Mafioso In Action

Mafioso In Action
Mafioso in Action #61


__ADS_3

Pukul 07:00 pagi hari.


Rumah Besar Mafioso.


Di pagi hari, Nicolaus memanggil orang kepercayaannya yaitu Carlos ke ruangannya untuk mempertanyakan sesuatu kepadanya. "Bagaimana keadaan di Balaikota?" tanya Nicolaus.


"Orang kita yang memantau sudah memberikan laporannya, penjagaan diperketat dan memang mustahil untuk kita menerobosnya," jawab Carlos duduk di sofa.


"Seperti itu, ya? Baguslah, berarti sesuai rencana," cetus Nicolaus beranjak dari kursinya.


"Kapan kita akan memulai aksi?" sela Carlos.


"Pertanyaan bagus!" sahut Nicolaus.


.


"Diperkirakan siang ini kepolisian akan mencoba untuk mengepung tempat ini. Maka dari itu, lebih cepat lebih baik, bukan?" lanjutnya sembari berjalan keluar ruangan.


"Siapkan kelompokmu, kita akan berpencar meninggalkan tempat ini!" titah Nicolaus kepada Carlos kemudian beranjak meninggalkan ruangan.


"Baik, sebelum itu aku akan berbincang dengan Bagas dan Kibo terlebih dahulu. Mereka mantan anggota polisi, mungkin itu bisa membantu," sahut Carlos yang juga beranjak dari sofa dan lalu berjalan mengikuti Nicolaus keluar ruangan.


Carlos pun berjalan mengikuti Nicolaus menuju ke halaman utama Rumah Besar Mafioso. Di tengah berjalan, Carlos tiba-tiba mempertanyakan soal baju atau pakaian. "Ngomong-ngomong, seragam apa yang akan kita gunakan?" cetus Carlos bertanya.


"Cukup pakaian serba hitam yang biasa kita gunakan saja, jangan jaket tengkorak emas!" sahut Nicolaus.


.


"Jaket itu sudah kuputuskan untuk tidak dipakai lagi karena beberapa hal," lanjutnya.


Tak lama kemudian, mereka berdua pun keluar dari pintu utama Rumah Besar, dan langsung tiba di halaman utama. Di halaman tersebut tampak sudah sangat banyak sekali personil dari kelompok Nicolaus dengan pakaian kompak serba hitam. Tampak juga masing-masing dari semua orang yang ada di halaman sudah membawa senjata mereka masing-masing.


"Baiklah, mungkin ini sudah saatnya!" gumam Nicolaus berjalan dan berdiri di hadapan semua anak buahnya yang berjumlahkan kurang lebih puluhan orang.


"Berlin, lihat saja nanti! Aku akan membuatmu terkejut!" batin Carlos dengan senyuman sinis dan tatapan liciknya. Dirinya tampak sudah tidak sabar lagi untuk melakukan aksi dari kelompoknya, yaitu Mafioso.


.


~


.


Pukul 10:00 pagi hari.


Villa Gates.


Berlin terkejut saat dirinya sedang sibuk membersihkan taman belakang villa bersama Nadia dan beberapa temannya. Dirinya terkejut lantaran mendapatkan pesan masuk dari Garwig secara langsung, dan pesan itu tampaknya sangat penting.


"Sekarang?" gumamnya saat membuka dan membaca pesan tersebut melalui ponsel genggamnya.


"Ada apa?" tanya Nadia berjalan menghampiri Berlin dengan tangan masih membawa alat penyiram tanaman.


Di saat yang bersamaan, ponsel milik Nadia pun berdering. Sebuah pesan penting juga didapatkan oleh Nadia dari Netty. Berlin dan juga Nadia sempat bertatapan satu sama lain dengan ekspresi bingung.


"Ya sudah, mau bagaimana lagi. Namanya juga tugas, 'kan?" cetus Berlin.


"Iya," sahut Nadia tersenyum.


