
"Apa ?! Kenapa bisa kalian membawa polisi masuk ke wilayah kita ?!" Seorang pria tiba-tiba terlihat sangat marah kepada semua anak buahnya yang berjumlah sangat banyak itu.
"Uh ...."
"Ti-tidak seperti itu, Bos."
"Helikopter itu tiba-tiba saja masuk ke wilayah kita."
Lebih dari sepuluh personil terlihat berlutut dan tunduk kepada orang yang mereka sebut Bos, serta mencoba untuk memberikan alasan mereka kepadanya.
"Apakah perlu saya habisi kru helikopter itu ?" cetus seorang pria lain namun lebih muda, dan terlihat sangat santai saat mengatakannya.
.
"Jangan, kau terlalu berharga untuk hal seperti ini, Carlos," jawab pria tersebut.
"Izinkan kami yang akan mengurus polisi-polisi itu, Bos," sela seseorang yang ternyata adalah Bagas, saat berjalan menghampirinya bersama dengan rekannya yaitu Kibo.
"Apa kalian yakin ?" jawab Sang Bos.
"Tenang saja, ini juga termasuk keinginan saya sendiri," jawab langsung Bagas dengan berlutut dan tunduk di hadapan bosnya.
"Ya sudah, silakan pilih dan bawa anak buah untuk membantumu, kalian akan kesusahan jika melawan anggota bersenjata itu hanya berdua."
Bagas bersama dengan rekannya yaitu Kibo pun langsung membentuk sebuah tim yang berisikan cukup banyak orang, untuk menghabisi kru helikopter yang jatuh di wilayah mereka.
Dengan persenjataan lengkap serta juga dengan kendaraan yang dapat digunakan di segala medan. Mereka langsung berpencar memenuhi semua posisi tertinggi di perbukitan wilayah mereka, untuk melaksanakan misi atau tugas mereka.
"Perbukitan di wilayah ini adalah milik kita, jadi kuasai semua posisi tertinggi dan temukan polisi-polisi itu !" saat perjalanan melewati jalanan terjal perbukitan, Bagas mulai memberikan arahannya kepada semua anak buah yang ikut dalam misinya.
.
"Ciri-ciri kru helikopter polisi itu menggunakan seragam berwarna biru," lanjutnya.
Sementara Bagas dan Kibo fokus kepada tugas mereka. Carlos pun juga ikut mendapatkan tugas langsung dari Sang Bos untuk melakukan pengamanan gudang dan markas mereka.
"Perketat penjagaan di semua gerbang dan akses pintu masuk ! Jika melihat anggota atau aparat berseragam, laporkan di radio dan langsung habisi di tempat !" titah Carlos kepada seluruh anak buahnya melalui radio yang ia bawa.
.
"Kalau sampai kebobolan, saya tidak segan-segan memberikan pelajaran tentang kematian kepada kalian semua !" lanjutnya dengan nada yang terdengar santai dan sangat dingin.
.
~
.
"Ayo, kita harus segera menuju ke koordinat 2056 !" cetus sang pilot helikopter kepada dua rekannya untuk melakukan pelarian dari kejaran orang-orang itu.
Mereka bertiga terlihat cukup kelelahan setelah berlari menjauh dari lokasi jatuhnya helikopter tersebut. Karena cukup kelelahan dan juga sudah cukup jauh di balik pepohonan rindang dan jalanan yang terjal. Mereka pun berhenti sejenak untuk beristirahat, serta juga menenangkan diri dari kepanikan dan ketakutan.
"Calvin, kita harus bagaimana ?!" tanya sang co-pilot kepada pilot mereka.
.
"Aku nggak mau mati di sini ...!" lanjutnya dengan terlihat sangat ketakutan hingga gemetaran.
Calvin adalah seorang anggota muda yang menjadi pilot pada tim helikopter yang baru saja mengalami kecelakaan di wilayah Bukit Sunyi. Ia terlihat cukup panik dan ketakutan saat itu, namun dirinya mencoba untuk tenang agar kedua rekannya juga ikut tenang.
