Mafioso In Action

Mafioso In Action
Misi Lama Terlaksana #19


__ADS_3

"Pelaku pembegalan ... di laporan terakhir ... sudah ... berhasil kami amankan, dan sekarang sedang ... kami proses di Kantor Polisi Shandy Shell." Suara James yang memberikan laporannya kepada Prawira melalui radio. Namun terdengar sedikit kurang jelas karena jaraknya yang cukup lumayan jauh dari Prawira berada.


Laporan tersebut diterima oleh Prawira dari James, yang dipilihnya menjadi komando dari Tim delapan untuk merespon laporan warga terakhir tentang pembegalan tersebut.


"Oke, diterima ... dan tolong didalami lagi, ya! lakukan tugas kalian!" sahut Prawira kepada James dan timnya melalui radio.


Kemudian Prawira kembali menanyakan ke seluruh anggotanya yang tersebar, tentang status di wilayah penjagaan mereka masing-masing.


"Untuk anggota yang berjaga di Paletown dan sekitarnya, gimana ... ?" lanjut Prawira.


"Sejauh .. ini ... kami berkeliling ... ke seluruh area ... dari.. Paletown, dan ... terpantau .. aman ... Ndan, ganti ... !" jawab Prime dengan suara yang sulit untuk didengar dan mengerti, karena jarak antara Paletown dan Metro sangatlah jauh. Namun Prawira dapat mendengar dan menerima laporan tersebut dengan sangat baik dan jelas.


"Oke, diterima laporannya ...!"


"Untuk masing-masing regu atau tim ... yang berjaga di perbatasan antara tiga kota dan wilayah ini, bagaimana status di sana?" lanjut Prawira di radio.


"Tim enam ... dan empat ... sedang berada di Pos Perbatasan Tongva Freeway ... jalur penghubung ... antara Paletown dan Metro, status ... aman, Ndan ... !"


"Tim ... lima dan.. tujuh ... berada di ... Pos Perbatasan Senora Freeway ... jalur penghubung ... antara Paletown, Shandy Shell, dan Metro, terpantau ... aman, ganti ...!"


"Tim ... dua dan sembilan ... berjaga di Pos Perbatasan Harmony ... jalur pedesaan dan dekat dengan asuransi ... Shandy Shell - Metro, dan terpantau aman ..., Ganti!"


"Oke ... diterima laporannya, tetap berjaga serta saling membagi tugas saja, dan jika ingin beristirahat ... silahkan istirahat di pos masing-masing." Prawira mendengar dan menerima semua laporan yang diberikan oleh anggota-anggotanya, dengan sangat jelas dan dimengerti.


Setelah mendengar dan menerima seluruh laporan dari anggotanya, Prawira merasa lega dan beranggapan kalau pihaknya berhasil mengurangi tindakan kriminal, yang sempat meningkat secara drastis dalam beberapa jam saja di malam ini.


Beberapa pelaku dari tindakan kriminal juga berhasil diamankan, dan dengan ini setidaknya usaha yang dilakukan Prawira untuk melakukan pengamanan membuahkan hasil.


Prawira yang posisinya sedang berada di Rumah Sakit, guna menunggu hasil laboratorium tentang korban dari kasus peperangan sebelumnya. Serta menjenguk kondisi dari ketujuh anggotanya yang tertembak dalam kasus penyanderaan sebelumnya.


"Gimana, Pak ...? lelah kah ... ?" cetus Netty yang tiba-tiba duduk tepat di samping Prawira di ruang tunggu.


"Lumayan lah ... pusing juga saya ... kalau menangani semuanya sendiri," sahut Prawira.


"Pak, saya izin kembali ke Kantor Pusat terlebih dahulu, ya ..." sela Aldi kepada Prawira.


.


"Oh, Silahkan saja ..."


Aldi pun berjalan pergi keluar dari Rumah Sakit menuju ke halaman parkir untuk mengambil mobil miliknya, dan lalu pergi menuju Kantor Polisi Pusat.


...


Prawira masih menunggu hasil dari autopsi yang dilakukan pihak medis, terhadap para korban yang terlibat dalam kasus peperangan antar kelompok itu. Namun di sisi lain, dirinya jauh sedikit merasa lebih tenang dengan apa yang dilakukannya malam ini.


Prawira pun menuju ke ruangan dimana anggotanya dilakukan perawatan. Ia berjalan menuju ruangan tersebut, ditemani oleh Netty yang mengikutinya dari belakang.


