
TAP ... TAP ... TAP ...!
Carlos terus berlari menyusuri lembah dan melewati semak-semak menuju Danau Shandy Shell. Dirinya benar-benar panik ketakutan, lantaran semuanya menjadi kacau dengan cepat.
"Sial! Kenapa begini jadinya?!" gusarnya dengan sendirinya dan berhenti di sebuah pohon tepat di pinggir danau. Napasnya terengah-engah.
Carlos tampak menunggu seseorang untuk datang membantunya. Namun, seseorang itu belum terlihat alias belum datang di sana.
Sreek ...!
Tiba-tiba terdengar suara-suara bergesekan dari balik salah satu semak-semak di hadapannya. Itu cukup membuat Carlos semakin panik. Untungnya sebuah pistol sempat ia ambil sebelum meninggalkan gudang itu. Dirinya menodongkan pistol ke arah sumber suara.
"Siapa di sana?!" teriak Carlos dengan sendirinya.
Begitu sosok itu keluar, ternyata hanyalah seekor tupai yang lalu berlari memanjat pepohonan yang ada.
"Huft ...." Carlos menghela napas berat. Dirinya kembali menurunkan pistolnya, dan berusaha untuk tenang dengan mengelus perlahan dadanya.
"Nicolaus Br*ngs*k! Dia bilang tidak begini rencananya," gusar Carlos kembali kesal dan marah. Dirinya merasa telah dikhianati oleh Nicolaus, lantaran tak sesuai dengan kesepakatan yang mereka buat.
***
Kilas balik: 10 jam yang lalu, tepatnya pukul 07:05 pagi hari.
Bukit Sunyi, Gudang Persenjataan Mafioso.
Sebelum berangkat meninggalkan wilayah Bukit Sunyi, karena kepolisian akan segera mengepung wilayah tersebut. Nicolaus membuat kesepakatan dengan Carlos soal terbaginya Mafioso menjadi dua kelompok, yang terdiri dari kelompok milik Carlos, dan kelompok milik Nicolaus sendiri.
"Dengan ini, kita akan terbagi menjadi dua kelompok," ucap Nicolaus kepada Carlos ketika berada di gudang senjata.
"Lalu, bagaimana jika salah satu diantaranya sedang terdesak?" tanya Carlos.
"Jika kau terdesak, aku akan mengirimkan orang untuk membantu!" sahut Nicolaus.
"Baiklah jika begitu," gumam Carlos menghela napas.
"Ku percayakan mu, Carlos. Semoga beruntung," ucap Nicolaus.
Nicolaus membuat kesepakatan akan membantu kelompok milik Carlos, jika kelompok yang dipimpin oleh Carlos sedang terdesak. Carlos sendiri menerima kesepakatan itu, dan kembali fokus dengan rencana serta tujuannya sendiri.
***
Carlos Gates Matrix, 10 jam kemudian.
Namun Nicolaus tampaknya tidak menghiraukan kesepakatan yang telah dibuatnya, dan sekarang Carlos hanya bisa menunggu seseorang yang sangat ia percaya datang membantunya. Hanya seseorang itulah yang dapat ia andalkan di saat seperti ini.
Di tengah menunggu seseorang itu. Tiba-tiba kembali terdengar pergerakan dari balik pepohonan di hadapannya. Carlos langsung menodongkan pistolnya dan berteriak,"siapa?! Keluar sekarang!" teriaknya dengan sangat yakin kalau kali ini bukanlah seekor hewan.
"Ini aku, Carlos," sahut suara seorang pria dari balik pohon, suara yang tidak asing di telinga Carlos.
"Berlin?!" seru Carlos, dan lalu menembak secara membabi buta ke arah satu pohon yang digunakan oleh Berlin bersembunyi.
DOR ... DOR ... DOR ...!
"Tunggu! Sebenarnya aku tidak ingin membunuhmu, Carlos!" teriak Berlin terus berlindung di balik pohon tersebut dari tembakan-tembakan yang terus dilancarkan oleh Carlos.
