
Pukul 08:00 pagi hari.
Kediaman Berlin.
Setelah Berlin selesai sarapan bersama Nadia. Tiba-tiba terdapat pesan masuk pada ponselnya dari salah satu temannya.
"Kenapa tuh ?" cetus Nadia sembari mencuci piring dan beberapa alat makan lainnya.
"Sepertinya ... ada sedikit masalah," jawab Berlin beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati Nadia yang lalu membantunya mencuci piring.
"Bisakah ... kamu ikut denganku hari ini ?" lanjut Berlin menoleh dan terlihat sedikit cemas.
"Tumben, kenapa ?" sahut Nadia menghentikan cuciannya sebentar.
"Entahlah, tiba-tiba perasaanku tidak enak aja," jawab Berlin sedikit tertunduk dan menggaruk tengkuknya.
"Baiklah," sahut Nadia menoleh dan lalu tersenyum kepada Berlin.
"Kalau begitu, aku ganti baju dahulu, ya," ucap Nadia yang lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Oke," jawab Berlin.
.
10 menit kemudian.
.
"Sudah semua ?" tanya Berlin kepada Nadia yang terlihat sudah berganti pakaian dengan dress santai selutut berwarna hitam.
Nadia mengangguk dan menjawab, "sudah."
Berlin pun berjalan keluar rumah bersama Nadia dan lalu mengunci pintu rumahnya. Ia juga terlihat mengaktifkan sistem keamanan tambahan untuk gerbang rumahnya.
"Itu buat apa ?" tanya Nadia dengan polosnya kepada Berlin yang menekan sebuah tombol pada ponselnya.
"Cuma keamanan rumah," jawab Berlin.
.
"Sudahlah, yuk !" lanjut Berlin membukakan pintu mobilnya untuk Nadia.
Setelah semuanya siap. Berlin langsung saja berangkat menuju ke tempat di mana teman-temannya sudah menunggu di sana. Perasaannya benar-benar tidak enak pagi ini, dan pikirannya sedikit sulit untuk diajak fokus.
"Kamu baik-baik saja, 'kan ?" tanya Nadia ditengah perjalanan kepada Berlin yang sedang menyetir.
"Tentu," jawaban singkat Berlin.
"Jangan terlalu memaksakan diri, ya ?" lanjut Nadia menatap lelakinya itu.
Berlin sedikit menoleh dan menjawab, "iya, sayang," jawabnya memandang Nadia dan lalu kembali ke arah jalanan di depan.
...
Sepanjang perjalanan, hatinya tiba-tiba saja berdebar tak karuan. Perasaan Berlin benar-benar gelisah tanpa sebab, dan itu membuat dirinya merasa cukup bingung.
"Perasaan apa ini ?" batinnya.
Namun kegelisahan yang dirasakan itu dapat dengan mudah mereda setiap kali dirinya melihat paras cantik milik kekasihnya yang hampir selalu tampak berseri-seri.
"Kenapa kamu selalu melihatku ?" tanya Nadia kepada Berlin di samping dengan tertunduk kikuk.
"Emang nggak boleh, ya ?" sahut Berlin sembari terus menyetir dengan pandangan sedikit melirik kepada Nadia.
"Bo-boleh aja, sih ...," jawab Nadia masih menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang mulai merona merah.
.
"Hanya saja, aku jadi ... malu ... kalau kamu melihatku terus-menerus begitu," lanjutnya dengan sedikit tergagap.
"Hehehe," Berlin tertawa kecil dan mengatakan, "ya sudah, deh ...."
Nadia tiba-tiba mengangkat kembali kepalanya dan menyela, "tetapi aku nggak melarang, kok !"
"Iya, aku tahu," sahut Berlin dengan satu tangan mengelus perlahan kepala milik Nadia. Perlakuan Berlin itu berhasil membuat Nadia kembali ciut dengan pipi yang tampak merona seperti terlalu banyak memakai blush-on.
...
Di tengah perjalanan, Berlin baru ingat kalau dirinya belum bergabung dengan teman-temannya pada radio miliknya.
"Kamu mau coba radio penjahat ?" celetuk Berlin kepada Nadia di sampingnya.
"Huh ?" gumam Nadia bingung.
"Coba kamu tekan radionya, dan ngomong sesuatu di situ !" ucap Berlin memberikan radio kecil miliknya kepada Nadia.
"Ngomong apa ?" sahut Nadia.
"Apa aja, terserah kamu," sahut Berlin.
"Baiklah," jawab Nadia.
