Mafioso In Action

Mafioso In Action
Nostra #49


__ADS_3

Di hari yang berbeda, Berlin sedang berada di bengkel pribadinya untuk bertemu teman-temannya. Seperti biasa, ia mengumpulkan beberapa laporan dari semua kegiatan atau kerjaan yang dilakukan dirinya bersama kelompoknya.


Namun hari ini dirinya sedang tidak bersama Nadia, karena Nadia sendiri sedang sibuk kembali mengunjungi Panti Asuhan. Tentu Berlin tidak bisa melarangnya.


"Penjualan barang-barang ilegal kita akhir-akhir ini menurun, mungkin juga efek dari kita yang sering bersembunyi dan tidak banyak melakukan aksi." Kimmy menemui Berlin di ruang pribadinya untuk memberikan lampiran laporannya.


"Kupikir ... untuk sementara tidak masalah, karena mengingat itu juga demi keamanan kita bersama," sahut Berlin dengan santainya.


.


"Perkembangan kelompok lain bagaimana ? Apakah kalian memperhatikannya ?" lanjut Berlin bertanya.


"Menurut pantauan dari teman-teman, saat ini sepertinya lebih didominasi oleh Mafioso. Bahkan kita jarang melihat kelompok putih Nostra," jawab Kimmy duduk di kursi hadapan Berlin.


Berlin menerima laporan tersebut dan terlihat berpikir sembari menopang dagu dengan kedua tangannya di atas meja.


"Kelompok lain ?" sahut Berlin kembali bertanya.


Namun Kimmy hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


"Baiklah. Sekarang kau bagikan ini secara merata kepada teman-teman, sesuai dengan yang tertulis di kertas ...!" Berlin tiba-tiba meletakkan dua amplop berwarna coklat di atas mejanya, dan berisikan penuh dengan uang.


Kimmy terlihat tertegun bingung ketika melihat banyaknya uang di dalam kedua amplop tersebut yang diletakkan di hadapannya.


"Tenang, bagian mu sudah ada di sini, dan juga sudah sesuai," lanjut Berlin dan lalu tersenyum tipis.


"Siap, terima kasih. Kalau begitu ... a-aku ... izin membagikannya ke yang lain ..!" sahut Kimmy bangkit dari bangkunya, dan terlihat cukup gugup ketika menerima banyak uang di tangannya.


"Oh iya, tolong panggilkan Asep ke sini, ya ..?" titah Berlin meminta tolong.


Dengan tegas bersemangat, Kimmy langsung menjawab, "siap, Bos." Lalu berjalan meninggalkan ruangan dengan membawa kedua amplop tersebut.


.


1 menit kemudian.


Tok ... Tok ... Tok ...!


"Masuk, Sep ..!" titah Berlin saat mendengar Asep mengetuk pintu ruangannya.


Asep langsung berjalan memasuki ruangan dengan sebuah tablet dan laporan catatan yang ia bawa di tangannya.


"Bagaimana soal Matrix itu ..?" tanya Berlin.


Asep langsung meletakkan serta menunjukkan laporan catatannya di atas meja kepada Berlin. "Soal itu ... memang cukup sulit bagiku, karena aku sangat buta informasi tentang nama itu," ucap Asep duduk di kursi hadapan Berlin.


.


"Tetapi, di catatan laporan yang ku catat di sini, ada sesuatu yang menarik, dan kau harus lihat ini ...!" lanjutnya menunjukkan layar tablet yang sudah ia bawa kepada Berlin.


"Ini wilayah Bukit Sunyi, bukan ..?" cetus Berlin melihat gambar yang ditampilkan pada layar tablet tersebut.


"Ya ...!" jawab Asep dengan tegas dan serius.


Asep tiba-tiba membagi tampilan layar pada tabletnya menjadi dua, dan membandingkan pada peta resmi yang sering digunakan oleh orang-orang, dengan peta yang ia tunjukkan pada Berlin.


"Pada peta biasa, di bagian ini ... tidak ada menunjukkan sebuah bangunan sama sekali. Namun, saat aku coba sedikit mengintip data peta dari pemerintah dengan tujuan untuk mencari tahu. Aku menemukan perbedaan di sini." Asep menjelaskan perbandingan antara dua peta yang ia tunjukkan kepada Berlin, sembari menunjuk ke layar tabletnya.