"Dhito, kita akan terus bersama, bukan ?" cetus navigator mereka kepada Dhito yang berperan sebagai co-pilot dari helikopter tersebut.
Dhito terlihat begitu panik dan ketakutan, sampai-sampai hampir berlebihan saat berlari melewati pepohonan dan jalan yang terjal.
"Tenangkan dirimu," lanjut sang navigator tersebut dengan menepuk perlahan salah satu pundak milik Dhito yang berdiri di sampingnya.
"Bian, SMG yang kau bawa itu ... masih memiliki peluru lengkap, 'kan ?" tanya Calvin kepada navigatornya.
Bian selain memiliki peran sebagai navigator helikopter untuk membantu serta meringankan tugas dari co-pilot. Ia juga berperan penting sebagai keamanan dari kedua rekannya itu, karena hanya dia yang dipersenjatai lengkap dibandingkan kedua rekannya itu yang hanya membawa pistol.
"Tenang saja, aku membawa cukup peluru sampai kita selesai melakukan pelarian ini," jawab Bian sembari memastikan kembali beberapa peluru yang ia simpan di saku pada rompi yang ia kenakan.
.
"Sebisa mungkin ... aku akan mengamankan kalian dari orang-orang itu, sampai kita berada di titik temu," lanjutnya sambil melirik serta meyakinkan dan menenangkan kedua rekannya termasuk Dhito yang terlihat sangat ketakutan.
"Sudahlah, hari mulai larut, lebih baik kita segera bergerak kembali !" ucap Calvin dengan mempersiapkan pistol yang ia kantongi.
"Dhito, kau ingat apa saja yang kita pelajari selama pelatihan akademi ?" cetus Bian kepada Dhito saat merapikan rompi dan mempersiapkan senjatanya.
Dhito yang sebelumnya hanya duduk tertunduk lesu dengan dipenuhi ketakutan dalam dirinya. Namun setelah mendengar ucapan tersebut, ia tiba-tiba langsung teringat kembali saat selama dirinya masih dalam masa pelatihan akademi, sebelum memasuki tim khusus helikopter sampai sekarang.
"Ya ... pelajaran yang diberikan Prawira itu, aku mengingatnya ...," jawab Dhito yang lalu bangkit dan berdiri kembali dengan melawan rasa takutnya.
"Hahaha ... aku mengingatnya saat kau kesulitan mengisi ulang pistolmu," celetuk Calvin dengan tertawa kecil saat kembali mengingat masa-masa di mana mereka masih berada di akademi.
"Aku juga mengingatnya, saat kau pertama kali mengendarai helikopter. Kau terlihat sangat panik pada saat itu, hahaha ...," sahut Dhito.
Mereka terlihat sedikit bercanda tawa saat mengingat kembali masa-masa di mana mereka masih menjalani pelatihan akademi divisi penerbang untuk kepolisian. Banyak sekali yang sudah mereka lewati pada saat pelatihan, dan semuanya memiliki kenangannya tersendiri.
"Hehehe ...." Bian juga ikut tertawa kecil karena kembali mengingat masa-masa pelatihan itu.
.
__ADS_1
"Jika kita bisa melewati masa-masa sulit itu waktu pelatihan. Berarti ... kita juga pasti bisa ... melewati ini semua ... bersama !" lanjutnya yang lalu sedikit tersenyum saat memandang pada kedua rekannya itu.
...
Karena waktu terus berjalan dan hari pun juga mulai menjelang malam. Calvin yang memiliki pangkat tertinggi dalam tim tersebut pun langsung memberikan rencana dan arahannya kepada kedua rekannya.
"Baik, kita fokus ke tujuan kita, yaitu titik temu di koordinat 2056. Bian, kau masih membawa peta digital pada tabletmu, 'kan ?" ujar Calvin yang berkumpul rapat dengan kedua rekannya.
"Masih, dan kita berada di posisi ini," jawab Bian dengan menunjukkan serta menunjuk posisi keberadaan mereka bertiga di salah satu tempat pada peta digital tersebut.
Dalam posisi pada peta digital tersebut, mereka bertiga berada di tengah-tengah hutan dan cukup jauh dari jalanan yang ditampilkan pada peta. Serta juga cukup jauh dari titik temu yang ditentukan oleh Prawira.
