
BOOM ...!
DOR ... DOR ... DOR ...!
Suara ledakan beberapa kali terdengar, dan disusul dengan tembakan berkali-kali tanpa henti. Tembakan-tembakan itu tertuju kepada beberapa aparat yang sedang berada di halaman belakang kantor polisi Shandy Shell, dan menyebabkan mereka semua tewas di tempat.
"Nadia!" teriak Netty menarik tangan milik Nadia untuk bersembunyi di ruang loker kantor.
"Kenapa mereka ada di sini?!" tanya Nadia panik.
"Aku tidak tahu, aku akan mencoba untuk menghubungi Prawira terlebih dahulu," sahut Netty yang langsung mengambil radionya dari saku.
Sesaat setelah Prawira dan Garwig berangkat menuju Bukit Sunyi bersama beberapa anggotanya karena mendapatkan laporan dari James. Tiba-tiba saja banyak orang berpakaian serba hitam yang menyerang wilayah Shandy Shell. Termasuk juga menyerang kantor polisi Shandy Shell.
"Orangnya seperti apa?!"
"Nggak tahu, tetapi yang pasti ciri-cirinya seorang wanita berambut hitam panjang sebahu." Salah satu dari kedua pria tersebut menyebutkan ciri-ciri orang yang mereka cari. Ciri-ciri yang disebutkan sangat persis dengan ciri-ciri dari diri Nadia.
Di saat Nadia dan Netty bersembunyi di ruang loker. Tiba-tiba saja terdengar percakapan dari dua orang pelaku penyerangan yang sepertinya berdiri tepat di depan pintu loker yang tertutup.
Mengetahui akan terjadinya bahaya dan ancaman kepada dirinya dan juga rekannya yaitu Netty. Nadia langsung mengambil sebuah senjata kejut yang tergeletak di atas dari sebuah loker yang ada, dan bersiap untuk melawan. Begitu pula dengan Netty yang siap melawan dengan menggunakan pistol yang tergelantung di sabuknya.
"Apa kita harus membawanya hidup-hidup?"
"Iya, jika tidak, kita bisa mati sama Bos."
Terdengar kembali percakapan tersebut. Nadia sempat memikirkan apa maksud dari percakapan mereka berdua. Lantaran sikap dan percakapan mereka seperti sedang mencari seseorang.
"Nadia, apapun yang terjadi, tetaplah bersamaku!" bisik Netty menoleh dan menatap Nadia.
"Kita harus bisa menangani mereka berdua," sahut Nadia berbisik.
BRaakK ..!
Mereka berdua tampak sudah sangat siap berdiri di tepat di depan pintu masuk ruang loker. Sesaat setelah Nadia selesai berbicara, tiba-tiba pintu tersebut didobrak oleh dua orang pria bertubuh tinggi dan cukup kekar.
Walau ada rasa gentar dalam dirinya ketika berhadapan dengan kedua pelaku tersebut. Tetapi langsung saja, Nadia maju dan menyerang salah satu dari dua pria tersebut dengan senjata kejut di tangannya dengan sangat yakin.
"Ukh!" Namun serangannya digagalkan dengan pukulan yang sangat keras diterima oleh Nadia, sehingga membuat dirinya terpental dan membentur loker di belakangnya dengan sangat keras.
Mengetahui hal tersebut, Netty langsung melancarkan tembakannya kepada pria yang memukul Nadia. Namun satu pria lagi dengan sigap menendang tangan milik Netty dan membuat tembakannya meleset serta pistolnya terlempar ke atas. Sesaat kemudian, Netty langsung menerima pukulan yang sangat keras yang membuat dirinya terpental cukup jauh dari Nadia.
"Hei, kau terlalu kasar itu," celetuk rekan pria tersebut.
"Biarkan saja, dia bukan target kita. Tetapi wanita ini yang menjadi target kita," sahut pria yang menyerang Netty dan menunjuk ke arah Nadia yang tergeletak dengan keadaan setengah sadar.