Berlin dengan saksama melihat pada peta yang dimaksudkan oleh temannya itu. Dirinya dapat dengan mudah memahami perbedaan dari kedua peta yang ditunjukkan padanya.


"Tepat di bawah bukit paling timur dan 400 meter dari pesisir pantai timur. Terdapat sebuah rumah yang sangat besar di sana, yang kemungkinan ... tempat persembunyian mereka, Mafioso itu." Asep menyampaikan semua informasi yang ia dapatkan itu kepada Berlin.


...


Setelah menjelaskan semua hal itu kepada Berlin. Asep langsung lanjut pada catatan laporan miliknya. Pada catatan yang ia bawa, terlihat satu nama yang sangat melekat dan langsung menarik perhatian Berlin.


"Carlos ... Matrix ...?" gumam Berlin ketika membaca nama lengkap milik Carlos yang tertulis pada catatan tersebut.


"Dari sidik jari dan asal kotak hitam yang meneror Nadia, aku sangat yakin kalau itu adalah ulah dari Carlos," jawab Asep.


.


"Namun ... untuk soal Matrix, balik lagi ... aku masih benar-benar buta informasi tentang itu. Tetapi ... saat aku mencoba mencari informasi tentang nama lengkap milik Carlos, aku menemukannya ... kalau Matrix adalah marga yang ia gunakan," lanjutnya.


Berlin tidak terkejut dengan nama lengkap milik Carlos yang didapatkan oleh temannya itu. Namun dirinya terkejut setelah menemukan perbedaan antara nama tersebut, dengan nama yang tertulis pada buku keluarga Gates yang pernah ia baca, yaitu "Carlos Gates Matrix".


"Bisakah kau perdalam informasi tentangnya ?" sahut Berlin bertanya dan menatap serius Asep.


"Tentu saja, semua akan ku usahakan," jawab Asep dengan senang hati.


"Tahan dahulu untuk soal Matrix, biar aku coba cari tahu dahulu pada Prawira," cetus Berlin bersandar dengan santai di kursi miliknya.


"Baik," jawab Asep.


"Oh iya, Bos. Aku kelupaan sesuatu," lanjut Asep sembari memberikan sebuah poster kecil yang menunjukkan kalau itu undangan pada acara malam.


Berlin menerima poster tersebut dan melihat banyaknya gambar-gambar mobil mahal yang sangat mencolok. Dirinya juga melihat bahwa acara pada poster ini diadakan oleh kelompok bernama Clone Nostra, dan sangat terkenal hanya dengan sebutan Nostra.


"Mengingat Mafioso saat ini sedang naik daun menguasai perdagangan barang, dan diadakannya acara tersebut oleh Nostra ... yang di mana mereka berada di posisi kedua sebelum Mafioso. Mungkin ... kita bisa mendapatkan beberapa informasi penting dari acara tersebut ...?" Ide tersebut seketika timbul dalam pemikiran Asep, dan ia sampaikan kepada Berlin langsung beserta poster tersebut.


"Di sisi lain, ayolah ... kau punya banyak mobil mewah yang hanya tersimpan di garasi, 'kan ...?" lanjut Asep dengan nada dan ekspresi sedikit menyindir.


"Hmm ...." Berlin bergumam dan berpikir. Dirinya sebenarnya memang sangat sulit untuk menolak tawaran dari acara-acara seperti itu. Karena dahulu ia sering sekali mengikuti acara-acara seperti itu bersama dengan kedua temannya, yaitu Asep dan juga Adam.


"Dan ... mungkin juga saatnya ... kau kembali turun ke lintasan ...?" celetuk Asep bersandar di kursinya sembari terus melirik Berlin.


"Balap ?!" sahut Berlin.


Asep hanya mengangguk menjawab pertanyaan tersebut dan berkata, "aku tahu kau pasti sulit untuk menolak, 'kan ...?" ucapnya kembali menyindir.

__ADS_1


"Hahaha ...." Berlin tertawa dan menjawab, "sialan kau emang ..!"


"Hahaha ...." Asep pun ikut tertawa dan lalu mengatakan, "aku tidak memaksamu, bila kau tidak mau, maka biar aku saja yang pergi sembari mencari informasi di sana."


