
Pukul 00:00 tengah malam.
Di atas dari sebuah meja kerja. Terdapat banyak sekali berkas dokumen penting di sana. Berkas-berkas dokumen tersebut berisikan tentang informasi-informasi penting mengenai kasus-kasus kriminal yang sedang atau pernah terjadi.
Hufftt ...!!!
Pria di balik meja terlihat menghela napas panjang nan berat dan berkata, "sama sekali tidak membantu." Keputusasaan tampak terukir jelas pada wajahnya.
"Sama sekali tidak ada petunjuk?!" gusarnya lalu menidurkan kepalanya di atas meja kerjanya.
Tok ... Tok ...!
"Garwig, apa kau akan ambil lembur?" cetus Prawira berjalan langsung memasuki ruangan.
"Kurasa seperti itu," jawab Garwig menyandarkan dirinya pada kursi miliknya.
"Bisakah ikut denganku sebentar?" tanya Prawira berdiri tepat di depan meja kerja Garwig.
Garwig pun beranjak dari kursinya, dan mengikuti kemana Prawira pergi. Mereka berjalan menuju ke atap dari kantor polisi, dan bersandar pada pagar pinggiran atap tersebut.
Suasana tenangnya malam didukung dengan cerahnya cuaca malam itu, ditambah lagi dinginnya angin malam yang tak henti-hentinya berhembus meski pelan.
"Bagaimana dengan acaranya tadi? Apa kau menyampaikan suratku padanya?" tanya Garwig kepada Prawira yang berdiri tepat di sebelahnya.
"Syukurlah acara tersebut berjalan dengan sangat lancar, dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jawab Prawira. "Untuk suratmu aku sudah menyampaikannya, dan dia dapat memahaminya, meskipun ... dia terlihat sangat menginginkan kau hadir di sana," lanjutnya menjawab pertanyaan kedua.
Garwig tersenyum tipis. Ia menghela napas cukup panjang seraya memandangi bulan yang terlihat sangat bersinar di malam itu.
"Kasus seperti ini adalah kasus yang sangat merepotkan dan melelahkan, meski begitu ... kasus ini harus segera diselesaikan," kata Garwig.
"Apa kau sudah menemukan petujuk soal Nicolaus?" tanya Prawira menoleh kepada Garwig di sampingnya.
"Petunjuk yang ku punya hanyalah petunjuk-petunjuk yang sudah ada sebelumnya, selebihnya ... aku ... sama sekali belum menemukan petujuk lain," jawab Garwig sedikit tertunduk. Wajah lelah dan lesu sangat terukir dan tidak dapat lagi ia sembunyikan.
"Apa perlu ... kita ... menyambangi pulau itu?" tanya Prawira memandang ke arah jalanan sepi di depan kantor polisi.
Garwig menoleh dan menatap tajam rekannya dengan penuh tanya. Menyambangi pulau secara langsung? Apakah perlu menggunakan ide tersebut?
.
~
.
__ADS_1
Esok harinya, pukul 12:00 siang.
Markas Ashgard.
"Jadi ... sama sekali tidak ada informasi terbaru mengenai mereka?" tanya Berlin yang duduk di balik meja kerjanya.
Tiga rekan atau orang kepercayaannya yang hadir di ruangannya yaitu Adam, Kimmy, dan Asep pun memberikan jawaban mereka. Jawabannya adalah, "tidak ada," jawab mereka menggelengkan kepala dan sedikit tertunduk di hadapan Berlin.
"Apa mereka sama sekali tidak menampakkan intensitas kelompok mereka sedikitpun?" tanya Berlin kembali.
"Tidak," jawab Kimmy.
"Mereka seolah menghilang begitu saja, Bos," timpal Asep.
"Aku juga tidak melihat mereka, meskipun aku sudah mencari informasi di wilayah kekuasaan mereka secara langsung," sambung Adam.
Berlin tampak pusing. Beberapa kali ia menghela napas berat, dan sekaligus menyandarkan kepalanya yang kala itu memang membutuhkan sandaran pada kursi miliknya.
Dirinya benar-benar tak habis pikir soal menghilangnya kelompok bernama Clone Nostra itu. Lantaran hanya dalam kurun waktu satu hari. Segala informasi tentang sindikat itu seolah lenyap dan tidak dapat digali lagi.
"Mungkin satu-satunya cara adalah ... kita memanfaatkan dua orang mereka yang menjadi tahanan di Penjara Federal. Kita bisa menggali informasi lebih dalam dari mereka berdua," sela Asep menyampaikan ide yang tiba-tiba saja muncul dan terlintas di kepalanya.
"Mereka berdua ditahan di tahanan khusus, dan berbeda dari tahanan lain. Jadi ... mungkin akan cukup sulit bagiku mendapatkan izin masuk, dan bahkan untuk mengintrogasinya," sahut Berlin tampak bersandar santai pada kursinya.
"Sulit juga untuk kita mendapatkan informasi tentang mereka, jika tidak memanfaatkan dua tahanan itu," timpal Kimmy.
