
dua bulan telah berlalu. Kini Ashgard telah resmi menjadi salah satu bagian dari pihak kepolisian. Namun Berlin tetap tidak menghilangkan semua kegiatan kelompoknya yang selalu berhubungan dengan kriminal. Di sisi lain itu memang sudah menjadi tugas kelompoknya untuk kepolisian.
Selain Ashgard yang mendapatkan kabar baik, melainkan terdapat kabar baik lainnya yang juga membuat Berlin sangat senang. Kabar baik itu yaitu kini Nadia telah pulih dari cedera kakinya, dan sudah dapat kembali berjalan normal setelah melalui cukup banyak rehabilitasi serta pengobatan rutin selama berminggu-minggu.
Setelah semua yang dilalui, kini Berlin dapat merasa jauh lebih tenang dan lega karena masalah-masalahnya sudah terselesaikan. Semua pertanyaan dan kebingungan soal masa lalunya juga sudah terjawab. Kini dirinya dapat dengan tenang memikirkan soal masa depannya.
...
**Pukul 16:00 sore**.
**Kediaman Berlin**.
"Kita akan pergi ke tempat yang sudah ku janjikan," ujar Berlin tampak bersiap-siap untuk bepergian bersama Nadia menggunakan mobilnya.
"Apa tidak apa-apa bila sekarang? Aku tidak mau sampai mengganggu pekerjaanmu," sahut Nadia berdiri di depan pintu mobil milik Berlin yang sudah terbuka.
"Tenang saja, meskipun begitu aku tetap saja bos mereka," jawab Berlin lalu tersenyum.
"Lagipula kata mereka, mereka sedang sibuk dengan tugas yang diberikan Prawira, dan mereka ingin mengerjakannya tanpa harus merepotkan ku. Jadi ya sudah, kenapa tidak aku ambil waktu hari ini untuk bisa berdua denganmu?" lanjutnya.
Nadia pun masuk ke mobil dan duduk di bangku penumpang tepat di samping Berlin. Merasa semuanya sudah siap, Berlin pun segera mengemudikan mobilnya. Tampak juga Berlin mengantongi sesuatu di saku bajunya, dan berusaha menyembunyikan benda itu dari Nadia.
**Pukul 16:20 sore**.
Di tengah perjalanan Nadia bertanya-tanya soal tempat yang akan didatanginya. Ditambah Berlin sampai menjanjikan untuk mengajaknya ke tempat itu.
"Tempatnya seperti apa, sih? Kayaknya kamu ingin banget aku tahu tempat itu," cetus Nadia menoleh dan memandang penasaran Berlin.
"Nanti lihat saja langsung," sahut Berlin melirik Nadia di sampingnya dan lalu tersenyum tipis padanya.
"Ish! Kamu mainnya rahasia-rahasiaan, ya?!" gusar Nadia seraya mengerucutkan bibirnya menandakan kalau dirinya sedang sebal.
Berlin hanya terkekeh melihat tingkah laku kekasihnya yang justru terlihat imut di matanya. Dirinya hanya membiarkan Nadia untuk sementara penasaran, sampai tiba pada tempat yang ia maksud.
~
**Pukul 16:25 sore**.
Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dari Kota Metro menuju ke wilayah Shandy Shell. Berlin pun sampai di tempat yang sudah sangat lama sekali ingin ia tuju bersama Nadia.
Tempatnya tersebut terletak tepat di atas bukit sebelah Utara dari Danau Shandy Shell.
"Nah, kita sudah sampai," ucap Berlin memarkirkan mobilnya di sebuah halaman parkir yang kecil.
"Ayo kita ke sana!" pinta Berlin kemudian menggandeng tangan Nadia yang turun dari mobil menuju ke sebuah bangku yang letaknya ada di pinggir bukit.
WUUSSHH ...!!!
"Wah ...!!!"
Angin berhembus kencang di atas situ. Nadia tertegun dengan pemandangan yang ada dari tempat itu. Tepat di lereng bukit di bawah tempat di mana ia berdiri sekarang, terdapat perkebunan bunga yang memiliki warna-warna yang sangat indah. Tak hanya itu, dari atas situ dirinya juga bisa melihat seluas apa Danau Shandy Shell, dan juga pemukiman yang terletak di Selatan dari danau.
"Dahulu waktu aku remaja, tempat ini sering menjadi tempat untuk ku menyendiri dengan melihat indahnya pemandangan di sini. Dan sekarang, aku hanya ingin kamu juga mengetahui betapa indahnya tempat ini," ucap Berlin yang lalu duduk di bangku taman yang ada di sana.
