
Nadia berjalan melewati jalan setapak yang terbuat dari beberapa pecahan batu dan dipasang di atas rerumputan, serta juga beberapa lampu kecil taman di sepanjang jalan setapak itu. Jalan setapak itu menuntun dirinya ke sebuah taman kecil yang sepi serta terlihat dan terasa sangat sejuk nan nyaman.
Taman kecil tersebut terletak di halaman paling belakang dari rumah sakit, dan memiliki suasana sejuk dengan beberapa pepohonan yang rindang serta juga cukup banyaknya bunga yang bermekaran.
Tempat seperti itu tiba-tiba saja terlintas dalam pikiran Nadia, saat ia memandangi langit biru itu yang dirasa sangat nyaman dan tenang seperti ombak di tengah laut.
Menurutnya, tempat yang memiliki ketenangan dan kenyamanan yang ia rasakan saat memandangi langit itu adalah taman. Dirinya juga sering kali menghabiskan waktunya bersama dengan Berlin di tengah pepohonan, banyaknya bunga yang bermekaran, dan rerumputan yang berwarna hijau menyegarkan mata.
Benar saja firasat Nadia. Dirinya sangat merasa lega karena akhirnya ia menemukan Berlin yang terlihat sedang menenangkan diri dengan duduk di salah satu bangku kayu taman.
Nadia tersenyum kecil saat berhasil menemukan lelakinya itu, yang tampak menenangkan dirinya dengan duduk tertunduk memandangi sebuah pistol kecil berwarna hitam yang ia genggam di tangannya.
...
"Aku ingin kamu menyimpan benda itu ...!" titah Nadia saat berjalan menghampiri Berlin yang duduk tenang.
.
"Kalau ketahuan petugas keamanan, bisa saja kamu masuk penjara, loh. Dan aku nggak mau itu terjadi !" lanjutnya saat duduk tepat di samping dari Berlin yang terlihat hanya diam diri.
Berlin pun menuruti apa kata Nadia, dan lalu memasang pengunci serta menyimpannya kembali ke dalam saku celananya.
"Aku tahu, dan aku paham dengan apa yang kamu rasakan saat ini. Tetapi tolong jangan gegabah, ya ...?" ucap Nadia dan lalu tersenyum lebar kepada lelakinya yang menatap ke arah dirinya.
"Aku benar-benar minta maaf, tentang caraku tadi yang terlalu kasar kepadamu," sahut Berlin dengan menggenggam kembali kedua tangan yang sebelumnya ia lepaskan, dan tertunduk di hadapan kekasihnya serta dengan nada bicara yang sudah berbeda bahkan lebih tenang dari sebelumnya.
Nadia tiba-tiba menyandarkan dirinya ke dalam dekapan Berlin, dan mengatakan, "iya, tidak masalah. Aku mengerti kok, kenapa kamu melakukannya," ucapnya dengan sedikit memejamkan mata karena merasa sangat nyaman saat membiarkan Berlin memeluk dirinya.
"Jangan anggap semuanya kamu bisa hadapi sendiri ! Karena ... ada aku, dan semua temanmu yang bisa kamu andalkan !" ujar Nadia saat menatap kedua mata milik Berlin dengan jarak sangat dekat.
.
"Aku percaya ... kamu bisa menghadapi semuanya sendiri. Namun ... tentu akan ada saat di mana ... kamu tetap membutuhkan bantuan orang lain," lanjutnya.
"Terima kasih, ya !" secara langsung, Nadia tiba-tiba berterima kasih kepada Berlin.
"Untuk apa ?" sahut Berlin yang tidak mengerti dengan maksud dari kekasihnya itu.
"Aku sadar ... aku itu sangat lemah, karena tidak bisa apa-apa tanpa dirimu, Berlin. Aku juga tidak dapat melakukan apapun tanpa teman-teman atau orang berharga yang ku miliki."
"Maka dari itu ... aku sangat berterima kasih padamu. Karena ... aku belajar banyak hal darimu, dan ... kebanyakan hal itu adalah ... tentang ... hubungan."