Nadia sendiri memiliki rasa penasaran pada radio yang biasa digunakan oleh Berlin. Karena dirinya ingin mengetahui perbedaan antara radio polisi yang selalu ditekankan untuk formal, dengan radio yang sekarang ia pegang.
Sembari menekan tombol bicara pada radio yang ia pegang, Nadia pun mengucap, "um ..., cek-cek radio ?" ucap Nadia dengan nada polosnya yang terdengar sangat halus dan lembut.
Tiba-tiba langsung terdengar jawaban dari semua teman-teman Berlin yang suaranya hampir bertabrakan di radio.
"Eh, siapa tuh ?!" suara Faris.
__ADS_1
"Nadia, ya ?" suara Sasha.
"Halo, Nadia !" suara Kimmy dan yang lainnya menyambut Nadia yang bergabung.
Nadia benar-benar terkejut dengan sambutan yang tiba-tiba diberikan oleh teman-temannya. Walau itu sedikit membuat telinganya pengang.
"Ya ampun, berisiknya," cetus Nadia setelah rasa penasarannya terjawab.
"Hahaha," Berlin tertawa terbahak-bahak melihat Nadia yang terlihat kaget dengan sikap dari teman-temannya.
"Hehehe," Nadia terkekeh. "Aku kira bakalan kayak radio polisi," ucapnya.
"Jelas beda dong," sahut Berlin.
"Halo, Nadia sayang !" celetuk Aryo tiba-tiba melalui radio.
Berlin mengambil radio tersebut dari tangan Nadia, dan menanggapi ucapan Aryo. "Ngomong apa tadi ? Maaf, suaramu agak putus-putus," sahutnya pada radio.
"Hahaha, mampus kau, Aryo !" cetus Salva dan yang lainnya, dan lalu menertawakan Aryo yang langsung terdiam mendengar suara Berlin.
.
"Habis kau sama bos, sih," sambung Galang.
"Ng-nggak, nggak ada, Bos. Cuma bercanda tadi, kok," ucap Aryo dengan nada yang tiba-tiba sangat ciut.
"Hahaha," Nadia tiba-tiba tertawa terbahak-bahak setelah mendengarkan apa yang barusan terjadi. "Ternyata mereka begitu takut kepadamu, ya ?" ujar Nadia dengan satu telapak tangan sembari menutupi mulutnya karena tertawa.
"Ya, begitulah," sahut Berlin.
.
"Kalian sudah di tempat, 'kan ?" lanjut Berlin bertanya kepada teman-temannya melalui radio.
"Yup !" jawab Kimmy.
"Kami tinggal menunggumu, Bos !" sambung Kina.
.
~
.
Pukul 08:15 pagi hari.
Halaman Utama Markas Matrix(Mafioso).
Tampak sangat banyak anak buah milik Nicolaus yang tengah menjalani pelatihan yang cukup keras. Ide pelatihan itu tercetus begitu saja oleh Nicolaus demi keberhasilan rencana yang akan ia laksanakan dalam waktu dekat.
Rencana utama yang dibuat oleh Nicoalus sebenarnya rencana yang sudah sangat lama tersimpan. Hanya saja rencana tersebut belum sempat terlaksana, karena Nicolaus menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakannya.
"Bos, nanti aku akan mengambil kembali beberapa anak buah ku, ya !" ujar Carlos berjalan di samping Nicolaus yang tengah berjalan mengelilingi halaman sembari memantau pelatihan.
.
"Misi kemarin malam, bagaimana ?" lanjutnya bertanya.
"Sasaran lumayan licin, dan itu sangat menyulitkan !" jawab Carlos dengan terlihat masih menyimpan kekesalannya terhadap misi tersebut.
"Ku harap kau tidak gagal dalam menangani Berlin nantinya," ucap Nicolaus dengan sikapnya yang cukup dingin.
Carlos langsung menyahut, "tentu aku tidak akan gagal !"
.
"Apapun yang terjadi, aku pasti menghabisinya dengan tanganku sendiri !" lanjutnya sembari mengepalkan satu tangannya, dan menunjukkan kalau ia menyimpan dendam tersendiri terhadap Berlin.
"Kau yakin bisa menghabisinya ?" sahut Nicolaus dengan nada meremehkan.
.
"Dia adalah saudaramu, kau tahu itu, 'kan ?" lanjutnya.
"Persetan dengan persaudaraan !" sanggah Carlos yang terlihat sangat marah ketika dirinya mendengar apa yang dikatakan oleh Nicolau kepadanya.
"Baiklah, aku nantikan kabar gembiranya," ucap Nicolaus dengan tenang.