"Tunggu ...! Jangan ... dekati dia ...," ucap Netty merintih kesakitan dengan keadaan cidera di bagian kaki dan tangannya.
DOR ...!
Satu tembakan di arahkan kepada Netty yang tersungkur di sudut ruangan. Tembakan itu membuat Nadia cukup histeris, ditambah lagi dirinya melihat Netty yang dalam keadaan tersungkur bersimbah darah. Tanpa basa-basi, dirinya mengambil senjata kejutnya dan kembali bangkit untuk menyerang kedua pelaku.
"Dasar, nggak sadar diri!" teriak salah satu pria kembali menangkis serta menendang Nadia dengan sangat keras dan membuat dirinya kembali terpental membentur dinding dengan sangat keras juga.
BRuukK !
"Hei, jangan buat dia sampai mati, dia orang yang dicari sama Bos!" bentak rekan dari pria tersebut.
"Iya, iya, aku tahu!" sahut pria yang menyerang Nadia.
Nadia tergeletak di lantai dengan keadaan tidak sadarkan diri atau pingsan. Kepalanya ikut terbentur cukup keras, dan membuat sebuah luka di bagian jidatnya hingga meneteskan darah. Kakinya juga cidera cukup parah dan membuatnya tidak bisa berdiri lagi.
Kedua pria tersebut sepertinya sudah menemukan apa yang mereka cari. Mereka berdua pun segera membawa Nadia yang dalam keadaan pingsan untuk pergi dari tempat itu sebelum bala bantuan berdatangan dari pihak kepolisian.
"Na ... dia," gumam Netty yang hanya bisa melihat Nadia dibawa pergi begitu saja. Ia merintih kesakitan menahan pendarahan pada luka tembaknya di bagian paha. Darah mengalir cukup banyak dari luka tembak yang didapatkannya.
"Berlin, aku ... minta maaf," gumamnya kembali dengan menghadapkan wajahnya ke lantai. Kini dirinya hanya bisa berharap bantuan segera datang, dan nyawanya terselamatkan.
.
~
.
Tepat setelah penyerangan yang didapatkan oleh tim pengintai milik Berlin dari orang-orang milik kelompok Mafioso. Wilayah Shandy Shell, termasuk kantor polisi Shandy Shell, langsung dikacaukan oleh sangat banyak orang-orang berpakaian serba hitam. Orang-orang itu lengkap membawa senjata api dan senjata tajam, serta tidak segan melukai atau bahkan membunuh siapapun yang menghalangi mereka, termasuk beberapa aparat berwenang yang menjadi korban dari kekejaman mereka.
Berlin melihat semua kekacauan yang terjadi dari atas perbukitan Bukit Sunyi. Asap berwarna hitam tampak mengepul dari beberapa tempat, salah satunya berasal kantor polisi Shandy Shell.
Menyadari kekasihnya yaitu Nadia berada di tengah semua kekacauan yang terjadi, membuat Berlin tak bisa tinggal diam. Dirinya langsung memberikan arahan pada kelompoknya untuk kembali ke kantor polisi Shandy Shell, dan sekaligus membersihkan sedikit kekacauan yang terjadi.
"Pengendara motor dipersilakan untuk berpencar mencari posisi terbaik kalian. Tanpa basa-basi, lumpuhkan semua orang berpakaian hitam yang membawa senjata yang kalian lihat!" perintah Berlin terdengar sangat jelas oleh semua teman-temannya dengan suara yang sangat keras dan tajam melalui radio.
"Siap, Bos!" sahut para pengendara motor yang langsung keluar dari jalur aspal dan berpencar ke berbagai arah.
"Jangan terlalu memaksakan diri, jika dirasa membahayakan diri kalian, langsung mundur saja!" lanjut Berlin mengingatkan teman-temannya yang menggunakan motor mereka untuk melumpuhkan musuh. Berlin sendiri tentu masih memprioritaskan keselamatan teman-temannya, dan tidak ingin memaksakan kehendaknya yang bisa saja membahayakan teman-temannya.
