Mafioso In Action

Mafioso In Action
Objektif Selesai #39


__ADS_3

Perlahan hari mulai gelap, dan pelarian dari ketiga anggota kru helikopter yang mengalami insiden belum juga terlihat. Semua anggota polisi yang menyimak serta memantau jalannya misi penyelamatan yang dipimpin oleh Prawira pun dibuat berharap cemas, termasuk Siska yang memantau komando pusat melalui Kantor Polisi Pusat.


Tidak banyak, namun hanya beberapa anggota polisi saja dari Kantor Polisi Shandy Shell yang ditugaskan untuk menjaga perimater paling luar, yaitu tepatnya berada di Pos Penjagaan Senora yang berjarak cukup jauh dari lokasi Bukit Sunyi.


Prawira bersama dengan timnya yang sedang berjaga mengamankan sebuah pos di satu lapangan terbuka. Tiba-tiba saja dikejutkan dengan banyaknya suara tembakan dari arah Utara, tepat di balik dari sebuah bukit kecil di Utara.


"Kontak senjata ?" cetus Prawira.


"Iya, suara baku tembak sepertinya ?" sambung Prime.


Ditengah mempertanyakan sumber dari banyaknya suara tembakan tersebut. Laporan langsung masuk kepada Prawira melalui radionya, dan laporan tersebut berasal dari kru helikopter miliknya.


"Terjadi ... kontak ... di sini, Pak. Dan ... Calvin terkena luka tembak ... cukup parah !" suara milik Dhito terdengar sangat jelas bercampur keributan suara tembakan di sekitarnya.


.


"Mereka berjumlah lebih dari 20 orang, Ndan ! Kami ... terus berlari ... dan ... ditembak ---" sambung Bian yang langsung terputus dari radionya setelah terdengar keributan suara baku tembak.


Mendengar hal itu, Prawira langsung menggerakkan timnya untuk lebih dekat ke posisi dari kru helikopter tersebut.


"Baik, kita akan mencoba untuk lebih dekat dan jemput mereka !" titah Prawira yang lalu naik kembali ke dalam mobil bersama dengan Prime.


.


"Usahakan keselamatan anggota terlebih dahulu !" lanjutnya kepada rekan-rekan Brimob yang ada dalam timnya.


"Kalian bertiga, kalo bisa ... lari aja terus ke arah Selatan, kami akan menemui kalian di sana !" Prawira juga memberikan arahannya kepada kru helikopter tersebut untuk terus mendekat ke posisinya.


.


~


.


"Bian, berapa jauh lagi ?!" teriak Dhito dengan terus menuntun Calvin untuk berjalan dan berlari menghindari baku tembak yang sedang terjadi.


SET !


Bian memilih untuk langsung melemparkan tablet miliknya kepada Dhito yang tidak jauh dari dirinya berada, dan terus membidik tiada hentinya ke arah orang-orang yang menembakinya.


"Kita harus segera pergi dari sini, dan harus cepat ke titik temu !" teriak Bian yang lalu kembali bergerak bersama dengan Dhito yang terus menuntun Calvin untuk berjalan.


Mereka bertiga pun kembali melanjutkan pelarian mereka menuju ke titik temu yang jaraknya tidak terlalu jauh lagi. Dengan perjalanan di tengah dan di sela rindangnya pepohonan, terjalnya jalan bebatuan, serta sedikit mendaki sebuah bukit kecil.


Namun perjalanan itu akan menjadi cukup berat bagi Calvin, karena pendarahan pada luka tembaknya tak kunjung henti walau sudah tertahan dengan sebuah kain putih.


"Jangan lepas perlindungan dari balik pepohonan !" titah Bian yang terus menjaga bagian belakang dari kedua temannya.


.


"Bertahanlah, Calvin. Jarak kita dengan mereka sudah cukup jauh," lanjutnya kepada Calvin yang masih terus berjalan dan sedikit berlari walau tertatih-tatih.


Walau Bian sudah berhasil menghambat dan membuat jarak yang cukup jauh dari orang-orang yang mengejar. Tetapi sepertinya orang-orang berpakaian serba hitam itu tidak akan berhenti mengejar.


