
"Hai, Nadia. Kamu pasti kaget ketakutan saat menemukan kotak berisikan boneka dengan keadaan penuh darah dan surat ini. Boneka beruang putih yang berlumuran darah ini sebenarnya adalah sebuah hadiah yang dahulunya ingin ku berikan untukmu, dan termasuk hadiah yang ingin ku berikan untuk menyatakan perasaan ku pada mu. Tetapi aku sangat syok dan sempat putus asa ketika menyadarinya, kalau kamu sudah memiliki dan dimiliki lelaki lain, yang ternyata laki-laki tersebut adalah orang yang ku kenal."
.
"Asal kamu tahu, rasanya sangat sakit menerima kenyataan itu. Dan aku sangat ingin, kamu juga merasakan kesakitan yang sama seperti ku rasakan, bahkan lebih. Maka berhati-hatilah, Nadia. Karena aku terus mengawasi mu dari sudut yang tidak kamu ketahui dan sadari. Kamu itu baik, imut, cantik, dan sangat sempurna sebagai seorang gadis. Namun sayang sekali bukan aku yang berada di hatimu, dan bisa memiliki mu."
.
"Sebagai kalimat penutup untuk surat ini, jujur aku sangat ingin memiliki dirimu, Nadia."
Semua kalimat itu tertuliskan di secarik kertas yang Berlin temukan di balik dari boneka beruang putih tersebut. Berlin sendiri cukup dibuat bingung setelah membaca semua tulisan itu. Namun dirinya merasa sedikit memahami apa yang sedang terjadi atau mungkin pernah terjadi kepada kekasihnya, yaitu Nadia.
...
Setelah membersihkan sedikit kekacauan yang mewarnai kamar milik Nadia. Dengan membawa kotak hitam yang sudah terbungkus dengan kain putih, dan kantung plastik sampah, Berlin pun berjalan keluar rumah dan membuang semua sampah kotoran itu di tempat sampah.
Di saat ia berjalan keluar rumah, Berlin dapat melihat Nadia yang masih terlihat duduk di jok mobilnya dengan keadaan lemas gemetaran, karena telah melihat apa yang tidak seharusnya dia lihat.
Ekspresi senang dan ceria yang sebelumnya selalu ditunjukkan oleh Nadia selama perjalanan. Tiba-tiba berubah drastis setelah mendapati benda atau kotak hitam tersebut. Entah mengapa, rasa bersalah tiba-tiba timbul dari benak Berlin.
Setelah membuang kantung sampah yang ia bawa. Berlin pun berjalan mendekati bagian belakang mobilnya, dan membuka bagasi belakang serta meletakkan kotak hitam tersebut di dalam bagasi. Setelah selesai, ia pun menutup kembali bagasi mobilnya dan berjalan mendekati kekasihnya yang masih terlihat syok.
Nadia tiba-tiba bangkit dari duduknya dan bertanya, "kamu mau ngapain dengan benda itu ?" tanyanya sesaat setelah melihat Berlin yang justru malah menyimpan kotak hitam itu di dalam bagasi mobilnya.
"Aku akan coba cari tahu siapa pemiliknya," jawab Berlin dengan menatap kedua mata milik kekasihnya.
Seketika Nadia langsung tertunduk dan diam setelah Berlin menatapnya. Terlihat kedua tangan milik Nadia saling menggenggam erat ke bawah seperti menyembunyikan rasa takut. Tubuhnya masih terasa lemas dan gemetaran, walau saja sekarang sudah lebih baik.
Berlin menyadarinya dan sangat memahami apa yang Nadia rasakan saat ini. Dirinya juga sangat menginginkan hal seperti ini tidak terjadi.
"Hei, apa ... aku boleh memohon sesuatu kepadamu ...?" tanya Berlin dengan menggenggam perlahan kedua tangan milik Nadia terasa kaku.
Sesaat setelah bertanya seperti itu. Nadia tiba-tiba menyandarkan dirinya dan memeluk Berlin secara erat. Saat memeluk lelakinya, ia memohon, "Jangan ... tinggalkan ... aku sendiri ...!" titahnya sangat pelan kepada Berlin.
