Prawira pun mengangkat kembali kepalanya, dan kembali duduk di kursi miliknya. Dirinya sendiri sebenarnya merasa cukup pusing dengan semua masalah yang sedang terjadi atau dihadapi. Namun ia harus tetap berusaha untuk menyelesaikan, serta mengembalikan semuanya kembali normal dan aman untuk semua orang. Karena untuk mengayomi dan melindungi semua orang adalah termasuk salah satu tugas utamanya sebagai seorang anggota polisi.


"Mungkin ... saya ingin ... bisa bertemu dengan ... Garwig Gates ?" celetuk Boni dengan menyampaikan permintaannya kepada Prawira.


Nama yang disebutkan oleh Boni seketika membuat Prawira tertegun sejenak. Karena nama itu sempat memiliki pengaruh yang sangat besar bagi semua orang di segala penjuru kota dan ketiga wilayah. Nama yang disebutkan oleh Boni juga termasuk keluarganya sendiri, dan juga salah satu orang yang sangat berharga yang Prawira miliki.


"Oh, begitu ?" sahut Prawira dengan nada cukup bersemangat dan ekspresi senang.


.


"Saya akan langsung mencoba menghubunginya untuk segera kembali !" lanjutnya.


"Terima kasih, sudah lama sekali saya tidak bertemu dengannya. Dasar ... orang yang misterius," ujar Boni.


"Hahahaha ..., sifat yang misterius itu sepertinya memang sudah bawaannya dari lahir, jadi maklumi saja," sahut Prawira sesaat setelah tertawa terbahak-bahak karena mengingat Garwig di ingatan masa lalunya.


Mendengar kembali nama itu terucap, membuat Prawira cukup lega dan tenang. Dirinya sendiri sangat merindukan kehadiran seseorang bernama Garwig itu, karena tanpa orang tersebut mungkin dirinya bukan siapa-siapa.


Garwig adalah pria yang cukup misterius bagi Prawira, dan selalu membuat Prawira penasaran dengan apa yang diperbuatnya. Garwig juga adalah orang yang pernah membuat pengaruh besar bagi semua orang, bahkan juga termasuk dengan orang-orang yang sekarang berada di sekitar Prawira.


Saking misteriusnya orang yang bernama Garwig itu, membuat Prawira penasaran dengan keberadaannya sekarang. Karena tidak ada tanda-tanda keberadaan Garwig yang seakan menghilang begitu saja sampai sekarang.


Prawira pun sempat dibuat kebingungan untuk mencari Garwig berada, namun dirinya juga memakluminya. Karena sifat serta sikap misterius dan sulit untuk ditebak itu sudah tertanam di diri Garwig sejak pertama kali Gates didirikan.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2