Nicolaus sendiri sangat mengetahui hubungan persaudaraan yang dimiliki oleh Berlin dan Carlos. Ia bahkan juga tahu apa penyebab utama yang membuat Carlos sangat begitu menyimpan dendam kepada Berlin. Namun hal itu ia biarkan, karena menurutnya itu akan menguntungkan dirinya.
.
~
.
Beberapa jam setelahnya, dan di tempat yang berbeda. Berlin berkumpul dengan teman-temannya di Villa Gates miliknya untuk membicarakan apa yang terjadi kepada Asep tadi pagi.
Berlin sendiri masih belum tahu soal apa yang dialami oleh Asep. Dirinya hanya mendapatkan kabar tidak mengenakkan itu dari salah satu orang kepercayaannya, yaitu Kimmy. Maka dari itu Berlin berkumpul dengan teman-temannya, dan ingin mendengarkan kronologinya secara langsung dari Asep.
"Aku tidak tahu apa tujuan mereka mengejarku, tetapi yang jelas mereka menembaki ku beberapa kali," jelas Asep kepada Berlin yang duduk di sofa ruang tengah.
"Kau tidak terluka, 'kan ?" tanya Berlin.
"Aku baik-baik saja, untungnya kemampuan menembak mereka cukup amatir," jawab Asep dengan santainya.
Asep menceritakan secara detil kronologi dari kejadian yang menimpa dirinya dini hari ini. Teman-temannya, termasuk Berlin menyimaknya dengan saksama.
"Hmm ...," gumam Berlin setelah mendengarkan semuanya dari Asep langsung. Nadia yang duduk di sampingnya terlihat hanya diam saja menyimak pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Kasus-kasus yang dibuat oleh mereka sangatlah absrak, seperti ... tidak memiliki tujuan yang pasti di balik semua kasus itu," cetus Kimmy bersandar di sofa sebelah Berlin.
Faris mengangguk sembari menopang dagunya dengan satu tangan, dan lalu menambahkan, "dari mulai penyanderaan ... sampai pengeboman yang terbaru, tidak terlihat tujuan mereka apa di balik perbuatan mereka."
"Nggak mungkin 'kan ... mereka melakukan itu semua dengan tujuan hanya memuaskan diri mereka ?!" sambung Aryo dengan nada kesal.
.
"Tetapi ... yang namanya penjahat, hal itu masih mungkin, Aryo," sahut Kina.
"Kalau Carlos hanya mengincar kita, tidak mungkin dia sampai membuat kekacauan satu kota, 'kan ?" cetus Salva yang duduk di sofa hadapan Berlin.
"Tidak, tidak, sepertinya ada seseorang selain Carlos, dan orang ini mungkin memiliki kesetaraan dengan Carlos dalam kelompok mereka," Asep langsung menyanggah perkataan Salva.
Asep langsung memberikan sebuah lampiran catatannya ke atas meja dan dilihat oleh semua temannya di ruangan itu. Dalam catatan itu terdapat satu nama selain nama lengkap milik Carlos.
"Nicolaus Matrix," gumam Berlin dan terlihat berpikir.
"Orang lama," cetus Galang.
"Iya, nama yang tidak asing," sahut Sasha.
Teman-temannya terlihat tidak begitu terkejut dengan nama yang didapatkan oleh Asep, karena nama itu sangat tidak asing bagi mereka.
Nadia tiba-tiba sedikit menarik baju pada lengan milik Berlin dan mengatakan, "Berlin, aku dengar dahulu ada kasus penculikan yang melibatkan nama itu sebagai dalangnya."
"Kapan kasusnya terjadi ?" sahut Berlin menoleh kepada Nadia di sampingnya.
"Sudah sangat lama sekali, kasus itu terjadi pada saat aku masih akademi," jawab Nadia dengan sedikit tertunduk mengingat-ingat.
.
"Dan dia mengatasnamakan sebuah keluarga bernama Matrix," lanjutnya.
Mendengar hal tersebut, Berlin merasa ada yang mengganjal pada pikirannya. Surat yang datang tiba-tiba dan ditemukan oleh Nadia beberapa hari yang lalu juga mengatasnamakan nama tersebut, Matrix.
Setelah mengingat kembali di Kediaman Gates beberapa waktu yang lalu. Berlin menemukan sebuah informasi yang menurutnya penting, yaitu informasi tentang persaingan antar dua keluarga besar di kota ini yang terjadi sudah sangat lama.
Berlin sendiri sangat tidak tahu-menahu soal masalah dari kedua keluarga tersebut. Tetapi yang jelas, salah satu dari kedua keluarga itu adalah keluarganya sendiri, yaitu Gates.