"Baik hubungan percintaan, hubungan persahabatan atau pertemanan, dan hubungan kekeluargaan. Kalau kamu sadar ..., kamu telah memperkenalkan semua itu kepadaku, dan berhasil membawaku keluar dari dunia tertutup yang sangat tidak aku suka itu."
Berlin pun langsung menyahut, "kamu terlalu berlebihan, Sayang," sahutnya yang lalu tersenyum kecil saat memandangi wajah cantik milik Nadia di hadapannya.
"Tidak ! Karena itu semua benar adanya," sahut Nadia yang langsung menyangkal ucapan Berlin tersebut.
Setelah mendengar ucapan tersebut, Berlin merasa sangat senang kalau usahanya menuaikan hal baik untuk Nadia. Namun tiba-tiba dirinya jadi cukup murung dan bimbang setelah memikirkan ke depannya.
"Kenapa ?" cetus Nadia saat melihat Berlin menjadi murung tiba-tiba, dan dengan meraih serta mengusap salah satu pipi milik Berlin.
"Lalu ... apa yang harus aku lakukan ?" sahut Berlin yang mencoba untuk menanyakan solusi kepada kekasihnya itu.
Berlin terlihat cukup pusing dengan permasalahan ini, yang juga termasuk menjadi permasalahan kelompoknya yaitu Ashgard dengan kelompok hitam atau Mafioso itu. Karena mereka sudah mulai membuat masalah dengan melukai salah satu sahabatnya, dan tentu itu tidak bisa ia terima begitu saja.
"Aku tidak memiliki hak penuh untuk mengaturmu, Berlin. Tetapi, aku hanya ingin kamu lebih berhati-hati dalam segala hal ! Apalagi dalam mengambil keputusan," jawab Nadia dengan nada yang sungguh lembut memohon.
.
"Kamu adalah ketua atau pemimpin yang tentunya memiliki peran penting, dan semua keputusan ada di tanganmu. Jadi, tolong dipikirkan baik-baik dan jangan gegabah dalam mengambil keputusan, ya ?" lanjutnya dengan membuka serta menggenggam secara perlahan jari-jemari dan telapak tangan milik Berlin.
"Terima kasih ya, karena sudah menasihati ku," sahut Berlin yang terlihat sangat tenang seakan memiliki banyak kunci jawaban.
Nadia tersenyum senang saat melihat ekspresi senang dan lega yang sangat terlihat dari Berlin. Ia pun tiba-tiba menatap serius kedua mata milik Berlin, dan lalu mengatakan, "aku mencintaimu, Berlin. Apapun peran yang ku miliki baik itu penting atau tidak, tetapi ... aku tidak mau kalah darimu, dan aku akan selalu berusaha untuk dirimu," ucapnya yang lalu tersipu malu setelah mengucap.
"Tenang saja ! Peranmu bagiku sangatlah penting dan berarti, jadi ... jangan jauh-jauh dariku, ya ?" sahut Berlin dengan menoleh dan menatap Nadia.
"Hehehe ...," Nadia tiba-tiba tertawa kecil karena malu sendiri dengan dirinya setelah mengatakan hal seperti itu kepada Berlin.
.
"Sudahlah, ayo kita masuk ! Teman-teman yang lain sangat menghawatirkan dirimu, lho ...," lanjutnya saat bangkit dari duduknya, dan kemudian mengulurkan tangannya untuk Berlin.
Berlin hanya mengangguk dan meraih salah satu tangan yang terulur kepadanya, dan membantunya untuk bangkit dari tempat duduknya.
Nadia pun menggandeng Berlin untuk kembali masuk menjumpai semua teman-temannya di dalam, serta melihat pembaruan tentang kondisi dari Adam yang tentunya diharapkan membawa kabar baik.
"Walau hubungan kita baru saja berjalan satu tahun lamanya. Tetapi ... semua masalah yang kita dapatkan ... cukup sangatlah merepotkan, ya ?" gumam Berlin saat berjalan berdua keluar dari taman melewati jalan setapak bebatuan.
Berlin sadar kalau hubungan yang ia jalani dengan Nadia memang baru berusia sangatlah muda, bahkan baru saja satu tahun mereka lewati bersama. Namun Berlin sendiri sudah mengenal dekat Nadia selama lebih dari beberapa tahun sebelumnya, sebelum dirinya memutuskan untuk menjalani hubungan bersamanya.
