
Pukul 23:10 malam.
Antara Berlin dan Nicolaus.
SLing ...!
Tiingg ...!
Kedua pedang kembar yang tajam namun tidak cukup panjang itu saling beradu. Masing-masing pedang dikendalikan oleh Berlin dan Nicolaus.
"Apa kau lupa cara menggunakannya, ha?!" seru Nicolaus ketika menyerang Berlin dengan mengayunkan pedangnya. Namun Berlin terlihat begitu kewalahan dan cenderung hanya bertahan dibandingkan menyerang balik.
Sesaat setelah kedua pedang tajam itu saling beradu. Berlin langsung mundur untuk memberikan jarak antara dirinya dan Nicolaus. Dirinya perlu sedikit waktu untuk membiasakan tangannya menggenggam sebuah pedang tajam tersebut.
"Ada apa, Berlin? Apa kau tidak tahu cara menggunakan pedang?" tanya Nicolaus dengan nada yang sangat merendahkan Berlin di hadapannya.
Berlin hanya diam dengan kedua tangan terus menggenggam erat pedang tersebut. Dirinya cukup terpancing emosi ketika mendengar pertanyaan Nicolaus baru saja.
Nicolaus tersenyum senang dengan sendirinya, "sudah lama sekali aku ingin mengujimu, Berlin. Sejak duelmu dengan Carlos 12 tahun yang lalu," cetusnya yang lalu bergerak maju ke arah Berlin dengan menghunuskan pedangnya.
Berlin tertegun mendengar apa yang dikatakan oleh Nicolaus. Setelah mendengar kata-kata tersebut, dirinya merasa mengingat suatu hal yang hilang dari memori ingatannya. Namun di sisi lain, dirinya harus kembali fokus karena Nicolaus bergerak cepat untuk menyerangnya.
TIINGG ...!
Berlin kembali menangkis pedang yang diayunkan oleh Nicolaus ke arahnya. "Aku akan menghadapimu di sini, sekaligus menyelesaikan mu secepatnya!" ucap Berlin menatap tajam Nicolaus ketika pedangnya menahan pedang milik Nicoalus.
Kini Berlin terlihat sangat serius untuk melawan Nicolaus, bahkan mungkin ada sedikit nafsu untuk membunuh atau menghabisi Nicolaus dengan usahanya sendiri. Walau dirinya tidak begitu ahli dalam menggunakan pedang. Namun dirinya memiliki pengetahuan dasar yang ia pelajari dalam menggunakan pedang, yang bisa ia manfaatkan.
Nicolaus menyeringai ketika melihat semangat Berlin yang kini sangat serius melawannya. Ia tampak begitu antusias untuk menghadapi Berlin, dan mungkin dirinya sudah mengincar ini sedari awal. "Aku belum pernah melihatmu menggunakan pedang asli. Maka dari itu, mari kita coba!" ucapnya.
...***...
Kilas balik: 12 tahun yang lalu.
Berlin Gates Axel, usia 10 tahun.
"Kalau kau tidak menyerang, aku akan menyerang mu terlebih dahulu!" Seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun bernama Carlos itu berdiri di hadapan Berlin dengan sebuah replika pedang kayu.
"Silakan," sahut Berlin dengan santainya. Dirinya menggenggam erat gagang pedangnya dan bersiap menerima serangan yang akan diberikan oleh saudaranya.
"Mulai!" titah Prawira yang berdiri tepat di antara mereka berdua.
Di antara mereka berdua, terdapat Prawira yang tampaknya akan menjadi wasit dari duel tersebut. Duel tersebut dilakukan di dalam sebuah ruangan khusus berlatih, dan disaksikan oleh cukup banyak orang dewasa dari Keluarga Gates, dan juga di antaranya yaitu oleh orang-orang dari Keluarga Matrix.
Sepertinya duel yang dilakukan bukanlah hanya sekedar latihan biasa.
__ADS_1
"Aku tidak akan kalah darimu seperti sebelumnya!" teriak Carlos dengan antusiasnya berlari dengan menghunuskan pedangnya ke arah Berlin yang hanya berdiri di sana.
TAK ... TAK ... TAK ...!
Kedua pedang kayu itupun saling beradu satu sama lain. Carlos tampak sangat unggul dengan terus-terusan menyerang. Sedangkan Berlin tampak sangat tenang dan bertahan dari semua serangan itu.
"Hyaaa ...!" dengan ambisi yang begitu menggebu-gebu. Carlos mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah memukul Berlin dengan sangat cepat. Namun lagi-lagi Berlin menahannya.
"Celah!" Di saat yang bersamaan, Berlin tampaknya menemukan celah yang cukup untuk menyerang Carlos dari belakang.
SET!
Di kala pedang kayunya menahan pedang kayu milik Carlos di atas. Berlin dengan sangat cepat langsung bergerak ke samping dan ke belakang Carlos melalui bawah.
"Apa?!" Carlos sangat terkejut dengan gerakan tersebut, karena tiba-tiba saja Berlin langsung berpindah ke belakangnya dengan sangat cepat.
KLootakk ...!
Pedang kayu yang dipegang oleh Carlos pun jatuh, karena lehernya yang sudah tertodong oleh pedang kayu milik Berlin. Berlin menatapnya dan tersenyum kepadanya.
"Selesai!" Prawira pun menghampiri serta melerai mereka berdua.
Para orang dewasa dari kedua pihak keluarga sangat tercengang dan dibuat bertiup kagum oleh Berlin. Lantaran anak 10 tahun sepertinya sudah bisa menggunakan gerakan yang bisa dibilang cukup sulit untuk orang dewasa. Bahkan dia melakukannya dengan sangat cepat.
