
Pukul 00:30 dini hari.
Rumah Sakit Pusat Kota.
Setelah mendapatkan kejelasan dari semua pertanyaannya tentang keluarga dan masa lalunya sendiri. Berlin pun pergi dari Gedung Balaikota itu menuju Rumah Sakit Pusat. Tentu dirinya sudah sangat tidak sabar untuk bisa bertemu dan kembali kepada Nadia yang sedang dirawat di sana.
Tidak sendirian, Berlin ditemani oleh Prawira, dan juga semua teman-temannya. Namun Prawira lebih dahulu pergi menuju ruang perawatan milik Netty untuk melihat kondisinya. Sedangkan Berlin melepas serta menyimpan terlebih dahulu hoodie Ashgard miliknya ke dalam mobil, dikarenakan hoodie tersebut sudah benar-benar kotor dengan bercak darah.
Situasi Rumah Sakit Pusat kala ini sangatlah ramai dan padat. Banyak orang-orang dan anak-anak yang berada di rumah sakit hanya untuk sekedar berlindung selama kekacauan itu masih terjadi. Namun banyak juga orang-orang terluka akibat kekacauan yang mendapatkan perawatan langsung.
Selain hanya orang-orang atau warga sipil. Cukup banyak juga para aparat yang terluka dilarikan langsung ke Rumah Sakit Pusat guna mendapatkan pertolongan lebih intensif.
...
"Berlin, Netty ingin bertemu denganmu," ucap Prawira kembali keluar dari ruang perawatan tersebut.
Berlin pun menghentikan langkahnya, sejenak ia luangkan waktunya untuk menemui Netty yang sedang dirawat. "Baik, aku akan menemuinya," sahut Berlin yang lalu masuk ke dalam ruang perawatan khusus milik Netty.
Di saat masuk ke dalam kamar inap milik Netty. Berlin mendapati Netty yang terbaring dan menatapnya dengan sedikit meneteskan air mata tidak percaya.
"Syukurlah, kau ... baik-baik saja," cetus Netty dengan nada yang masih lemah karena setelah menjalani operasi selama berjam-jam.
Netty benar-benar beruntung masih bisa selamat, lantaran dirinya sudah kehilangan banyak darah ketika ditemukan pertama kali oleh Berlin di kekacauan Kantor Polisi Shandy Shell. Kini dirinya mendapatkan perawatan khusus dan intensif di Rumah Sakit Pusat.
"Aku benar-benar meminta maaf soal ... Nadia," lanjut Netty sangat tulus meminta maaf hal tersebut kepada Berlin.
Berlin duduk di sebuah bangku dekat dengan ranjang yang digunakan oleh Netty. Dirinya mengangguk dan berkata, "iya, aku mengerti. Beruntung Nadia masih bisa selamat. Terima kasih sudah menjaganya, dan meringankan beban tugasnya."
Netty menggelengkan kepala mendengar perkataan terakhir yang terucap dari mulut Berlin. "Yang ada ... dia yang meringankan beban tugasku," ucapnya dan lalu tersenyum.
Berlin melihat banyak alat medis yang terpasang di tubuh Netty, dan dirinya merasa cukup sedih melihat semua itu. "Syukurlah, anda masih bisa terselamatkan," ucap Berlin melihat kondisi Netty yang benar-benar lemah terbaring dan tak banyak bisa melakukan apa-apa.
"Aku selamat berkatmu yang menemukanku waktu itu, dan juga berkat pertolongan pertama dari rekanmu Kimmy. Terima kasih banyak, aku sangat berterima kasih," sahut Netty.
.
"Kurasa, rekanmu itu bisa menjadi bagian dari pihak medis kepolisian, mungkin kami kepolisian membutuhkannya," lanjutnya berandai-andai dan lalu tertawa kecil dengan sendirinya.
"Angan-angan anda boleh juga," sahut Berlin yang lalu ikut sedikit tertawa. "Tetapi, mungkin rekanku itu tidak memiliki keinginan tersebut, kecuali aku yang memulainya," lanjutnya.