"Gimana ... keadaan kalian ...?" tanya Prawira yang duduk disebuah kursi di samping ranjang.

__ADS_1


"Yah ... untungnya ini kami sudah mulai membaik ..." jawab salah satu anggotanya yang terbaring di tempat tidur.


"Syukurlah ... kalau baik-baik saja ..." cetus Netty.


"Masing-masing dari keluarga kalian sudah saya hubungi, sebentar lagi mereka akan ke sini untuk menjenguk kalian ..." lanjut Netty.


"Terus kasus ... yang baru saja gimana ...?"


"Aman ... kalian tidak perlu memikirkan itu dulu, istirahat aja dulu ..." sahut Prawira.


Sebenarnya Prawira bisa saja menyampaikan semua kasus, dan apa yang terjadi, serta meminta saran kepada Walikota yang menjabat sekarang. Namun itu tidak bisa ia lakukan, karena akan terjadinya pemilihan dan pergantian Walikota secara langsung, yang akan dilaksanakan tidak lama lagi.


.


Tetapi beberapa kasus kejahatan berhasil ditangani secara keseluruhan, dan merubah suasana malam kota menjadi aman dan nyaman kembali. Intensitas kehadiran dari mereka yaitu "Mafioso" sudah mulai berkurang di hari yang perlahan mulai menjelang pagi ini.


Seluruh anggota polisi yang berjaga di perbatasan antara ketiga kota juga mulai beristirahat di pos mereka masing-masing, sembari menikmati pergantian hari yang perlahan menuju pagi.


Seluruh warga dari ketiga kota tersebut mulai terbangun dari mimpi buruk mereka, dan berpindah menuju mimpi yang lebih indah, sesuai dengan apa yang masing-masing mereka inginkan.


~


"Carlos, saran ku ... untuk area Metro ... kita pasang lima dan itu ... di lima tempat yang berbeda, gimana ... ?" Ucap seseorang terdekat Carlos yang menghampirinya, serta memberikan saran kepadanya untuk apa yang akan mereka lakukan sesaat lagi.


Seorang saudara dari Carlos pun tiba-tiba berjalan menghampirinya, dengan mengatakan, "Boleh juga seperti itu ... Aku setuju, dan untuk Shandy Shell sama Paletown ... cukup satu atau dua saja ..."


Ada beberapa orang yang ia percayakan untuk memimpin masing-masing regu, yang akan menyebar ke beberapa tempat yang sangat penting dari Shandy Shell, Paletown, dan Kota Metro yang terlihat sangat indah di malam ini. Dua orang yang berdampingan tepat di sebelah Carlos pun membentangkan sebuah peta, dari ketiga kota atau wilayah tersebut.


"Regu yang pertama ... yang terdiri dari 10 orang, target kalian adalah ... dua tempat yang berada di Shandy Shell, yaitu Pos Perbatasan Harmony, dan ... Kantor Polisi Shandy Shell ...!"


"Siap, Bos!" sahut Niko orang yang ditunjuk oleh Carlos untuk memimpin regu pertama.


"Regu kedua dengan jumlah yang sama ... yaitu 10 orang, dengan tugas yang sama juga ... namun target kalian adalah ... Pos Polisi, dan Kantor Polisi Paletown ...!"


"Tenang ... semua akan mudah di tangani ..." sahut Boy orang kedua yang ditunjuk oleh Carlos untuk memimpin regu kedua.


"Untuk regu ketiga akan ada 35 orang ... termasuk saya sendiri yang akan ikut, dan target kita adalah lima tempat yang berbeda ..."


"Woah ... seru nih ... "


"Ayo ... perang, perang, perang ... !"


"Tempat yang akan kita jadikan target untuk regu ketiga adalah ... Pos Polisi yang terletak di sebelah tenggara dari Rumah Sakit Kota, Kantor Polisi Pusat, Kantor Satlantas, Pos Polisi di pintu masuk Balaikota, dan yang terakhir ... Lounge Caffe."


"Kita sudah merencakan ini semua dalam beberapa waktu yang sudah cukup lama, dan sekarang waktunya!" lanjut Carlos dengan sangat lantang dan jelas, yang lalu diikuti dengan sorak-sorai dari seluruh anak buah yang berbaris di depannya.


"Yoi ... !"


"Saatnya mereka tahu kita siapa ...!"

__ADS_1


"Sudah seharusnya mereka tahu ...!"