Carlos langsung menghentikan tembakannya karena kehabisan peluru. Dirinya sempat tertegun sejenak dengan apa yang dikatakan oleh Berlin. Tetapi hatinya mengatakan kalau itu hanyalah omong kosong belaka yang dimiliki oleh Berlin, dan ujung-ujungnya Berlin akan membunuhnya secara diam-diam.
"Omong kosong!" teriak Carlos menghentikan tembakannya.
.
"Omong kosong jika kau datang tidak untuk membunuhku di sini!" lanjutnya berteriak.
"Carlos," ucap Berlin keluar dari balik pohon seraya mengangkat kedua tangan kosongnya dan berjalan menghampiri Carlos. "Aku ingin berbicara denganmu," lanjutnya ketika melangkah perlahan mendekati saudaranya itu.
Ekspresi Berlin tampak sangat tenang dan dingin, dan itu cukup membuat Carlos ketakutan sampai-sampai harus tersandung akar pohon di belakangnya dan jatuh. Hampir saja sedikit lagi dirinya bisa jatuh ke danau.
"Aku tak akan terperdaya dengan omong kosongmu itu!" teriak Carlos bangkit dan lalu menyerang Berlin dengan memukulnya. Namun serangan itu dapat Berlin tangkis dengan tenangnya dan hanya satu tangan.
"Cih!" gusar Carlos terlihat sangat kesal dengan ekspresi tenang yang ditunjukkan oleh Berlin.
SET!
Tanpa basa-basi, Carlos dengan tiba-tiba langsung menyerang Berlin dengan beberapa pukulan dan tendangannya. Namun Berlin dapat menangkis semua serangan yang diberikan oleh saudaranya itu. Tetapi, Carlos tampak begitu terbawa dengan amarahnya dan tidak henti-hentinya terus menyerang Berlin dengan tangan kosong.
"Baiklah, jika itu maumu," cetus Berlin membuang senjata apinya ke balik semak-semak di belakangnya, dan menerima tantangan untuk berhadapan dengan Carlos hanya dengan tangan kosong.
Carlos tampak sangat tertantang ketika Berlin sepertinya mengetahui apa yang ia inginkan. Dirinya lebih dibuat sangat kesal ketika Berlin menerima tantangannya dengan sikap yang sangat tenang.
"Kalau begitu, mari kita lakukan seperti apa yang dilakukan di akademi waktu itu!" cetus Carlos yang lalu langsung maju ke hadapan Berlin dan sangat siap untuk menyerangnya dengan pukulannya.
DEG.
__ADS_1
Kata-kata yang diucapkan oleh Carlos barusan, sempat membuat Berlin tertegun. Lantaran secara tiba-tiba dirinya mendapatkan ingatan tentang masa lalunya bersama Carlos.
"Kau lengah!" Pukulan yang diberikan Carlos sangatlah keras, dan mengenai perut milik Berlin.
"Ukh!" Berlin merasa cukup kesakitan menerima pukulan tersebut, dan langsung mundur cukup jauh untuk memberikan jarak dengan Carlos.
Berlin tersenyum kecil dan menundukkan kepalanya. Dirinya merasa senang karena dapat mengingat kembali beberapa ingatan yang mungkin penting untuknya di saat-saat seperti ini.
"Pukulan mu lumayan juga," gumam Berlin dengan sikap yang sangat dingin dan wajah yang mulai serius menghadapi Carlos.
"Cih!" Carlos terlihat begitu waspada seraya mengepalkan kedua tangannya ketika melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Berlin. Eskpresi kejam dan haus darah sangat terlihat di wajah milik Berlin.
"Jika kau tidak mulai menyerang. Maka aku akan mendahului mu, Berlin!" teriak Carlos berlari dengan sangat cepat ke arah Berlin dan siap untuk kembali menyerangnya. Gerakannya sangat cepat, dan cukup membuat Berlin sedikit terkejut dengan semangat yang ditunjukkan oleh Carlos ketika melawannya.