"Oke, berarti kita harus bergerak senyap terus ke arah Selatan ... serta usahakan jangan membuat kebisingan," ujar Calvin yang mengkoordinasikan kedua rekannya sembari menunjuk-nunjuk pada peta digital tersebut.
"Kita juga bisa manfaatkan rindangnya pepohonan untuk bersembunyi, jika sangat terpojok," sambung Dhito.
"Karena kita tidak begitu mengetahui apapun tentang Bukit Sunyi ini. Maka dari itu ... usahakan jangan sampai berpisah, dan tetap bersama !" titah Calvin yang lalu melihat keadaan sekitanya yang hanya dipenuhi pepohonan dan semak belukar yang sangat padat.
"Baiklah, apapun yang terjadi ... kita tetap bersama !" lanjut Bian yang lalu mengulurkan satu tangannya di tengah antara kedua rekannya.
"Bersama !"
"Ya ! Kita akan melewati ini semua !"
Mereka pun menumpukkan satu tangan mereka pada tangan milik Bian, dan melakukan tos sebelum memulai untuk bergerak.
.
~
.
Brum ... Brum ... Brum ...!
"Tahan !" titah Prime kepada kedua rekannya yang menggunakan motor, saat dirinya menghentikan mobil yang ia kendarainya.
"Bukit Sunyi ...," gumam Prawira saat memandangi area sekitarnya.
"Dua unit motor, silakan langsung berpencar ke dua arah berbeda, dan ... lakukan pemantauan senyap ke area sekitar !" Prime memberikan arahannya kepada dua anggota Brimob yang mengendarai motor, untuk melakukan pengintaian serta pemantauan.
"Jarak kita ke titik temu hanya 500 meter saja," ucap Prawira saat melihat peta digital yang ditampilkan pada layar monitor yang terletak di dashboard mobil.
.
"Namun ... kita tidak tahu ... posisi mereka di dalam hutan dan di balik perbukitan ini ...," sambung Prime sembari melirik ke arah bukit-bukit di sekitarnya.
"Semoga ... mereka bertiga ... berhasil mencapai titik temu," ucap Prawira yang lalu mempersiapkan persenjataan yang ia bawa dan simpan di jok belakang mobil.
.
Suasana perbukitan itu terasa sangat sepi dengan udara yang cukup dingin, serta hanya terdengar suara angin yang berdesis melewati sela-sela pepohonan dan semak belukar.
Seperti dengan nama atau julukan yang diberikan pada wilayah itu, yaitu Bukit Sunyi. Tidak ada suara kicauan burung atau hewan, bahkan suara serangga pun tidak terdengar di area perbukitan itu, yang membuat suasana menjadi sangat sunyi dan hening seketika saat memasuki wilayahnya.
"BM 03 izin melaporkan, Pak. Saya bersama dengan BM 02 di perbukitan sebelah Timur, sangat sulit untuk mendapatkan pantauan ke depan."
"Begitu pula dengan kami, Pak. BM 04 dan BM 05 juga sulit untuk mendapatkan pantauan ke depannya."
Laporan tersebut masuk kepada Prime dan Prawira melalui radio yang mereka bawa.
Kedua anggotanya yang menyebar ke arah puncak dari perbukitan dengan menggunakan dua motor mereka untuk mendapatkan pantauan lebih luas. Justru malah sebaliknya, karena sejauh mata memandang dari atas bukit tersebut hanyalah hutan yang rindang.
"Apakah kalian masih memungkinkan untuk mencari posisi lagi ? Jika masih, saya ingin tahu keadaan lokasi titik temu di depan !" tanya Prime saat menghentikan laju mobilnya.
.
"Kalau masih, Dira dan Milner saja yang berangkat ! Sedangkan kalian berdua ... George dan Valle, silakan merapat kembali ke posisi saya !" lanjutnya yang langsung memberikan arahan kepada anggotanya tersebut.
"Dimengerti, kami akan melakukan pengamatan ke lokasi titik temu," jawab Dira atau lebih dikenal dengan kode yang diberikan kepadanya, yaitu BM 02.