"Mungkin ... ini semua ... semacam ujian ?" jawab Nadia.
"Mungkin saja kamu benar," sahut Berlin.
Berlin juga sadar kalau dirinya tidak begitu berpengalaman dan tahu-menahu soal hubungan seperti itu, apalagi menjalaninya dengan seorang wanita cantik yang selalu menjadi dambaan hatinya. Namun seiring berjalannya waktu, waktu sendirilah yang menunjukkan semua pembelajaran itu kepada dirinya. Serta juga sempat menyadarkannya dirinya dengan suatu ingatan tentang tujuan atau cita-cita yang sempat ia miliki saat masih kecil.
~
Saat Berlin berjalan kembali memasuki lobi rumah sakit dan menuju ke ruang operasi. Sasha yang sebelumnya tidak terlihat pun akhirnya terlihat sedang berbincang dengan teman-temannya yang menunggu di ruang tunggu depan dari ruang operasi.
"Sasha ?"
"Kau baik-baik saja, 'kan ?"
Berlin langsung menyapa dan menanyakan kabar kepada temannya itu, yang terlihat jelas cukup trauma dengan apa yang terjadi.
Mendengar suara yang sangat ia kenal, Sasha pun langsung menoleh dan melihat Berlin yang berjalan menghampirinya bersama dengan Nadia.
Saat menatap ke arah Berlin, Sasha langsung tersenyum tenang dan lalu menjawab, "aku baik-baik saja kok, Bos."
.
"Hanya saja ... aku merasa takut," lanjutnya yang lalu tertunduk lesu.
Nadia tiba-tiba melangkah mendekati Sasha, dan lalu mengatakan, "tenang saja ! Kamu tidak sendirian, 'kan ?" ucapnya dengan menepuk perlahan salah satu pundak temannya.
"Nah ...!" cetus Faris dengan ekspresi berseri-seri kepada Sasha.
"Benar tuh ...!" lanjut Galang.
"Makasih," gumam Sasha yang merasa cukup tenang karena sudah berkumpul dengan teman-teman, atau orang-orang terdekatnya kembali.
"Ternyata ... Adam memiliki hati yang sangat baik dan hebat," celetuk Sasha saat melihat ke jendela pintu ruang operasi yang sangat samar-samar dan sulit untuk melihat ke dalam.
.
"Maaf, dia jadi terluka seperti itu, karena ... mencoba untuk melindungi diriku yang tak bisa melawan," lanjutnya saat memegang kaca jendela tersebut dengan salah satu telapak tangannya.
Dengan pandangan juga mengarah ke jendela tersebut, Berlin tiba-tiba berdiri di samping Sasha dengan mengatakan, "memang seperti itulah sifatnya ...," ucapnya dan lalu tersenyum bangga kepada sahabatnya sendiri, yaitu Adam.
__ADS_1
.
"Walau kelihatannya dia suka mempermainkan wanita. Tetapi ... semua akan dia lakukan ... bahkan dia juga rela berkorban, ketika berhasil menemukan seseorang yang menurut hatinya sangat berarti," lanjutnya.
"Dan ... mungkin saja ... orang yang dimaksud adalah ... Kamu, Sasha," celetuk Kimmy sambil melirik dan tersenyum sinis kepada Sasha yang ada di sampingnya.
Sasha langsung dibuat sangat tersipu malu saat mendengar ucapan yang tercetus oleh Kimmy. Dirinya tiba-tiba merasa sangat senang saat mendengar ucapan tersebut.
.
"Cepatlah membaik, aku akan menunggumu, Adam," gumam Sasha hanya di dalam hati.
...
Berlin mengenal seorang Adam sudah sangat lama dan bersamaan saat ia mengenal Asep dan Kimmy, bahkan sudah sejak saat dirinya masih remaja menginjak usia 17 tahun. Serta juga sebelum kelompok kesayangannya yaitu Ashgard terbentuk.