Bobi tiba-tiba menyeletuk di radio, "tenang, Bos. Sekarang ini adalah medan permainan kita!"
"Boleh juga kata-kata mu, Bob!" sahut Aryo.
"Oke, kita kuasai medan permainan ini!" teriak Faris dengan menambahkan laju kecepatan motornya melewati jalanan tanah dan mendaki beberapa bukit kecil yang berada di wilayah Shandy Shell.
.
"Faris! Aku nggak mau mati konyol gara-gara kamu!" teriak Sasha.
"Oi, Ris. Ingat, kau membawa Sasha di boncengan mu!" sela Kina.
"Hehehe, maaf, terbawa suasana," jawab Faris.
Berlin merasa senang karena teman-temannya tampak begitu bersemangat. Namun lain dari itu, dirinya benar-benar sangat cemas dan khawatir soal keadaan Nadia. Selama perjalanan saat memasuki wilayah Shandy Shell, hati dan pikirannya tidak bisa lepas memikirkan tentang kekasihnya itu.
Kimmy yang duduk di samping Asep yang sedang menyetir pun melirik ke arah Berlin yang duduk di kursi belakang. Ia sangat mengetahui apa yang sedang mengganggu pikiran Berlin saat ini. Dirinya pun juga mengharapkan hal yang sama dengan Berlin, yaitu berharap Nadia baik-baik saja dari semua kekacauan yang terjadi.
"Faris, depan mu ada dua orang!" teriak Aryo di radio.
"Sasha!" teriak Faris di radio.
DOR ... DOR ...!
__ADS_1
"Aman, berhasil dilumpuhkan!" ucap Sasha setelah menembak beberapa kali di radio.
"Aryo, putar dari arah Selatan, aku dari arah Utara, kita apit lima orang musuh yang berada di bukit kecil seberang kantor polisi!" ucap Faris di radio.
"Oke, ide bagus!" sahut Aryo.
"Oi, oi, jangan berpesta tanpa kami dong!" sela Salva.
.
"Iya, nih, parah!" sambung Vhalen.
Tampaknya kelompok milik Berlin telah berhasil menangani sedikit kekacauan yang terjadi di wilayah Shandy Shell. Beberapa temannya juga berhasil melumpuhkan beberapa orang dari Mafioso yang menyerang wilayah Shandy Shell, termasuk juga menyerang kantor polisi Shandy Shell.
...
Saat akan mendekati dan memasuki kantor polisi Shandy Shell. Mobil yang ditumpangi oleh Asep, Berlin, Kimmy, dan James, tiba-tiba saja disambut oleh beberapa tembakan yang berasal dari halaman belakang kantor polisi.
Beruntung mobil yang dipakai adalah mobil anti peluru. Jadi peluru-peluru yang ditembakan oleh musuh tidak dapat menembus kaca dan badan mobil untuk melukai penumpangnya.
"Tabrak saja!" teriak Berlin kepada Asep yang mengendarai mobilnya.
BRaaakK ..!!!
Asep menabrak dua orang berpakaian serba hitam yang menembakinya dengan sangat keras hingga terpental. Namun belum selesai sampai situ, empat orang tiba-tiba saja keluar dari kantor polisi melalui pintu belakang, dan menyambut kedatangan Berlin dengan tembakan.
Tanpa basa-basi, Berlin langsung menembak empat orang itu dengan sangat cepat, dan membuat empat orang itu harus jatuh tersungkur ke tanah dengan keadaan bersimbah darah yang keluar dari kepala mereka.
"Bos, kau membunuh mereka ..?" tanya James terkejut.
Dengan melihat keadaan sekelilingnya yang hancur dan cukup banyak korban tewas dari para aparat yang berada di halaman belakang kantor polisi. Berlin hanya menjawab, "mereka memang pantas untuk mendapatkan tembakan barusan," jawabnya dengan nada datar.
