Mafioso In Action

Mafioso In Action
Surat #45


__ADS_3

Di sore harinya, terlihat tiga orang berpakaian serba hitam sedang menemani seseorang pria yang sangat penting bagi mereka, yaitu Carlos. Dengan mengendarai mobil berwarna hitam mereka, mereka berempat memasuki wilayah kompleks perumahan elit yang terletak di lereng perbukitan kota secara diam-diam.


Walau pergerakan mereka berempat cukup mencolok, tetapi kompleks perumahan elit tersebut sangat sepi dan jarang orang berlalu-lalang di area kompleks.


"Berarti kita tidak perlu berhenti terlalu lama, Bos ?" tanya seorang anak buah yang sekaligus menjadi sopir kepada Carlos di sampingnya.


"Tidak perlu, aku hanya ingin menjatuhkan sebuah surat di depan rumahnya," jawab Carlos dengan nada dan sikap sangat dingin.


"Kenapa nggak kita culik dan bawa langsung aja ... orang yang kau maksud, Bos ?" sela anak buah keduanya yang duduk di kursi belakang.


"Tidak ! Aku ingin menikmati prosesnya ... dan melihat reaksi Berlin, sekaligus ... perlahan meluapkan kebencian ku padanya," jawab Carlos dengan tenang.


"Aku juga sangat membenci dia, apalagi dengan kelompok Ashgard sampah itu !" sambung anak buah ketiganya yang juga duduk di kursi belakang.


"Sebenarnya ... dari dahulu ... aku sangat ingin bisa menghabisi mereka semua ...," Carlos tiba-tiba bergumam sendiri dengan pandangan terus ke depan.


"Makanya, kita gas aja langsung !" sahut anak buah keduanya dengan sangat bersemangat dengan menggenggam pistolnya.


"Tenang dahulu, jangan mengacau ! Karena semua rencana kita tinggal sedikit lagi untuk memasuki tahap akhir," sela Carlos.


.


"Bahkan ... mungkin saja ... tatanan kota termasuk ketiga wilayah ini ... akan berada di genggaman kita," lanjutnya sembari mengepalkan satu tangannya dan dengan ekspresi yang cukup mengerikan, serta ditambah dengan nada bicaranya yang terdengar cukup kejam.


.


~


.


Di sore harinya dan di bawah langit senja yang sangat cerah, Nadia akhirnya selesai dengan semua pekerjaan rumahnya. Dirinya pun beristirahat di halaman belakang rumah, dan duduk di atas rerumputan hijau yang halus.


"Akhirnya ... selesai !" gumam Nadia saat duduk di atas rerumputan tersebut.


.


"Tetapi menyenangkan juga ...," lanjutnya sembari memandangi perkotaan yang terlihat jelas dari tempatnya berada.


Angin bertiup cukup kencang dan lumayan menyejukkan badan, membuat semua rasa lelah yang dirasakan Nadia seolah berterbangan ikut dengan angin.


Gemericik air kolam renang juga ikut terdengar bersamaan saat angin bertiup mengenainya, dan membuat suasana semakin sejuk di hati.


Suara-suara kicauan burung di sekitar juga terdengar saling bersautan, dan membuat suasana tidak menjadi sepi.


"Huh ...." Nadia menghela napas dan merebahkan tubuhnya di atas rerumputan tersebut. Ia menatap ke arah langit yang berwarna jingga cerah itu dan mulai berbicara dengan sendirinya.


"Aku akan berusaha untuk bisa terus di sampingmu, Berlin. Aku ingin terus mengikutimu, dan terus bersamamu ...," ucap Nadia sembari memandangi langit dan lalu tersenyum sendiri setelah mengatakannya.


"Apapun yang terjadi !" lanjutnya dengan mengangkat satu tangannya ke arah langit seperti menggapai atau meraih sesuatu.


...


Brum ... Brum ... Brum ...!


"Berlin ...?"


Di tengah Nadia sedang nyaman bersantai, tiba-tiba terdengar deru mesin mobil yang berasal dari depan gerbang utama. Nadia langsung berdiri dan bersemangat untuk menyambut kedatangan Berlin.