...
Prime pun kembali bergerak dengan mengendarai mobilnya untuk menuju ke lokasi titik temu, yang jaraknya tidak jauh lagi dari posisinya berada.
Dengan diikuti oleh kedua anggotanya yang mengendarai motor di belakangnya. Prime perlahan melewati jalan tanah setapak di tengah hutan itu, dan sedangkan Prawira terlihat terus waspada kepada semua pepohonan yang berada di kanan dan kiri mereka.
"Suara ombak ?" cetus Prawira saat tiba-tiba mendengar suara ombak yang cukup kencang dari arah Timur Laut.
"Ya, jika dilihat dari peta ... tempat ini berada di paling pinggir peta, serta ... sangat dekat dengan pantai di sebelah Timur," jawab Prime.
Di tengah mereka perlahan melewati jalanan tanah setapak itu. Mereka pun akhirnya mendapatkan laporan lanjut dari Dira dan Milner yang berjalan jauh terlebih dahulu di depan mereka.
"Lokasi pada koordinat 2056 terpantau aman, Pak. Dan ... tempat ini sangat terbuka seperti lapangan," ucap Dira pada radio.
.
"Ada satu pos di pinggir lapangan itu. Apakah boleh kami cek ?" sambung Milner.
"Silakan, tetap berhati-hati !" jawab Prime.
~
Dira yang membonceng Milner pun segera bergerak perlahan mendekati pos tersebut, yang terletak di pinggir lapangan terbuka itu. Dengan pakaian taktis lengkap mereka, serta persenjataan yang mereka bawa. Mereka berdua langsung menodongkan senjata mereka saat memasuki ke dalam pos kecil itu.
__ADS_1
"Aman !" ucap Milner.
"Saya akan jaga belakang pos !" ujar Dira yang lalu berjalan sedikit mengelilingi pos tersebut.
"Pos diamankan, Ndan !" cetus Milner kepada Prime dan Prawira melalui radio.
"Baiklah, langsung saja ... kita akan bersiap dan berjaga di pos itu !" titah Prawira dengan tegas di radio.
.
~
.
"Prawira sudah ada di lokasi titik temu !" cetus Dhito yang lalu terlihat sangat bersemangat setelah menyimak pembicaraan di radionya.
"Berapa jauh lagi ?" tanya Calvin kepada Bian sembari terus sedikit berlari melewati pepohonan dan melompati akar-akar yang menjulang.
"Sudah satu kilometer di depan ! Akan ada tanah lapang di sana," jawab Bian terus mengikuti kedua temannya itu dari belakang.
Tanpa berpikir panjang kemudian, mereka bertiga terus berlari melewati pepohonan dan jalan tanah bebatuan yang cukup terjal, serta berkali-kali harus melompati beberapa akar pohon yang menjulang keluar tanah.
Set ... Set ... Set ...!
"Ulurkan tanganmu !" titah Calvin yang lalu meraih serta menarik kedua temannya agar bisa melewati jalanan menanjak yang terjal dan dipenuhi akar serta bebatuan.
Melihat kedua rekannya begitu kelelahan setelah berlari cukup jauh dan melewati jalan yang terjal. Calvin memutuskan untuk berjalan santai sejenak sambil kembali mengumpulkan tenaga untuk berlari kembali.
"Bentar, bentar ...! Tunggu ...!" cetus Dhito.
Di tengah perjalanan, Dhito menghentikan langkahnya sejenak untuk meminum sebotol air mineral yang dibawanya di saku celana. Kedua rekannya yang berjalan di depannya pun ikut menghentikan langkah mereka, dan lalu meminum sebotol air mineral yang mereka bawa masing-masing.
Glug ... Glug ... Glug ...!
***
"Ku temukan mereka, tepat berada di dalam pengelihatan ku !"
"Langsung saja, habisi di tempat !
.
"Jangan biarkan polisi-polisi itu lolos !"
***
Tegukan demi tegukan dapat dirasakan mengalir dan membasahi sejuk tenggorokan mereka saat meminumnya.