~


Beberapa saat setelah pesan penting itu masuk dan diterima oleh Berlin secara langsung. Ia langsung mempersiapkan kelompoknya yang terdiri dari 14 orang termasuk dirinya dan James nantinya, dan lalu pergi ke Shandy Shell sesegera mungkin.


Berlin sendiri merasa cukup bingung, karena menurutnya ini masih sangat pagi untuk melakukan tugas pengintaian. Namun mau bagaimana lagi, dirinya tahu kalau ini adalah tugas dan konsekuensi yang ia terima ketika menerima tawaran dari Prawira beberapa hari lalu.


"Bos, yakin mau melakukan pengintaian pagi-pagi begini?" cetus Asep bertanya-tanya sembari terus fokus untuk menyetir mobil.


"Iya, menurutku ini terlalu pagi untuk melakukan pengintaian," sambung Kimmy yang duduk di kursi sebelah Asep.


"Mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi tugas kita, bukan?" sahut Berlin yang duduk di kursi belakang bersama Nadia.


"Iya juga, sih," gumam Kimmy.


Di tengah perbincangan, Nadia dengan tiba-tiba menggenggam tangan milik Berlin di sampingnya. Dirinya menatap lelakinya itu dan mengucap, "hati-hati, ya?" ucapnya dengan tatapan cukup menyimpan rasa khawatir.


"Tentu!" jawab Berlin tersenyum seraya sedikit membelai rambut milik kekasihnya itu.


"Ekhem!" Asep tiba-tiba batuk sekali dan lalu berkata, "Kim, kok hawanya panas, ya?" ucapnya dengan sedikit melirik Berlin melalui spion tengah.


"Sep, kau lagi menyetir, loh!" sahut Kimmy.


.


"Tetapi, iya juga, panas," lanjutnya dengan sedikit melirik Nadia dan Berlin yang tampak asik di kursi belakang.


Berlin dan Nadia mendengar percakapan mereka berdua dari belakang, dan lalu tertawa dengan sendirinya setelah mendengarkannya.


"Kalian berdua kenapa, sih? Ada yang bisa aku bantu?" celetuk Berlin.


Melihat semua kelakuan yang dibuat oleh kedua temannya, entah mengapa itu membuat Nadia tertawa kecil dengan sendirinya dan terlihat cukup ceria. Begitu pula dengan Kimmy yang merasa senang setelah melihat dan menyadari Nadia tampak ceria.


.


~


.


Pukul 10:10 pagi hari.


Shandy Shell.


Sesampainya di Kantor Polisi Shandy Shell. Berlin dan kelompoknya langsung disambut dengan baik oleh Garwig beserta semua anggotanya. Tampak sangat banyak anggota polisi yang sudah siap berbaris di halaman belakang kantor polisi. Begitu pula dengan divisi Brimob yang berbaris di barisan berbeda dan dipimpin langsung oleh Prime.


"Selamat datang," sapa Prawira menyambut kedatangan Berlin dan kawan-kawannya.


"Ini lebih cepat dari yang aku kira," cetus Berlin.


"Ya, lebih cepat lebih baik, bukan?" sahut Prawira.


"Berlin, bisa ikut aku sebentar?" cetus Garwig.


"Oke," jawab Berlin.


Berlin pun berjalan mengikuti Garwig menuju perkumpulan dari anggota-anggota polisi yang ada di sana. Garwig di hadapan para anggotanya, dan mulai memperkenalkan Berlin kepada rekan-rekan anggotanya.


Semua mata langsung tertuju menatap Berlin. Cukup banyak tatapan penuh tanya, dan keraguan dari beberapa anggota polisi yang ada. Namun juga banyak tatapan kagum dan penuh harapan dari mereka, terutama para polisi wanita yang menatap Berlin dengan tatapan kagum.