"Mafioso b*ngs*t !" gusar Calvin yang terlihat cukup kesal dengan semua yang telah terjadi kepadanya.


"Jangan terlalu banyak bergerak !" titah Dhito kepada Calvin saat menuntunnya untuk berlari.


Luka tembak yang didapatkan oleh Calvin terlihat cukuplah parah


.


~


.


"Siska, monitor ?" cetus Prawira kepada Siska yang memantau dari Kantor Pusat melalui radio.


"Siska izin melaporkan, jarak anda dengan Calvin sekitar 450 meter lagi, Pak !" jawab Siska di radio.


Mendengar jawaban dari Siska. Prawira langsung bersiap-siap untuk menyambut kedatangan dari kru helikopter tersebut, serta juga siap untuk menyambut sekelompok orang yang mengejar mereka.


"Unit motor silakan bersiap dan menyebar ya !" titah Prime kepada anggotanya yang menggunakan kendaraan motor.


Dua unit motor pun menyebar ke dua arah, dan mengisi di balik pepohonan yang ada di lereng perbukitan sebelah Timur dan Barat. Mereka berempat dengan persenjataan lengkap, terlihat sangat siap menyambut sekelompok orang yang mengejar kru helikopter.


.


~


.


Dengan perlahan dan sangat tertatih, Calvin terus berjalan dibantu oleh Dhito yang terus dan tidak berhenti untuk menuntunya melewati akar pepohonan dan bebatuan yang menghalangi jalan mereka. Sedangkan Bian terus menjaga kedua rekannya dari bagian belakang, dan membiarkan kedua rekannya itu berjalan jauh lebih dahulu darinya.


Baku tembak yang terjadi pun juga sudah mereda, saat Bian berhasil membuat pergerakan sekelompok orang yang mengejar menjadi cukup terhambat karena perlawanan yang ia lakukan.


"Kau masih kuat berjalan, 'kan ?" tanya Dhito kepada Calvin yang tertunduk dan terlihat cukup lemas.


Dhito terlihat cukup gemetaran dan sangat cemas saat melihat luka tembak pada bahu milik Calvin.


"Kan aku tertembaknya di bahu, jadi tenang aja ...!" sahut Calvin sembari meringis karena menahan rasa sakit luar biasa yang tak kunjung reda sedari tadi.


Sreekk ... Sreekk ... Sreekk ...!


Bian tiba-tiba mendengar dan kembali melihat beberapa pergerakan di balik semak belukar di belakang, dan menyadari kalau orang-orang berpakaian hitam itu masih mengejar.


"Mereka masih mengejar kita di belakang !" bisik Bian saat mendekati kedua rekannya, dan sedikit mendorong mereka berdua untuk berjalan lebih cepat lagi.


Mereka bertiga pun langsung mempercepat pergerakan langkah kaki mereka, setelah Bian mengatakannya.


Jarak mereka untuk menuju ke titik temu yang ditentukan oleh Prawira pun juga sudah cukup dekat. Hanya saja terhalang oleh banyaknya pepohonan rindang, semak belukar yang sangat tebal, dan terjalnya jalan akar bebatuan yang menghalangi, yang membuat waktu tempuh mereka cukup lama.


Tidak hanya itu, namun naik turunnya jalanan terjal perbukitan di situ juga sangat mempengaruhi perjalanan atau pelarian mereka bertiga dari wilayah berbahaya itu.


...


Setelah mendaki sebuah bukit kecil terakhir. Dhito mulai sedikit memperlambat langkahnya karena cukup terasa lelah terus menuntun rekannya, yaitu Calvin.


Calvin yang menyadari kalau rekannya mulai kelelahan karena dirinya. Ia pun melepaskan rangkulan tangan milik Dhito yang terus membantu menopang tubuhnya, dan lalu mengatakan, "terima kasih sudah menuntunku sejauh ini. Sekarang kau istirahat aja, aku bisa jalan sendiri !"