Nadia juga terlihat sedikit meneteskan air matanya saat memohon dan mengucapkannya.
Berlin melepaskan pelukan tersebut secara perlahan, dan lalu menyatakan permohonannya yang belum sempat terucap.
"Memang ... aku belum pantas untuk meminta atau memohon hal ini," ucap Berlin.
Nadia yang sebelumnya tertunduk, tiba-tiba kembali mengangkat kepalanya dengan ekspresi bingung.
"Tetapi, aku mohon ... untuk sementara ini ... tinggallah bersamaku ... sampai semua ini selesai !" titah Berlin dengan memegang dan menatap kedua mata milik Nadia yang terlihat berkaca-kaca.
.
"Aku janji ... akan menyelesaikan masalah ini secepatnya !" sambungnya.
Permohonan itu seketika membuat Nadia cukup tersipu terdiam dan tertegun. Begitu pula dengan Berlin yang memohonnya. Suasana canggung tiba-tiba saja terbentuk, dan keduanya hanya terdiam dengan saling beradu pandangan.
Berlin terlihat sangat malu setelah memohon atau meminta seperti itu kepada kekasihnya, karena menurutnya dirinya belum pantas untuk meminta seperti itu. Ia pun mencoba untuk memberikan alasannya kepada Nadia, kenapa dirinya terlihat sangat serius dan memintanya.
"Aku minta seperti ini kepadamu, karena ... surat ini ...," ujar Berlin dengan mengeluarkan robekan kertas surat yang ia kantongi di saku hoodienya.
Setelah melihat dan sedikit membaca tulisan pada robekan kertas di atas telapak tangan milik Berlin. Nadia sangat paham dengan apa maksud oleh lelakinya itu, sampai-sampai dia meminta hal tersebut kepada dirinya.
Dengan tersenyum kecil Nadia menjawab permohonan atau permintaan yang diutarakan Berlin kepadanya, "baiklah ... aku paham kok," jawabnya.
.
"Berarti, aku harus mengemasi pakaian ku terlebih dahulu," lanjutnya.
"Huh ...," Berlin menghela napas lega saat Nadia memahami maksud dari keinginannya.
.
"Apa perlu bantuan untuk mengemasi ?" tanyanya.
"Ti-tidak, tidak usah. Aku bisa sendiri kok !" sahut Nadia yang terlihat salah tingkah dan sangat tersipu malu saat mengingat tentunya ada beberapa privasi yang ia tidak ingin dilihat oleh Berlin.
"Hahaha ...," Berlin malah tertawa terbahak-bahak saat melihat tingkah dari Nadia yang menurutnya cukup lucu.
.
"Baiklah kalau begitu, aku tunggu di sini, ya," ucapnya yang lalu bersandar di samping mobilnya.
"He'em," gumam Nadia dengan mengangguk, dan lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya untuk berkemas.
...
"Apa ... orang yang mengirim ini adalah ... Dia ...?" gumam Berlin di dalam hati yang penuh dengan pertanyaan tentang kotak hitam dan surat tersebut.
Sembari menunggu Nadia sampai selesai berkemas. Berlin mengambil ponsel miliknya dari saku celana, dan mencoba untuk menghubungi salah satu rekannya.
"Apakah sore ini kita bisa bertemu ?" ketik Berlin dalam sebuah pesan teks, dan lalu mengirimkannya ke seseorang dari salah satu temannya.
"Sepertinya penting ...?"
"Aku selalu siap, Bos. Mau ketemu di mana ?"
Tidak menunggu waktu lama, teman tersebut langsung membalas pesan yang Berlin kirimkan dengan respon cepat.
"Baiklah, aku tunggu di rumah ku sore ini !"
"Alamatnya berada di kompleks bawah balaikota, rumah nomor S17."
"Ajak Adam juga bersama mu, ya!"
Berlin pun langsung membalas pesan balasan yang dikirimkan oleh rekannya itu.
"Siap dimengerti, Bos!"
