Mafioso In Action

Mafioso In Action
Meluapkan Amarah #69


__ADS_3

Rombongan mobil baja yang berisikan anak-anak dan beberapa warga sipil pun mulai melewati perbatasan sebelum ke pusat kota. Di sana tampak sangat banyak sekali personil Brimob dengan perlengkapan taktis mereka sedang berjaga.


Karena sangat banyak aparat yang berjaga di sana, itu membuat para Mafioso yang mengejar pun terhenti. Nicolaus sendiri segera menarik mundur anak buahnya dari perbatasan pusat kota, karena terlalu dini jika menyerang ke sana.


Galang menghentikan mobilnya tepat di samping mobil dinas milik Prawira. Berlin turun dari mobil untuk melihat situasi di perbatasan yang tampaknya sudah sangat aman. Namun dirinya masih saja tampak sangat kesal dan marah kepada komplotan yang juga menjadi musuhnya. Orang-orang yang sebelumnya menyerang rombongan menghilang begitu saja setelah rombongan berhasil melewati perbatasan menuju pusat kota.


"Berlin, tenang saja, anak-anak itu sudah aman jika telah melewati perbatasan ini," ucap Prawira turun dari mobil berjalan menghampiri Berlin dan menepuk pundak Berlin. Tampaknya Prawira sangat mengetahui kalau Berlin sedang menyimpan rasa kesal yang mendalam terhadap orang-orang Mafioso itu.


"Ya. Tetapi, seperti ada yang ... masih mengganggu atau mengganjal hati dan pikiranku," ucap Berlin dengan sedikit menundukkan kepala dan pandangannya.


.


"Di mana Garwig?" lanjut Berlin bertanya.


"Dia di Balaikota untuk mengamankan area sana," jawab Prawira.


"Aku ingin menemuinya!" sahut Berlin sangat serius menatap Prawira.


Prawira langsung mengiyakan keinginan Berlin, karena ia yakin pasti ada sesuatu yang sangat penting yang ingin dibicarakan oleh Berlin kepada Garwig. Dirinya pun langsung menghubungi Garwig melalui ponsel pintarnya.


.


~


.


Pukul 20:00 malam.


Gedung Balaikota.


Berlin bergegas untuk menemui Garwig di Gedung Balaikota. Tampak gedung itu dijaga sangat ketat, bahkan tampak dua helikopter militer terparkir di halaman depan yang sangatlah luas itu beserta personil militer yang langsung bersiaga.


"Berlin? Ada apa?" tanya Garwig menyambut kedatangan Berlin dan teman-temannya. Tampak Garwig tidak sendirian, karena ada Walikota Boni bersamanya.


"Ada yang harus aku bicarakan empat mata, ini menyangkut ... firasatku," jawab Berlin.


Garwig pun langsung membawa Berlin ke sebuah ruangan pertemuan yang hanya ada dirinya dan Berlin. Teman-teman Berlin menunggu di ruang utama sesuai dengan perintah Berlin.


~


"Nicolaus, apa yang kau rencanakan?" tanya Kibo kebingungan ketika Nicolaus memerintahkan seluruh anak buahnya menuju perbukitan sebelah Utara dari Gedung Balaikota.


"Ku dengar ... pihak militer sudah ikut campur dalam kekacauan ini. Apakah akan baik-baik saja?" lanjut Kibo yang tampaknya mencemaskan hal tersebut. Namun sepertinya tidak bagi Nicolaus yang tampak sangat berambisi untuk menyerang Gedung Balaikota dengan segala yang ia punya.


"Kau cukup ikuti perintahku saja ...!" cetus Nicolaus dengan sangat tajam melirik Kibo.


.


"Aku memiliki mainan yang belum ku mainkan, mungkin ... inilah saatnya!" gumam Nicolaus yang lalu tersenyum sinis dengan sendirinya seraya tangannya memegang sebuah koper panjang berwarna hitam yang diletakkan tepat di sampingnya.