"Maaf kalau aku tidak serius," ucap Berlin mengulurkan tangannya dengan maksud mengajak Carlos bersalaman. Namun niatnya itu ditolak mentah-mentah oleh Carlos yang tampak kesal. Saudara laki-lakinya itu langsung pergi begitu saja keluar dari ruang latihan.
"Iya, tenang saja," sahut Prawira.
...***...
Berlin Gates Axel, 12 tahun kemudian.
SLingg ...!
"Sudah ku duga kau memang memiliki bakat dan potensi yang sangat tinggi, Berlin!" cetus Nicolaus seraya terus menyerang Berlin dengan mengayunkan pedangnya.
"Jangan bandingkan aku dengan saudaraku itu!" sahut Berlin yang juga mengayunkan pedang tajamnya dengan sangat cepat ke arah Nicolaus.
Tingg ...!
"Andai saja aku membawamu ke Keluarga Matrix. Mungkin posisiku sekarang sangat menguntungkan," celetuk Nicolaus seraya menahan serangan Berlin.
"Sayang sekali, ya? Kau melepaskan kesempatan itu," celetuk Berlin dengan nada yang cukup tengil. Dirinya kembali sedikit mundur untuk memberi jarak.
Nicolaus tiba-tiba saja terkekeh dengan sendirinya. Dia tampak terus dekat-dekat dengan mobil sedan yang terparkir di belakangnya. "Baiklah, aku akan menguji refleks mu itu!" cetus Nicolaus yang lalu menekan sebuah tombol hitam di pintu mobilnya.
__ADS_1
Berlin bingung dengan apa yang dilakukannya, namun sepertinya itu akan berbahaya baginya. Tanpa pikir panjang dirinya langsung berlari ke arah Nicolaus dengan menghunuskan pedangnya dengan maksud untuk segera mengakhiri semuanya. Tetapi, sepertinya tidak akan semudah itu.
WUUUSSHH ....!
"Asap?!" Berlin terkejut dan spontan menutup mulut dan hidungnya.
Asap berwarna putih tiba-tiba saja keluar dari bawa mobil sedan milik Nicolaus. Asap itu membuat Berlin menghentikan langkahnya, lantaran dirinya tidak dapat melihat Nicolaus dengan jelas karena tertutup asap yang cukup tebal.
"Sepertinya tidak beracun," gumam Berlin sedikit menutup mulut dan hidungnya. Kini dirinya terjebak di dalam gumpalan asap yang cukup tebal itu.
"Hahahaha ...!" Nicolaus tiba-tiba tertawa terbahak-bahak ketika melihat Berlin cukup kebingungan. "Tenang saja, asap ini tidaklah beracun, Berlin," ucapnya, namun tidak diketahui sumber dari suara Nicolaus.
Berlin tampak berusaha untuk tenang dengan terus memegang erat pedangnya. Dirinya tenang dengan terus fokus ke suara-suara di sekitarnya. Namun sepertinya akan cukup sulit untuk menebak dari manakah suara Nicolaus berada, karena suara-suara dari kekacauan yang masih terjadi seperti tembakan masih saja terdengar.
"Aku tidak langsung membunuhmu, kok. Tenang saja," ucap Nicolaus kembali dari balik tabir asap.
Berlin tidak begitu menghiraukan semua perkataan Nicolaus. Dirinya tampak fokus kepada indra pendengarannya, meskipun suara-suara tembakan dari kekacauan di sekitar tetap saja masih terdengar.
Tap ... Tap ... Tap ...!
"Aku mendengarnya," batin Berlin mendengar suara langkah kaki yang terdengar berlari mengelilinginya.
"Berlin, aku datang!" seru Nicolaus yang lalu langsung menghujani Berlin dengan beberapa jarum yang tajam.
Mengetahui hal tersebut tentu membuat Berlin sangat terkejut. Dirinya pun berusaha berlari menghindari seraya menangkis beberapa jarum yang terbang mengarah ke arahnya. Jarum-jarum itu melesat bagaikan peluru walaupun kecepatan tak lebih cepat seperti peluru.
Tiing .. Tiing ... Tiing ...!
Suara-suara benturan besi terdengar berkali-kali dari dalam tabir asap itu. Entah apa yang terjadi di dalam sana, tetapi yang pasti Berlin sedang mendapatkan serangan bertubi-tubi di dalam sana.
"Keluar kau, pengecut!" gusar Berlin benar-benar kesal dan marah dengan permainan ini. Meski dirinya terbawa emosi, dirinya tetap berusaha tenang untuk membaca situasi.
"Sini kau!" Berlin melihat bayangan berwarna hitam di belakangnya. Dirinya pun menebaskan pedangnya ke arah bayangan tersebut.
"Wow, hampir saja ...!" cetus Nicolaus.
***
Di sisi lain Asep berhasil menemui langsung Garwig beserta personel gabungan yang sepertinya berhasil menangani situasi. Ketika bertemu dengan Garwig, ia langsung melaporkan semua situasi di lokasi Berlin kepadanya.
"Apa Berlin di dalam asap itu?" tanya Garwig melihat asap tebal yang tak jauh di depannya.
"Ya! Dia sedang berhadapan dengan Nicolaus, dan dia meminta kami untuk tidak ikut campur dengan urusannya," jawab Asep.
"Baik, terima kasih sudah memberitahu," sahut Garwig yang lalu berjalan tenang menjauhi Asep dan mengarah ke Prime. Dirinya tampak memerintahkan sesuatu kepada Prime.
__ADS_1
.
Bersambung.