Mafioso In Action

Mafioso In Action
Manusia, Bom Waktu? #71


__ADS_3

Pukul 21:00 malam.


Perbukitan Barat Laut Gedung Balaikota.


"Kalian diizinkan untuk melumpuhkan semua pelaku, tidak ada pengecualian!" teriak Prime kepada seluruh anggotanya.


Personel gabungan dari kepolisian dan pihak militer terlibat baku tembak dengan kelompok kejahatan Mafioso di sisi perbukitan Barat Laut dari Gedung Balaikota. Jumlah dari komplotan Mafioso di lokasi sangatlah banyak, bahkan bisa dibilang dapat menandingi dan sebanding dengan jumlah total personil gabungan yang terdiri lebih dari 30 orang.


"Bagaimana? Apa kau memiliki rencana?!" tanya Prime terengah-engah karena berlari menghampiri Garwig di balik dari sebuah batu dan pos penjagaan.


Suara tembakan dan desing peluru masih saja terdengar bersahutan dan tidak ada henti-hentinya. Para personel gabungan tampak lebih fokus untuk bertahan dibandingkan menyerang, karena mereka cukup kesusahan menghadapi banyaknya jumlah musuh.


BOOOMM ...!!


Ledakan tiba-tiba saja terjadi tak jauh dari pos yang digunakan Garwig dan Prime untuk berlindung. Sebuah pohon yang besar tiba-tiba saja hancur dan hangus terbakar, serta tiga orang anggota khusus milik Prime terluka berat akibat ledakan itu.


Ledakan yang terjadi ternyata berasal dari pihak Mafioso yang di mana salah seorang pria menggunakan senjata peluncur roket.


"Prioritas evakuasi dan keselamatan kalian! Jika tidak bisa melakukan evakuasi, maka jangan dipaksakan!" teriak Prime kepada beberapa anggotanya yang sepertinya hendak mengevakuasi rekan-rekan mereka yang terluka.


"Terus tembaki, berikan tembakan perlindungan untuk yang sedang mengevakuasi!" titah Garwig kepada personel militernya.


Dor ... Dor ... Dor ...!


Tembakan perlindungan pun dilakukan, dan ketiga anggota yang terluka berhasil di bawa ke tempat aman guna mendapatkan pertolongan pertama.


"Aku benar-benar tidak menyangka mereka dipersenjatai lengkap seperti itu," cetus Prime geleng-geleng.


"Apa anggotamu masih sanggup?" tanya Garwig melirik dan menatap serius Prime di sampingnya.


"Apapun akan kami lakukan demi menjaga agar kekacauan ini tidak tersebar luas ke pusat kota!" sahut Prime dengan tegas.


.


"Bahkan aku dan anggotaku siap mengorbankan nyawa untuk kota ini, dan juga siap membungkam semua pelaku!" lanjutnya dengan nada yang sungguh tulus.


"Baiklah, lakukan seperti rencana awal!" sahut Garwig.


.


"Tetapi aku tidak akan membiarkanmu mati di sini," lanjutnya seraya menepuk pundak rekannya.


"Cek, cek, radio!" cetus Garwig mengambil dan lalu menekan tombol berbicara pada radio miliknya.


"Kepada seluruh personel gabungan, semuanya kembali ke rencana awal sesuai saat pengarahan di pusat!" titah Garwig dengan sangat tegas dan berwibawa ketika berbicara walau hanya melalui radionya.


Garwig pun memberitahu seluruh anggotanya soal rencana yang akan ia lakukan. Walau hanya melalui radio karena hampir semua anggotanya terpencar akibat kekacauan yang terjadi. Tetapi semua personel gabungan mendengarkan dengan sangat saksama semua apa yang dikatakan oleh Garwig.


.


~


.


Pukul 21:10 malam.


Perbukitan Timur Laut Gedung Balaikota.


Berlin dan teman-temannya tampak sedang menghadapi komplotan lain dari kelompok kejahatan yang sama yaitu Mafioso yang menghalangi jalan mereka. Secara terpaksa, Berlin dan kelompoknya yaitu Ashgard harus menghabisi lawan yang kini sedang menghadang. Jika tidak, maka mereka akan terhenti dan habis di tangan Mafioso, dan kekacauan bisa saja tersebar hingga pusat kota.


"Jelas-jelas jumlah kalian sungguh sedikit untuk melawan kami, tetapi sepertinya itu tidak membuat mental kalian jatuh, ya?" celetuk pria bertopeng putih polos kepada Berlin yang tampak keluar dari persembunyiannya dan berlari ke arahnya dengan sebuah pisau dan senjata api.


Hanya Berlin seorang yang keluar dari persembunyiannya dan berjalan ke hadapan pria bertopeng tersebut, sedangkan kedua temannya masih bersembunyi. Sepertinya Berlin telah merencanakan sesuatu.


"Maaf, ya. Mental kami tidak seperti kalian yang hanya berani jika ramai saja!" sahut Berlin membantah dengan tegas.