"Tetapi ... lukamu ...?" sahut Dhito dengan pandangan yang tidak bisa lepas dari luka tembak pada bahu kiri milik Calvin, karena pendarahan pada luka tersebut masih terus terjadi tanpa henti. Namun untungnya berhasil terhambat oleh kain putih yang Dhito balutkan untuk menahan pendarahannya.


"Tak apa," jawaban singkat Calvin.


Calvin terlihat sangat lemas karena tenaganya sudah terkuras sangat banyak, begitu pula dengan darahnya yang terus mengalir keluar melalui luka tembak tersebut.


Dhito sendiri merasa tidak yakin dengan jawaban yang terlontar dari mulut rekannya itu. Lantaran kondisi Calvin sangat tidak memungkinkan untuk terus berjalan sendiri tanpa adanya bantuan.


"Jikalau ... aku harus mati, aku tidak mau ... mati di tempat seperti ini ...," gumam Calvin tiba-tiba yang lalu berjalan sempoyongan tertatih dengan tangan kanan terus menutupi luka miliknya.


"Kita semua akan selamat !" cetus Bian saat berjalan dan lalu menuntun Calvin yang sudah berjalan lebih dahulu.


.

__ADS_1


"Lagipula ... jarak kita sudah sangat dekat untuk mencapai titik temu !" lanjut Bian yang lalu menoleh kepada Dhito yang berjalan mengikutinya di belakang.


"Syukurlah ...," gumam Dhito sedikit merasa lega.


"Dhito, kau beritahukan melalui radio ! Kalau ... kita sudah dekat dan hampir sampai," titah Bian kepada Dhito yang berjalan dan ikut membantunya untuk menuntun Calvin.


"Baik," jawab Dhito.


Dhito pun langsung memberikan pembaruan tentang status keberadaannya bersama dengan kedua rekannya kepada Prawira melalui radio yang ia bawa.


"Kami sudah dekat, Pak. Jarak kurang lebih 150 meter lagi !"


"Salah satu dari kami ... yaitu Calvin, dia mengalami satu luka tembak di bagian bahu kiri, dan lukanya cukup parah serta terjadi pendarahan pada luka tersebut."


"Baiklah, kami sudah bersiap di titik temu," jawab Prawira melalui radio.


.


"Untuk pengejaran, apakah masih mengejar ?" lanjut Prawira bertanya.


"Masih, Pak. Namun kami berhasil membuat jarak, hanya saja ... sepertinya ... jarak itu tidak begitu efektif, karena mereka sangatlah banyak," sela Bian yang langsung menjawab pertanyaan dari atasannya itu.


.


"Rata-rata dari mereka berada di arah Utara perbukitan," lanjut Bian melengkapi laporannya.


"Diterima, terima kasih informasinya !" sahut Prawira.


.


~


.


Tim milik Prawira yang sebelumnya sudah sangat siap untuk menyambut orang-orang yang mengejar. Tiba-tiba Prawira berubah pikiran dan mengubah rencananya.


"Dua unit motor ... silakan merapat kembali dan terus bersiap di atas motor !" titah Prawira kepada empat anggota Brimob yang mengendarai dua unit motor di arah dan posisi yang berbeda.


"Oh, ba-baik, Pak."


"Si-siap, dimengerti !"


Semua anggota timnya dibuat sangat kebingungan saat mendengar perintah tersebut, begitu pula dengan Prime.


Namun Prime sendiri hanya mengikuti perintah atau arahan tersebut, dan menarik kembali anggotanya menuju ke posisinya berada.


"Balik lagi, tujuan kita di sini hanya menyelamatkan mereka bertiga," ucap Prawira kepada rekannya yaitu Prime saat turun dari mobilnya.


Prawira sangat dapat melihat raut kebingungan yang sangat jelas terukir di wajah rekannya itu.


"Baiklah," sahut Prime.


"Pak, apa anda yakin ... kita berkumpul pada satu posisi seperti ini ?" tanya Dira yang kebingungan dengan apa yang dipikirkan oleh Prawira.