"Kalaupun aku ikut, aku tidak bisa ikut balap, sih ...," ujar Berlin mengerutkan jidat.


"Tak apa," sahut Asep.


.


"Tetapi, berarti ... kita membutuhkan minimal tiga mobil cepat nantinya," lanjutnya.


"Kalau begitu, sepertinya aku butuh bantuan untuk ke villa," sahut Berlin tanpa basa-basi.


"Aku dan Bobi akan membantu !" seru Asep bangkit dari bangkunya.


.


~


.


Di ruang jenderal pada Kantor Polisi Pusat. Prawira memasuki ruangan tersebut dan menghadap langsung kepada Garwig yang duduk di kursi atasan.


"Duduk aja ..!" titah Garwig dengan santainya kepada Prawira yang berdiri di hadapannya.


Garwig dapat melihat ekspresi lelah yang sangat jelas terlihat dari wajah Prawira. Dirinya juga melihat Prawira cukup lesu dan kurang bersemangat untuk bertugas atau bekerja hari ini.


"Aku sudah berusaha mencari informasi tentang orang yang kau maksud, dan hanya baru mendapatkan ini," ucap Prawira memberikan lampiran catatan laporan yang ia bawa ke atas meja.


Dengan senang hati Garwig menerima catatan laporan tersebut dan menyimpannya ke dalam laci.


"Aku sempat bingung, kenapa kita kepolisian bisa sampai sesulit ini hanya untuk mendapatkan data diri dari seseorang yang kau maksud itu ...?!" cetus Prawira dengan nada yang terdengar cukup lemas karena lelah.


Garwig sangat menghargai usaha yang dilakukan Prawira untuk melaksanakan tugas yang diberikannya. Walaupun tugas tersebut masih belum selesai, dan bahkan baru bagian awal.


"Kerja bagus. Aku sarankan ... kau lebih baik beristirahat dahulu hari ini ...!" ucap Garwig sembari bersandar santai di kursinya.


"Apa kau yakin ?" sahut Prawira menoleh kepada Garwig, dan lalu menghela napas panjang.


"Aku mengerti ... kau pasti sampai begadang hanya untuk ini, 'kan ? Netty yang memberitahuku," sahut Garwig memajukan kursinya dan menopang dagu dengan kedua tangannya di atas meja.


Prawira hanya terdiam dan terlihat terus menahan matanya dari rasa kantuk yang masih terasa agar tetap terbuka.


"Tetapi ... aku harus bertugas seperti biasa hari ini ...," sanggah Prawira.


Garwig langsung menyela dengan mengatakan, "ini perintah ku pada mu ..!"


Prawira tertegun ketika mendengar kalau itu perintah dari Garwig untuk dirinya. "Ba-baiklah ...," jawabnya dengan sedikit tertunduk dan terlihat kecewa dengan perintah tersebut.


"Hahaha ..!" Garwig tertawa lepas melihat sikap yang ditunjukkan oleh Prawira kepadanya. "Ayolah, Prawira. Selama aku tidak di sini, jangan kira aku tidak mengetahui kinerja dari semua anggota yang sudah ku anggap saudara itu, dan itu termasuk dirimu," kata Garwig kembali bersandar santai di kursi miliknya


.


Garwig sendiri sangat mengenal Prawira sudah sangat lama, bahkan sebelum keluarga Gates berdiri dalam naungan Kepolisian Metro. Ia juga sudah menganggap Prawira seperti saudara sendiri, sama seperti dirinya menganggap semua anggotanya.


Dari dahulu Garwig selalu dibuat kagum dengan semangat gila kerja yang dimiliki oleh Prawira, seolah semangat itu tidak pernah padam. Berkali-kali juga dirinya pernah mencoba mengingatkan dan menasihatinya untuk beristirahat, namun Prawira tidak menghiraukan nasihat tersebut.


"Jadi, sesekali ... cobalah untuk beristirahat dari semua tugas-tugas berat mu dalam peran dan profesi ini ..!" titah Garwig dengan serius tetapi santai kepada Prawira.


"Baik," jawab Prawira mengangguk pelan dengan terlihat sedikit terpaksa menerima perintah tersebut.


.


"Saya izin meninggalkan ruangan," lanjutnya.


"Silakan," jawab Garwig.


...