Mata Nadia tampak berbinar-binar menikmati pemandangan yang ada. Berlin benar-benar mengetahui apa yang membuat Nadia merasa senang.
"Dahulu selama masih menjadi anggota polisi, kok aku tidak tahu ada tempat ini, ya? Padahal aku sering berpatroli bahkan ditugaskan di wilayah Shandy Shell," gumam Nadia berpikir-pikir seraya duduk di sebelah Berlin. Pandangannya masih tak bisa lepas dari pemandangan yang disajikan dari tempat itu.
"Kamu kurang menjelajah, kali?" sahut Berlin.
"Em, i-iya, sih ... hehehe," jawab Nadia lalu tertawa kecil.
Berlin tak henti-hentinya tersenyum dan memandangi wajah berseri-seri Nadia di sampingnya.
"Lalu, ada apa kamu mengajakku ke sini? Soalnya kamu ini kalau mengajak ku ke tempat-tempat tenang seperti ini pasti ada sesuatu," celetuk Nadia yang sepertinya dapat membaca pikiran Berlin.
"Seperti biasa, kamu memang tahu banget tentang ku, ya?" sahut Berlin dengan nada menggoda Nadia yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Kamu mau cerita? Mau curhat? Atau mau ngomong apa gitu? Katakan saja!" ujar Nadia menoleh dan lalu tersenyum seraya menatap Berlin dengan dua bola mata indah berwarna hitamnya.
Hal itu cukup membuat Berlin kikuk dan gugup untuk mengatakan sesuatu yang sudah ia persiapkan sejak berangkat. Jantungnya berdegup tak karuan.
...
HUUFFTT ...!!!
"*Baiklah, aku akan berbicara padanya*!" batin Berlin.
Berlin menghela napas panjang, dan bersiap untuk berbicara sesuai dengan rencana yang sudah ia siapkan sedari awal.
"Um ..., iya, aku ingin berbicara sesuatu yang sangat penting, dan sesuatu itu soal kita berdua," Berlin mulai berbicara dengan nada dan sikap yang serius kepada Nadia.
"Soal kita?" Nadia menatap penasaran Berlin.
"Iya, soal hubungan kita berdua," jawab Berlin meyakinkan omongannya.
"Ada apa dengan hubungan kita?" sahut Nadia kembali bertanya dengan penasaran.
"Langsung saja pada intinya. Aku ingin mengatakan ... kalau ... aku ingin ... hubungan kita berhenti sejenak," Berlin mengatakannya dengan ekspresi sangat serius, meskipun dirinya tampak gugup saat mengatakannya.
DEG.
Kata-kata itu seketika menyakiti hati Nadia dan membuat air matanya menetes tanpa ia sadari. Ia menatap Berlin dengan tatapan tidak menyangka kalau dirinya akan mendengar hal tersebut.
"Berhenti ...? Kenapa ...?" gumam lirih Nadia dengan mata sudah meneteskan air mata menatap ke arah Berlin. Kedua tangannya mengatup di atas dadanya yang tiba-tiba terasa sedikit sesak.
"*Aduh dia langsung menangis, aku membuatnya menangis*," batin Berlin sangat tidak tega melihat pergantian ekspresi Nadia semula ceria seketika berubah menjadi sangat sedih.
"Aku akan menjelaskan detailnya," ucap Berlin. Namun belum sempat menjelaskan, Nadia menyelanya dengan beberapa pertanyaan.
"Apa aku melakukan kesalahan? Apa yang salah dari ku?" sela Nadia menunduk dengan air mata yang semakin deras mengalir menetes membasahi pipinya.
"Tidak, tidak ada yang salah darimu," sahut Berlin berusaha menenangkannya.
"*Ya ampun, aku tidak tega melihatnya menangis seperti ini. Aku sudahi saja permainan ini*!" batin Berlin menatap Nadia dengan tatapan tidak tega.
"Hei," ucap lirih Berlin mencoba untuk membuat Nadia tenang terlebih dahulu. Namun sepertinya Nadia sudah terlanjur hanyut dalam tangisnya.
"Padahal kita sudah melalui banyak hal. Aku sudah mengorbankan banyak hal termasuk pekerjaan dan waktu untukmu, dan kamu pun begitu. Katamu juga kamu tidak akan pergi dariku. Tetapi kenapa jadi seperti ini?! Mengapa kamu menginginkan hal itu?" racau Nadia masih tertunduk dengan air mata yang deras menetes.
"Hei, lihat aku!" pinta Berlin seraya memegang dagu milik wanitanya itu agar bisa menatapnya.