"Tembak!" titah pria bertopeng itu dengan sangat tegas kepada rekan-rekannya yang ada di dekatnya.


DOR ... DOR ...!

__ADS_1


Beberapa tembakan beruntun dilancarkan begitu saja tanpa basa-basi. Namun tembakan-tembakan itu berasal dari pepohonan belakang Berlin, dan membuat beberapa dari rekan pria bertopeng jatuh tersungkur dan bersimbah darah.


"Apa ...?!" Betapa terkejutnya sang pria bertopeng ketika melihat lebih dari lima rekannya yang langsung tersungkur ke tanah dengan luka tembak tepat di kepala mereka masing-masing.


"Hei, kau fokus ke mana ...?!" ucap Berlin yang lalu menebaskan pisaunya ke arah leher dari pria bertopeng yang ia hadapi.


Sling ...!


Pergerakan Berlin sangatlah cepat dan sulit diprediksi, ditambah pria bertopeng itu masih cukup dibuat tertegun dengan apa yang terjadi kepada kelima orang rekannya.


Walau serangan Berlin bisa dibilang sangat telak dan tepat. Namun serangan tersebut masih bisa ditangkis dan dihindari oleh pria bertopeng tersebut. Tetapi saat mencoba untuk menghindar, pria bertopeng harus mendapatkan luka sayat yang cukup parah pada tangannya akibat berusaha menangkisnya.


"Kenapa? Kenapa kau seperti melemah seperti itu?" celetuk Berlin menatap dingin dan dengan tatapan kejam ke arah pria bertopeng.


Di saat yang bersamaan ada beberapa rekan dari pria bertopeng yang berusaha menyerang dan menembak Berlin ketika berdiri tepat di hadapan pria bertopeng itu. Namun satu persatu dari mereka yang mencoba untuk melawan Berlin tiba-tiba tumbang begitu saja akibat terkena tembakan.


***


"Tenang, Bos! Selesaikan urusan mu dengannya!" seru Aryo dari balik pepohonan dan semak-semak yang cukup jauh di belakang Berlin.


"Yup! Kita akan urus yang lainnya!" seru Bobi kepada Asep yang lalu melawan sisa dari rekan pria bertopeng yang masih keras kepala memberikan perlawanan.


"Hei, kalian tidak melupakan kami, 'kan ?!" sela Salva berlari ke arah kedua rekannya dan lalu bergabung dengan mereka untuk menghadapi lawan-lawannya.


***


"Kerja sama tim kalian memang sangatlah apik, tepat seperti apa yang dikatakan bos. Apa itu rencana mu?" tanya pria bertopeng kepada Berlin dengan napas terengah dan meringis menahan rasa perih dari luka sayatnya.


"Bos? Di mana bos mu sekarang?!" sahut Berlin langsung bertanya pada intinya.


Pria bertopeng yang berdiri di hadapannya itu tiba-tiba saja mengangkat tangan dan berkata, "aku menyerah."


Mendengar apa yang dikatakan oleh pria bertopeng, itu langsung membuat semua rekan pria bertopeng kebingungan dan menghentikan perlawanan mereka. Begitupula dengan Berlin yang tidak menyangka akan secepat itu dia menyerah.


Klotak ...!


"Tunggu, apa maksudmu menyerah?!" tanya Berlin tampak curiga dan sekaligus tidak begitu terima.


Pria bertopeng itu hanya diam saja dan berlutut di hadapan Berlin dengan kedua tangan masih terangkat.


"Yah, nggak seru!" celetuk Galang menyoraki pria bertopeng itu dari belakang Berlin.


"Sudah, sudah!" tegas Asep kepada rekan-rekannya yang tampak sedikit memberikan ejekan kepada lawan mereka.


Mengetahui lawannya sudah menyerah dan menjatuhkan senjata-senjata mereka. Berlin mengurungkan niatnya untuk menghabisi pria bertopeng itu. "Ikat tangan dan kaki mereka!" titah Berlin kepada rekan-rekannya.


"Baik, Bos!" sahut teman-temannya serempak.


...


Di saat teman-temannya sibuk mengamankan beberapa pelaku. Berlin berjalan perlahan menghampiri pria bertopeng itu. Timbul rasa penasaran dalam dirinya terhadap pria bertopeng putih itu. Siapakah orang di baliknya?


Di lain sisi, Berlin juga cukup curiga dengan maksudnya menyerah begitu saja. Padahal menurutnya sang pria bertopeng bisa dengan mudah membunuhnya jika memang dia mau.


"Hei," sapa Berlin mendekati pria bertopeng yang terus berlutut dan berdiam diri dengan kedua tangan masih terangkat. Matanya terus saja melirik ke sana ke mari pada pakaian dan saku celana dari pria bertopeng. Dirinya sepertinya masih mewaspadai sesuatu yang tidak ia inginkan.


"Sebenarnya ... siapa kau ini ...?" tanya Berlin perlahan menyentuh topeng berwarna putih yang dipakai pria bertopeng itu.