Setelah Prawira pergi dari ruangannya. Garwig kembali mengambil catatan laporan yang diberikan oleh Prawira kepadanya, dari laci di mana ia menyimpan catatan tersebut.


Isi dari laporan tersebut sangatlah rapi dan sangat mudah dipahami. Namun tidak banyak informasi yang diberikan pada laporan yang Prawira berikan. Tetapi, Prawira berhasil mendapatkan kembali nama lengkap dari orang yang dimaksud oleh Garwig.


"Nicolaus ... Matrix ...," gumam Garwig membaca sebuah nama yang tertulis pada laporan yang diserahkan Prawira. "Apakah ... kisah lama akan terulang kembali, Nico ..?" lanjutnya berbicara sendiri saat membaca-baca isi laporan itu.


.


~


.


Di sore harinya, Berlin kembali ke bengkel membawa tiga mobil sport dengan dibantu oleh dua temannya yaitu Asep dan Bobi yang mengendarai dua mobil sisanya.


Ia menyiapkan tiga mobil sport yang sama, namun hanya beda warna. Rencananya, ketiga mobil tersebut akan diikutkan dalam acara yang dimaksud oleh Asep.


"Aku hanya butuh tiga orang untuk mengendarai tiga mobil ini ..!" titah Berlin di hadapan teman-temannya dan terlihat bersandar santai di salah satu mobil berwarna merah miliknya.


.


"Asep sudah memegang kendali mobil warna putih, sisanya ... ada yang mau ?" lanjut Berlin menanyai teman-temannya.


Saat Berlin menanyakan hal tersebut, tidak ada satupun dari kesebelas temannya yang berani menjawab untuk mengajukan diri menjadi pemegang kendali dari mobilnya.


Berlin dan Asep sempat beradu pandang untuk memikirkannya. Berlin sendiri jadi teringat Adam yang dari dahulu selalu bersemangat dalam hal menyetir. Tetapi Adam masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat penyerangan waktu itu.


"Baiklah, aku saja yang ambil mobil merah itu, Bos ..!" Bobi menyela keheningan yang sempat tercipta dengan mengangkat satu tangannya dan berjalan maju ke hadapan Berlin.


"Baik. Mobil hitam berarti tidak ada yang berani mengajukan diri ?" tanya Berlin kembali sembari berjalan ke depan mobil yang ia maksud.

__ADS_1


Namun tetap sama, tidak ada satu dari semua temannya yang berani mengajukan diri.


"Oke, kalau begitu ... aku sendiri yang akan mengendarainya ..!" Berlin mengangguk pelan dan menghela napas.


"Bos, apa kau yakin ..?" sahut Asep berjalan lebih dekat kepada Berlin.


"Ya ... mau bagaimana ?" jawab Berlin sedikit mengangkat kedua pundaknya.


"Maaf, Bos. Kami nggak berani mengambil resiko untuk mengendarai mobil itu," ucap Faris tunduk meminta maaf dan mewakili semua teman-temannya.


"Hahaha." Berlin tertawa melihat sikap temannya yang terlihat begitu takut dengan dirinya. "Tidak apa, aku paham kok," ucapnya


"Baiklah, mari kita susun rencananya !" seru Berlin di depan semua teman-temannya dengan sangat bersemangat.


...


"Malam ini ... kita memiliki tujuan untuk mencari beberapa informasi dari Mafioso di sana," Berlin berkumpul dan menegaskan tujuannya mengikuti acara tersebut.


.


"Walau ... acara ini diselenggarakan oleh kelompok Nostra, namun ... aku sangat yakin kalau Mafioso akan menunjukkan intensitasnya di sana," sambung Asep.


"Mengingat ... Nostra adalah saingan terberat Mafioso dalam soal perdagangan pasar gelap, maka ... sangat memungkinkan sesuatu akan terjadi nantinya," jelas Berlin.


"Berarti ... tingkat terjadinya sesuatu itu sangatlah tinggi, ya ..?" ujar Bobi berpikir.


"Ya," jawab Asep.


"Oh iya, Sasha berarti tidak ikut, ya ?" tanya Berlin kepada teman-temannya.


"Nggak, Bos. Dia sedang menemani Adam di rumah sakit," jawab Kimmy.


"Baiklah, total ... kita berarti hanya dua belas orang saja," ujar Berlin melangkah lebih dekat ke hadapan semua rekan-rekannya.