***
Walau kamar miliknya sudah sangat bersih dari semua kekacauan sebelumnya dan semerbak wangi nan harum. Namun bayangan tentang kotak hitam yang penuh darah sampai membanjiri meja riasnya, masih berlalu-lalang di kepalanya. Bayangan tersebut seakan sangat menempel di pikirannya, dan membuat dirinya cukup mual karena masih terbayangkan.
"Kenapa Berlin bisa tahan dengan semua darah dan bau darah itu ...?" gumamnya di dalam hati saat memasuki kamar dan menuju lemari pakaiannya.
Nadia perlahan membuka lemari pakaiannya, dan mulai mengemasi beberapa pakaian miliknya serta menyimpannya di dalam dari sebuah tas ransel berwarna putih.
DEG.
"Kenapa ... perasaan ini ...?"
Di tengah Nadia sibuk mengemasi pakaian-pakaian miliknya, dirinya tiba-tiba merasa ketakutan seketika. Entah mengapa rasa takut tersebut tiba-tiba timbul di dalam dirinya, dan semua pikiran buruk juga ikut membayangi kepalanya.
Tetapi dirinya mencoba untuk mengalihkan semua pemikiran buruk tersebut dengan terus fokus mengemasi pakaiannya, serta memikirkan hal-hal menyenangkan saat bersama Berlin dan teman-temannya.
SET !
Tidak membutuhkan waktu lama, Nadia akhirnya selesai mengemasi beberapa pakaian miliknya ke dalam tas.
***
Berlin terlihat santai dengan bersandar di pintu mobil yang sebelumnya terbuka namun sudah ia tutup, dan terlihat juga sedang asik memandangi ponsel di genggamannya.
"Oh, sudah selesai ?" tanya Berlin kepada Nadia yang berjalan menghampirinya.
Berlin cukup dibuat tertegun dengan penampilan Nadia yang berbeda, dengan mengenakan tas ransel berwarna putih di punggungnya.
"Ja-jangan ... menatapku seperti itu ...!" cetus Nadia yang terlihat cukup tersipu, saat Berlin menatap dirinya dari atas ke bawah dan sebaliknya.
"Hehehe ...," Berlin tertawa kecil setelah melihat penampilan dari Nadia.
.
"Kamu terlihat seperti anak sekolahan aja," sambungnya.
"Ish ..., tas ini memang dahulunya sering ku pakai untuk sekolah. Terlihat aneh, ya ?" gusar Nadia dengan melangkahkan kakinya lebih dekat ke hadapan Berlin.
__ADS_1
"Ti-tidak kok! Tidak ada yang aneh!" sahut Berlin.
.
"Sudahlah. Rumah sudah dikunci ?" lanjutnya saat membukakan pintu mobilnya untuk Nadia.
"Sudah !" jawab langsung Nadia dengan menunjukkan kunci rumah miliknya yang ia genggam.
"Ya sudah. Ayo !" titah Berlin dengan mempersilakan kekasihnya untuk masuk ke dalam mobilnya terlebih dahulu.
...
Mobil yang dikendarai oleh Berlin pun segera melaju melewati jalanan kota, menuju ke kompleks perumahan bawah balaikota. Selama perjalanan, seiring kali Nadia terlihat melamun dengan pandangan mengarah ke luar jendela mobil.
"Kamu masih terpikirkan, ya ...?" tanya Berlin saat melirik kekasihnya yang terlihat menopang dagu dan terus menatap kosong ke arah luar jendela mobil.
"Ti-tidak kok. A-aku baik-baik saja !" sahut Nadia dengan langsung menoleh dan tersenyum kepada Berlin, seolah memperlihatkan kalau dirinya baik-baik saja.
Berlin tersenyum kecil saat melihat sikap dari Nadia yang seolah-olah baik-baik saja atas semua yang sudah ia lihat.
.
"Kalau nanti dan seterusnya ada yang membuatmu tidak nyaman. Maka ... katakan saja, ya ?" cetus Berlin yang terlihat fokus saat menyetir.
"He'em ...," gumam Nadia dengan mengangguk dan memandang ke arah Berlin yang terlihat fokus menyetir.