Namun di saat menyentuh topeng yang sedang dikenakan tersebut. Berlin tiba-tiba secara refleks mengurungkan niatnya, dan kembali memberikan jarak di antaranya dengan pria bertopeng itu.


"Hmm ...," gumam Berlin melirik tajam dan sedikit berjalan memutari pria bertopeng yang masih saja berlutut di depannya.


Pria bertopeng itu tampak sedikit tersenyum sinis ketika Berlin mendekati dirinya.


DEG.


"Kau ini ...?!" cetus Berlin terkejut dan terdiam ketika melihat sebuah detikan waktu kecil yang menempel di bagian tengkuk pria bertopeng itu.


"Kau ... masuk ke dalam perangkap ku, Berlin. Maaf," ucap pria bertopeng itu.

__ADS_1


Mengetahui dirinya sangat terancam. Berlin langsung berlari secepat mungkin ke arah teman-temannya dan berteriak, "awas ledakan!"


Kelima temannya dibuat bingung dengan maksud dari Berlin berteriak seperti itu. Namun benar saja, sebuah ledakan pun terjadi tepat dari arah Berlin berlari.


BOOOMM ...!!!


Karena jarak Berlin terlalu dekat dari sumber ledakan, itu membuat tubuhnya terhempas dan menerima dampak dari ledakan yang terjadi. Teman-temannya yang melihat kejadian itu pun dibuat sangat terkejut, dan ikut terhempas akibat ledakan yang terjadi. Begitupula dengan beberapa pelaku yang sudah terikat dan berhasil diamankan.


BRuukK ...!!


"Kenapa ...? Kenapa aku melihat seperti ini lagi ...?" Berlin terhempas membentur sebuah pohon dengan sangat keras dan tersungkur ke tanah. Tubuhnya cukup kesakitan dan mendapatkan sedikit luka gores dari serpihan ledakan di pipi dan tangan kanannya.


"Berlin!" teriak Asep dan yang lainnya langsung berlari ke arah Berlin yang tersungkur.


Berlin langsung bangkit ketika mendengar teriakan teman-temannya. "Bos, kau baik-baik saja?" tanya Salva dan yang lainnya yang langsung menghampiri Berlin.


"Sepertinya begitu," jawab Berlin dengan memegangi lengan kanannya yang tampaknya cukup sakit akibat benturan yang terjadi.


"Kumpulkan semua pelaku yang berhasil kalian amankan, dan segera hubungi aparat!" Berlin langsung memberikan perintahnya kepada kelima orang temannya itu.


.


"Kita harus segera mencari keberadaan Nicolaus!" lanjutnya dengan tatapan tajam seakan sangat kesal.


"Bos, apa kau yakin dengan keadaanmu yang seperti ini?" sahut Asep.


"Aku baik-baik saja!" sahut Berlin.


.


"Sudahlah, cepat!" lanjutnya dengan tegas.


"Baik!" sahut teman-temannya.


...


"Menjadikan manusia sebagai bom waktu? Apa yang dipikirkan orang bernama Nicolaus itu?!"


"Aku benar-benar sudah muak dengan ledakan dari bom bunuh diri seperti itu!"


Berlin berkali-kali berbicara sendirian melalui hatinya. Saat bom tadi meledak dan membuatnya terhempas serta tersungkur ke tanah. Dirinya jadi mengingat kembali kejadian yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Bagas terhadap Prawira di Lereng Perbukitan Barat Danau Shandy Shell.


Namun skala dari ledakan bom barusan tak terlalu besar dari yang sebelumnya terjadi. Tetapi itu sangat membuat Berlin muak dan kesal dengan dua kejadian itu.


~


"Ledakan itu sudah terjadi, ya?" gumam Nicolaus melihat sebuah ledakan yang terjadi dan berasal dari lokasi di mana dirinya mengirimkan anak buahnya untuk menghalau pergerakan Berlin dan kelompoknya.


"Ku harap sih ... Berlin terkena dampak dari ledakan itu, atau bahkan tewas dari ledakan itu. Tetapi ... sepertinya tidak," lanjutnya berbicara sendiri dan lalu berjalan kembali menuju mobilnya.


~


"Ledakan? Apakah Berlin di sana?" batin Kimmy saat melihat sebuah ledakan yang terjadi di atas lereng perbukitan sebelah Timur Laut dari Gedung Balaikota.


"Aku yakin Berlin baik-baik saja!" cetus Prawira menghampiri Kimmy.


.


"James, bersiaplah! Kita akan ke sana!" titah Prawira kepada anggotanya yaitu James.


Kimmy dan beberapa temannya melihat ledakan yang terjadi dari barisan pertahanan di halaman Gedung Balaikota. Teman-temannya tampak sangat khawatir, begitu pula dengan Kimmy yang tampak mengkhawatirkan Berlin yang berada di sana.


"Kim, apa kau ada arahan?" tanya Kina dan Sasha kepadanya.


Kimmy mengangguk dan menjawab dengan sangat yakin, "ayo kita lakukan!"


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2