~


"Jadi ... seperti ini bagian dalam dari Gedung Balaikota?" cetus Faris tampak begitu terkagum ketika berada di ruang utama Gedung Balaikota.


"Sesuai dengan ekspektasi ku!" sambung Aryo melihat ke sekeliling.


Kimmy dan yang lainnya hanya mendiamkan sikap kedua temannya itu yang masih tampak terkagum-kagum. Sikap mereka adalah hal yang wajar, karena ini adalah pengalaman pertama kalinya mereka masuk ke dalam Gedung Balaikota. Ditambah lagi dapat bertemu langsung dengan Walikota Boni Jackson.


BOOOMMM !!!


Di saat mereka duduk di sofa menunggu Berlin selesai berbicara dengan Garwig. Tiba-tiba saja terdengar suara ledakan dari halaman depan Gedung Balaikota. Sontak ledakan tersebut membuat semua aparat yang berjaga terkejut dan langsung melancarkan tembakan ke arah perbukitan Utara.


"Serangan?" gumam Boni kebingungan karena semua aparat berlarian ke sana ke mari untuk melaksanakan tugas mereka.


"Tetap bersama tim penjagaan walikota!" titah Garwig tegas kepada Boni ketika berjalan tergesa-gesa keluar dari ruang pertemuan bersama Berlin.


"Bos, apa yang akan kita lakukan?" tanya Asep kepada Berlin.


"Berlin, kami akan menggandakan barisan pertahanan di depan. Sebenarnya ... aku ingin kau tetap di sini terlebih dahulu ...!" ucap Garwig sebelum dirinya bergegas menuju halaman depan yang di mana sudah terdengar suara baku tembak yang saling bersahutan.


"Sayang sekali kau memintaku untuk begitu, karena sudah pasti aku menolaknya!" sahut Berlin langsung memotong pembacaan Garwig.


.


"Aku juga memiliki keresahan dan kekesalan terhadap kelompok Mafioso br*ngs*k itu. Jadi sebisa mungkin, aku akan membuat mereka semua mencium tanah kematian!" lanjut Berlin melirik tajam dan dingin kepada Garwig, dan lalu berjalan bergegas ke barisan terdepan bersama teman-temannya.


"Kalau begitu, aku akan menjagamu, Berlin!" gumam Garwig mengikuti langkah Berlin dan teman-temannya keluar dari bangunan tersebut dengan persenjataan yang sudah mereka bawa di tangan masing-masing.


...


"Dari balik bukit!" teriak beberapa aparat dengan kepanikan yang sangat tertampak.

__ADS_1


DOR ... DOR ... DOR ...!


Berlin dan teman-temannya berlari dan berlindung di sebuah pos penjagaan yang letaknya tepat di depan halaman Balaikota. Dari kejauhan atas bukit-bukit kecil sebelah Utara dari Gedung Balaikota. Tampak sangat ramai akan orang berpakaian serba hitam dengan persenjataan yang lengkap. Bahkan satu di antara mereka membawa senjata peluncur roket.


"Apa-apaan itu?!" cetus Asep terkejut.


Situasi pada halaman Balaikota sangatlah kacau balau, dan terdapat sebuah pos penjagaan juga yang tampak hancur hangus terbakar akibat ledakan tadi. Baku tembak antara petugas dan komplotan pelaku penyerangan pun pecah.


"Mereka ini benar-benar!" gusar Salva tampak marah. Beberapa temannya tampak sudah sangat ingin melakukan serangan balik, bahkan sangat ingin membunuh para Mafioso itu. Namun Berlin tampak sangat tenang dan sabar, karena dirinya belum mengetahui lokasi titik vital musuh.


"Sabar, kita harus melumpuhkan orang yang membawa senjata peluncur roket itu! Namun, aku curiga di sisi lain akan ada penembak jitu dari mereka," ucap Berlin kepada teman-temannya.