Adam adalah satu-satunya yang paling tua di antara semua teman-temannya dalam kelompok tersebut. Umur Adam berjarak lima tahun lebih tua dari pada Berlin yang baru saja menginjak usianya yang ke 22 tahun. Adam juga memilik peran yang sangat penting bagi Berlin dan kelompoknya, karena ia sering menjadi pemikir dalam setiap kegiatan yang berlangsung dalam kelompoknya.
Di matanya Adam adalah seorang laki-laki yang memiliki citra sangat buruk, karena sering kali menggoda dan mempermainkan hati para gadis sejak saat itu. Namun, Berlin sendiri selalu percaya kalau sifat Adam yang seperti itu akan berubah nantinya. Sampai ketika di suatu saat, sikap Adam tiba-tiba berubah dan mulai mencurahkan kegelisahan isi hatinya kepada dirinya.
"Berjuanglah, karena ... sepertinya ... seseorang yang kau maksud ... sedang menunggumu di sini, Dam !" batin Berlin saat melihat Adam yang masih dalam proses operasi melalui jendela pintu tersebut yang sangat sulit terlihat dan samar-samar.
"Baik, Pak. Dimengerti !" suara James terdengar saat berjalan sedikit menjauh dari teman-temannya untuk menjawab pesan dari atasannya melalui radio.
.
~
.
"Lalu bagaimana dengan James, Pak ?" tanya Netty saat menghampiri Prawira yang sedang bersandar santai dengan terlihat fokus pada tablet yang ia bawa di tangannya.
Netty baru saja sampai ke lokasi Prawira yang sedang mengamankan penjagaan untuk lingkungan sekitar perumahan kota, bersama dengan beberapa rekan anggotanya. Ia yang baru saja tiba dengan diantarkan oleh salah satu anggotanya pun langsung menghampiri Prawira yang cukup terlihat pusing dan lelah.
"Aku tugaskan dia sementara untuk melanjuti korban yang terluka itu," jawab Prawira yang terlihat fokus kepada sebuah tablet yang menampilkan peta.
Prawira sendiri ikut serta untuk mengamankan lokasi, karena juga ingin melihat secara langsung bukti-bukti dari pelaku yang ditinggalkan. Semua warga penghuni perumahan tersebut juga dimintai keterangan dan dilakukan penggeledahan di setiap akses keluar masuk.
"Laporan kelanjutan dari helikopter belum ada, ya ?" tanya Prawira kepada Netty yang ikut bersandar pada mobil miliknya tepat di sampingnya.
Netty menggelengkan kepalanya dan menjawab, "belum ada."
"Huh ...." Prawira menghela napas panjang dan memandangi langit siang itu di atasnya yang berwarna biru, dan beberapa jam kemudian akan berganti menjadi langit senja.
Prawira terlihat cukup pusing dengan banyaknya kasus yang terjadi. Bahkan sebelum kasus-kasus itu muncul, sudah ada cukup banyak kasus sebelumnya yang belum tertuntaskan.
"Menurutmu ... apa yang harus aku lakukan ?" cetus Prawira dengan melirik rekannya itu.
"Kita memang akan kesulitan bila menangani banyak kasus dalam waktu yang berdekatan atau bersamaan. Tetapi itu sudah menjadi tugas kita."
.
"Mungkin ... anda harus memilih mana kasus yang paling penting terlebih dahulu untuk kita kerjakan. Dan ... firasatku ... semua kasus ini ... saling berhubungan," tutur Netty.
Mendengar ucapan dari rekannya, Prawira pun juga berpikir demikian. Karena setiap kasus yang dibuat oleh kelompok hitam itu selalu dapat disambungkan atau saling dihubungkan.
"Oh iya, bukannya ini kompleks perumahan dari Nadia juga, ya ?" cetus Netty dengan pandangan melihat ke sebuah rumah bernomor A22.
"Iya ..., mendengar kasus ini terjadi di sini, maka dari itu aku langsung ke sini dan memastikan rumahnya. Tetapi dan untungnya ... rumahnya ternyata kosong," jawab Prawira saat tertunduk dan dengan nada yang terdengar cukup lelah.