"Walau ini berbeda dengan yang dahulu. Tetapi, layak untuk dicoba kembali!" cetus Berlin yang lalu menangkis serta menghindari beberapa pukulan dan tendangan yang dilancarkan oleh Carlos dengan sangat keras dan cepat.
"Kenapa?! Kenapa kau hanya bertahan?! Kau seharusnya melawanku, Berlin!" bentak Carlos tampak tidak puas, seraya terus menyerang Berlin dengan tangan kosong.
Mereka berdua pun saling beradu kemampuan bela diri, terutama dengan Carlos yang tampak sangat berambisi untuk mengalahkan Berlin. Namun tidak dengan Berlin yang tampak lebih banyak bertahan dari semua serangan yang diberikan oleh saudaranya itu daripada menyerang.
Di tengah-tengah pertarungan. Berlin merasa dirinya pernah melakukan duel ini dengan Carlos di masa lalunya. Dirinya terus membiarkan ingatannya itu berjalan-jalan, namun pikirannya juga fokus untuk bertahan dari semua serangan yang diberikan oleh Carlos kepadanya.
***
Berlin Gates Axel, 12 tahun yang lalu.
Kediaman Gates.
"Hei, Berlin! Aku menantang mu!" cetus seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun kepada Berlin yang tengah berjalan keluar dari sebuah ruangan latihan.
"Carlos ...?" tanya Berlin menghentikan langkahnya dan menoleh kepada Carlos yang berdiri di belakangnya.
.
"Menantang ku untuk apa?" tanya Berlin dengan lugunya. Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun itu tampak bingung dengan perkataan yang diutarakan oleh Carlos.
"Jangan sombong kau!" teriak Carlos yang lalu memberikan sebuah tongkat kayu dengan panjang layaknya sebuah pedang kepada Berlin dengan cara dilempar.
Tongkat kayu tersebut jatuh tepat di depan kaki Berlin. Dirinya sejenak menatap bingung pada tongkat kayu itu.
Di tengah perbicangan kedua anak laki-laki itu. Tiba-tiba seorang pria berjalan menghampiri mereka berdua. Pria tersebut adalah Prawira, orang yang sangat kenal dan dekat dengan Berlin.
"Hei, ada apa ini?" tanya Prawira berjalan menghampiri keduanya.
"Oh, jadi kau menantangnya untuk berduel?" tanya Prawira meyakinkan Carlos.
"Ya!" sahut Carlos dengan sangat yakin.
"Berlin? Apakah kau menerimanya? Atau kau menolaknya?" tanya Prawira kepada Berlin.
"Baiklah, aku menerimanya!" sahut Berlin mengambil tongkat tersebut dan lalu tersenyum kepada Carlos yang berdiri di hadapannya.
Karena mereka berdua setuju dan saling menerima tantangan. Prawira pun menjadi wasit di antara mereka berdua, sampai salah satu dari mereka berdua jatuh, tersudut, atau menyerah.
Ruangan itu seketika menjadi sebuah arena kecil untuk pertarungan antara Berlin dan Carlos. Keduanya tampak sangat serius untuk melawan, dan mereka berdua tampak tak ingin memberikan celah satu sama lain.
***
Berlin Gates Axel, 12 tahun kemudian.
"Nah, sepertinya kau mengingat kembali waktu itu!" cetus Carlos seraya terus memberikan tekanan kepada Berlin dengan serangan-serangan fisiknya.
"Ya, terima kasih," sahut Berlin tersenyum tipis dan lalu mulai memberikan serangan balik.
BUK!
Pukulan yang sangat keras dilancarkan oleh Berlin kepada Carlos. Namun Carlos menangkis pukulan itu dengan kedua tangannya. Tetapi, tubuhnya dibuat sedikit terpental akibat pukulan yang diberikan oleh Berlin.
"Kau mulai serius, ya?" ucap Carlos menyeringai.
"Walau ini berbeda dengan waktu itu. Tetapi, aku tidak akan kalah di sini!" seru Berlin yang lalu menyerang terlebih dahulu.