"Karena kemarin belum sempat, jadi di sini saya akan memperkenalkan kepada kalian semua. Tim Pengintai kita, dan dipimpin langsung oleh Berlin," ujar Garwig di hadapan para anggotanya dengan sikap yang sangat formal.


"Pemimpin?"


"Apa petinggi kita bercanda?"


"Lalu, bagaimana dengan James?"


Mendengar hal tersebut, Berlin langsung jadi bahan perbincangan. Semua anggota yang hadir cukup terkejut dengan posisi Berlin sebagai pemimpin di timnya. Tetapi Berlin tidak mempedulikannya, dirinya lebih menaruh sikap cuek dan dingin seperti biasanya.


"Berlin, silakan perkenalkan dirimu!" lanjut Garwig menoleh dan meminta Berlin untuk memperkenalkan dirinya.

__ADS_1


Berlin sempat melirik kepada Garwig sebelum berbicara. Ia menaruh sikap yang sangat tegas dan dingin layaknya di hadapan teman-temannya. "Salam kenal, nama saya sudah disebut oleh Garwig, jadi kalian pasti sudah tahu. Saya memegang kendali penuh atas kelompok milik saya sendiri," ucap Berlin dengan nada datar dan sikap yang benar-benar dingin.


.


"Semoga kalian bisa bekerjasama, dan dapat diandalkan," lanjutnya dengan nada di sikap yang benar-benar sangat menyindir dan memancing.


***


"Hahaha, dia menaruh sikap seperti sedang berhadapan dengan kita aja," celetuk Kimmy tertawa melihat Berlin dari belakang.


Nadia tersenyum dan berkata, "dasar, Berlin!"


"Kata-kata yang bagus, hahaha," cetus Asep tertawa menyindir perkataan Berlin terakhir.


Teman-temannya yang menyaksikan dari belakang banyak tersenyum dan tertawa kecil melihat Berlin seperti itu. Mereka sudah biasa dengan sikap Berlin yang sepeti itu. Tetapi sepertinya tidak bagi hampir semua anggota polisi yang ada di sana.


"Sepertinya dia benar-benar meremehkan kita!" gusar beberapa anggota polisi yang berbaris di hadapan Berlin.


"Dasar, seolah-olah dia paling tahu di sini!"


"Dia memanggil petinggi kita hanya dengan menyebut namanya?!"


Namun dari semua anggota polisi yang berbisik-bisik membicarakan Berlin dengan sikap sangat tidak suka. Hanya kelompok atau barisan yang dipimpin oleh Prime saja yang sunyi senyap dan benar-benar menyaksikan serta mendengarkan Berlin dengan saksama.


***


"Sepertinya sifatmu yang seperti itu masih ada ya, Berlin? Bisa kacau kalau tidak segera diluruskan," batin Garwig yang tampak memaklumi Berlin.


Setelah berbicara singkat di hadapan semua anggota polisi. Berlin kembali diam dan berdiri tegap di samping Garwig.


"Baiklah. Ada benar apa yang dikatakan oleh Berlin. Di sini kita dituntut untuk saling bekerjasama dan saling mengandalkan, saya pun juga mengandalkan kalian semua," ujar Garwig dengan tegasnya melangkah lebih depan di hadapan semua anggotanya.


"Di sini saya akan menekankan kepada kalian untuk tidak menyerang tim pengintai! Seperti yang kalian lihat, mereka mengenakan hoodie berwarna biru lengan putih, dan bertuliskan Ashgard di punggung. Jika salah satu dari kalian melanggar, maka akan ada sanksi berat dari saya, karena itu termasuk dalam tindakan penghianatan."


Nampaknya Garwig sangat menekankan hal tersebut kepada semua anggotanya. Selain ia memprioritaskan keselamatan anggotanya, dirinya juga memprioritaskan keselamatan Berlin dan teman-temannya. Terutama kepada Berlin sendiri. Karena mengingat Berlin satu-satunya yang berharga yang tersisa dari generasi terakhir keluarga besar Gates.