Pandangan Nadia pun terangkat, dan kini dirinya menatap kedua mata Berlin yang berjarak sangat dekat. Kedua mata yang menatapnya lembut dengan penuh kasih sayang meskipun dari orang yang cukup keras dan terkenal kejam.
Nadia yang sebelumnya cukup terisak dan hanyut dalam tangisan kekecewaannya, kini mulai tenang ketika menatap kedua mata milik Berlin.
Berlin tersenyum dan mengatakan, "kata-kata ku tadi bisa saja berbohong, tetapi tidak dengan mataku. Kamu paham 'kan apa maksudku?"
Namun Nadia menatapnya dengan tatapan bingung. Perlahan Berlin menyeka air mata yang membasahi pipi milik Nadia seraya berkata, "kamu pasti bingung dengan apa yang ku maksud."
"Jadi ... mengapa aku ingin hubungan kita berhenti sejenak? Karena ...," ucap Berlin belum yang tiba-tiba kembali terdiam.
"*Sial, masa aku tidak berani untuk mengatakannya*?!" gusar Berlin dalam hati.
"Karena apa?" sahut Nadia yang penasaran.
"Karena ...." Berlin seraya mengambil sebuah kotak kecil yang sejak tadi ia simpan dan persiapkan untuk momen ini. "Karena ... agar aku bisa melanjutkannya ke jenjang yang lebih serius dari hubungan saat ini!"
"Berlin?" Nadia menatap bingung Berlin.
Berlin membuka isi kotak itu di hadapan Nadia seraya mengatakan, "Nadia, maukah kamu menerima cincin ini sebagai ... pertanda ... kalau kamu ... mau ... menikah denganku ...?" ucapannya sangat tergagap dan terbata-bata ketika menunjukkan sebuah cincin cantik berwarna emas yang ada di dalam kotak tersebut. Sepertinya ia kesulitan untuk menyampaikan pernyataan hatinya. Dirinya bahkan tidak berani menatap Nadia yang ada di depan matanya ketika menyatakan hal tersebut.
"Maafkan aku, aku tak bermaksud menyakitimu dan membuatmu menangis. Jadi yang tadi itu hanyalah basa-basi ku, karena aku tidak begitu berani untuk ngomong secara langsung." Berlin menunduk langsung menjelaskan dan mengakui kesalahannya serta meminta maaf setulus-tulusnya.
__ADS_1
Nadia sangat terkejut dan dibuat tertegun dengan hal itu. Dirinya langsung bisa memahami apa maksud dan keinginan Berlin ketika menunjukkan cincin itu padanya. Di sisi lain dirinya dibuat sedikit tertawa dengan sikap sangat canggung yang ditunjukkan Berlin.
Berlin mengangkat kembali kepalanya karena mendengar Nadia yang tertawa. "Ya, kamu boleh kok tertawa," ucapnya.
DRAPP ...!!!!
Secara tiba-tiba Nadia langsung memeluk dan bersandar di dada bidang milik Berlin, la mengatakan, "kamu sadar nggak sih, apa yang kamu lakukan barusan itu jahat sekali."
"Iya, aku memang jahat," Berlin menyadari hal tersebut. Dirinya benar-benar merasa bodoh karena berbicara hal yang tak seharusnya.
Nadia sedikit menengadah untuk menatap Berlin dan lalu memberikan jawabannya dengan berkata, "aku mau, dan bahkan aku akan memohonnya ...!" ucapnya dan lalu menunjukkan senyuman termanisnya.
Mendengar jawaban tersebut seketika membuat Berlin dan hatinya serasa diterbangkan secara tiba-tiba. Dirinya terdiam tak bisa mengungkapkan kebahagiaannya dengan kata-kata. Di sisi lain juga dirinya merasa lega.
"Berlin, kamu tidak memasangkannya?" cetus Nadia seraya menyodorkan jari manisnya yang lentik itu kepada Berlin.
"Oh, i-iya!" sahut Berlin tampak sangat gugup dan canggung, dan lagi-lagi sikapnya itu mengundang gelak tawa Nadia yang melihatnya.
"Hehehe, sangat jarang sekali aku melihatmu canggung seperti ini," celetuk Nadia lalu tersenyum sembari membiarkan Berlin memasangkan cincin tersebut.
"Berlin," lirih Nadia kembali bersandar pada dada bidang milik Berlin dan tenggelam dalam dekapannya. "Memangnya ... kamu sudah benar-benar siap? Kalau aku sih ... siap selama kamu sudah siap," lanjutnya dengan nada cukup lirih.