"Teman-teman mu memang teman yang setia, ya? Ku dengar kerjasama kalian sangat rapi dan teratur meskipun terbagi dua tim berbeda ketika di lokasi," ujar Netty melirik Berlin.
"Ah, tidak juga. Kami bisa karena terbiasa, jadi ... kerjasama seperti itu sudah biasa," sahut Berlin sedikit menyangkal pendapat Netty.
"Terbiasa? Hmm ..., sepertinya pengalaman mu sangat banyak, ya?" sahut Netty kembali dengan nada menyindir seraya sedikit mengangkat satu alisnya.
Berlin sedikit dibuat tertegun, karena tak seharusnya dirinya mengatakan seperti itu. Namun, sudah terlanjur. "Ya, bisa dibilang begitu," sahut Berlin.
Obrolan mereka berdua pun terus berlanjut. Netty membahas banyak hal soal apa yang terjadi di Kantor Polisi Shandy Shell kepada Berlin. Ia juga menceritakan kronologi sebelum Nadia dibawa menjadi tawanan secara rinci dan detail kepada Berlin.
Berlin dapat langsung mempercayai semua cerita Netty tentang kronologi tersebut. Karena hanya Netty yang ditemukannya di dalam Kantor Polisi Shandy Shell saat itu.
Mendengar cerita tentang kronologi kejadian dari Netty. Berlin mendapatkan sesuatu yang sangat menarik.
...
Setelah menemui Netty dan berbincang-bincang dengannya. Berlin keluar dari ruang rawat inap milik Netty, dan bertemu kembali dengan Prawira yang menunggu tepat di luar ruangan.
"Terima kasih, Berlin. Saat aku menemuinya tadi, dia langsung ingin bertemu denganmu," ucap Prawira.
Berlin mengangguk dan mengatakan, "dia menceritakan kronologinya di sana, dan aku jadi mengetahui banyak," katanya. "Ya sudah kalau begitu, aku ingin ke kamar milik Nadia," lanjutnya.
"Hahaha ...!" Prawira sedikit tertawa ketika mendengar keinginan Berlin. "Cepat temui dia, dan habiskan malam ini dengannya!" titahnya kepada Berlin.
"Iya, aku tahu!" sahut Berlin yang lalu langsung berjalan melewati lorong menuju kamar inap milik Nadia.
"Oh iya, Berlin! Besok aku ingin kau datang ke kantor pusat, apakah bisa?" cetus Prawira memanggil kembali Berlin yang sudah berjalan menjauhinya.
Berlin mengentikan langkahnya, menoleh dan menjawab, "baiklah, hubungi aku saja besok!" jawabnya yang lalu lanjut berjalan.
__ADS_1
...
Setelah selesai dari kamar inap milik Netty. Berlin sangat ingin sekali bertemu dan kembali kepada Nadia. Namun sebelum itu, dirinya menyempatkan diri untuk menjenguk sahabatnya yaitu Adam, yang kebetulan dirawat di kamar inap yang tak jauh dari kamar inap milik Nadia.
Berlin membicarakan beberapa hal kepada Adam di sana. Dirinya juga menceritakan hampir semua yang terjadi di lokasi kekacauan kepada sahabatnya itu. Bahkan ia tak bisa lepas dari candaan dan gurauannya ketika berbicara dengan sahabatnya itu.
Selama 10 menit waktu telah Berlin habiskan untuk berbincang singkat dengan sahabatnya.
~
Jaraknya tak jauh dari kamar inap milik Adam. Kini Berlin sudah berdiri tepat di depan pintu kamar inap milik kekasihnya Nadia. Dirinya benar-benar sudah tidak sabar dan sangat ingin segera membuka pintu untuk menemui kekasihnya itu.
"Tunggu, kenapa kalian masih mengikuti ku?" Berlin berbalik badan dan mendapati teman-temannya yang masih saja mengikutinya.
"Kami tidak akan masuk, kok. Tenang saja!" sahut Aryo tersenyum.
"Iya, kami hanya ingin berjaga saja di sini!" timpal Sasha.