Setelah Garwig selesai berbicara. Prawira pun berjalan mendekati Garwig, dan menggantikannya. Tampak ia memberikan arahannya kepada semua anggotanya, dan meminta kepada semua anggotanya untuk mengikuti arahan agar rencana miliknya berjalan dengan lancar.


...


Setelah semua arahan diberikan dan selesai. Semua anggota polisi mulai bersiap untuk segera melaksanakan rencana milik Prawira, yaitu untuk membersihkan kelompok Mafioso.


Sebelum berangkat Berlin menghampiri Nadia yang berada di dalam kantor polisi bersaman Netty untuk menangani bagian pemasok.


"Sudah mulai, ya?" cetus Nadia di hadapan Berlin dengan sedikit tertunduk. Kekhawatiran sangat tertampak dari wajah milik Nadia.


"Tenang saja, aku tidak sendiri, kok!" ucap Berlin tersenyum.


"Hati-hati, ya? Aku di sini akan menunggumu," ujar Nadia menatap Berlin dengan penuh harapan agar lelakinya itu baik-baik saja.


Berlin mengangguk tanpa keraguan, "pasti!"


"Bagi yang masih membutuhkan perlengkapan, silakan ke loker!" titah Netty berteriak kepada semua rekan-rekannya yang bersiap di halaman belakang.


"Netty, tolong jaga Nadia, ya?" lanjut Berlin ketika Netty berjalan menghampiri mereka berdua.


"Siap! Tenang saja," sahut Netty tersenyum.


"Berlin, aku bukan anak kecil!" gusar Nadia mengerucutkan bibirnya sedikit ke depan.


Berlin terkekeh melihat ekspresi Nadia yang justru imut baginya. Dirinya mengelus kepala milik kekasihnya dan berkata, "iya, iya," ucapnya dan lalu tersenyum. "Aku berangkat, ya?" lanjutnya.


"He'em!" gumam Nadia mengangguk dan terlihat tidak begitu mencemaskan banyak hal seperti sebelumnya.


.


"Aku juga akan berusaha dari sini!" lanjutnya bersemangat.


***


"Siska, bersiap, ya!" titah Prawira kepada Siska yang berada di Kantor Pusat melalui radionya.


"Siap! GPS milik Berlin dan timnya sudah terpantau bergerak perlahan mendekati wilayah Bukit Sunyi!" jawab Siska melalui radio seraya terus memantau layar monitor yang ada di hadapannya.


.


"GPS semua anggota juga sudah terpantau dengan amat jelas!" lanjutnya.


"Baiklah, terus lakukan tugasmu!" sahut Prawira.


.


~


.


Pukul 11:00 siang hari.


Tepat setelah Nicolaus mengumpulkan semua anak buahnya di pagi hari tadi. Lima menit kemudian mereka telah meninggalkan wilayah Bukit Sunyi untuk melaksanakan rencananya.


Sebuah gudang yang terletak di atas bukit kecil bagian Barat dari Danau Shandy Shell telah menjadi markas sementara kelompok milik Carlos. Sedangkan Nicolaus sendiri memantau semua pergerakan kelompoknya dari tempat yang paling rahasia, bahkan hanya tiga orang saja yang mengetahui tempatnya saat ini. Dirinya menyebarkan semua anak buahnya ke berbagai penjuru di wilayah Bukit Sunyi secara diam-diam.


Tampaknya Mafioso telah terbagi menjadi dua kelompok dengan tujuan yang sama, yaitu untuk membuat kekacauan di Shandy Shell sesuai dengan apa yang diminta oleh Nicolaus selaku petinggi paling tinggi pada kelompok tersebut. Carlos hanya bisa menuruti perintah itu. Namun meski begitu, dirinya tetap akan melaksanakan rencananya sendiri yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari.


"Tim pengintai kepolisian memasuki wilayah Bukit Sunyi," ucap salah satu anak buah memberikan informasi yang tampaknya sangat penting melalui radio.