"Setelah semua kekacauan itu, setelah semua masalah itu selesai, dan setelah aku mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan tentang diriku. Aku sudah sangat siap untuk ini!" jawab Berlin.
"Aku tidak ingin menyia-nyiakan apa yang seharusnya tak ku sia-siakan. Jika terlalu lama, nanti aku malah menyia-nyiakannya tanpa aku sadari aku telah menyia-nyiakannya. Dan juga, aku tidak ingin membuatmu menunggu terlalu lama," lanjut Berlin seraya membela lembut rambut hitam Nadia yang terurai.
Nadia tersenyum dan merasa sangat bahagia hari ini, meskipun dirinya sempat dibuat menangis oleh Berlin. Dirinya tidak menyangka kalau Berlin akan memberikan jawaban kepastian itu sekarang.
"Ngomong-ngomong soal siap, tadi kamu aja ngomong terbata, apa itu sudah bisa terbilang siap?" celetuk Nadia melirik ke arah Berlin yang kembali kikuk. Dirinya kembali terkekeh ketika mendapati wajah lelakinya itu cukup merona.
"Hehehe ...." Seketika Berlin tertawa kecil, "aku akui aku lemah dalam hal seperti ini," ucapnya.
Berlin harus mengakui kalau dirinya lemah dalam hal seperti ini. Tak hanya bahagia dan senang setelah mendengar jawaban yang ia terima. Berlin juga kembali lega ketika melihat Nadia kembali tersenyum dan tertawa setelah ia buat menangis dan sedih.
Pemandangan senja dengan langit berwarna jingga yang sangat cerah di tempat itu seolah mendukung momen untuk mereka berdua. Angin senja juga ikut berhembus menerpa mereka berdua dengan aroma dan suasana alam yang tenang. Beberapa lampu-lampu di pemukiman seberang Danau Shandy Shell pun juga mulai menyala, dan terlihat seperti gemerlap bintang yang cantik dari kejauhan.
\*\*\*
"Payah sekali dia, ya?"
"Iya, aku tidak menyangka."
"Meskipun dia berani dalam menghadapi lawannya di lapangan tanpa terlihat tidak memiliki kelemahan. Tetapi ternyata Berlin sangat lemah dan payah kalau soal itu."
"Hahaha ...!"
Cukup jauh dari tempat Berlin berada, ternyata terdapat beberapa teman-temannya yang memantau dari atas perbukitan yang berbeda. Mereka semua dibuat tertawa dengan apa yang mereka lihat.
"Selamat, Berlin. Ditunggu undangannya," gumam Adam yang lalu tertawa kecil tiba-tiba.
"Pastikan Nadia bahagia ya, Berlin! Nadia, tolong bimbing Berlin, ya!" batin Kimmy dengan mata sedikit berkaca-kaca ketika melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat karena hanya akan menyakiti dirinya saja.
"Sudahlah, tidak baik kita terus menguntit mereka berdua!" tegas Adam yang lalu berjalan memasuki mobil.
"Yup! Lagipula tugas rahasia kita untuk memantau dan menjaga Berlin dari kejauhan sudah selesai sampai sini!" timpal Asep.
"Aku akan memberitahu Prawira kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan," lanjut Asep yang lalu berjalan menuju mobil beroda enam yang terparkir tak jauh darinya.
"Oh iya, ini tugas rahasia, gawat kalau Berlin sampai tahu!" celetuk Aryo.
"Iya juga, bisa mati kita kalau dia tahu kita sedang menguntitnya," sambung Bobi yang lalu segera kembali ke kendaraannya.
Mereka semua pun segera pergi dari tempat mereka mematau Berlin yang sedang sibuk dengan Nadia. Mereka melakukan hal tersebut karena peduli dan khawatir jika harus membiarkan Berlin pergi tanpa penjagaan.
"Kim, kau baik-baik saja, 'kan?" cetus Vhalen bertanya kepada Kimmy ketika perjalanan di dalam mobil.
"Iya, aku baik-baik saja, kok!" sahut Kimmy yang lalu memasang senyuman pahitnya. Setelah itu dirinya mengalihkan pandangan ke arah jendela dan menyandarkan kepalanya pada jendela tersebut lalu bergumam, "*jujur saja, aku iri dengan apa yang ku lihat tadi. Andai saja aku bisa berada di posisi Nadia saat ini, mungkin aku akan merasa jauh lebih bahagia dari sekarang*," gumamnya namun dalam hati.
__ADS_1
.
Bersambung.