Mafioso In Action

Mafioso In Action
Membalikkan Keadaan #74


__ADS_3

Pukul 22:30 malam.


Puncak Bukit Utara Gedung Balaikota.


Setelah kekalahan pihak Mafioso di perbukitan sebelah Barat Laut dari Gedung Balaikota, mereka memutuskan untuk mundur sampai ke puncak bukit.


Angin malam berhembus cukup kencang dengan membawa suasana kesunyian dan ketenangan malam. Baku tembak serta kekacauan terhenti sejenak setelah wilayah perbukitan sebelah Barat berhasil dikendalikan oleh personel gabungan.


Namun, Berlin dan teman-temannya memantau masih banyak orang-orang bersenjata dari Mafioso yang berkumpul di puncak bukit tersebut. Persenjataan seperti senapan dipegang masing-masing dari orang Mafioso itu yang seolah menunjukkan kalau mereka siap dan masih menginginkan peperangan.


"Sepertinya ketenangan ini hanya berlangsung singkat," batin Berlin setelah melihat apa yang ia lihat. Namun dirinya dan teman-temannya sama sekali tidak gentar, meskipun ia dan teman-temannya hanya berbekalkan pistol dengan amunisi yang cukup tetapi juga tidak lebih.


Berlin dan kelima orang rekannya hanya memantau keramaian dari orang-orang bersenjata Mafioso itu. Mereka tampak fokus untuk bertahan dan berjaga, dan terlihat juga mereka terus menjaga serta melindungi sebuah mobil hitam beroda enam yang terparkir paling belakang dari kerumunan mereka.


"Mereka tampak begitu menjaga mobil itu. Apakah kemungkinan Nicolaus berada di sana?" tanya Asep kepada Berlin di sebelahnya. Mereka berdua bersembunyi di balik dua pohon dan semak-semak.


"Mungkin," jawab Berlin. Pandangan tajamnya tak bisa lepas dari kerumunan bersenjata itu.


Berlin dan Asep bersembunyi serta memantau dari satu tempat yang sama. Sedangkan keempat orang teman lainnya berada di posisi persembunyian mereka masing-masing. Formasi Berlin dan rekan-rekannya cukup tersebar di balik pepohonan serta semak-semak yang cukup tinggi nan lebat. Formasi ini direncanakan oleh Berlin sendiri, dan sudah sangat siap menunggu momen untuk melakukan penyerangan ketika personel gabungan tiba.


***


"Bagaimana ?" tanya Garwig kepada Prime.


Garwig menahan personel untuk sementara di lereng bukit tersebut, sebelum melakukan serangan balik. Begitupula dengan Prime yang juga menahan anggotanya. Namun Prime mengirimkan beberapa anggotanya untuk maju ke depan terlebih dahulu guna mencari informasi.


"Mereka berkumpul dan bertahan di sana, jumlah mereka sangatlah banyak bagaikan pasukan siap tempur. Persenjataan mereka juga lengkap, dan terdapat lima orang membawa senjata peluncur roket." Prime menerima laporan tersebut dari anggota yang ia kirim ke depan melalui radionya, dan lalu menyampaikannya kepada Garwig.


"Bagaimana dengan informasi tentang penembak jitu musuh?" tanya Garwig setelah mendengar laporan itu. Dirinya bertanya langsung menggunakan radio milik Prime.


"Kami tidak dapat penglihatan soal penembak jitu milik mereka," jawab anggota milik Prime.


"Baik, tarik mundur anggotamu ...!" titah Garwig kepada Prime.


Prime pun melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Garwig. Dirinya menyuruh beberapa anggota yang ia kirim sebagai informan untuk mundur segera.


"Rencana apa yang akan kita lakukan?" tanya Prime kepada Garwig.


"Kita tunggu dahulu informasi lebihnya dari anggotamu itu," jawab Garwig.


Mendengar jumlah lawan yang sangat banyak, tentu membuat Garwig semakin waspada dan harus berhati-hati dalam mengambil keputusan. Mungkin, sudah pasti akan ada yang terluka di pihaknya jika baku tembak pecah. Namun dirinya berusaha sangat keras untuk agar tidak sampai kehilangan anggota atau personel miliknya apapun yang terjadi, meski itu sudah menjadi konsekuensi sebagai aparat atau petugas.


Beberapa saat kemudian.


Lima orang anggota yang dikirim oleh Prime pun akhirnya tiba dari balik semak belukar dan pepohonan. Mereka berlima datang dengan membawa beberapa informasi yang sangat penting. Saat sampai, mereka langsung menyampaikan semua laporannya.


"Berarti tidak ada informasi mengenai lokasi penembak jitu pihak mereka, ya?" gumam Garwig setelah mendengarkan semua laporan yang disampaikan oleh anggota milik Prime.


"Belum, Pak," jawab salah satu dari mereka berlima.