"Apapun yang anda rencanakan, saya harap dan percaya itu adalah rencana terbaik," gumam George sembari bersikap sangat siaga dengan sekitarnya.


.


13 menit kemudian ....


.


Waktu terus berjalan tanpa henti, dan langit senja pun perlahan tenggelam dimakan oleh kegelapan malam. Suasana malam begitu mencekam dan dengan suhu yang cukup dingin di sekitar Bukit Sunyi itu. Kesunyian yang sangat terasa pun cukup membuat bulu kuduk berdiri, dan merubah suasana menjadi lebih tegang.


Prime, Prawira, dan keempat anggotanya dibuat lebih dan sangat waspada ketika hari menjelang malam. Karena kegelapan sangat menyelimuti hutan sekitar perbukitan itu, dan membuat jarak pandang menjadi sangat terbatas.


Sreekk ... Sreekk ... Sreekk ...!


Angin tiba-tiba bertiup sangat kencang dari arah Timur, dan membuat pepohonan serta semak belukar bergerak-gerak dan saling bergesekan satu sama lain.


Tiupan angin tersebut juga membuat suara-suara aneh seperti pergerakan dan pergesekan dedaunan pada semua tumbuhan di hutan itu.


Milner dan George yang berjaga di bagian belakang pun dibuat sangat waspada terhadap semak belukar dan pepohonan di sekitarnya.


Dila dan Valle pun juga dibuat sangat waspada terhadap semak belukar di sekitar mereka. Begitu pula dengan Prime dan Prawira.


...


Di tengah mereka semua dibuat sangat waspada terhadap lingkungan sekitar perbukitan itu. Tiba-tiba terdengar dan terlihat pergerakan dari balik kegelapan semak pepohonan yang tepat berada di depan mereka.


Mereka semua pun langsung menodongkan senjata api mereka ke arah sumber suara dan pergerakan itu.


"Apakah kalian melihat orang ?" tanya Prime yang terus menodong dan siap untuk membidik.


"Aku tidak bisa melihatnya," jawab Prawira.


"Sama, Pak," sahut Dira.


"Sangat gelap untuk melihat !" lanjut Valle.


"Sial, saya tidak membawa alat pengelihatan malam," gumam Milner.


Mereka terus mengangkat dan menodongkan senjata mereka ke satu arah yang sama, yaitu pada sumber suara dan pergerakan di balik satu semak itu.


Tak lama kemudian seorang pria tiba-tiba muncul dari balik gelapnya malam dan semak belukar. Prime langsung meneriakinya serta menyuruhnya untuk angkat tangan.


"Berhenti ! Angkat tanganmu !" teriak Prime dengan sangat tegas kepada seorang pria tersebut.


"Tunggu !" sahut pria tersebut dengan ciri-ciri yang sulit untuk terlihat karena sangat minimnya penerangan.


.


"Ini kami !" lanjut pria tersebut saat menghentikan langkahnya dan berlutut di tempat.


Suara pria tersebut sangat tidak asing bagi Prawira, dan itu membuat ia memerintahkan rekan-rekannya untuk menurunkan senjata mereka.


Di saat yang bersamaan, dua orang pria lain tiba-tiba ikut muncul di belakang pria yang berlutut itu. Salah satu dari dua pria tersebut menunjukkan sebuah lencana akademi pelatihan penerbangan yang cukup mengkilap. Dan di saat itulah, Prawira dan timnya dapat mengenali kalau mereka bertiga adalah kru helikopter tersebut.


"Astaga !" Prawira langsung berlari menghampiri Calvin yang terlihat sudah cukup sulit untuk mempertahankan kesadarannya.


"Cepat, evakuasi !" titah Prime yang lalu bersiap di kursi pengemudi mobilnya.


Calvin, Dhito, dan Bian pun langsung diamankan di dalam satu mobil yang sama bersama Prawira.


Dengan terlihat sangat kelelahan dan napas yang sudah hampir habis, Bian mencoba untuk memberitahukan kepada Prawira dengan mengatakan, "Mereka ... masih ... mengejar, Pak."