"Dengan ini ... aku anggap kalian semua paham, sekian! saatnya berkemas ...!"


...


Carlos dan seluruh anak buahnya pun mulai berkemas, mempersiapkan seluruh persenjataan yang akan mereka bawa dan gunakan. Semua kendaraan yang akan mereka pakai pun juga sudah siap digunakan, lebih dari 15 kendaraan yang akan mereka gunakan sudah siap dan berada di halaman parkir.


Waktu menunjukkan pukul 02:25 pagi, dan mereka pun mulai berangkat menuju target masing-masing. Regu kedua yang dipimpin oleh Boy Matrix berangkat terlebih dahulu, karena tempatnya yang cukup jauh yaitu Paletown.


Regu kedua sudah berangkat dan meninggalkan markas besar mereka, untuk menuju ke sebuah kota kecil yang damai yaitu Paletown. Regu pertama yang dipimpin oleh Niko La Matrix pun menyusul, menuju ke sebuah wilayah yang terkenal dengan danaunya yang sangat begitu indah, yaitu Shandy Shell.


Kedua regu tersebut telah berangkat meninggalkan wilayah teritorial mereka untuk menuju ke target masing-masing, sesuai dengan rencana dan strategi yang sudah mereka susun.


Regu ketiga pun juga sudah siap dan berangkat menuju Kota Metro yang sangat indah dan damai, dengan angin malam yang berhembus kencang meliputi udara kota.


Carlos sendiri yang memilih untuk memimpin regu ketiga dalam menjalankan misi ini, ada total 35 orang yang ada dalam bawah perintahnya.


"Harus ada korban 'kah, Bos?" celetuk salah satu anak buahnya melalui radio.


"Tidak harus, tapi jika tindakan kita ini menghasilkan korban, ya ... anggap saja sebagai bonus, dan tentunya akan ada bonus juga buat kalian semua ..." sahut Carlos di radio.


Beberapa anak buahnya terdengar senang bercampur dengan sedikit canda tawa mereka di radio.


"Siap ... laksanakan!"


"Ah ... mudah itu ..."


"Malam ini ... seluruh wilayah milik kita ...!"


"Saatnya kita membantai 'kah ... malam ini?"


"Terserah kalian juga sih, yang penting ... saatnya bersenang-senang ..." celetuk Carlos kepada seluruh anak buahnya melalui radio.


...


Mereka bergerak dan bergegas bagaikan bayangan di balik kegelapan malam, dengan suara mesin yang senyap bahkan seperti tidak bersuara, dan sulit untuk dilihat atau diketahui.


Tugas Carlos di sini adalah, hanya melaksanakan atau melakukan rencana yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari oleh saudara-saudaranya yaitu "Matrix". Tapi di sisi lain, Carlos juga sangat menginginkan semua rencana ini.


Peran Carlos sangat penting terhadap perkembangan "Mafioso" sendiri, dan sesuai dengan apa yang para petinggi "Matrix" perkirakan. Namun seharusnya Carlos tidak sendiri untuk berada di kursi kepemimpinannya, karena ada seseorang yang berperan untuk mendampinginya dalam kursi itu, dan seseorang adalah saudaranya sendiri.


Tetapi pada saat hari perpindahan Carlos dan saudaranya dari keluarga terdahulunya menuju "Matrix" atau "Mafioso" yang sekarang. Telah terjadi sebuah tragedi pada malam harinya sebelum hari perpindahan itu tiba. Tragedi tersebut adalah penculikan terhadap saudaranya, yang sangat menggemparkan serta membingungkan beberapa pihak.


Carlos tidak begitu mengerti soal kasus penculikan itu, yang hanya ia mengerti adalah saudaranya telah mengkhianatinya, bahkan menurutnya saudaranya juga telah mengkhianati kedua keluarga sekaligus. Dirinya sangat kecewa kepada saudara sendiri, karena beberapa hal yang telah terjadi di masa lalu.


Carlos juga menjadi sangat dendam kepada saudaranya sendiri, karena telah merebut seseorang yang menurutnya sangat berharga di hidupnya, dan itu tanpa sepengetahuan dirinya sendiri. Hal itu jadi membuatnya sangat merasa sakit namun tak berdarah, dan sejak saat itulah dirinya tidak pernah bertemu lagi dengan saudaranya sendiri. Hanya saja ia cuma mendengar kabar burung atau desas-desus tentang saudarannya, dari beberapa anak buah dan informan miliknya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2