Mafioso In Action

Mafioso In Action
Ketenangan Malam yang Kembali #77


__ADS_3

15 menit berlalu. Namun asap tebal berwarna putih itu masih saja menyelimuti Berlin, dan membuatnya sulit untuk melihat dengan jelas. Tetapi beruntungnya, asap itu tak setebal awal kemunculannya.


Beberapa kali juga Berlin mendapatkan serangan dadakan dari Nicolaus yang menyerangnya dari balik tabir asap. Tetapi semua serangan menggunakan pedang itu digagalkan oleh Berlin dengan begitu mudah dan spontan.


"Aku tidak kecewa untuk mengujimu di sini, Berlin," celetuk Nicolaus yang lagi-lagi bersuara dari balik tabir asap.


"Aku ... aku sudah muak dengan ini ...!" gusar Berlin yang terlihat benar-benar geram dengan permainan Nicolaus kepadanya. Dirinya serasa dipermainkan.


Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja terdengar suara Garwig yang berteriak, "Nicolaus, urusanmu denganku, bukan dengannya!"


WUUSHHH ...!


Asap putih tebal itu semakin lama semakin memudar karena tertiup angin malam yang cukup kencang di atas bukit itu. Kini Nicolaus tidak dapat bersembunyi di balik asap yang ia buat tadi.


"Oh, sekarang ... aku benar-benar tidak diuntungkan, ya?" ucap Nicolaus berdiri di dekat mobil sedan berwarna hitam miliknya. Di hadapannya sudah ada Garwig yang berdiri di samping Berlin dan menatapnya dengan tatapan tajam tidak suka.


Anak-anak buah Nicolaus juga tersisa sangat sedikit, karena yang lainnya sudah berhasil dikalahkan oleh personel milik Garwig dan Prime beserta bantuan teman-teman Berlin yaitu Ashgard.


"Sudahilah semua kekacauan ini, Nicolaus. Anak-anak buahmu juga sudah tidak dapat melakukan apa-apa," ucap Garwig.


"Modal banyak doang, tetapi tetap aja ujung-ujungnya kalah juga, cih!" celetuk Berlin memanas-manasi suasana.


Garwig berjalan perlahan mendekati Nicolaus dan berusaha untuk bernegosiasi dengannya agar mau menyerah dengan kooperatif.


"Jika aku menyerahkan diri, maka hasilnya akan sama saja, yaitu aku akan mati tetapi di tangan hukum," ujar Nicolaus sedikit menundukkan kepalanya.


.


"Sebelum hal itu datang, aku ingin sedikit memuaskan diriku terlebih dahulu!" lanjutnya menatap Garwig dengan tersenyum sinis seolah sudah merencanakan sesuatu.


"Awas!" teriak Berlin menyadari Garwig terancam. Dirinya melihat beberapa anak buah Nicolaus yang tersisa sedang membidik Garwig dari balik pepohonan.


DOR ... DOR ...!


Suara-suara tembakan pun terdengar dari balik pepohonan dan semak-semak. Namun tidak ada peluru yang mengarah ke Garwig ataupun Berlin di sana. Berlin sempat dibuat bingung dengan apa yang terjadi di balik pepohonan itu.


"Bos! Kau beraksi tanpa mengajak kami itu namanya curang, tahu!" teriak seseorang kepada Berlin dari balik pepohonan itu melalui radio yang ia simpan di sakunya. Suara yang sangat tidak asing di telinganya.


"Kim? Itu kau?" sahut Berlin bertanya-tanya.


"Hei, nggak cuma Kimmy, loh!" sela Kina protes.


"Selesaikan urusanmu di sana, Bos! Kami akan selesaikan yang di sini!" cetus Kent melalui radionya.


Baku tembak serta percikan api itupun terlihat dan terdengar dari balik pepohonan yang gelap di bawah langit malam. Berlin pun membiarkan serta mempercayakan teman-temannya untuk menangani di sana.

__ADS_1


"Sial! Aku lupa ... Ashgard juga ikut campur dalam kekacauan ini!" gusar Nicolaus.


"Nicolaus, cukup sudah! Anak-anak buahmu itu tidak akan bisa melawan teman-teman ku!" tegas Berlin membuang pedangnya, dan berjalan ke arah Nicolaus dengan sebuah pistol di tangannya.


"Kau tidak akan bisa melawan lagi! Dan kau tidak akan bisa lari ke mana-mana!" sambung Garwig.


Kekalahan sudah ada di pihak Nicolaus dan kelompok kejahatannya yaitu Mafioso. Namun, sepertinya Nicolaus tampak masih tak ingin mau kalah dengan mudah begitu saja. Dirinya perlahan berjalan mundur sampai sangat dekat dengan mobil sedan yang sedari awal ia persiapkan di situ.


"Kalau memang aku kalah, maka aku akan membuat kekalahanku sulit untuk dikalahkan!" cetus Nicolaus langsung berlari ke balik mobil sedan miliknya, dan terlihat sedang mempersiapkan sesuatu.


Berlin yang mengetahui hal tersebut pun langsung membidikkan pistolnya, dan siap untuk menembak Nicolaus kapan saja. Begitu pula dengan Garwig.


Belum ada beberapa detik setelah Nicolaus berlari ke balik mobilnya. Tiba-tiba saja mobil sedan hitam itu meledak tepat di hadapan Garwig dan Berlin yang berada cukup dekat.


BTOOMM !!!


Ledakan itu cukup besar, bahkan hampir sama dengan bom bunuh diri yang dilakukan oleh Bagas di gudang Barat Danau Shandy Shell.