"A-aku mau bicara sesuatu, boleh ?" tanya Nadia dengan sedikit tertunduk dan menggenggam erat kedua tangannya.
"Tentu saja boleh !" sahut Berlin.
"Se-sebenarnya ... a-aku ... pernah mendapatkan sebuah surat ancaman juga, sebelumnya ...," ujar Nadia dengan tertunduk dan sedikit gemetaran, serta dengan nada yang terdengar sungguh pelan bahkan hampir berbisik.
"Sudah ku duga ...," gumam Berlin di dalam hati.
Berlin sendiri sudah menduga dan mengetahui hal tersebut. Karena menurut beberapa laporan masuk pada saat dirinya masih berada di luar negeri. Ia mendapatkan beberapa laporan mengenai ancaman yang didapatkan dan diterima oleh kekasihnya, yaitu Nadia.
Berlin sedikit mengurangi kecepatan mobil yang dikendarainya, lalu menoleh menatap kedua mata bersinar milik Nadia dan tersenyum kepadanya.
DEG.
Nadia sendiri malah terkejut dengan sikap yang ditunjukkan oleh lelakinya itu, seakan dia sudah mengetahui apa yang terjadi kepadanya.
"Ke-kenapa ... kamu tersenyum, dan ... menatapku seperti itu ...?" tanya Nadia dengan terlihat salah tingkah ketika ditatap oleh Berlin.
"Sudah, jangan terlalu kamu pikirkan. Nanti kamu drop sakit, bagaimana ?" ucap Berlin dengan menatap kedua mata milik Nadia.
.
"Dan juga ... jangan menyangkal atau mencegah keinginan ku untuk terus menjagamu, serta menyelesaikan masalah ini, ya ...!" sambungnya.
Seketika wajah cantiknya langsung berubah memerah, setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Berlin kepadanya. Di sisi lain, dirinya tidak menyangka akan jadi sejauh ini masalahnya.
~
Sesampainya di rumah milik Berlin yang berada di sebuah kompleks perumahan elit bawah balaikota. Nadia dibuat begitu kagum dengan rumah milik Berlin yang sangat modern, mewah, dan sederhana. Dirinya juga sempat merasa sangat rendah diri atau tidak pantas untuk berada di rumah tersebut.
"I-ini ... rumah mu ...?" tanya Nadia yang terkagum-kagum dengan rumah milik Berlin saat gerbang utama terbuka.
Rumah dua lantai tersebut memang tidak memiliki halaman depan yang luas, namun itu sangat mewah dengan arsitektur yang sangat modern, bahkan jauh dari kata kuno. Bahkan gerbang depannya saja tampak seperti rumah-rumah masa depan, dengan perpaduan warna hitam putih dan dengan teknologi otomatis.
"Iya. Tenang saja, ada dua kamar yang berbeda kok ...!" jawab Berlin saat mengendarai mobilnya masuk ke halaman dan menuju ke garasi depan.
Saat mobil yang dikendarai Berlin memasuki gerbang depan, dan mulai memasuki halaman untuk masuk ke dalam garasi. Gerbang tersebut kemudian tertutup kembali secara otomatis.
"Bu-bukan masalah itu ...," sahut Nadia dengan terlihat sangat canggung ketika menginjakan kakinya sesaat setelah turun dari mobil.
Saat berada di garasi penyimpanan mobil milik Berlin, Nadia hanya melihat satu mobil berwarna putih yang tersimpan di dalamnya. Tidak seperti garasi penyimpanan saat berada di villa, yang menyimpan lebih dari lima mobil sekaligus di dalamnya.
"Hahaha ..., santai saja," saat turun dari mobilnya yang sudah terparkir di garasi, Berlin dibuat tertawa terbahak-bahak oleh kelakuan Nadia yang terlihat kagum bercampur bingung itu.
Berlin menarik tangan milk Nadia untuk berjalan bersamanya keluar dari garasi dan menuju teras rumahnya. Tidak heran baginya jika Nadia bersikap canggung seperti itu saat berada di rumah yang sangat mewah seperti ini. Karena dirinya sendiri juga pernah merasakannya ketika remaja.