"Kenapa kalian tidak istirahat saja? Kalian bisa pulang, atau menghabiskan waktu kalian untuk bersantai sejenak. Aku tidak perlu penjagaan kalian terus-menerus, lagian ini berada di rumah sakit, tidak akan ada yang berani macam-macam di sini, atau orang itu akan dimasukkan ke dalam daftar hitam oleh pihak rumah sakit." Berlin mengatakan semua itu kepada teman-temannya. Dirinya tidak ingin teman-temannya begitu tertekan dan kelelahan setelah bekerja ekstra selama kekacauan terjadi.
"Jadi, kami diusir?" tanya Kimmy dengan mata dan nada sedikit sedih. Begitupula dengan teman-teman yang lain.
Berlin tersentak mendengar pertanyaan Kimmy itu. "Kenapa jadi salah paham begini?" batinnya seraya menepuk jidat.
"Terima kasih banyak atas kerjasama kalian semua selama malam ini. Aku hanya tidak ingin kalian kelelahan karena ku, jadi aku tidak ingin memaksakan kalian terus-menerus," ucap Berlin dengan nada yang sungguh lembut dan lalu tersenyum.
"Tenang saja! Kami melakukannya karena keinginan kami sendiri!" sahut Faris bersemangat. Begitu pula dengan yang lain memasang wajah bersemangat, bahkan tak terlihat wajah-wajah lelah atau kecapaian.
Berlin menghela napas panjang. Sepertinya percuma jika dirinya memerintahkan mereka untuk beristirahat. "Ya sudah, terserah kalian. Yang penting jangan mengacau!" ucap Berlin memperingatkan.
Setelah memperingatkan teman-temannya. Berlin bersiap untuk membuka pintu di depannya. Jantungan cukup berdebar jika mengetahui dirinya akan segera menemui Nadia yang mungkin sudah menantinya.
Kreekkk ....!
Pintu terbuka secara perlahan. Ketika pintu tersebut sudah benar-benar terbuka. Berlin dapat langsung melihat Nadia yang terduduk di atas ranjang seraya menatapnya dengan tatapan bersinar. Tepat di samping ranjang milik Nadia, terdapat Siska yang duduk di sebuah bangku menemaninya.
"Cepat, sana!" bisik Asep yang berdiri di belakang Berlin.
Tangis Nadia pun pecah ketika Berlin mendekatinya. Dirinya langsung memeluk dan bersandar pada dada bidang milik Berlin seraya meneteskan air mata. "Syukurlah, syukurlah ... kamu ... baik-baik saja," ucap Nadia tersedu.
"Um, kalau begitu, aku keluar terlebih dahulu, Berlin," sela Siska yang lalu berjalan mengarah pintu keluar.
"Siska, terima kasih, ya?" sahut Berlin.
Siska hanya mengangguk dan tersenyum. Dirinya pun berjalan keluar dan lalu menutup pintu tersebut rapat-rapat, membiarkan mereka berdua di dalam.
...
"Sudah, sudah. Padahal aku sudah ada di sini, tetapi kenapa kamu malah menangis?" ucap Berlin tersenyum seraya perlahan menyeka air mata yang membasahi pipi milik Nadia.
"Kamu baik-baik saja, 'kan? Tetapi, lengan kirimu terluka. Apa sudah diobati? Selain itu apakah ada yang lain?" Nadia mendadak menjadi cukup cerewet kepada Berlin.
"Ini hanya luka gores, sayang. Selebihnya aku baik-baik saja. Bahkan aku merasa jauh lebih baik ketika berada di dekatmu," jawab Berlin membelai lembut rambut hitam panjang milik Nadia di hadapannya.
Berlin duduk di kursi tepat di samping ranjang milik Nadia. Dirinya memegang perlahan perban yang terbalut pada jidat milik Nadia, dan lalu pandangannya tertuju pada pergelangan kaki kanan milik kekasihnya yang juga terbalut perban.
"Bagaimana kondisimu? Apakah kamu sudah diperiksa? Dan apa kata dokter?" tanya-tanya Berlin menatap lembut kedua bola mata indah milik Nadia.