"Lalu, rencana kita apa nih ?" tanya Salva.


"Aku akan membaginya menjadi dua tim, tim luar dan tim dalam yang akan memiliki tugasnya masing-masing. Empat orang akan masuk ke tengah kerumunan, dan sekaligus membantu ketiga pengendara kita jika terjadi sesuatu nantinya. Lima orang sisanya akan memantau dari area luar, dan sudah harus siap membantu jika tujuh orang kita yang di dalam sedang mengalami kesulitan."


Berlin langsung menyampaikan detail rencananya kepada teman-temannya, dan mulai membagi menjadi dua tim sesuai dengan pemikirannya.


"Ingat tujuan kita yaitu untuk mencari tahu tentang Mafioso di sana ..!" ucap Berlin kembali menegaskan tujuannya.


Tidak hanya kendaraan saja yang disiapkan. Berlin juga mempersenjatai teman-temannya dengan masing-masing membawa pistol, dengan tujuan untuk mengantisipasi sesuatu yang tidak diinginkan nantinya.


"Tetap bawa pistol kalian, dan jangan mudah terpancing untuk menarik pelatuk sebelum ada perintah dari ku !" titah Berlin mengambil pistol berwarna putih miliknya yang tergeletak di atas meja ruang utama.


"Siap, Bos !" jawab semua teman-temannya.


"Baiklah, langsung saja bersiap masing-masing !" Berlin dan teman-temannya terlihat sangat siap untuk melaksanakan rencana yang sudah tersusun secara singkat.


...


"Sep !" seru Bobi melemparkan sebuah tas kecil berwarna hitam dan lalu ditangkap oleh Asep.


"Bos, aku butuh peluru," cetus Aryo kepada Berlin.


.


"Langsung ke Kimmy di brankas belakang aja ..!" jawab Berlin yang terlihat sibuk mengatur senjata apinya.


"Oh iya, tempat pada acara itu seperti apa ?" tanya Kina berjalan keluar dari ruang penyimpanan senjata ke arah Berlin.


"Bagaimana, Sep ?" sahut Berlin melemparkan pertanyaan tersebut kepada Asep.


"Um ... sejujurnya ... aku belum tahu sih," jawab Asep sesaat setelah menyimpan senjata apinya di balik hoodie.


"Nanti tunggu perintahku saja," sambung Berlin mengantongi senjata apinya.


...


Hari perlahan mulai larut, dan matahari perlahan-lahan ditelan bumi. Berlin dan kelompoknya sudah bersiap untuk berangkat ke tempat di mana acara tersebut dilaksakan.


Berlin memakai Hoodie Ashgardnya sebelum ia memberikan arahan kepada semua temannya untuk berangkat.


"Pengendara motor, silakan membuka jalan terlebih dahulu dan lakukan pemantauan !" Berlin mulai memberikan perintahnya kepada beberapa temannya yang mengendarai motor.


"Siap, Bos !" jawab para pengendara motor dan lalu berangkat terlebih dahulu.


"Baiklah, sekarang ... Raptor silakan jalan terlebih dahulu ..!" perintah Berlin kembali kepada keempat temannya yang mengendarai mobil besar beroda enam.


"Oke, Bos ..!" jawab mereka dan lalu mulai berangkat.


Setelah dua kloter berangkat, sekarang giliran Berlin dan beberapa teman sisanya yang harus segera berangkat.


Namun di tengah Berlin akan masuk ke dalam mobil sport berwarna hitamnya. Tiba-tiba Kent mencegah Berlin dan mengatakan, "Bos, biarkan aku yang menggantikanmu sebagai pengendara mobil ini ..!" selanya secara tiba-tiba menepuk pundak milik Berlin.


Berlin cukup terkejut ketika tiba-tiba pundaknya ditepuk oleh temannya itu. "Kau yakin ..?" sahut Berlin kembali bertanya.


"Ya, karena aku ingin mencobanya," jawab Kent sangat serius dengan perkataannya.


"Baiklah, aku berikan kepercayaan ini padamu," ucap Berlin memberikan kunci mobilnya kepada Kent.


.


"Kalau bingung, ikuti Asep dan Bobi saja ..!" lanjutnya yang lalu masuk ke dalam mobil terakhir yang dikendarai oleh Salva dan Vhalen.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2