Kreeekkk.....
Saat pintu rumah tersebut terbuka secara perlahan, Nadia kembali dibuat kagum dengan isinya yang sangat mewah dengan perpaduan warna hitam putih di langit-langit dan dindingnya, dan beberapa ornamen modern.
"Anggap saja ... ini ... juga sudah menjadi rumahmu, ya ...?" ujar Berlin saat menggandeng tangan milik Nadia, dan berjalan masuk melewati ruang tamu, ruang keluarga, juga dapur, serta berjalan ke arah anak tangga untuk menuju ke lantai kedua.
"Entah mengapa ... aku merasa tidak pantas berada di sini," gumam Nadia dengan sangat pelan saat berjalan menaiki anak tangga.
"Mungkin kamu hanya belum terbiasa berada di sini, jadi santai saja. Sikap mu ini sama seperti saat pertama kamu berada di villa," sahut Berlin yang menyangkal ucapan yang terlontar dari mulut Nadia.
Rumah tersebut terasa sangat luas di bagian dalamnya, dengan terbaginya beberapa ruangan yang memiliki kegunaannya masing-masing.
...
Setelah mereka berdua berada di lantai kedua dari rumah tersebut. Berlin pun segera menunjukkan kamar tidur yang akan dipakai oleh Nadia nantinya.
"Karena aku harus memberimu kamar untuk beristirahat. Jadi ... kamu bisa pakai kamar ini !" titah Berlin saat berada di depan dari sebuah pintu kamar tidur berwarna coklat dengan garis-garis hitam.
Tidak hanya di lantai satu saja, tetapi di lantai kedua juga sangatlah luas. Terdapat satu ruang keluarga yang sudah terdapat tiga sofa, satu meja, dan televisi. Serta juga terdapat dua kamar berbeda yang saling bersebelahan.
Tanpa basa-basi, Berlin pun membuka pintu kamar tersebut dan menunjukkan isi, keadaan, sekaligus suasana di dalamnya.
"Luasnya ...," gumam Nadia di dalam hati saat terpukau dengan suasana dan luas dari kamar tidur yang diberikan oleh Berlin kepadanya.
Kamar tidur tersebut begitu luas dengan suasana yang sangat nyaman dirasakan oleh Nadia. Pandangannya langsung tertuju ke sebuah ranjang dengan selimut yang sudah tersedia dan terlihat sangat lembut. Sepertinya akan sangat nyaman jika dirinya segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang tersebut.
"Kamarnya sangat luas, dan juga sudah memiliki kamar mandi di sana !" ucap Berlin dengan menunjuk sebuah pintu berwarna putih polos di sudut ruangan.
"Apa ... ini tidak berlebihan ...?" tanya Nadia saat melihat ke sekeliling kamar tersebut.
.
Berlin menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya, dan mengatakan, "tentu tidak, karena sudah menjadi tanggung jawabku terhadap mu," katanya yang lalu tersenyum kepada Nadia.
"Karena rumah ini ada di lereng bukit, jadi kamu bisa lihat kolam renang di halaman belakang, dan juga sekaligus pemandangan kota dari jendela ini." Dengan diikuti Nadia, Berlin berjalan ke sebuah kaca jendela yang cukup besar yang letaknya tidak jauh dari tempat tidur.
.
"Oh iya, kamar mandinya sudah termasuk bak mandi cukup luas, shower, wastafel, dan pengaturan air hangat. Jadi mungkin kamu bisa bersantai sejenak dengan berendam air hangat," lanjut Berlin saat berjalan dan membuka pintu kamar mandi.
"Sudah seperti di hotel bintang lima ...," gumam Nadia ketika melihat kamar mandi yang juga cukup luas dengan bak mandi yang luas juga dan terbuat dari serat kaca berwarna putih.
"Kamu tahu cara mengatur suhu airnya, 'kan ?" tanya Berlin saat menyalakan keran di wastafel.
"Hehehe ..," Tiba-tiba Nadia tertawa kecil dan terlihat cukup malu saat mendengar pertanyaan tersebut.
