
Pukul 22:00 malam.
Kediaman Nadia, Perumahan Kota.
"Loh, nggak langsung pulang ke rumah?" Nadia membukakan pintu rumahnya dan mendapati Berlin yang berdiri di sana.
Berlin menggelengkan kepalanya dan berkata, "di rumah tidak ada siapa-siapa, aku kesepian, hehehe ...," ucapnya yang lalu tertawa kecil.
"Ya sudah, yuk masuk!" pinta Nadia tersenyum kemudian menarik tangan Berlin untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Eh?" Berlin sedikit terkejut dengan perempuan yang tiba-tiba menarik tangannya itu. "Tidak perlu, tidak apa-apa, aku hanya ingin melihatmu dan langsung pulang," ucapnya sedikit menolak ajakan Nadia meskipun dalam hatinya tidak ingin menolaknya.
"Sudah, tidak apa-apa. Masa iya kita berbincang di luar?" sahut Nadia menatap Berlin.
"Lagipula, kita 'kan pasangan yang akan segera menikah, jadi tidak akan menjadi berbincangan tetangga," lanjutnya dengan nada dan tatapan sedikit menggoda Berlin.
Berlin pun mengikuti langkah kekasihnya masuk ke dalam rumahnya, dan memutuskan untuk singgah sejenak.
...
"Maaf jika sedikit berantakan, ya," ucap Nadia ketika menuju ke ruang tamunya bersama Berlin.
"Tetapi nyatanya tidak tuh, tidak ada barang yang berserakan sama sekali," sahut Berlin menyanggah pernyataan Nadia ketika memasuki ruang tamu.
Rumah yang sangat sederhana, tidak terlalu luas namun juga tidak terlalu sempit, dan cukup nyaman untuk ditinggali. Itulah rumah milik Nadia pribadi, dan sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan rumah milik Berlin sendiri.
Berlin duduk di sebuah sofa ruang tamu dan berkata, "kamu ini memang orang yang rapi dan disiplin, ya? Apalagi kalau soal urusan rumah, paling jago deh kamu," ucapnya memuji dan sedikit menggoda kekasihnya yang sedang sibuk membuatkan teh untuk dirinya di dapur.
Nadia tertawa kecil dan berkata, "kamu paling jago kalau menggodaku!" ucapnya selesai membuatkan teh dan membawakan secangkir teh tersebut ke ruang tamu.
"Oke, sekarang ... apa yang membuatmu begitu gelisah?" tanya Nadia kemudian duduk tepat di sisi Berlin. Dirinya tahu betul wajah lelakinya yang tampak cukup kelelahan itu, dan juga tampak sedikit gelisah.
"Biarkan ku mendengar dan mengetahui apa yang sedang membebanimu ...!" lanjut gadis itu menatap lembut dengan mata yang berbinar dan membuat Berlin kikuk.
Berlin tersenyum tipis dan merasa senang mendengar apa yang dikatakannya. Namun, dirinya memilih berkata, "hanya masalah pekerjaan, kok. Selebihnya, aku tak bisa lepas dari memikirkan soal hari H nanti."
__ADS_1
Nadia tersenyum tipis ketika melihat wajah laki-lakinya yang tampak seperti menyembunyikan sesuatu yang lain darinya. "Kamu pasti berbohong ...!" ucapnya lalu bersandar pada bahu milik Berlin.
DEG.
"Wajahmu tak pandai menyembunyikan kebohongan dariku, aku bisa melihatnya," lanjutnya kembali menatap Berlin dari jarak yang sangat dekat.
Berlin terpaku sejenak ketika mendapati wajah cantik kekasihnya yang sangat dekat padanya. Ditambah lagi perempuan yang ada di hadapannya itu mengetahui kalau dirinya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Aku memang tidak pandai berbohong padamu, aku meminta maaf karena sudah berbohong barusan," ucapnya seraya menundukkan kepalanya.
"Masalah yang sedang menggangguku serta membuatku cukup gelisah itu masih termasuk dalam masalah pekerjaan."
"Ya ... kamu tahu dengan posisiku sekarang, 'kan? Ditambah lagi dengan posisi Ashgard yang kini lebih dikenal banyak orang sebagai divisi baru kepolisian."
"Di posisiku yang sekarang, ada saja orang yang tidak suka padaku dan tentunya berniat jahat padaku. Meskipun aku sudah mengalami banyak hal yang sama sejak berada di dunia kriminal itu, dan itu juga sudah menjadi hal yang biasa bagiku."