"Lebih baik kita sambil terus lanjut !" titah Bian yang lalu menarik Dhito yang kelelahan itu untuk terus berjalan keluar dari hutan itu.
Setelah menyimpan botol minuman yang dibawanya, Calvin pun mengikuti mereka berdua yang sudah lebih dahulu berjalan di depannya.
JLEB ...!
Baru saja melangkahkan kakinya beberapa langkah ke depan untuk melanjutkan pelarian mereka. Satu peluru tiba-tiba melesat dari arah belakang dan menjadikan Calvin sebagai sasarannya. Tembakan itu mengenai tepat di bahu kirinya dan membuat sebuah luka yang cukup parah, diikuti mengalirnya darah yang keluar dari luka tersebut.
"Calvin !"
Sontak Dhito langsung berlari ke arah Calvin yang langsung terjatuh tersungkur ke tanah dengan satu tangan menutupi luka tembak tersebut.
Saat Dhito berlari menghampiri dan untuk membantu rekannya yang tertembak itu. Tiba-tiba suara tembakan terdengar sangat banyak dari arah balik pepohonan yang jauh di arah Utara, dan semua tembakan itu terarah kepada dirinya.
"Dhito, seret Calvin ke balik pepohonan !" teriak Bian yang lalu ikut berlindung di balik batang pohon yang tak jauh darinya.
Namun Dhito sudah terlebih dahulu berlindung di balik dari sebuah batang pohon yang tak jauh dari dirinya berada, dan harus membiarkan Calvin tersungkur sejenak di tengah jalan setapak yang terbuka.
Bian langsung mengangkat senjata api miliknya serta melepas pengaman pada pelatuknya, dan terlihat sudah sangat siap untuk membidik.
Di saat Dhito berlindung di balik pohon. Ia terus melihati Calvin yang masih tersungkur bersimbah darah, dan tanpa adanya tembakan lanjutan mengarah ke rekannya itu. Saat itu juga Dhito langsung berpikir, kalau musuh memang sengaja menjadikan Calvin sebagai umpan untuk dirinya.
"Bian, ada penembak jitu dari arah perbukitan belakang ! Aku jadi sulit untuk memindahkan Calvin !" teriak Dhito saat berlindung di balik batang pohon yang sangat besar, dan dengan keadaan terus dihujani peluru tanpa henti.
"Aku lihat banyak percikan api dari senjata mereka ! Namun aku tidak melihat posisi dari penembak jitunya !" sahut Bian sambil beberapa kali membuat tembakan balasan ke satu-persatu dari mereka yang mulai mendekat.
"Baiklah, aku akan memancing penembak jitu itu !" cetus Dhito yang lalu kembali berlari ke arah Calvin yang masih diam tersungkur.
Ide yang dimiliki Dhito sangatlah gila menurut Bian. Karena Dhito memutuskannya tanpa berpikir panjang, Bian harus langsung siap untuk memberikan perlindungan kepada rekannya itu.
"Tunggu !" teriak Bian yang lalu mulai menembak.
DOR ...!
Satu peluru kembali melesat dan melewati tepat di sebelah telinga kanan milik Dhito, saat dirinya berusaha menyeret Calvin menuju balik pepohonan. Beruntung peluru itu meleset dan tidak melukai dirinya.
"Aku lihat, aku lihat !" teriak Bian yang lalu membidik ke suatu sasaran di balik pepohonan yang cukup jauh di atas perbukitan.
Dhito pun segera memindahkan tubuh rekannya yang tergeletak tanpa perlindungan itu menuju ke balik pohon bersama dirinya.
"Gimana ?!" teriak Dhito yang berhasil menyeret Calvin menuju ke balik dari sebuah batang pohon yang sebelumnya ia gunakan.
"Aku berhasil membidiknya. Tetapi aku tidak yakin itu mengenainya," jawab Bian yang terus melakukan perlawanan terhadap orang-orang berpakaian hitam yang mengejarnya.
"Aku akan melaporkannya ke radio !" teriak Dhito yang terlihat cukup panik saat melihat banyak darah yang keluar dari luka tembak pada rekannya itu.
__ADS_1
.
Bersambung.