Di saat ia menaiki tangga untuk menuju gerbang, suara kendaraan tersebut tiba-tiba pergi dan menjauh begitu saja. Nadia yang curiga pun segera memastikannya langsung ke gerbang.


Namun sesampainya ia di gerbang, dirinya tidak menjumpai seseorangpun tdi sana, bahkan sumber dari suara mobilnya juga tidak ia dapati. Tidak ada siapa-siapa di depan gerbang utama tersebut.


"Mungkin ... hanya perasaanku saja ...?" gumam Nadia sesaat setelah menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan.


Setelah dirasa cukup untuk memastikan dan memang tidak ditemukan apapun, dan Nadia juga yakin suara mobil tadi hanya perasaannya saja. Dirinya pun segera kembali masuk dan menutup rapat gerbang tersebut.


"Kenapa sih aku ini ...?" gumam Nadia yang bertanya-tanya kepada dirinya sendiri saat menutup gerbang.


.


"Aku kira Berlin ...," lanjutnya saat gerbang mulai tertutup secara rapat.


Setelah gerbang tertutup rapat, dan di saat Nadia berbalik badan. Ia dibuat cukup terkejut dan bingung dengan sebuah surat yang ia temukan tersangkut di dedaunan tanaman yang berada tepat samping gerbang, seolah surat itu sengaja dilempar dari luar gerbang.


DEG.

__ADS_1


"Surat ini ...?!"


Tiba-tiba suasana hatinya berubah drastis, dan terasa begitu ketakutan ketika membuka dan sedikit membaca surat tersebut. Dengan membawa surat itu di tangannya, Nadia langsung bergegas masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu serta menutup gorden secara rapat-rapat.


"Kenapa ...?"


"Mereka tahu kalau aku di sini ...?"


"Apa ... mereka ... juga mengelilingi rumah ini ...?"


Nadia benar-benar merasa ketakutan ketika mengetahui surat tersebut, walau isi surat itu sangat singkat. Ia sempat kebingungan dan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri saat duduk di sofa ruang tamu.


Saat ia duduk di sofa ruang tamu, dirinya mencoba untuk menghubungi Berlin menggunakan panggilan suara melalui ponselnya. Namun tidak ada jawaban.


"Berlin, cepatlah ... pulang ..!" gumam Nadia tertunduk lemas karena ketakutan dan kebingungan ketika menemukan surat tersebut.


Nadia hanya terdiam duduk di ruang tamu dengan keadaan cukup ketakutan bercampur kebingungan. Beberapa kali terdengar suara motor berlalu-lalang melewati depan rumahnya, dan seolah itu menghantui dirinya.


.


~


.


"Terima kasih banyak, Bos ..!" seru Vhalen ketika Berlin keluar dari ruang perawatan adiknya.


"Sama-sama, kalau begitu aku harus pergi," sahut Berlin.


"Siap, hati-hati," ujar Vhalen tersenyum kepada Berlin yang lalu berjalan pergi.


Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, dan tidak terasa juga Berlin telah menghabiskan waktunya hanya di rumah sakit menjenguk dua orang berharganya.


Karena hari juga sudah mulai gelap, Berlin pun ingin segera pulang ke rumah dan kembali bertemu dengan Nadia yang pasti sudah menunggunya.


"Nadia ...?"


Di saat Berlin masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di halaman rumah sakit. Dirinya dibuat bingung dengan banyaknya panggilan tak terjawab dari Nadia yang masuk.


"Ada apa ?" gumam Berlin cukup kebingungan dan lalu menelepon balik, namun tidak ada jawaban.


.


15 menit kemudian ....


.


Sesampainya Berlin di rumah, dan setelah selesai ia memarkirkan mobilnya ke dalam garasi. Dirinya pun segera berjalan melewati dan masuk ke dalam rumah untuk memastikan. Namun pintu tersebut terkunci rapat dari dalam.


Tok ... Tok ... Tok ...!