"Pihak kita ada lima penembak jitu yang di posisikan tepat di atas Gedung Balaikota ini. Aku akan menyuruh mereka untuk waspada terhadap penembak jitu musuh," ujar Garwig yang lalu mengambil radio dan memberikan arahannya kepada anggotanya.


Berlin tampak berusaha tenang dan berpikir, sedangkan situasi di sekitarnya sangatlah kacau. Teman-temannya tampak ikut memberikan perlawanan dari balik pos dengan menembaki orang-orang Mafioso itu.


BRuukK!


Di tengah Berlin berpikir. Tanpa diketahui arah tembakannya. Tiba-tiba saja satu aparat ambruk tergeletak tepat di depan matanya dengan darah keluar dari kepala bagian belakang. Sontak itu membuat semuanya panik ketakutan melindungi kepala mereka, karena tembakan barusan.


"Dari mana?!" cetus Galang merunduk melindungi kepalanya.


"Arah jam dua di atas bukit tepat di balik semak-semak antara dua pohon!" teriak Berlin melirik melihat ke arah tersebut. Setelah memberikan informasi tersebut. Berlin langsung menembaki lokasi yang ia maksud diikuti dengan teman-temannya yang menembak lokasi yang sama.


"Cih! Sialan!" gusar Berlin


.


"Aku akan membantai para bedebah itu, sebelum mereka lebih mengacaukan tempat ini!" celetuk Berlin yang lalu bangkit dan secara tiba-tiba berlari keluar dari perlindungannya.


"Tunggu, Berlin!" teriak Kimmy terkejut dengan tindakan yang dilakukan Berlin.


DESING!


Kimmy sangat ingin berlari ke arah Berlin dan menariknya untuk kembali ke perlindungan. Namun niatnya harus terhenti karena Sasha yang menariknya, tepat sebelum beberapa tembakan mengarah Kimmy. Beruntungnya Kimmy tidak terluka akibat beberapa tembakan tersebut, begitu pula dengan Berlin yang berlari ke kaki bukit untuk melakukan penyerangan.


"Dasar, dari dahulu dia memang selalu gegabah!" gusar Asep yang lalu berlari ke balik sebuah dinding dan mengambil perlindungan tepat dinding tersebut.


Tepat di saat yang bersamaan. Personil militer yang ada di lokasi pun bergerak ke arah barat untuk melakukan penyerangan dari sisi buta musuh. Mereka bergerak sesuai dengan perintah Garwig.


"Salva, Aryo, Bobi, Galang. Kalian berempat ikut aku! Sisanya bersama Kimmy dan ikuti arahannya!" teriak Asep kepada teman-temannya.


.


"Ba-baik, tolong jaga Berlin! Tampaknya dia sudah terbawa emosi," sahut Kimmy setuju dengan keputusan yang dibuat oleh Asep.


...


Tim pertama yang dipimpin oleh Asep beserta lima orang temannya langsung bergerak melalui lereng bukit kecil dan mengejar Berlin. Apa yang dikatakan oleh Kimmy sepertinya benar. Berlin terlihat sangat kesal dan marah, sampai membuatnya bertindak tak masuk akal dan gegabah yang bisa saja membuat nyawanya melayang. Meski begitu, Berlin tampak tanpa ragu dan tanpa ampun melumpuhkan orang-orang Mafioso yang berusaha menghalanginya. Walau hanya dengan sebuah pistol, tetapi satu tembakan yang dibuat oleh Berlin menghasilkan satu kepala dan membuat nyawa orang-orang itu melayang.


"Mengerikan, kau memang seperti monster jika tak terkendali dan tak ada yang bisa mengendalikan mu. Aku tahu kau memang hebat, dan aku percaya kau itu sangatlah hebat. Tetapi, setidaknya tetap kendalikan dirimu, bodoh!" batin Asep saat berlari mengejar Berlin yang tampak sudah berada di atas bukit dan berhadapan dengan lebih dari 10 orang musuhnya.


"Apapun yang terjadi, kita harus melindungi Berlin!" tegas Asep kepada empat orang rekannya yang ikut bersamanya.