"Kamu baik-baik saja, 'kan ?" cetus Nadia kepada Berlin yang terlihat pusing memikirkan banyak hal.
"Mau siapapun dia, namun dia sudah menyenggol dan membuat masalah kepada kita !" cetus Bobi dengan nada yang terdengar cukup marah atau kesal.
"Ya ! Mau sebanyak apapun mereka, kita akan tujukkan kalau mereka berurusan dengan orang yang salah !" sambung Kent.
"Kita sudah mengetahui lokasi yang diduga markas mereka, lalu ... apa yang akan kita lakukan ?" tanya Vhalen kepada Berlin sembari berdiri di depan pintu taman belakang.
"Kapan tanggal main kita, Berlin ?" sambung Rony dengan nada yang terdengar cukup dingin sembari menatap tajam kepada Berlin.
"Kau sudah mendeklarasikannya, bukan ?" lanjut Kent.
Berlin dapat melihat semangat dari teman-temannya untuk memerangi kelompok hitam atau Mafioso itu. Namun masih ada keraguan dalam dirinya, dan masih ada beberapa hal yang belum i mengerti.
"Baiklah, aku akan secepat mungkin memikirkannya !" jawab Berlin di hadapan teman-temannya.
.
"Tetapi aku ingin kalian tetap mengingat, kalau lawan kali ini cukup berbahaya," lanjutnya.
Teman-temannya terlihat tersenyum tipis kepada Berlin. Asep tiba-tiba mengucap, "seberapapun bahayanya mereka, itu kita yang menentukannya sendiri."
.
"Kemampuan menembak mereka aja masih banyak yang harus direvisi, hahaha," lanjutnya yang lalu tertawa.
Beberapa temannya ikut terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Asep, dan itu memang kenyataannya.
"Mungkin mereka hanya iri dengan mobilmu, makanya yang ditembak mobilmu," celetuk Aryo kepada Asep sembari menahan tawanya.
Berlin ikut tertawa kecil dan tersenyum melihat kelakuan dari teman-temannya itu. "Baik, baik, aku percaya pada kalian semua," ucapnya dengan menujuk semua teman-temannya.a
"Gitu dong !" seru Faris.
"Sudah seharusnya begitu !" sahut Asep.
"Dan kami percaya kepadamu sebagai pemimpin kami, Berlin," sambung Kimmy dan lalu tersenyum manis dan tampak sangat akrab kepada Berlin yang berada di sampingnya.
DEG.
Sikap yang ditunjukkan Kimmy itu. Entah mengapa, sikap itu sangat memukul hati Nadia yang secara langsung melihatnya.
Semua pembicaraan Berlin dan teman-temannya. Nadia menyimaknya. Dirinya hanya bisa diam dan mendengarkan semua pembicaraan di sekelilingnya.
Saat mendengar semua pembicaraan itu. Nadia tidak mendapati rasa gentar atau takut pada diri dari masing-masing temannya. Seolah mereka semua sudah terbiasa dengan masalah-masalah seperti ini, yang bahkan semua masalah itu sudah sampai mengancam nyawa.
Namun Nadia memaklumi hal tersebut, karena mungkin mereka sudah terbiasa dengan masalah-masalah seperti ini. Seperti Berlin yang terlihat tidak ada rasa takut ketika pertama kali dihadapkan dengan semua masalah ini. Justru Berlin terlihat cukup kesal dan marah ketika pertama kali tahu kalau masalah-masalah ini juga melibatkan Nadia sendiri.
Namun dalam semua pembicaraan ini. Terlihat ada sedikit keraguan yang muncul pada diri lelakinya itu, dan Nadia dapat melihat serta merasakannya. Dirinya ingin membantu untuk menghilangkan rasa ragu tersebut, tetapi dirnya tidak tahu harus melakukan apa.
"Apa yang membuatmu ragu, Berlin ?" batin Nadia sembari terus melihat Berlin di sampingnya yang terlihat banyak berpikir.
.
"Bahkan sampai detik ini aku masih bingung tidak bisa berbuat apa-apa untuknya ?!" batinnya kembali sembari tertunduk mengepalkan kedua tangannya yang tengah meremas rok pada dress hitamnya.
Mungkin Berlin menyadarinya. Ia langsung menggenggam kedua tangan milik Nadia tersebut, dan mengatakan, "aku baik-baik saja, sayang," ucapnya yang lalu tersenyum tulus.
Sontak itu membuat Nadia sedikit terkejut dan menatap Berlin yang sedang menatapnya. "Maafkan aku yang tidak berguna ini, Berlin," batin Nadia kembali sedikit tertunduk sembari menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
.
Bersambung.