Tubuh Berlin terhempas jauh dan membentur sebuah pohon dengan sangat keras. Begitupula dengan Garwig yang terhempas ke arah yang berbeda dari Berlin.


"Berlin!" teriak teman-temannya terkejut dengan apa yang terjadi. Mereka semua langsung menghampiri Berlin yang tampaknya tergeletak dengan kondisi tidak sadarkan diri.


"Berlin, sadarlah!" cetus Kimmy tampak sangat khawatir dengan keadaan Berlin


***


"Ya. Lebih baik berikan pertolongan kepada Berlin!" sahut Garwig langsung memerintahkan Prime. Pandangannya ke arah Berlin yang tak sadarkan diri di sana dengan teman-temannya yang tampak sangat khawatir.


"Baik, Pak!" sahut Prime yang lalu bergegas ke arah Berlin dengan beberapa personel medisnya.


***


"Kim, tenanglah! Dia hanya tidak sadarkan diri," tegas Asep kepada Kimmy yang tampaknya sedikit menangis melihat Berlin yang tak sadarkan diri di pangkuannya.


Kimmy langsung terdiam dan berusaha untuk tenang. Di saat itu juga, Prime datang dengan membawa pihak medis untuk memeriksa kondisi Berlin.


"Biarkan kami memeriksanya," ucap Prime mendekati Berlin yang masih tak sadarkan diri.


...


Beberapa saat kemudian tak menunggu waktu lama, Berlin pun akhirnya tersadar kembali. Dirinya tersadar dan bingung melihat wajah-wajah khawatir dan cemas dari teman-temannya.


"Hei, aku masih hidup, kalian tidak perlu memasang wajah seperti itu," celetuk Berlin yang lalu langsung terduduk dan tersandar di sebuah pohon.


Teman-temannya pun tertawa kecil mendengar celetukan Berlin itu. Mereka juga sekaligus bersyukur Berlin tidak mendapatkan luka yang serius setelah ledakan, dan setelah semua yang terjadi.

__ADS_1


"Kau memang hebat, Berlin. Tak salah kau menjadi bagian dari Gates," ucap Prime setelah selesai memeriksa kondisi Berlin yang dinyatakan baik-baik saja. Tidak ada cedera atau luka serius, hanya saja beberapa luka ringan seperti goresan yang ia dapat.


"Baiklah, sepertinya ... Garwig dan Prawira ingin berbicara denganmu setelah ini," lanjut Prime ketika berjalan kembali dengan kru medisnya.


"Baik, nanti saya akan temui mereka," sahut Berlin.


"Kau benar baik-baik saja, 'kan? Tidak ada yang kau sembunyikan?" tanya Kimmy memastikan, dirinya terlihat cukup cemas.


"Apa yang perlu aku sembunyikan? Membunuh banyak dari mereka?" sahut Berlin dengan nada bergurau yang menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja.


Berlin pun beranjak berdiri, dan melihat ke arah teman-temannya yang ada di hadapannya saat ini. Dirinya tak melihat kekurangan yang ada pada teman-temannya. Ya kecuali Adam yang tidak ada di sana karena memang masih mendapatkan rawat inap di rumah sakit.


"Terima kasih atas kerjasama kalian semua. Tidak ada yang mendapat luka serius, 'kan?" ujarnya berdiri dan melihat ke teman-temannya yang ada di hadapannya.


"Tidak ada, Bos ..!" sahut teman-temannya.


"Mungkin luka serius ada di hatinya Aryo setelah ini ketika kau bertemu kembali dengan Nadia," celetuk Asep bergurau, disusul dengan tawa teman-temannya yang mendengar.


"Bu-bukan seperti itu! A-aku tidak bermaksud apa-apa, Bos!" sahut Aryo menyanggah dengan sedikit menundukkan kepalanya di hadapan Berlin.


Berlin tertawa kecil melihat kelakukan teman-temannya, "sudah, sudah, lebih baik kita kembali," ucapnya.


"Luka serius di hati, ya? Mungkin benar luka itu tidak ada di hati Aryo, tetapi ... ada di hati ku," batin Kimmy terdiam melamun setelah mendengar gurauan Asep.


"Kim, ada apa?" cetus Berlin.


"Ah, tidak, tidak ada apa-apa," sahut Kimmy yang langsung tersadarkan dari lamunannya.


"Ya sudah, kalau begitu, ayo!" ucap Berlin dan lalu sedikit tersenyum. Rasanya dirinya ingin segera meninggalkan perbukitan ini, dan ingin segera kembali.


...


Situasi kekacauan di perbukitan Balaikota pun terkendali setelah ledakan terakhir yang terjadi. Beberapa pelaku dari kelompok kejahatan Mafioso yang masih hidup berhasil diamankan, dan sisa kebanyakannya dinyatakan tewas ditempat akibat melawan petugas.


Keberadaan Nicolaus juga sempat menjadi pertanyaan Berlin dan Garwig yang berada di tempat. Lataran Nicolaus seolah menghilang begitu saja setelah ledakan itu terjadi padanya yang sangat-sangat dekat dengan mobil yang meledak itu.


Namun, Garwig masih menugaskan banyak anggotanya untuk mencari jenazah Nicolaus jika dinyatakan tewas terkena ledakan. Dirinya seolah tidak ingin melepaskan orang bernama Nicolaus itu begitu saja.


Di sisi lain, Prawira tampak sibuk untuk memproses beberapa pelaku yang berhasil diamankan hidup-hidup.


Ketenangan dan keindahan malam kini telah kembali. Langit malam tampak sangat indah dengan bulan dan ribuan bintang yang bersinar sangat indah.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2