Sesaat setelah Berlin mengetok pintu, tak lama pintu tersebut langsung dibukakan oleh Nadia dari dalam. Secara perlahan Nadia membuka pintu tersebut, dan sempat mengintip terlebih dahulu untuk memastikan siapa yang datang.


"Aku pulang," cetus Berlin saat Nadia membukakan pintu untuknya.


"Se-selamat datang," sahut Nadia dengan sedikit gugup walau dirinya merasa sangat lega ketika mendapati kedatangan Berlin.


"Ada apa ? Sampai-sampai ... rumah terkunci rapat," tanya Berlin dengan santainya saat berjalan masuk.


.


"Maaf aku tidak mengangkat teleponmu, karena tadi aku ke rumah sakit untuk menjenguk Adam, jadi ponselku sempat ku matikan," lanjutnya ketika melepaskan hoodie yang ia kenakan.


"A-aku ... menemukan surat ini ... di gerbang rumah," jawab Nadia setelah menutup kembali pintu tersebut, dan dengan menunjukkan sebuah surat yang ia temukan kepada Berlin.


Saat memandang surat tersebut yang ditunjukkan Nadia kepadanya, Berlin langsung tahu siapa pengirimnya dan pembuatnya.


SET.


Dengan menatap kedua mata milik Nadia yang sangat tertunjuk rasa cemas. Berlin langsung menyahut surat itu dari tangan Nadia dan berkata, "aku sita suratnya, ya !"


"Sudah, kamu tidak perlu memikirkannya lagi !" lanjutnya saat melihat Nadia terdiam ketika surat itu ia ambil dari tangannya.


Berlin menunjukkan sikap yang sangat tenang dan santai ketika bertatapan dengan Nadia. Karena dirinya menyadari dan dapat merasakan perasaan atau rasa takut dan cemas yang Nadia rasakan, ketika bertatapan langsung dengannya.


Tampak Nadia menjadi jauh lebih tenang dari sebelumnya setelah surat itu diambil oleh Berlin dari tangannya.

__ADS_1


"Tetapi, apa ... akan baik-baik saja ?" tanya Nadia.


.


"Jujur, aku takut ... kalau tiba-tiba mereka datang ke sini," lanjutnya sembari sedikit tertunduk cemas di hadapan Berlin.


Berlin tersenyum ketika mendapatkan pertanyaan tersebut. Ia pun melangkah dan lebih mendekatkan dirinya kepada wanitanya tersebut, dan menjawab, "selama ada aku di sini, aku bisa menjaminmu ... semuanya akan baik-baik."


.


"Jadi ... jangan jauh-jauh atau pergi dariku, ya ?" lanjutnya dengan perlahan-lahan sedikit dan mulai memeluk kekasihnya itu.


"Eh ?!" Nadia sedikit terkejut dengan Berlin yang secara tiba-tiba memeluk dirinya setelah mengatakan hal yang seperti itu. Namun dirinya malah merasa nyaman dan membiarkan hangatnya pelukan yang diberikan oleh lelakinya itu kepada dirinya.


"Aku nggak ingin pergi darimu, kok," jawab Nadia dengan pelan saat terhanyut dalam pelukan hangat tersebut.


...


"Sudahlah, lagian besok kan akhir pekan," cetus Berlin dengan menggenggam kedua tangan halus milik Nadia setelah melepaskan pelukannya.


Di saat Berlin menggenggam kedua tangan halus milik kekasihnya, dirinya dibuat sedikit terkejut dengan luka pada jari telunjuk kanan milik Nadia. Jari telunjuk tersebut terlihat memerah dan seperti terkena luka bakar.


"Loh, telunjukmu kenapa ?" tanya Berlin sembari perlahan mengelus telunjuk kanan milik Nadia.


Nadia sempat bingung untuk menjawabnya, namun dirinya memilih untuk jujur kepada Berlin.


"Um ... tadi di saat aku membersihkan lantai dua, aku secara sengaja menyentuh dinding besi berbentuk kotak itu, dan ternyata ... itu menyengat," jawab Nadia dengan lirih dan lalu tertawa kecil karena perbuatannya


Berlin memberikan respon dengan hanya sedikit menggelengkan kepala dan tersenyum kepada Nadia. Berlin sendiri memaklumi hal tersebut, karena dari dahulu dirinya sangat mengetahui rasa penasaran yang begitu besar dimiliki olej Nadia terhadap sesuatu.