Setelah mendengar jawaban dari Prawira. Ternyata salah satu faktor itu membuat dirinya datang langsung ke lokasi perumahan kota, dan memastikan rumah yang ditinggali oleh Nadia.
Namun setelah mengetahui rumah yang didiami oleh Nadia ternyata kosong. Rasa cemas dan khawatir terhadap keadaan atau kondisi dari Nadia pun tiba-tiba mereda seketika.
"Lalu, apakah dia baik-baik saja ?" tanya Netty kembali dengan menoleh kepada atasannya itu.
"Aku yakin ... dan aku percaya ... Nadia akan baik-baik saja, selama dia bersamanya ...," jawab Prawira yang langsung terbayang seseorang yang menurutnya juga sangat berharga dan penting, yaitu Berlin.
"Bersamanya ?" Netty sempat dibuat bingung dengan ucapan barusan. Namun sepertinya dirinya paham siapa orang yang dimaksud oleh Prawira.
Netty tiba-tiba menggeser posisi tubuhnya yang bersandar di mobil itu jadi lebih dan sangat dekat dengan Prawira di sampingnya.
"Apa kau sudah bertemu Siska ?" cetus Prawira saat menoleh ke arah Netty yang sangat dekat di sampingnya.
DEG.
Prawira sangat terkejut saat melihat kecantikan Netty yang sangat terpancar dengan sikap dan ekspresi tersipu-sipu.
"Huh ?"
.
"Oh, Siska ? Katanya dia bosan karena harus terus duduk di depan layar monitor, hehehe ...." Netty pun langsung menjawab pertanyaan dari Prawira dan lalu tertawa kecil serta tersenyum tipis dengan sedikit tertunduk malu.
"Dia sangat cantik ... ketika sedekat ini ...," gumam Prawira di dalam hatinya yang saat itu dibuat berdebar-debar saat berdekatan dengan Netty.
"Prawira, jujur saja ... aku ingin kau tahu," ucap Netty tiba-tiba dengan sedikit tertunduk tersipu, dan melirik kepada Prawira.
.
"Kalau ... sebenarnya ... saya ---"
"Eagle Eye 01 izin melapor ! Kami tiba-tiba ditembaki oleh sekelompok orang berpakaian hitam di area perbukitan paling timur dari Shandy Shell !"
"Kami diserang, Pak !"
Netty belum sempat menyelesaikan ucapannya itu untuk disampaikan kepada Prawira. Tiba-tiba laporan itu masuk begitu saja dari tim helikopter pengintai udara yang menyela keheningan pada radio.
Tim helikopter pengintaian udara memberikan laporan tersebut dengan suara-suara yang terdengar sangat panik, dan beberapa suara tembakan yang terdengar jelas saat mereka melaporkan itu di radio.
"Apa ?! Baik, kalian tarik mundur terlebih dahulu, dan jangan dipaksakan !" titah Prawira yang langsung menanggapi laporan tersebut.
"Kami tidak bisa kembali ke kantor pusat sekarang, Pak !" sahut sang pilot dari helikopter yang terdengar sangat panik.
.
"Telah terjadi gagal mesin, dan diharuskan untuk melakukan pendaratan darurat sekarang !" lanjut salah satu co-pilot dengan terdengar cukup panik, dan juga terdengar beberapa ledakan dari mesin helikopter yang mereka kendarai.
"Silakan lakukan pendaratan darurat segera ! Saya akan ke lokasi kalian dengan beberapa tim !" jawab Prawira dengan cukup berteriak saat menekan tombol berbicara pada radio yang ia pegang.
.
"Siska, konfirmasi lokasinya !" lanjutnya yang ditujukan untuk Siska.
"Baik !" jawaban langsung dari Siska melalui radio.
Siska pun langsung merespon perintah dari atasannya itu dan langsung menkonfirmasi lokasi dari tiga anggota yang berada di helikopter tersebut.
"Lokasi terakhir berhasil terpantau. Mereka berada tepat di utara area Bukit Sunyi bila dari koordinat 2058, Pak !" cetus Siska yang langsung menemukan lokasi dari ketiga anggota helikopter tersebut.
.
__ADS_1
"Diterima, terima kasih, Siska !" jawab Prawira di radio.