"Kenapa ?" tanya Berlin kembali.
Nadia hanya menggelengkan kepalanya, dan tertunduk malu karena dirinya tidak tahu caranya.
"Bukannya sudah ku beri tahu saat kita berada di villa ?" tanya Berlin kembali.
"A-aku ... lupa ..., hehehe ...," jawab Nadia saat tertunduk dengan sungguh pelan.
"Baiklah, jadi begini cara memakainya!"
"Kalau diputar semakin kanan, maka airnya akan terasa dingin."
"Dan kalau diputar semakin kiri, maka airnya akan terasa panas."
"Nah, kalau kamu ingin air hangat, maka tinggal seimbangkan saja keduanya."
Berlin dengan perlahan memberitahu serta mengajarkan Nadia cara memakai dan mengatur suhu air saat ingin digunakan, sekaligus mempraktekkannya di wastafel yang berada di hadapannya.
Setelah menyalakan kran pada wastfel. Berlin tiba-tiba meraih salah satu tangan milik Nadia untuk merasakan perbedaannya.
SET !
__ADS_1
"Bagaimana? Hangat, bukan?" cetus Berlin saat kedua tangan mereka terguyur air.
"Iya," jawab Nadia dengan mengangguk pelan.
Setelah kedua tangan mereka terguyur air pada kran yang dinyalakan, Berlin pun mematikan kembali kran tersebut.
"Baiklah, karena hari mulai menjelang malam, aku mau mandi dahulu di sebelah !" ujar Berlin saat keluar dari kamar mandi dan berjalan keluar kamar untuk menuju ke kamarnya yang terletak tepat bersebelahan.
"Oh, oke," sahut Nadia.
.
"Berlin, te-terima kasih banyak ...!" lanjutnya dengan sedikit menundukkan kepalanya di hadapan Berlin.
"Sudah, cepat angkat kepalamu !" sahut Berlin.
.
"Lebih baik kamu merapikan pakaian yang kamu bawa ke dalam lemari," lanjutnya.
"Kalau kamu membutuhkanku, aku ada di kamar sebelah !" ujar Berlin yang lalu berjalan keluar kamar meninggalkan Nadia seorang di kamarnya.
.
"Oh iya lupa memberitahu juga, kamu bisa mengatur pendingin ruangannya sesuka hati," lanjutnya saat berjalan keluar kamar.
...
Setelah Berlin keluar dari kamarnya, Nadia pun menutup pintu kamarnya secara rapat dan perlahan. Lalu memindahkan beberapa pakaian yang sudah ia bawa di dalam ranselnya ke dalam lemari yang sudah disediakan.
Setelah selesai merapikan pakaiannya ke dalam lemari, ia melepas satu-persatu pakaian yang dikenakannya dan menggantinya dengan handuk, karena segera ingin merasakan berendam menggunakan air hangat.
"Um ... kalau ke kanan dingin, berarti agak ke kiri sedikit," gumamnya saat mengatur suhu air yang akan ia pakai untuk berendam di bak mandi.
"Okee ...!"
Suhu berhasil diatur, ia pun segera memenuhi bak mandinya dengan air hangat sesuai dengan keinginannya.
1 menit kemudian...
Bak mandi pun akhirnya terisi dan sudah cukup menurutnya. Ia pun segera masuk ke dalam bak mandi tersebut, dan berendam di dalamnya dengan air hangat.
Byuurrr ...!
Suara derasnya air yang sampai tumpah-ruah keluar bak mandi, karena seluruh tubuh milik Nadia yang sudah berada di dalam bak mandi.
"Huh ..., ini kali kedua ku merasakan bak mandi yang seperti ini ...," gumamnya sesaat setelah menghela napas saat berendam.
Kali pertamanya dirasakan saat dirinya menginap satu malam di villa milik Berlin yang terletak di atas perbukitan.
"Hangatnya ...."
Hangatnya air dalam bak mandinya sangat bisa dirasakan, dan membuatnya menjadi sangat rileks seakan semua beban ikut larut dengan air hangat tersebut.
"Setelah dipikir-pikir ... apa yang akan ku lakukan setelah ini ...?"