"Baik, pantau terus, dan kalian semua silakan langsung bersiap untuk aksi yang sebenarnya!" sahut Nicolaus dengan nada bicara datar. Setelah mengatakan hal seperti itu, dirinya mematikan radionya dan lalu tertawa kecil setelahnya dengan sendirinya.


***


"Sunyi sekali di sini," celetuk Aryo melalui radio.


"Langsung ke posisi masing-masing, ya!" titah Berlin kepada semua temannya melalui radio.


Semua temannya kembali mengambil posisi pemantauan mereka seperti kemarin. Begitu pula dengan Berlin yang memantau dari atas perbukitan sebelah Utara.


"Bos, aneh nggak sih menurutmu?" cetus James memberikan teropongnya kepada Berlin yang berdiri di sampingnya.


DEG.


Berlin pun menerima teropong tersebut dan melihat ke arah sebuah rumah yang sangat besar seperti kemarin. Namun anehnya situasi di rumah besar tersebut sangatlah sepi, bahkan tidak ada orang sama sekali. Dirinya langsung dibuat tertegun sejenak seraya perlahan menurunkan teropongnya. Berlin mencoba mencerna dan memikirkan apa yang sebenarnya terjadi di tempat atau rumah itu.


"Um, aku tidak melihat adanya orang dari posisiku, ya!" cetus Sasha melalui radio.


"Aku juga tidak melihat," sahut Salva.


"Berlin?" ucap Kimmy mendekati dan memanggil Berlin yang tampak melamun seperti sedang memikirkan sesuatu.


Berkat Kimmy yang memanggilnya, Berlin langsung tersadar dan tergesa-gesa berjalan kembali ke mobil seraya mengatakan, "kita harus segera kembali!"


Asep, James, dan Kimmy dibuat bingung dengan sikap Berlin yang tiba-tiba seperti itu. "Apa?" cetus Asep.


Dengan mengambil radio yang diletakkan di dalam mobilnya, Berlin langsung memerintahkan semua teman-temannya untuk mundur. "Semuanya, kita harus mundur dan keluar dari sini!" titahnya.


Perintah atau arahan yang tiba-tiba itu membuat semua teman-temannya bingung. Mereka bertanya-tanya tentang apa maksud dari perintah yang diberikan oleh Berlin.


"Apa?!" sahut Rony melalui radio.

__ADS_1


"Apa maksudmu, Bos?" sahut Faris melalui radio.


"Tunggu, tunggu!" Asep langsung menghentikan Berlin yang akan segera kembali masuk ke dalam mobil. "Kami tidak paham apa yang kau maksud, Berlin," ucapnya.


"Iya, kami pun bingung melihatmu yang tiba-tiba bingung seperti ini," sambung Kimmy.


Berlin terdiam sejenak. Dirinya terlihat kembali berpikir untuk menjelaskan maksudnya kepada teman-temannya.


"Um, begini, kalian semua aku tunggu untuk berkumpul di posisiku sekarang dalam waktu satu menit!" titah Berlin kepada semua teman-temannya melalui radio.


"Aku akan jelaskan!" lanjutnya menjawab perkataan Asep.


Sebelum Berlin menjelaskan maksudnya untuk mundur dan keluar dari wilayah Bukit Sunyi itu. Dirinya menunggu semua teman-temannya berkumpul terlebih dahulu agar tidak terjadi adanya miskomunikasi.


...


Tak perlu menunggu waktu lama, semua teman-temannya langsung berkumpul di posisinya secara bersamaan dan lengkap. Berlin pun mulai memberikan penjelasan dari keputusan yang diambilnya baru saja.


"Jadi gimana?" tanya Galang.


"Begini, kalian semua melihat kalau tempat itu sepi tak ada orang sama sekali, bukan?" tanya Berlin dengan satu tangan menujuk ke arah rumah besar milik Mafioso.