"Iya, saya tahu !" sahut Prawira yang sibuk memberikan pertolongan pertama kepada Calvin.


.


"Prime, tarik mundur anggotamu ! Kita langsung pergi dari tempat ini !" lanjutnya yang memberikan arahan kepada Prime.


"Baik, objektif kita sudah selesai. Kalian berempat langsung ikuti mobil saya, dan segera pergi dari tempat ini !" titah Prime kepada keempat anggotanya yang mengendarai dua unit motor.

__ADS_1


"Baik, Pak," jawab Dira.


"Dimengerti, Ndan," jawab Valle.


...


Dorr ... Dorr ... Dorr ...!


Di saat mobil yang dikendarai Prime melaju dengan diikuti dua unit motor di belakangnya. Tiba-tiba tembakan bertubi-tubi dari arah puncak perbukitan Utara, dilancarkan ke arah mobil yang Prime kendarai.


Sekelompok orang itu tampaknya sangat mengerti di mana tiga orang kru helikopter itu berada, dan langsung melancarkan tembakan mereka ke satu mobil yang sama.


"Pak, apakah diizinkan untuk menyerang balik ?!" teriak Milner saat menyamai kecepatan motornya tepat di samping mobil yang dikendarai oleh Prime.


"Tidak ! Kalian langsung saja melaju dan menghindar !" sahut Prime dengan sangat tegas kepada orang-orang yang mengendarai motor.


.


"Tinggalkan kami ! Utamakan keselamatan kalian !" lanjutnya.


"Ba-baik," jawab Milner dengan sangat terpaksa.


.


"Unit motor, silakan ikuti saya !" lanjutnya yang lalu membawa unit motor kedua untuk menjauh dari baku tembak.


Dua unit motor tersebut langsung melaju mendahului mobil yang Prime kendarai, dan mengamankan diri mereka dari hujan peluru atau timah panas yang sedang terjadi.


Sedangkan Prime masih terus melaju kencang dengan mobilnya, tanpa menghiraukan sekelompok orang yang saat itu sedang menembakinya.


Namun saking kencangnya mobil yang dikemudikan oleh Prime. Sekelompok orang yang melakukan tembakan itu pun kehilangan pengelihatan mereka dari mobil tersebut, dan terpaksa harus merelakan para polisi itu selamat dari wilayah mereka.


Mereka berlima yang berada di mobil tersebut sangatlah beruntung sekali. Karena mobil yang dibawa dan dipakai oleh Prime itu adalah salah satu mobil anti peluru dari divisi Brimob, dan itu sangat melindungi siapapun yang berada di dalamnya dari serangan atau tembakan dari arah manapun.


.


15 menit kemudian ....


.


Situasi pun kembali mereda dan sangat aman saat memasuki tol perjalanan menuju ke Rumah Sakit Kota. Dhito dan Bian pun merasa sangat lega dan beruntung, karena telah keluar dari tempat mengerikan itu dengan selamat. Namun mereka kembali dan terus mengkhawatirkan kondisi Calvin.


Prawira dan timnya telah berhasil menyelesaikan misi penyelamatan mereka, dengan objektif utama mereka yaitu untuk membawa kembali kru helikopternya.


"Calvin, jaga kesadaranmu !" bentak Prawira saat terus menahan pendarahan yang terjadi pada luka milik Calvin.


"Tenang, kita sudah aman," ucap Prawira kepada tiga orangnya yang berhasil selamat itu.


"Kau pilot terbaik, Calvin."


"Kau salah satu pilot terbaik yang kami punya."


"Jadi ... tolong, bertahanlah !"


"Kita sudah memasuki area kota, dan tak lama lagi akan sampai di rumah sakit."


"Semuanya akan baik-baik saja, Calvin."


Selama perjalanan saat memasuki kota dan menuju ke Rumah Sakit Kota. Prawira terus mengajak berbicara Calvin, dengan tujuan agar kesadaran Calvin tetap terjaga.