"Gallahad, komando untuk pengamanan perumahan ini saya percayakan kepadamu !" titah Prawira yang menghampiri salah satu anggota yang juga ia percayai.
.
"Baik, Pak !" jawab Gallahad dengan memberikan hormatnya kepada Prawira.
Setelah mendengar jawaban tersebut. Prawira yang ditemani oleh Netty pun segera bergegas menuju pos penjagaan Senora yang berlokasi tidak terlalu jauh dari koordinat yang disebutkan oleh Siska.
"Sial, kenapa bisa terjadi seperti ini ?!" gusar Prawira saat fokus mengendarai mobilnya yang melaju kencang di jalanan.
Netty hanya diam dengan memandangi Prawira yang terlihat cukup kesal dan berpikir keras untuk menangani masalah tersebut.
Dalam perjalanan memasuki area tol untuk menuju ke pos penjagaan Senora. Prawira pun mencoba untuk menghubungi salah satu anggotanya yang memiliki otoritas lebih dalam satuan Brimob.
"Prime, masuk ?" tanya Prawira kepada Prime melalui radio saat mengendarai mobil dinasnya untuk menuju ke Pos Senora.
"Masuk, Ndan !" jawab Prime yang suaranya terdengar sangat jelas di radio.
"Saya butuh lima anggota Brimob yang harus sudah siap dengan perlengkapan untuk mengevakuasi tim helikopter kita. Bagaimana, Prime ?" ucap Prawira kepada Prime melalui radio.
"Saya bersama empat anggota Brimob sudah dalam perjalanan menuju ke lokasi yang anda tentukan, Ndan !" jawab Prime langsung melalui radio.
"Dan untuk kendaraan ... silakan pakai yang bisa di segala medan !" titah Prawira.
"Siap, Komandan !" sahut Prime dengan tegas di radio.
~
Perjalanan dari kota menuju ke pos penjagaan Senora memakan waktu selama satu jam. Perlahan langit yang sebelumnya berwarna biru cerah, kemudian tergantikan dengan warna senja jingga yang terlihat sangat indah.
Sesampainya Prawira di pos penjagaan Senora. Ia langsung bertemu dengan Prime yang bersama keempat anggotanya, dan dua anggota polisi yang sedang berjaga di pos penjagaan tersebut.
Prime terlihat sudah sangat siap dengan terbaginya satu unit mobil dan dua unit motor, yang siap untuk melewati jalur yang terjal di perbukitan tersebut.
"Selamat sore, Pak."
"Siap izin melapor, Pak !"
"Kami sudah berjaga di sini sekitar tiga jam yang lalu, dan terpantau aman ... serta tidak ada yang berlalu lalang melewati akses jalan untuk menuju ke koordinat 2056, 2057, dan 2058, Pak."
Ketiga anggota polisi yang berjaga di pos penjagaan tersebut pun langsung memberikan laporannya kepada Prawira.
"Baik," sahut Prawira setelah mendapatkan semua laporan itu.
"Eagle Eye 01 bagaimana, masuk ?!" lanjut Prawira yang menanyakan kabar dari tim helikopter.
"Helikopter kami rusak parah, dan kami bertiga selamat, Pak !"
.
"Namun sepertinya kami turun di wilayah yang salah, dan cukup banyak sekelompok orang berpakaian hitam dengan persenjataan lengkap yang mengejar kami, Pak !"
Ketiga anggotanya yang mengalami kecelakaan helikopter tersebut pun langsung menjawab pertanyaan Prawira dengan terdengar cukup panik ketakutan.
"Silakan, Ndan !" Prime menghampiri Prawira dengan memberikan sebuah tablet yang menampilkan peta.
Prawira pun menerima tablet tersebut, lalu melihat peta digital yang ditampilkan pada layar tablet, dan lalu memberikan arahannya kepada tim helikopter yang sedang mengalami kesulitan.
"Baik, kalian silakan lakukan pelarian ke arah utara sekarang, tepatnya pada koordinat 2056 ! Bantuan akan segera merapat ke sana," titah Prawira yang memberikan arahannya kepada tiga anggotanya yang terdengar cukup panik dan ketakutan.