"Ya," jawab teman-temannya.


.


"Aku juga sudah pastikan bahwa tidak ada orang sama sekali di sana," sambung Kent.


"Belasan atau bahkan puluhan orang sudah kita lihat jelas kemarin malam dalam kurun waktu delapan jam sampai sekarang. Dan sekarang mereka semua menghilang? Apakah itu tidak menjadi sebuah keanehan?" jelas Berlin secara singkat.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Berlin, itu membuat teman-temannya lebih waspada dengan keadaan sekitar. Beberapa dari mereka sering kali melirik ke sekitar untuk memastikan.


"Iya, sih," sahut Bobi menopang dagunya dan berpikir.


***


"Kami sudah di posisi, Bos. Tinggal menunggu perintah!" cetus salah satu anak buahnya berbisik-bisik kepada dirinya melalui radio.


Nicolaus sendiri yang mendengarkan laporan tersebut pun tersenyum lebar. Ia tanpa basa-basi langsung menjawab, "silakan habisi! Dengan ini ... aksi besar kita sebagai kelompok Mafioso telah dimulai!"


***


DORR ... DORR ... DORR ...!


Di tengah Berlin sedang membicarakan hal tersebut kepada semua temannya. Tiba-tiba saja beberapa tembakan langsung mengarah ke dirinya dan teman-temannya. Sontak itu mengejutkan Berlin dan teman-temannya, dan membuat mereka harus memberikan perlawanan.


"Berlin, awas!" teriak Kimmy berlari menubruk Berlin ketika sebuah tembakan diarahkan ke dirinya.


BRUUKK !


Akibat mencoba untuk menyelamatkan Berlin, itu membuat Kimmy sendiri terluka akibat tembakan yang baru saja dilancarkan seseorang dari balik semak belukar. Namun untungnya hanya sebuah luka gores yang didapatkan Kimmy pada lengan kanannya. Meski begitu, darah tetap saja bercucuran membanjiri tangan kanannya.


Melihat rekannya terluka, Berlin langsung membalas tembakan yang berasal dari semak-semak dengan sangat membabi buta. Namun bukan berarti dirinya menembak secara asal.


"Arrghh !!" teriak seseorang dari balik semak-semak itu setelah ditembak oleh Berlin.


Meski satu pelaku telah berhasil Berlin lumpuhkan, tetapi tembakan demi tembakan terus-menerus menghujani Berlin dan teman-temannya dari arah perbukitan lain.


"Kimmy, masuk ke mobil sekarang!" titah Berlin merunduk menarik tangan Kimmy secara hati-hati untuk masuk ke mobil.


"Pengendara motor langsung cari posisi kalian untuk menghabisi orang-orang ini!" lanjut Berlin langsung memberikan arahannya.


"Siap, Bos!" sahut teman-temannya yang menjadi regu pengendara motor. Mereka pun langsung berlari menuju motor mereka masing-masing.


"James, Asep, beri tembakan perlindungan buat pengendara motor untuk pergi dari sini!" titah Berlin dan lalu menembaki beberapa sumber percikan api yang terlihat dari balik semak-semak di bukit seberangnya. Begitu pula dengan dua rekannya itu.


Setelah semua pengendara motornya berhasil pergi. Berlin pun menghentikan tembakan dan langsung segera masuk ke dalam mobil bersama dua rekannya itu.


"James, kabari Prawira!" titah Berlin kepada James.


"Baik!" sahut James yang lalu mengambil radio miliknya dari kantong.


Desing ... Desing ...!!!


Suara benturan peluru terus-menerus terdengar. Peluru-peluru itu tidak hentinya menghujani mobil yang dinaiki oleh Berlin dan ketiga rekannya. Tetapi beruntungnya, Berlin membawa mobil anti peluru beroda enamnya yang biasa ia pakai berkegiatan untuk kelompoknya.


***


"Mereka benar-benar tidak bisa anggap remeh!" gusar salah satu anak buahnya di radio.