"Siap!" sahut mereka berempat secara serempak.


***


DOR ... DOR ...!


"Maju kalian semua, keparat!" teriak Berlin berlari mengarah ke 10 orang yang tampak siap melawannya. Ia tampak seperti tidak memiliki ketakutan sama sekali, padahal orang-orang yang dihadapinya menggunakan senjata api yang jauh lebih besar daripada pistol yang ia gunakan. Namun Berlin sangat acuh tak acuh akan hal seperti itu.


"Haaaa ....!!!"


Berlin benar-benar menghajar orang-orang yang menghadangnya tanpa ampun dan rasa kemanusiaan sama sekali. Meski orang-orang itu melawanya dengan saat yang bersamaan, itu tidak membuat Berlin menyerah.


CRAT!


Secara tiba-tiba Berlin mendapatkan pukulan yang sangat keras di bagian perut, dan membuat dirinya memuntahkan sedikit darah. Dirinya terjatuh dan tersudut karena musuh yang dihadapinya terlalu banyak untuk dirinya sendirian.


"Sialan! Mati saja kalian!" teriak Berlin bangkit kembali dan lalu memukul keras orang yang berani-beraninya memukul perutnya.


Berlin benar-benar meluapkan amarahnya yang sudah sedari tadi ia pendam dan tahan-tahan. Dirinya menganggap para Mafioso yang kini sedang menghalanginya sebagai bahan pelampiasan. Hatinya kembali tertutup dan dingin.


"Apa-apaan dia?!"


"Kita harus membunuhnya!"


"Jika dia mati, Ashgard akan hancur!"


"Cepat bunuh dia!"

__ADS_1


Ucap beberapa orang di hadapan Berlin yang mulai tampak gentar walau hanya menghadapi satu orang, yaitu Berlin sendiri.


"Hahahaha!" Berlin secara tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dengan sendirinya. Sudah seperti monster yang senang setelah melakukan pembunuhan terhadap beberapa orang sebelumnya yang menghadang jalannya.


"Jika kalian ingin membunuhku. Maka ... cobalah!" cetus Berlin yang lalu dengan gerakan sangat cepat menembaki serta menyerang dengan beberapa serangan fisik secara acak kepada siapapun di hadapannya.


"Apa?!" pergerakan Berlin yang seakan sudah seperti monster yang sudah sangat haus darah itu sangat membuat mereka semua terkejut. Mereka mencoba untuk melawan Berlin, namun Berlin selalu saja menangkis senjata dan serangan mereka.


"Arrgghhh !!!" Secara kejam dan keji, Berlin menusuk beberapa lawannya menggunakan sebuah belati yang ia rampas dari salah satu lawannya.


"Kalian sudah mengancam orang-orang berhargaku, membuat orang-orang berhargaku terluka. Bahkan kalian berani-beraninya melukai salah satu orang yang ku cintai. Aku tak akan memaafkan kalian semua! Aku akan membunuh kalian semua di sini!" teriak-teriak Berlin sudah seperti monster yang sibuk mencabik-cabik mangsanya. Bahkan beberapa mangsanya belum sepenuhnya tewas, dan menjadikannya bahan mainan yang disiksa sebelum nyawanya melayang.


~


"Hmm ..., Apakah itu kau, Berlin?" gumam Nicoalus melihat dengan santainya kekacauan yang terjadi di barisan pertahanan kelompoknya bagian Timur.


.


"Kau ini dari dahulu memanglah anak yang menarik, ya?" lanjutnya yang lalu tersenyum sinis.


.


~


.


Pukul 20:10 malam.


Rumah Sakit Pusat.


"Ada apa? Apakah ada yang sakit?" tanya Siska kepada Nadia yang berbaring di sebuah ranjangnya.


Di ruang rawat inap, Nadia langsung mendapatkan perawatan secara intensif karena luka-luka dan cedera yang ia dapatkan.