"Sini !" Berlin tiba-tiba menarik dan membawa Nadia menuju ruang tengah, dan Nadia hanya mengikutinya.


Berlin menghampiri sebuah kotak pertolongan pertama yang tertempel pada dinding, dan mengambil sebuah obat oles dari kotak tersebut. Ia pun segera mengoleskan obat tersebut pada luka bakar di telunjuk milik Nadia secara perlahan.


Sembari mengoleskan obat krim itu, Berlin sedikit menjelaskan, "jadi ... dinding yang kamu sebutkan tadi memang begitu, karena itu bagian dari sistem keamanannya untuk melindungi barang yang tersimpan di dalamnya."


"Walau sebenarnya, sistem keamanan tersebut bisa ku matikan, tetapi aku lebih memilih untuk menurunkannya ke level paling rendah aja," lanjutnya dengan nada yang terdengar cukup kejam dan sedikit melirik tajam Nadia.


"Kenapa gak dimatikan aja, sih ?" sahut Nadia dengan ekspresi cukup sebalnya.


Dengan tenangnya dan sembari mengoleskan obat tersebut, Berlin menjawab, "yah ... aku sengaja melakukannya ... biar kamu bisa belajar, bahwa tidak semua rasa penasaran mu itu baik, karena mungkin saja itu bisa membahayakan dirimu."


"Ehehehe," Nadia tertawa kecil dan meminta maaf mengakui kalau dirinya memang salah, "maaf ...."


"Emang apa yang kamu simpan ?" secara spontan Nadia langsung melanjutkannya dengan bertanya tentang barang yang di simpan di dalamnya.


"Dasar ! Rasa penasaran mu tidak berkurang dari dahulu, ya ?" sahut Berlin dengan nada sedikit menyindir dan tersenyum tipis setelah mengatakannya kepada Nadia.


"Hehehe," Nadia kembali tertawa kecil dan meminta maaf, "maaf, aku terlalu lancang, ya ?" ucapnya.


Berlin menggelengkan kepalanya, dan lalu menjawab pertanyaan yang sekaligus menjadi rasa penasaran milik kekasihnya itu.


"Yang ku simpan ... apalagi kalau bukan ... senjata ...?" jawabnya.


.


"Habis ini aku akan sedikit halangi deh ... itu dindingnya, biar lebih aman," lanjutnya sesaat setelah selesai mengoleskan obat krim tersebut, dan menutup kembali kotak pertolongan pertamanya.


Setelah selesai Berlin mengoleskan obat krim tersebut pada jari telunjuknya. Kini jarinya terasa jauh lebih baik dari sebelumnya, dan terasa cukup dingin karena efek dari obat krim itu.


"Oh iya, aku belum menyiapkan untuk makan malam !" celetuk Nadia dengan menepuk jidatnya sendiri, dan lalu segera berjalan menuju dapur.


"Kalau begitu, biarkan aku ikut membantu !" sambung Berlin dengan semangat dan lalu mengikuti Nadia berjalan menuju dapur.


***


Berlin merasa lega dan senang ketika melihat kekasihnya tidak lagi merasa cemas atau ketakutan karena surat itu. Namun malah dirinya sendiri merasa cukup khawatir dan cemas, setelah mengetahui isi surat itu yang walaupun singkat.


"Aku menemukan kalian berdua ...!" Begitulah kalimat yang tertulis pada secarik kertas tersebut, dan meninggalkan sebuah tulisan di belakangnya yaitu "Matrix".


Berlin menganggap surat itu bukan lagi mengatasnamakan perorangan, namun sudah membawa nama suatu kelompok atau apapun itu yang bahkan Berlin sendiri belum mengerti.


Tetapi Berlin hanya menganggap surat itu seperti surat ancaman atau peringatan baginya, dan sudah menjadi pertanda baginya untuk lebih berhati-hati serta tidak main-main pada mereka.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2