Setelah menjawab pertanyaan James. Berlin langsung berlari dan memasuki kantor polisi melalui pintu belakang, pintu di mana dirinya berpamitan dan pergi meninggalkan Nadia. Sedangkan James dibantu oleh Kimmy dan Asep mengevakuasi beberapa rekan aparatnya yang tergeletak masih hidup dengan keadaan terluka.
"Apa-apaan, polisi yang lain mana?" pertanyaan yang seketika terceletuk oleh Asep ketika melihat ke sekelilingnya yang dipenuhi dengan kekacauan dan kehancuran, serta beberapa korban tewas dan terluka dari para aparat.
Sesaat setelah Asep berkata seperti itu. Suara sirine pun terdengar dari arah yang sama dengannya, yaitu Bukit Sunyi. Itu membuat Asep sangat heran. "Apa? Mereka dari arah sana?!" batinnya bertanya-tanya.
~
"Nadia!" teriak Berlin ketika memasuki kantor polisi yang sudah sangat kacau di dalamnya.
Dirinya memeriksa satu-persatu ruangan di kantor polisi tersebut, dan berakhir di ruang loker anggota. Di ruangan itu, Berlin dibuat terkejut dengan keadaan Netty yang tersungkur bersimbah darah.
"Hei, Netty, sadarlah!" teriak Berlin menyandarkan Netty di dinding dan menahan pendarahan pada luka tembaknya.
"Ber ... lin?" gumam Netty berusaha mempertahankan kesadarannya. Wajahnya sudah cukup pucat.
"Kimmy, bantu di sini!" teriak Berlin.
Kimmy pun langsung berlari mendatangi Berlin dengan membawa kotak medis dari mobil, dan membantu Netty yang terluka. Dirinya langsung melakukan pertolongan pertama pada luka tembak itu. "Bos, dia sudah kehilangan cukup banyak darah. Apakah aku harus pakai cara itu?" ucap Kimmy saat menangani luka tembak milik Netty.
"Lakukan saja!" titah Berlin.
"Hei, namamu Netty, 'kan?" ucap Kimmy berusaha mengalihkan perhatian Netty dan terus mengajaknya berbicara. Dirinya memasangkan infus yang tersimpan di kotak medisnya, dan mulai berusaha mengambil peluru yang ada di luka tersebut.
"Netty, salam kenal, ya? Aku Kimmy, rekan kerja Berlin," ucap Kimmy kembali.
"Ba-baik ...," sahut Netty sangat lemas.
Dengan sangat perlahan dan hati-hati, Kimmy melakukan operasi pertolongan pertama, dan mengeluarkan peluru yang tertanam pada luka milik Netty. Setelah berhasil, Kimmy langsung menutup luka tersebut dan menunggu sampai pihak medis datang. Pendarahan juga akhirnya berhasil dihentikan oleh Kimmy sendiri.
"Sudah, dia akan baik-baik saja," ucap Kimmy menoleh kepada Berlin yang berdiri di sampingnya.
.
"Netty, kamu hebat," lanjut Kimmy berbicara kepada Netty.
Suara sirine pun terdengar, Berlin langsung berjalan keluar untuk melihat sumber dari sirine apa itu. Namun Netty menghentikan langkahnya dengan mengatakan, "Berlin, aku minta maaf. Nadia ... dia ... dibawa oleh mereka."
"Mafioso sialan!" batin Berlin sangat marah dengan mengepalkan tangannya seakan berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak-ledak di sini.
"Terima kasih sudah memberitahu, aku akan segera menyelamatkannya," ujar Berlin yang lalu berjalan keluar melalui pintu belakang.
~
Saat keluar melalui pintu belakang, pihak kepolisian akhirnya datang bersama dengan pihak medis dengan membawa ambulans-ambulans mereka.
"Bagaimana dengan pelaku yang kau tabrak?" tanya Berlin kepada Asep.