Gerakan Berlin sangatlah cepat dan sulit untuk diprediksi arahnya oleh Carlos. Itu membuat Carlos tampak panik dan sedikit mundur. Namun dirinya harus tersudut karena tidak ada ruang gerak lagi selain maju.
"Hei, kenapa?" tanya Berlin menatap tajam lalu langsung memukul perut milik Carlos dengan sangat keras.
CRAT.
Sedikit darah dimuntahkan oleh Carlos akibat pukulan yang diberikan oleh Berlin. Ia pun terjatuh ke tanah hanya dengan satu kali pukulan.
"Hanya segini?" tanya Berlin menatap tajam dan dingin kepada Carlos. Eskpresi wajah yang kejam dapat disaksikan oleh Carlos sendiri, dan itu cukup untuk membuatnya takut.
BUK!
__ADS_1
Secara tiba-tiba, Berlin menendang Carlos yang sudah tersungkur di tanah dengan sangat keras, dan membuat saudaranya itu terpental serta terbentur batang pohon di belakangnya. Berlin tampak begitu kejam di sini, dan tanpa adanya rasa belas kasih sama sekali ketika menendang saudaranya sendiri.
"Carlos, aku ingin bertanya pada mu!" cetus Berlin kembali mengambil pistolnya, dan berjalan ke arah Carlos yang tersandarkan di bawah pohon dengan kondisi tak berdaya. Tatapan mata yang sangat tajam, persis ketika Berlin akan menyiksa pelaku yang ada di kantor polisi Shandy Shell sebelumnya.
Carlos tampak ketakutan dengan Berlin yang seperti itu. Dirinya mengambil sebuah ranting yang tajam dari pohon di dekatnya, dan lalu langsung menusuk Berlin.
SET!
"Matilah!" teriak Carlos yang lalu menusuk Berlin dengan ranting tajam tersebut tanpa adanya keraguan.
Berlin dengan sigap menangkisnya dengan satu tangan, dan mematahkan ranting tersebut di depan mata Carlos. "Pilihan ranting yang bagus, cukup untuk membunuh seseorang dengan cara menusuknya," ucap Berlin sesaat setelah mematahkan ranting tersebut, dan menatap tajam Carlos.
"Apa maksudmu ... melakukan semua serangan ini? Dan, apa maksudmu ... menjadikan Nadia sebagai tawanan?" pertanyaan itu tercetus oleh Berlin dengan tangan memegang senjata api.
Carlos terdiam sejenak. Ia seperti sudah mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya kepada dirinya. Di matanya, Berlin yang sekarang bukanlah Berlin yang dahulu ia kenal sebagai rivalnya semasa kecilnya.
"Aku hanya diperintah oleh seseorang bernama Nicolaus! Dia yang memerintah ku!" sahut Carlos dengan tatapan ketakutan dan pasrah.
"Nicolaus? Hmm, nama yang asing bagiku," gumam Berlin.
.
"Sepertinya dia orang yang merepotkan," lanjutnya bergumam dengan sendirinya soal nama yang disebut oleh Carlos.
"Baiklah, lalu jawab pertanyaan ku yang kedua!" ucap Berlin seraya menodongkan pistol miliknya ke arah Carlos yang terduduk di tanah.
Carlos diam sejenak. Dirinya tahu kalau ia menjawab, Berlin pasti akan membunuhnya di tempat. Begitu pula jika dirinya memilih untuk tidak menjawab. Carlos merasa sudah tidak memiliki harapan lagi untuk bisa selamat ketika berhadapan dengan Berlin. Bahkan dirinya pun kaget dan cukup ketakutan ketika Berlin menjadi negosiator untuk menyelamatkan Nadia.
"Kau tidak mau menjawab?" tanya Berlin dengan tenang dan dingin. Pistolnya terus tertodong ke arah Carlos, dan siap untuk menembak kapanpun dia mau.
"Aku menjadikan Nadia sebagai tawanan, karena ... aku ... pernah mencintainya, Berlin. Maaf!" jawab Carlos yang lalu menundukkan kepalanya tepat di kaki milik Berlin.