"Aku harus bisa membalas kebaikan Berlin !"
"Tetapi ... bagaimana ...?"
Beberapa kali Nadia bergumam sendiri di tengah dirinya sedang berendam.
"Ah, sepertinya aku tahu rencana apa yang harus 'ku lakukan ...!"
15 menit kemudian...
***
"Apakah ... semuanya akan baik-baik saja ...?" gumam Berlin setelah selesai dari mandinya dan segera memakai pakaian miliknya.
Kring... Kring... !
Dering ponsel miliknya tiba-tiba berbunyi dan menandakan adanya panggilan suara masuk dari seseorang.
Setelah melihat siapa kontak yang meneleponnya, Berlin pun langsung mengangkat telepon tersebut.
"Ya, gimana ?" cetusnya.
"Kami sudah di depan, Bos !"
Pandangan Berlin pun langsung tertuju pada dua layar monitor pada meja di sampingnya yang menampilkan kamera pengawas pada gerbang utama. Di layar tersebut terlihat dua orang yang sudah menunggu di samping dari sebuah mobil sedan berwarna putih.
"Oke, sebentar akan ku bukakan gerbangnya. Setelah gerbang terbuka, kalian masuk saja !" titah Berlin.
Berlin pun mengakhiri panggilan tersebut, dan segera memakai pakaiannya lalu menemui kedua rekannya yang sudah menunggu di depan gerbang.
Karena gerbangnya masih tertutup rapat, Berlin harus membukakannya terlebih dahulu agar kedua rekannya bisa menunggu di halaman rumah.
KLIK ...!
Ia mengambil dan menekan sebuah tombol pada sebuah remote untuk mengkontrol gerbang di depan.
Setelah memakai semua pakaiannya, Berlin pun berjalan keluar dari kamarnya dan menuruni satu-persatu anak tangga.
...
"Kamu cari apa ?" cetus Berlin sesaat menuruni tangga karena mendapati Nadia yang terlihat mencari sesuatu dari dalam kulkas.
"Eh?" Nadia sepertinya terkejut dengan kehadiran Berlin yang tiba-tiba, dan menjadi sedikit salah tingkah.
"Oh, anu ..., um ... ng-nggak sedang mencari apa-apa kok !" Nadia yang terkejut pun langsung berbalik dengan menutup kulkas tersebut.
"Kamu lapar, ya ...?" tanya Berlin saat berjalan mendekatinya.
DEG.
Berlin terlihat sangat terpesona saat melihat Nadia memakai dress santai selutut berwarna putih, dan tanpa menggunakan riasan apapun kecuali kalung pemberiannya yang terus melingkar di leher Nadia.
"Ti-tidak ! Bu-bukan seperti itu !" sahut Nadia.
"Um ..., sebenarnya ... aku hanya ingin memasakkan sesuatu untukmu, sebagai ucapan terima kasih ku ...," lanjut dengan tertunduk tersipu-sipu saat mengatakannya.
.
"Tetapi, ternyata kulkasnya kosong ..., hehehe ...," lanjutnya yang lalu tertawa kecil menahan rasa malunya setelah mengatakan hal itu.
"Hahaha ...," Berlin langsung dibuat tertawa setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Nadia kepadanya.
"Ya ampun, aku memang jarang masak, maka dari itu kulkasnya kosong," ucap Berlin.
.
"Kalau begitu, besok kita pergi berbelanja aja!" lanjutnya.
"Baiklah ...," jawab Nadia yang sepertinya terlihat sedikit kecewa karena tidak sesuai rencananya.
"Ya sudah, aku mau menemui dua temanku ku di depan. Kamu mau ikut ?" tanya Berlin.
"Baik ...!" jawab Nadia yang lalu berjalan mengikuti Berlin dari belakang.
.
Bersambung.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
(Bagian dua) akan segera dipublikasikan pada tanggal 01/07/2021, jam 17:00 PM seperti biasa.
Terima kasih sudah membaca sampai akhir, dan semoga menghibur kalian.
__ADS_1
Sehat selalu ya kalian .... :)