Kondisi Calvin sangatlah memprihatinkan, dan mulai memucat sangat lemas. Itu membuat Prawira dan dua rekan lainnya yaitu Dhito dan Bian, termasuk juga Prime, sangat berharap cemas dengan keselamatan dari Calvin.


"Pak, maaf ... bila ... saya ... tidak bisa ... menjadi ... pilot ... terbaik ... seperti ... yang anda inginkan ...," gumam Calvin dengan kesadaran yang sudah sangat sulit untuk dipertahankan, dan dengan sangat lemas terpatah-patah saat mengatakannya.b


"Bicara apa kau ?" sahut Prawira.


.


"Tanpa dirimu ... kepolisian tidak bisa melakukan apa-apa !" lanjutnya.


"Kau tahukan, peranmu itu sangat penting ?" sambung Prawira kembali.


.


"Kau sudah melakukan tugasmu dengan sangat baik, Calvin," lanjutnya dengan menggenggam erat salah satu tangan milik Calvin.


Di tengah pembicaraan, mereka semua pun akhirnya tiba di Rumah Sakit Kota, dan langsung memindahkan Calvin yang mulai tidak sadarkan diri itu menuju ke ruang operasi guna mendapatkan perawatan lebih lanjut.


Bian dan juga Dhito pun juga dibawa ke ruang perawatan oleh beberapa perawat dan dokter, guna mendapatkan perawatan lebih lanjut.


"Terima kasih banyak, Prime," ucap Prawira kepada Prime yang bersandar di mobil miliknya yang terparkir tepat di depan pintu lobi.


"Sama-sama, Pak. Lagian ... itu juga sudah menjadi kewajiban saya, untuk mengikuti arahan anda," jawab Prime yang lalu berjabat tangan dengan rekannya itu.


...


Di tengah mereka berjabatan tangan, tiba-tiba dua orang anggota polisi berlari keluar dari lobi menghampiri mereka berdua.


"Syukurlah, kalian berhasil !" ujar Netty yang saat itu bersama salah satu anggota polisi bernama James, yang kebetulan berada di sana karena penugasan yang diberikan Prawira.


Prawira dibuat cukup terkejut, karena sekertarisnya itu tiba-tiba sudah sampai saja di Rumah Sakit Kota. Namun itu tidak menjadi masalah baginya.


"Kebetulan," gumam Prawira saat berjalan menghampiri sekertarisnya itu.


"Kenapa, Pak ?" tanya Netty kebingungan.


"Pembicaraan mu saat kita masih di Perumahan Kota kan belum selesai. Aku penasaran kelanjutannya," cetus Prawira dengan menatap langsung kedua bola mata yang cukup indah milik Netty.


DEG.


Seketika Netty dibuat cukup tersipu dan terdiam saat Prawira kembali mengingatnya. Ia cukup malu untuk meneruskan pembicaraan tersebut di tempat yang ramai akan orang-orang. Maka dari itu ia langsung menjawab, "sudahlah ... lupakan saja !"


"Baiklah !" sahut Prawira.


.


"Kalau begitu, bisakah kamu mengumpulkan para petinggi ?" lanjutnya.


"Tentu !" jawab langsung Netty.


"Langsung hubungi mereka untuk segera ke ruang rapat Kantor Polisi Pusat !" titah Prawira dengan tegas.


"Saya tidak perlu, ya ...?" cetus Prime yang lalu membuka pintu mobilnya.


"Tentu kau juga, Prime !" sahut Prawira saat menoleh kepada Prime.


"Baiklah, Komandan !" jawab Prime saat memasuki mobilnya.


"Kita akan membicarakan tentang tempat tadi !" ucap Prawira kepada rekan-rekannya.


Prawira merasa telah menemukan sumber dari semua kasus yang akhir-akhir ini sering terjadi dan menghantui seluruh penjuru kota. Dirinya menduga kalau tempat sebelumnya, yaitu Bukit Sunyi. Adalah tempat yang sangat penting bagi kelompok yang bernama Mafioso itu.


"Berarti ... aku tinggal harus ... memastikannya, kalau ... Berlin akan aman-aman saja," gumam Prawira di dalam hatinya.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2