Berlin tidak terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh Carlos, karena dirinya sudah tahu dari Nadia sendiri yang menceritakannya.
"Kau sudah mendengar jawaban ku, 'kan?! Sekarang bunuh aku!" cetus Carlos menatap Berlin dengan tatapan pasrah.
"Jujur saja, aku menyimpan rasa takut untuk melaksanakan semua rencana itu. Karena aku akan berhadapan denganmu, dan tahu akan berakhir di tanganmu, Berlin!"
Berlin hanya diam mendengarkan sebuah celotehan-celotehan dari Carlos. Dirinya tidak begitu peduli soal rencana yang dilakukan oleh saudaranya itu.
"Kau boleh membunuhku sekarang! Dan tolong, jangan siksa aku terlebih dahulu!" Carlos terlihat sangat pasrah dan seakan tahu apa yang terjadi padanya. Dirinya sudah mengetahui dan memprediksi semua ini, bahkan jauh sebelum membuat rencana penyerangan dan penyanderaan itu.
DOR!
Satu tembakan dilancarkan oleh Berlin tanpa basa-basi. Namun tembakan itu meleset mengenai kayu yang berada tepat di samping kepala milik Carlos. Carlos sangat terkejut dengan tembakan barusan, dan dirinya merasa kalau nyawanya sudah setengah melayang.
"Jadi, kau ingin aku membunuhmu seperti itu?" tanya Berlin dengan tenangnya setelah menembak.
Carlos masih terdiam karena tembakan yang dilakukan oleh Berlin kepadanya. Dirinya tidak habis pikir, lantaran Berlin melakukannya tanpa adanya keraguan sama sekali.
"Jika aku tidak membunuhmu di sini. Apa yang akan kau lakukan?" tanya Berlin kembali seraya sedikit menggerakkan pistolnya yang masih menodong Carlos.
"Apa alasanmu untuk tidak membunuhku?!" sahut Carlos. Dirinya benar-benar bingung dengan sikap Berlin.
"Karena kau saudaraku," jawab Berlin dan lalu tersenyum tipis.
Kata-kata itu cukup untuk membuat Carlos terdiam dan tertegun kagum. Dirinya benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh Berlin saudaranya itu.
"Maka dari itu aku memberimu pilihan," lanjut Berlin.
"Namun, semua berbeda jika tadi kau membunuh Nadia saat di sana. Karena sudah ku pastikan kau mati secara mengenaskan di sini!" cetus Berlin serius.
.
"Yah, walaupun ... aku masih marah karena kau sudah membuat Nadia terluka seperti itu," lanjutnya lalu menghela napas berat seraya menurunkan pistolnya yang terus menodong Carlos.
Carlos masih terdiam dengan apa yang terjadi saat ini. Ia benar-benar tidak menyangka Berlin berbicara semua itu. Dirinya seketika merasa melihat Berlin yang dahulu di masa kecilnya sempat ia lihat dan kenal.
~
Di tengah Berlin berbicara kepada Carlos. Secara tiba-tiba terdengar satu kali suara tembakan tepat di belakangnya. Sebuah timah panas menggores lengan kiri milik Berlin, dan membuat darah keluar menetes dari lukanya.
"Sial! Siapa kau?!" teriak Berlin menoleh ke belakang seraya menahan lukanya dengan satu tangan.
Seorang pria dengan seragam aparat kepolisian kini berdiri tepat di hadapan Berlin. Berlin sendiri tidak begitu mengenal pria tersebut.
"Hahaha!" tiba-tiba saja pria itu tertawa terbahak-bahak setelah melakukan satu tembakannya dan mengenai Berlin. "Sudah lama tidak bertemu, Berlin. Mungkin kau lupa siapa aku," ucap pria tersebut.
Berlin tampak tidak begitu mengenali pria tersebut. Namun sepertinya tidak bagi Carlos yang terlihat mengenalinya. Carlos tampak sangat terkejut dengan apa yang terjadi, karena dirinya tidak menyangka pria itu akan menembak Berlin.
.
Bersambung.
__ADS_1