"Tidak," jawab Nadia menggelengkan kepala. Namun wajahnya tampak sangatlah cemas, dan sepertinya Siska tahu apa yang sedang membuat kakaknya itu cemas.


"Kakak tenang saja, dia pasti baik-baik saja. Selama kakak percaya dan yakin akan hal itu!" ucap Siska yang duduk di kursi tepat di samping ranjang milik Nadia, dan menggenggam salah satu tangan milik Nadia.


"Aku sangat berharap hal itu. Aku tak bisa berhenti mengkhawatirkannya, karena dia selalu saja suka melakukan hal-hal yang sangat membahayakan dirinya," ujar Nadia menatap langit-langit kamar dengan tatapan penuh harapan.


Siska mengelus perlahan tangan milik Nadia yang sedang ia pegang, dan sedikit tersenyum tipis memandang kepada kakaknya itu yang selamat dari penyanderaan. Dirinya sempat dibuat hampir jantungan ketika mendapatkan kabar kalau Nadia menjadi tawanan. Namun dirinya sangat lega dan sangat senang ketika Nadia selamat dan dibawa langsung ke rumah sakit. "Lagi-lagi Berlin yang menyelamatkan mu ya, kakak?" batin Siska.


"Netty ada di mana? Bagaimana dengan keadaannya?!" tanya Nadia kembali teringat dengan Netty yang ditembak tepat di depan matanya dan membuat dirinya sangat syok.


"Dia selamat, sekarang dia sedang mendapatkan perawatan khusus. Beruntung sekali di tim Berlin ada orang yang bisa dan handal dalam memberikan pertolongan pertama," jawab Siska dengan tenang dan lalu tersenyum.


"Iya, Kimmy memang bisa diandalkan," sambung Nadia dengan nada sedikit berbisik.


.


"Tidak seperti ku, yang hanya bisa membebani Berlin, meskipun ... aku sudah berusaha," lanjut Nadia namun hanya membatin di dalam hatinya yang sangat dalam.


"Berlin, aku menunggu mu di sini, apapun yang terjadi dan sampai kapanpun aku akan tetap dan selalu menunggumu. Maaf, jika aku menjadi wanita yang tidak bisa diandalkan bagimu," batin Nadia seraya menggenggam erat sebuah kalung emas berbentuk hati yang melingkar di lehernya, dan tanpa ia sadari dirinya meneteskan sedikit air mata.


"Kenapa? Yang sakit di bagian mana?" cetus Siska ketika melihat Nadia meneteskan air matanya.


Nadia tersenyum dan menjawab, "tidak ada, kok. Aku baik-baik saja. Hanya saja, aku masih merasa cemas."


DRAP.


Secara tiba-tiba Siska perlahan memeluk Nadia dan menyandarkan kepalanya tepat di samping bantal yang digunakan oleh Nadia.


"Jujur saja, aku juga mengkhawatirkannya," ucapnya dengan pelan dan sedikit tersipu ketika mengatakannya.


.


"Tenang saja! Bukankah kakak seharusnya sudah tahu, kalau Berlin itu bukanlah pria yang lemah?" lanjutnya yang lalu tersenyum ceria.


Nadia tersenyum senang ketika mendengarnya. Sudah seharusnya dirinya percaya akan hal itu. "Iya!" gumam Nadia mengangguk dan tersenyum.


"Siska, lalu bagaimana dengan tugasmu?" tanya Nadia kembali.


"Tenang saja, Prawira yang memerintahku secara langsung untuk ke sini, sekaligus memastikan kondisimu. Sepertinya dia khawatir denganmu," jawab Siska.


.


"Di sisi lain, aku sangat senang kalau kakak baik-baik saja dan selamat," lanjutnya.


"Kakak, ya? Walau aku sedikit bingung, tetapi entah mengapa aku senang mendengar panggilan itu," batin Nadia tersenyum memikirkan panggilan yang digunakan oleh mantan rekan kerjanya itu kepadanya.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2