"Ya, dia sudah diamankan oleh petugas di sana," jawab Asep menunjuk ke arah pelaku yang sudah terborgol dan digiring oleh satu petugas.
Berlin langsung berjalan menghampiri pelaku itu dengan amarah yang memuncak. Dirinya langsung menarik pundak seorang petugas yang menggiringnya, dan mendorong pelaku sampai terjatuh dan terbentur dinding.
BRuukK !!
"Hei, menjauh dari pelaku yang sudah diamankan!" bentak petugas itu kepada Berlin.
Berlin mengeluarkan pistol dari sakunya dan melirik ke arah petugas yang membentaknya dari belakang. Petugas yang mengetahui kalau Berlin membawa senjata pun langsung menodong dan memerintahkannya untuk membuat senjata api itu. "Buang senjata itu sekarang!" teriak petugas tersebut, dan membuat petugas-petugas yang lain langsung berdatangan dengan sikap siaga.
Teman-teman Berlin yang melihat hal tersebut pun tak hanya diam, mereka juga mengeluarkan senjata api mereka, dan siap menembak jika ada perintah dari Berlin atau pihak kepolisian yang memulainya.
"Turunkan senjata kalian!" bentak Prawira yang baru saja datang dengan sangat keras.
Para petugas pun menurun senjata api mereka dengan paksa karena perintah dari atasan. Prawira mengetahui apa yang terjadi, dan apa yang membuat Berlin terlihat sangat marah seperti itu. "Berlin, apa yang akan kau lakukan dengan orang itu?" tanya Prawira.
"Aku hanya ingin bertanya, sekaligus memberinya sedikit pengetahuan," sahut Berlin dengan sangat dingin tanpa menoleh dan berbalik badan menghadap Prawira.
Berlin pun berjalan mendekati pelaku yang sepertinya sudah sangat sulit untuk berdiri, dan tak bisa melakukan apapun karena tangannya terborgol
"Hei, siapa yang menyuruh kalian membuat kekacauan di sini?!" tanya Berlin ketus.
Namun pria yang sebagai pelaku itu tidak menjawab pertanyaan Berlin, dan itu membuat emosi Berlin mulai memuncak.
"Jadi kau tidak mau menjawab?" tanya Berlin dengan tangan mulai gatal untuk menarik pelatuk pistolnya.
"Aku tidak sudi menjawabnya!" sahut pelaku itu dengan cukup membentak.
DOR !
__ADS_1
Berlin melakukan satu tembakan ke arah kaki kanan milik pelaku, dan memaksanya untuk menjawab dengan ancaman. Namun sepertinya pelaku masih tutup mulut dan tidak mau menjawab.
DOR !
Satu tembakan kembali Berlin laksanakan mengarah ke kaki kiri milik pelaku. Pelaku nampaknya sudah merintih karena menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Baik, baik, aku akan menjawab!" cetus pelaku.
"Bos kami, Carlos yang menyuruhnya, dia menyuruh kami menyerang kantor polisi ini dengan tujuan untuk mencari seseorang," ucap sang pelaku seraya terus merintih kesakitan akibat pendarahan dari luka tembaknya sudah mulai terjadi.
"Ke mana dia membawanya?!" bentak Berlin kembali bertanya dengan sangat keras dan tajam.
"Aku, aku tidak diperbolehkan menjawab untuk itu," sahut sang pelaku.
DOR !
Satu tembakan lagi dilakukan oleh Berlin mengarah ke lengan kanan pelaku, dengan tujuan memaksa pelaku untuk menjawab pertanyaannya.
Semua petugas yang melihatnya merasa sangat ketakutan dengan sendirinya terhadap Berlin. Beberapa perbicangan dengan berbisik sempat Berlin dengar dari para aparat yang melihatnya dari belakang.
"Kejam."
"Dia bukan lagi manusia, tetapi monster."
"Benar-benar monster."
"Kriminal."