...
"Ngomong-ngomong, soal diriku yang diburu serta dihargai oleh penjahat-penjahat itu. Apakah itu masih berlaku hingga sekarang?" lanjut Berlin bertanya kembali.
Ketiga temannya saling menatap satu sama lain dengan menunjukkan ekspresi bingung untuk menjawab pertanyaan tersebut. Karena memang mereka bertiga tidak begitu menahu soal informasi tentang itu.
"Jujur kami kurang tahu kalau soal itu, Bos," jawab Adam.
"Apa aku harus keluar sendiri untuk mencari tahu?" celetuk Berlin terlihat mulai memikirkan ide-ide gilanya.
BRaaKk ..!!
Secara tiba-tiba Kimmy menggebrak meja milik Berlin ketika ia mendengar Berlin mengatakan hal tersebut. "Apa kau sudah gila?! Pikirkan dirimu yang sekarang! Kau sudah menikah, Berlin. Jadi jangan melakukan hal-hal gila seperti itu! Tolong Berubahlah!" tegas Kimmy ketus.
Ia tampak sangat marah dengan ide gila tersebut. Dan tampaknya tak hanya Kimmy saja yang merah, tetapi kedua rekannya juga terlihat marah dengan menatap tajam Berlin.
"Hehehe ...." Berlin malah tertawa kecil melihat sikap ketiga rekannya ketika ia mencetuskan ide gila tersebut. "Aku hanya bercanda, kok. Tenang saja, aku tidak akan melakukan hal-hal gila seperti itu," ucapnya lalu tersenyum kepada rekan-rekannya yang berdiri di depan mejanya.
__ADS_1
"Dasar kamu ini!" gerutu Kimmy menghela napas berat lalu duduk di sebuah sofa.
"Lalu bagaimana sekarang? Tidak ada kabar sama sekali mengenai keberadaan Clone Nostra. Apa yang akan kau lakukan?" tanya Adam yang berdiri di sana dengan tatapan tajam mengarah Berlin yang duduk di kursinya.
Berlin terdiam sejenak untuk berpikir. Memang acaranya kemarin sudah selesai, dan berjalan dengan sangat lancar tanpa adanya gangguan atau kendala seperti yang diancamkan sebelumnya. Namun meski begitu dirinya tidak boleh bertindak secara gegabah. Karena mengetahui Clone Nostra bukanlah sindikat atau kelompok kriminal yang abal-abal.
Berlin menatap tajam ketiga rekannya yang saat ini ada di depannya, lalu mengatakan, "untuk sementara kita akan tunggu koordinasi dari kepolisian. Sembari menunggu tersebut, aku memiliki rencana untuk mengumpulkan informasi dari kelompok lain."
Kelompok lain? Apa yang dimaksudkan? Itu sedikit membuat ketiga rekannya bingung dengan maksud dari perkataan tersebut. Namun, Adam tampaknya dapat memahami sedikit maksud dari tujuan Berlin berkata demikian.
.
~
.
Pukul 15:00 sore.
Pulau.
"Menikmati waktu senja, huh?" tanya seorang pria dengan pakaian rapi serba putih menghampiri Nico yang tampak duduk bersantai di sebuah bangku pesisir pantai.
Nico hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan tersebut. "Kapan kita akan melakukan aksi?" tanyanya.
"Bisakah kau lebih bersabar? Kau nafsu sekali ya tampaknya?" sahut rekannya lalu terkekeh.
"Aku hanya tidak biasa dengan cara bermain seperti ini," ucap Nico lalu menghela napas.
"Tenang saja, aku memiliki rencana untuk menghadapi Ashgard dan kepolisian. Sisanya, kau hanya perlu bersiap untuk menghadapi Berlin. Bukan begitu apa yang kau mau?" cetus pria itu kepada Nico.
"Ya," jawaban singkat Nico.
Nico tampak sangat mempercayai pria tersebut. Melihat kepercayaan yang cukup tinggi itu, pria itu tersenyum tipis dan sedikit melirik tajam ke arah Nico ketika merasa begitu dipercaya oleh Nico sendiri.
...Selesai...
...*---*...
Terima kasih banyak atas dukungan para pembaca sekalian kepada karya pertama saya. Semua unsur sepanjang cerita saya buat dengan tujuan untuk menghibur, dan semoga kalian terhibur dengan jalan ceritanya.
Maaf jika kalian tidak terhibur dengan ceritanya, tetapi saya akan terus berusaha agar bisa membuat para pembaca sekalian terhibur.
Jika ada kritik dan saran yang ingin disampaikan, maka sangat dipersilakan, karena mungkin juga saya memerlukan kritik dan saran tersebut. βΊοΈ
__ADS_1
Sekali lagi saya berterimakasih atas dukungan para pembaca sekalian, baik pembaca baru atau pembaca lama, saya sangat berterimakasih. π
Sampai ketemu di karya Wira.B.P lainnya.π