Nadia mengambil sebuah lampiran rekam medis yang tergeletak pada sebuah meja tepat di samping ranjangnya. Dirinya memberikan rekam medis tersebut kepada Berlin dengan mengatakan, "tetapi ini belum sepenuhnya, karena besok akan ada pemeriksaan lagi mengenai kakiku."
"Kata dokter, aku tidak diperbolehkan berjalan menggunakan kaki kananku sampai aku benar-benar pulih," lanjutnya dengan nada cukup sedih dan tertunduk.
"Berlin, aku ... ingin mengatakan sesuatu, apakah boleh?" cetus Nadia kepada Berlin sesaat setelah selesai membaca rekam medis tersebut.
Berlin tersenyum dan menjawab, "tentu saja."
Nadia tampak menundukkan pandangannya dan menyembunyikan wajahnya dari pandangan Berlin di hadapannya.
"Aku ... meminta maaf, karena ... aku sudah benar-benar membebanimu, aku juga sangat merepotkan dan hanya bisa menunggu sampai kamu menyelamatkan ku."
__ADS_1
.
"Aku memang wanita yang lemah, tidak dapat berbuat apa-apa selain hanya mengandalkan dirimu."
Sesaat setelah mengatakan semua itu. Nadia langsung terdiam tertunduk. Dirinya tidak berani menatap langsung Berlin yang saat itu berada tepat di hadapannya, bahkan jarak antara mereka berdua sangatlah dekat.
Suasana tiba-tiba hening sesaat setelah Nadia mengatakan apa yang ingin ia katakan. Berlin sendiri tidak terkejut mendengar semua itu, karena dirinya sudah menduganya.
"Jujur saja, aku benci mendengar semua yang kamu katakan itu!" sahut Berlin.
Jawaban Berlin tersebut membuat Nadia semakin tertunduk, dan lebih tidak berani untuk menatap lelakinya sendiri.
"Aku membencinya, karena ... aku tidak menganggapmu seperti semua yang kamu pikirkan," ujar Berlin perlahan dan dengan nada sungguh tulus ketika mengatakannya.
"Menjagamu, melindungimu, atau bahkan menyelamatkanmu ketika dalam masalah. Itu semua sudah menjadi tugas seorang pria kepada wanitanya, dan aku melakukan semua itu karena keinginan hatiku sendiri," lanjut Berlin.
Ucapan Berlin membuat Nadia tertegun dan kembali mengangkat wajahnya. Berlin menatap kekasihnya dengan tatapan penuh kasih sayang, dan itu cukup membuat Nadia tersentuh.
"Lalu, kamu tidak akan pergi meninggalkan ku, 'kan?" tanya Nadia kembali dengan memalingkan tatapan sedihnya ke arah kaki kanannya yang cedera.
"Apa kamu pikir gara-gara itu, bisa membuat aku meninggalkan mu?" sahut Berlin menyangkalnya dengan nada sangat tidak suka.
Nadia kembali terdiam. Ia tahu kalau dirinya mengatakan hal yang salah kepada Berlin. Namun, Berlin tiba-tiba tersenyum dan lalu mengatakan, "kalau aku memiliki niat untuk meninggalkanmu. Lalu, buat apa aku berusaha mati-matian sampai ke titik ini?"
"Setelah cerita yang kita berdua bangun dengan penuh perjuangan dan harapan, cukup panjang dan indah selama satu tahun lebih. Lalu, aku menghancurkannya begitu saja?"
"Laki-laki macam apa aku? Meninggalkan seseorang yang dicintainya di saat-saat yang dibutuhkan." Berlin mengatakan itu semua dengan nada yang sungguh lembut, karena dirinya tak ingin menyakiti Nadia dengan kata-katanya.
Perlahan Berlin mengulurkan kedua tangannya kepada Nadia dengan berkata, "kemarilah ...!"
Nadia mengerti apa yang dinginkan oleh lelakinya itu. Dirinya pun perlahan memeluk Berlin, dan menenggelamkan dirinya di dekapan hangat yang diberikan oleh lelakinya itu.