"Bos, kami harus apa?!" teriak anak buahnya yang lain.


Para anak buahnya terdengar sangat panik dan ketakutan ketika harus menghadapi kelompok milik Berlin. Namun Nicolaus mengambil sikap tak begitu menghiraukan keselamatan para anak buahnya yang ada di sana. Dirinya hanya menjawab, "selesaikan tugas kalian di sana, atau kalian yang akan terselesaikan. Kelompok dua akan segera melakukan penyerangan, jadi semoga beruntung."


"Akhirnya, Garwig Gates. Mafioso telah melakukan aksinya," gumam Nicoalus dengan sendirinya dan lalu tertawa terbahak-bahak.


***


"Arrgghhh ...!!!"


Suara tembakan-tembakan itupun akhirnya berhenti, dan peluru-peluru itu juga berhenti terus-terusan menghujani mobil yang dinaiki oleh Berlin.


"Di sini sudah bersih, Bos!" cetus Aryo kepada Berlin melalui radio.


"Di bagain sini pun juga!" sambung Kent melalui radio.


"Untung mereka cupu sekali dalam hal menembak," celetuk Galang di radio.


"Baiklah, beberapa dari kalian terus pantau keadaan sekitar dan pastikan tidak ada yang mencurigakan! Aku akan mengobati Kimmy yang terluka terlebih dahulu," ujar Berlin kepada teman-temannya melalui radio.


"James, kau jaga sebelah sana!" titah Asep menujuk arah yang dimaksud saat kembali turun dari mobil bersama James dengan masing-masing tangan siap memegang pistol berisikan timah tajam mereka.


Semua teman-temannya melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Berlin dengan sangat baik. Sedangkan Berlin sendiri masih sibuk mengobati luka pada lengan milik Kimmy di mobil.


"Terima kasih, tadi aku tidak memperhatikan dari arah situ," ucap Berlin membersihkan darah yang mengalir dari luka tersebut menggunakan kain kasa yang tersimpan pada kotak pertolongan pertama yang ada di mobilnya.


.


"Maaf, karena ku kau jadi terluka begini," lanjutnya meminta maaf.


"Tidak masalah. Bos 'kan prioritas utama!" sahut Kimmy dan lalu tersenyum lebar dan dengan ekspresi ceria, seolah tidak ada yang terjadi pada dirinya.


Kimmy kembali diam menahan rasa sakit yang diderita pada lukanya. Rasa perih sangatlah terasa ketika Berlin membersihkan area lukanya, walau dengan perlahan-lahan.


"Tahan, ya? Aku akan menutupnya," ucap Berlin bersiap dengan perban yang ia ambil dari dalam kotak P3Knya.


Kimmy diam meringis kesakitan ketika perban itu mulai membalut dan menutup luka pada lengannya dengan perlahan. Berlin benar-benar mengobati luka Kimmy dengan sangat perlahan dan hati-hati.


"Makasih, Berlin," ucap Kimmy tersenyum setelah Berlin selesai mengobatinya.


Di saat Berlin selesai mengobati luka milik Kimmy. Tiba-tiba informasi masuk dari temannya yaitu KIna. "Bos, sepertinya ... Shandy Shell terjadi kekacauan," ucap Kina dengan nada begitu berat ketika mengatakannya di radio.


DEG.


Berlin dibuat terdiam membisu dengan tatapan tidak percaya. Saat ia ingin memastikan apa yang dilihat oleh Kina dengan sedikit mendaki bukit kecil di dekatnya. Dirinya dapat melihat dengan jelas kepulan asap yang membumbung tinggi, dan itu berasa dari Kantor Polisi Shandy Shell.


"tidak ... mungkin," gumam Berlin dengan sendirinya saat melihat kepulan asap yang timbul dari kekacauan yang terjadi di Shandy Shell, terutama pada kantor polisi Shandy Shell.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2