Bisik-bisik mereka di belakang Berlin. Namun Berlin sendiri tidak memperdulikannya dan lanjut pada interogasinya terhadap pelaku.
"Jawab sekarang, dan aku akan akhiri siksaanmu ini!" titah Berlin dengan nada yang terdengar sangat kejam dengan pistol terus menodong ke arah kepala pelaku.
"Baik, baik, baik. Dia di bawa ke sebuah gudang di atas bukit kecil sebelah barat Danau Shandy Shell!" sahut pelaku yang akhirnya menjawab pertanyaan Berlin.
Akhirnya, Berlin mendapatkan informasi yang sangat ia inginkan dari sang pelaku secara langsung.
"Tolong, tolong, jangan dilanjutkan siksaan ini ...!" ucap sang pelaku sampai mengeluarkan air mata dan memohon dengan sangat kepada Berlin.
Namun sepertinya hati milik Berlin kini terselimuti oleh kabut dendam dan amarah yang sangat tebal. Rasa kemanusiaan tidak dapat mencapai hatinya, ketika mengetahui kabar bahwa kekasihnya menjadi tawanan dari kelompok musuhnya, yaitu Mafioso.
"Prawira, apa hukuman bagi seorang pelaku kriminal yang sudah melakukan tindakan penyerangan serta pembunuhan sepertinya?" tanya Berlin menoleh kepada Prawira yang berdiri di belakangnya.
"Apa yang dia lakukan sudah termasuk dalam tindakan te*ror*isme, dan akan mendapatkan penjara seumur hidup, dan terberatnya adalah hukuman mati sesuai dengan undang-undang di kota ini," jawab Prawira.
DOR !
Sesaat setelah Prawira menjawab. Berlin langsung kembali menarik pelatuknya menembak tepat di jidat milik pelaku, dan membuat sebuah lubang di sana sehingga sang pelaku langsung tewas di tempat. Tampak Berlin melakukannya tanpa memiliki rasa kemanusiaan dan belas kasih sama sekali. Semua aparat yang melihatnya pun langsung bersiaga dengan menjaga Prawira dari jangkauan Berlin.
Berlin benar-benar sangat marah dan amarahnya sangat meledak-ledak ketika berhadapan dengan pelaku yang baru saja ia bunuh di tempat.
"Siksaanmu telah selesai, dan pengetahuan tentang kekejaman serta kematian sudah tersampaikan. Terima kasih atas informasinya," ucap Berlin dengan sendirinya menatap sang pelaku yang tergeletak tak bernyawa dengan darah mengalir keluar dari kepala.
***
"Berlin," gumam Kimmy dengan mengatupkan kedua tangannya dan meletakkannya di atas dada, dan menatap Berlin dengan prihatin.
Kimmy melihat semua yang terjadi saat berdiri di dekat ambulans yang akan membawa Netty ke rumah sakit. Saat dirinya melihat Berlin yang berdiri dengan sebuah pistol yang panas di sana. Dirinya sangat merasakan perubahan sifat Berlin yang sangat drastis daripada sebelumnya. Sifat Berlin yang sekarang seolah telah berubah kembali ke sifatnya yang dahulu, di saat awal-awal Ashgard terbentuk.
Kejam, tanpa kasih sayang, tanpa belas kasih, tanpa rasa kemanusiaan, dan tanpa ampun ketika menghadapi musuhnya. Itulah Berlin yang dahulu. Semua orang, bahkan teman-temannya saja takut untuk membuatnya marah.
Kimmy sangat memahami dan mengerti apa yang dirasakan oleh Berlin saat ini, apalagi setelah mengetahui kalau Nadia dibawa oleh mereka. Hatinya seolah langsung tertutup dan dingin membeku ketika mengetahui hal tersebut. Hanya keadaan dan kondisi Nadia nantinya yang dapat mencairkan dan mengembalikan hatinya kembali.