"Kamu tidak perlu khawatir soal itu. Karena hatiku sendirilah yang sudah memilih dirimu, jadi aku tidak akan melakukannya!" ucap Berlin perlahan membelai kebelakang rambut milik Nadia ketika di dekapannya.
"Maaf jika aku terkadang masih seperti anak kecil," cetus Nadia.
"Sssttt ...!" sela Berlin memotong ucapan Nadia. "Kamu sudah berkali-kali mengatakan 'maaf' kepadaku malam ini," lanjutnya.
"Lagian, aku sendiri tidak keberatan dengan sikapmu yang terkadang masih seperti anak kecil dan manja, karena itu membuat diriku merasa harus lebih dewasa darimu," ucap Berlin dengan pelan.
Nadia tampaknya sangat nyaman sehingga memejamkan matanya ketika berada dalam dekapan hangat yang diberikan oleh Berlin. Dirinya tampak sedikit tersenyum ketika Berlin mengatakan hal barusan. Sedangkan Berlin sendiri terlihat bercerita soal dirinya yang bertemu dengan Netty sebelum menemui Nadia.
"Oh iya, sebelum ke sini, aku bertemu dengan Netty terlebih dahulu, karena dia menginginkannya," ucap Berlin.
"Bagaimana keadaannya?" sahut Nadia menatap Berlin, walaupun kelihatannya matanya sudah cukup mengantuk.
"Dia baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan!" jawab Berlin.
Mendengar jawaban Berlin, Nadia kembali bersandar pada dada bidang milik lelakinya itu dan lalu memejamkan matanya.
"Dia menceritakan semua kronologi yang terjadi di sana, dan aku jadi mengetahuinya. Kamu memang pemberani, walaupun kamu tahu akan kalah, tetapi kamu melakukan perlawanan terlebih dahulu." Berlin terlihat sibuk bercerita kepada Nadia. Sampai-sampai dirinya tidak menyadari kalau kekasihnya itu sudah tertidur dalam pelukannya.
Ketika menyadarinya, Berlin pun langsung memposisikan Nadia pada bantal agar bisa lebih nyaman untuk tidur.
CUP.
"Istirahatlah," ucap Berlin perlahan mencium kening milik Nadia yang tampaknya sudah tertidur.
"Berlin, terima kasih," gumam Nadia meskipun matanya terpejam, dan sebelum akhirnya tertidur pulas. Sedangkan Berlin hanya tersenyum memandangi wajah cantik yang tengah tertidur pulas di hadapannya.
"Aku suka ketika melihat wajah tidurmu," gumam Berlin. Meskipun sedang tertidur, tetapi Nadia masih saja tetap terlihat cantik, bahkan juga lucu bagi Berlin.
"Wajar saja kamu langsung tertidur sangat cepat, ternyata sudah jam segini," ucap Berlin dengan sendirinya seraya memandangi jam kotak digital yang terletak di meja samping ia duduk. Pukul 01:05 dini hari. Begitulah angka yang ditunjukkan pada jam digital tersebut.
"Kamu terlalu banyak meminta maaf tadi, yang sebenarnya ... akulah yang harus meminta maaf. Aku minta maaf, karena ... di lokasi kekacauan aku telah menghancurkan harapanmu padaku dengan membunuh banyak orang dari mereka," gumam Berlin dengan sendirinya, dirinya beranjak dari kursi dan berdiri di depan jendela kamar memandangi langit malam yang tampak indah.
"Terkadang aku bingung dan bertanya-tanya. Mengapa kamu mau dekat dengan orang seperti ku? Tetapi di sisi lain, aku bersyukur bisa dekat dan memiliki hubungan spesial denganmu," lanjutnya dengan sedikit melirik ke arah Nadia yang sudah tertidur di atas ranjangnya.
"Terima kasih, Nadia. Mohon bimbingannya, ya?" Berlin kembali mendekati Nadia yang tertidur, dan lalu berbisik demikian. Dirinya mungkin akan merasa sangat malu dan berat untuk mengatakannya, jika Nadia dalam keadaan tersadar.
__ADS_1
.
Bersambung.