.
"Tetap tenang dan jangan terlalu panik, serta jangan putus komunikasi kalian kepada kami !" lanjutnya.
"Ba-ba-baik, Pak ! Kami akan berusaha !" jawab salah satu dari ketiga anggota tersebut dengan suara yang terdengar sangat gemetaran.
"Dan ingat ! Kalian sudah dilatih dan terlatih untuk hal seperti ini," sahut Prawira yang bermaksud untuk menenangkan serta memotivasi ketiga anggotanya itu.
"Ndan, lokasi mereka jatuh itu di perbukitan dan di sana cukup banyak pepohonan. Hari juga mulai menjelang malam, jadi sepertinya kita tetapi butuh dukungan udara," Prime menyela ketegangan yang dirasakan seluruh rekan anggotanya termasuk Prawira.
"Kalau begitu, biar saya panggil tim helikopter kedua dari Kantor Shandy Shell. Bagaimana ?" sahut Netty.
"Silakan !" jawab Prawira.
.
"Dan ... kau tunggu di sini saja, ya !" lanjutnya yang menyuruh Netty untuk tetap berada di pos penjagaan.
"Ng-nggak bisa gitu dong, saya akan tetap ikut !" sahut langsung Netty yang mencoba untuk membujuk Prawira.
Netty yang mendengar perintah tersebut pun langsung membantah, dan mengekang untuk dirinya diikutkan dalam misi penyelamatan itu. Namun Prawira tetap saja tidak memperbolehkannya karena beberapa hal yang sangat penting.
"Dengar, kami membutuhkan posisimu berada di pos penjagaan ini !" titah Prawira saat berjalan memasuki satu mobil berlapis baja yang dikendarai Prime.
Mengingat dirinya sedang dalam keadaan bertugas. Dengan berat hati Netty pun tidak bisa menolak perintah komandannya tersebut, dan hanya bisa menerimanya.
"Baik, berhati-hatilah !" ucap Netty kepada Prawira dengan sedikit tertunduk kecewa bercampur cemas karena perintah itu.
Sesaat sebelum masuk ke dalam mobil, Prawira sempat tersenyum kecil melihat sekertarisnya yang sedikit khawatir dengan dirinya.
"Mau bagaimana lagi ? Tugas adalah tugas, Netty ...," gumamnya di dalam hati saat melihat Netty begitu mengkhawatirkan keselamatan dirinya.
~
Prawira yang sudah bersiap dengan satu pistol miliknya pun langsung bergegas dengan tim yang sudah dibentuk Prime, untuk menuju ke lokasi dari ketiga anggotanya yang sedang membutuhkan bantuan.
Dalam perjalanan, Prime dan keempat anggota Brimobnya sudah sangat mengetahui serta memperhitungkan apa yang akan terjadi kedepannya. Karena dirinya sangat merasakan kalau wilayah jatuhnya helikopter tersebut berada di wilayah yang sangat berbahaya.
"Prawira, apakah kau yakin hanya kita berenam saja ?" Prime bertanya dan sedikit cemas bercampur ragu dengan keputusan Prawira untuk misi tersebut.
Melihat rekan kepercayaannya begitu cemas dan ragu, Prawira dapat sangat memahami betapa bahayanya wilayah yang akan mereka masuki itu.
"Aku tahu, menurut laporan tim helikopter pun mereka sangat banyak," jawab Prawira yang terlihat cukup tenang.
.
"Untuk sementara ... rencana kita, kita tidak perlu melawan mereka semua, orang-orang itu ! Cukup membawa kembali ketiga orang kita," lanjutnya saat melihat isi pelurunya pada pistol yang ia bawa.
"Untuk radio, apakah kita harus pindah frekuensi ?" tanya Prime dengan terlihat fokus untuk menyetir.
"Tidak perlu ! Agar ... bila terjadi di luar rencana ... kita lebih mudah untuk meminta bantuan," jawab Prawira yang selesai mempersiapkan senjata apinya.
.
"Aku juga sudah menghubungi Kantor Shandy Shell tentang hal ini," lanjutnya.
.
Bersambung.
__ADS_1