"Nadia, aku benar-benar berharap kau baik-baik saja," gumam Kimmy sangat berharap dengan keselamatan Nadia.
***
"Hei, angkat tangan dan buang senjatamu!" teriak salah satu anggota polisi dengan menodong Berlin.
"Turunkan senjatamu!" titah Prawira kepada anggotanya sendiri. Namun sepertinya perintah tersebut tidak dihiraukan oleh anggotanya itu.
Satu petugas itu tampak sangat tidak suka dengan cara yang dilakukan Berlin barusan. Rasa ingin menarik pelatuk tembakannya sangat tinggi, dan mungkin sudah tak bisa di tahan lagi. Ia ditambah kesal dengan sikap Berlin yang seakan tidak menganggapnya ada.
"Jika kau membunuhnya, maka kau akan dicap sebagai penghianat, dan kau tahu sendiri kan hukumannya?" ucap Prawira ketus dan membuat satu anggotanya itu gentar lalu menurunkan senjata apinya.
"Sudahlah, ayo kita pergi dan segera selesaikan masalah ini!" titah Berlin kepada rekan-rekannya sendiri dan lalu berjalan menuju mobil.
.
"Dasar aparat keparat! Benar-benar tidak bisa diandalkan!" gusar Berlin dengan sendirinya ketika melirik kepada para petugas yang berkumpul di belakang Prawira.
"Cih!" Ucapan Berlin barusan sangatlah tajam dan menusuk, dan cukup menyulut emosi dari beberapa aparat yang mendengarnya. Namun Prawira tidak marah dan tersinggung dengan perkataan itu. Dirinya memaklumi sifat dan sikap Berlin yang tiba-tiba saja berubah seperti itu.
...
"Berlin, tunggu!" cetus Prawira berlari menghampiri Berlin.
"Apalagi?? aku tidak butuh beban kalian!" sahut Berlin tak mengacuhkan Prawira.
"Kurasa kau akan membutuhkan ini," ucap Prawira tampak sabar dan memberikan sebuah radio kepada Berlin.
"Apa ini?! Aku sudah punya radioku sendiri!" sahut Berlin yang masih saja menyimpan rasa kesal dan marah.
"Tentu ini berbeda, frekuensi radio ini langsung terhubung dengan Prime dan regunya, dan aku sudah berkoordinasi dengannya untuk membantumu," ucap Prawira.
"Halo? Apakah kau di sana, Berlin?" suara milik Prime tiba-tiba saja terdengar melalui radio tersebut.
"Y-ya, aku di sini," jawab Berlin sesaat setelah menerima radio tersebut.
"Prime dan anggotanya sudah memantau gudang yang dimaksud oleh pelaku tadi, di sana cukup banyak orang-orang dari Mafioso yang berjaga, dan ada informasi darinya kalau ada seorang wanita berbaju kemeja putih dengan keadaan pingsan dibawa masuk ke dalam gudang itu," ucap Prawira.
Mendengar hal tersebut, Berlin sudah sangat yakin untuk melakukan penyerangan dan menyelamatkan serta membawa pergi kekasihnya itu dari sana. "Tidak salah lagi!" gumamnya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Prawira.
"Aku minta maaf atas kekacauan yang terjadi di sini, dan aku minta maaf atas kelengahan ku dan semua anggota ku. Apakah kau mengizinkanku untuk membantumu? Karena yang akan kau hadapi adalah Carlos, saudaramu sendiri," ucap Prawira menundukkan kepalanya.
"Ya, terserah kau saja, yang penting jangan mengacau dan menjadi beban!" sahut Berlin memasang sikap tidak begitu memperdulikan Prawira, dan lalu berjalan masuk ke dalam mobilnya bersama ketiga rekannya termasuk James.
Berlin pun memberikan arahannya kepada semua teman-temannya untuk pergi dari sekitar kantor polisi tersebut, dan menuju ke gudang yang dimaksud oleh pelaku tadi.
.
__ADS_1
Bersambung.