"Tetapi, yang ini berbeda dan cukup membuatku gelisah, karena aku juga harus memikirkan orang-orang di sekitarku termasuk dirimu, Nadia."
Berlin langsung berbicara dan mengeluarkan semua yang membuatnya gelisah kepada wanitanya itu.
Nadia tersenyum tipis dan merasa senang karena selalu ada yang memikirkan dirinya. Ia meraih pipi milik lelakinya dengan satu tangannya, menatap kedua mata lelakinya lalu berkata, "iya, aku paham, dan jangan samakan aku dahulu dengan yang sekarang!"
"Aku sudah tahu siapa dirimu, Berlin. Dan dengan begitu ... aku juga tahu apa yang harus ku lakukan," lanjutnya lalu memberikan senyuman manis dan ekspresi cerianya kepada Berlin.
Berlin meraih dan menggenggam tangan lembut yang meraih dirinya, dan lalu berkata, "maafkan aku ... jika aku terlalu posesif, terlalu protektif, atau terlalu mengatur mu untuk begini dan begitu."
Nadia tiba-tiba membenamkan kepalanya pada dekapan milik Berlin lalu mengatakan, "mungkin banyak wanita yang tidak suka dengan semua sikap itu. Tetapi berbeda denganku, Berlin. Asal kamu tahu, entah mengapa aku suka ketika kamu bersikap begitu padaku. Karena dengan begitu, aku bisa beranggapan kalau ... kamu begitu mencintai ku."
"Maafkan aku juga, karena aku sering membawakan masalah padamu, bahkan juga bahaya untukmu," ucap Berlin kemudian seraya membelai lembut kekasihnya yang berada dalam dekapannya itu.
Nadia menengadahkan kepalanya untuk menatap lelakinya dan berkata, "kamu tidak perlu meminta maaf soal itu, karena memang dari awal itu sudah menjadi konsekuensi. Tentu aku tahu bahaya dan resikonya, namun aku sendiri yang memilih untuk mengambil pilihan ini agar bisa terus bersamamu apapun yang terjadi."
...
Nadia kembali menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik Berlin. Dirinya benar-benar bisa merasakan kehangatan yang Berlin berikan ketika itu, sampai-sampai waktu berjalan cukup cepat pun tidak ia sadari.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus segera pulang, tidak baik juga bertamu sampai melewati batas waktu," ucap Berlin melihat waktu pada jam dinding yang ada di ruang tamu tersebut, dan segera beranjak dari sofa.
"Yah, ya sudah, deh. Kamu sampai rumah langsung istirahat, ya! Jangan begadang!" sahut Nadia beranjak dari sofa.
"Iya, sayang," jawab Berlin tersenyum senang dengan perhatian yang diberikan Nadia padanya.
Berlin pun pamit dan segera ingin pulang ke rumah. Tubuhnya juga serasa sedang merengek untuk direbahkan di atas ranjang empuk, serta pikirannya yang seolah memohon untuk segera diistirahatkan.
.
~
.
Pukul 23:25 malam.
Kediaman Berlin.
Sesampainya Berlin di rumah, dirinya justru disambut dengan beberapa keanehan yang ia temukan pada halaman rumahnya.
"Jejak?" gumam Berlin menemukan sebuah jejak seperti sepatu yang ada pada teras rumahnya.
Di sisi lain dirinya juga melihat sedikit adanya perubahan pada karpet teras rumahnya. Ia ketika melihat karpet tersebut, dirinya menemukan sebuah surat mencurigakan di baliknya.
Setelah mengetahui surat tersebut. Dirinya segera masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rumahnya, lalu buru-buru menuju ke kamarnya untuk memastikan sesuatu pada komputer miliknya di kamar.
"Tidak, tidak, tidak ...!" gerutu Berlin duduk di kursi depan layar komputernya, dan lalu memastikan beberapa rekaman kamera pengawas serta keamanan di rumahnya.
BRaaaKk ...!!!
Meja komputer tersebut tiba-tiba saja digebrak oleh Berlin yang tampak sangat marah dan kesal dengan apa yang ia lihat di layar monitornya.
"Sialan! Apakah begini cara bermainmu, Clone Nostra? Sama sekali tidak jauh berbeda dari Mafioso b*ngs*t itu!" gerutu Berlin kemudian dengan tatapan mata yang tiba-tiba berubah tajam dan terlihat mengerikan setelah mengetahui isi dari surat tersebut.
.
__ADS_1
Bersambung.