"Prime, bisakah kau menghubungi Berlin melalui radio itu?" tanya Garwig seraya menunjuk radio yang bergelantungan di salah satu pundak milik Prime.


"Oh, anda sudah mengetahui kalau Berlin ku berikan radio yang sama dengan ku, ya?" sahut Prime sedikit terkejut. Lantaran dirinya belum memberikan laporannya mengenai pemberian alat komunikasi kepolisian kepada orang selain petugas atau aparat kepada Garwig sebagai atasannya.

__ADS_1


"Prawira yang memberitahu ku," jawab Garwig.


"Baiklah. Sebentar, saya akan coba menghubunginya," ucap Prime yang lalu menekan mengambil serta menekan tombol radio tersebut.


Prime sudah berkali-kali mencoba untuk memanggil Berlin melalui radio tersebut. Namun tidak ada jawaban sama sekali, hanya saja terdengar seperti suara radio yang terputus.


"Sepertinya dia mematikan radio ini," ujar Prime setelah berkali-kali mencoba memanggil Berlin melalui radio itu.


.


"Semoga dia baik-baik saja," lanjut Prime berharap.


"Sudah pasti dia baik-baik saja," sela Garwig yakin sekali dengan perkataannya.


.


"Dan kemungkinan ... dia akan ada di sana, mencari lokasi keberadaan Nicolaus berada," lanjutnya dengan sangat serius dan yakin.


"Kenapa anda begitu yakin?" sahut Prime mengerenyitkan dahinya.


"Anak itu memiliki sifat yang sangat mudah terpancing untuk marah dan kesal jika orang yang berharga baginya diganggu atau bahkan dilukai. Bahkan dia akan melakukan apapun untuk memberikan pelajaran kepada dalang yang berani-beraninya menganggu orang yang berharga baginya."


"Dan itu tidak terjadi hanya satu kali ini. Jadi, aku sangat yakin kalau kemungkinan besarnya ... Berlin ada di sana."


Jawaban serta sedikit penjelasan yang diberikan oleh Garwig soal Berlin itu cukup membuat Prime tertegun. Garwig sama seperti Prawira yang juga sama-sama mengenal lebih jauh Berlin. Karena mereka berdua mengenal Berlin sejak Berlin kecil.


"Baiklah. Lebih baik kita bersiap!" cetus Garwig.


.


"Baik. Apa rencananya?" sahut Prime.


Garwig pun langsung menyusun rencana miliknya untuk melakukan serangan balik serta sekaligus mengalahkan Mafioso seutuhnya. Rencana yang ia susun tentunya sangat terbantu dengan informasi yang diberikan sebelumnya oleh lima anggota milik Prime.


Berkat informasi tersebut, Garwig jadi tahu betapa bahayanya jika menyerang Mafioso secara gegabah dan terbuka. Di sisi lain, Garwig juga ingin meminimalisir seminimal mungkin untuk terjadinya kehilangan anggota ketika baku tembak pecah. Atau bahkan juga meminimalisir adanya yang terluka, walaupun sepertinya tidak mungkin jika menghindari untuk tidak ada yang terluka di pihaknya.


Setelah segala rencana tersusun secara matang. Tanpa harus menunggu lagi, Garwig langsung bersiap serta mempersiapkan seluruh personelnya untuk melakukan serangan balik ke arah Mafioso.


***


Pukul 22:59 malam.


Posisi Berlin dan Kelima Temannya.


Berlin dan teman-temannya masih bersembunyi di balik pepohonan serta semak-semak, dengan pandangan terus memantau keramaian orang-orang bersenjata dari pihak Mafioso itu. Belum ada pergerakan yang menunjukkan akan melakukan penyerangan dari pihak Berlin.


"Cukup lama, apa yang direncanakan Garwig?" cetus Asep bertanya-tanya di samping Berlin. Dirinya berbalik melepaskan pandangannya dari arah orang-orang Mafioso itu, dan lalu bersandar di bawah dari sebuah pohon di dekatnya.


"Kimmy dan yang lainnya aman-aman saja, 'kan?" cetus Berlin bertanya kepada Asep di sebelahnya.


"Ya, tenang saja. Dia dan yang lain berada di barisan pertahanan milik Prawira dan anggotanya," jawab Asep.


Berlin terlihat merasa senang dan cukup lega mendengar jawaban tersebut. Kini dirinya hanya fokus pada rencananya tanpa harus memikirkan teman-temannya yang ada di belakang.

__ADS_1


Di saat Berlin diam, Asep tiba-tiba bertanya, "Bos, kau benar-benar yakin dengan rencana ini?" tanyanya.


Berlin menoleh dengan heran dan pertanyaan tersebut, "tentu saja," jawabnya.


Tampak sedikit kecemasan pada raut wajah milik Asep ketika bertanya seperti itu, dan Berlin menyadarinya. "Aku tidak menyangka akan terus bersama sampai saat ini, bersama teman-teman yang lain juga. Berlin, terima kasih sudah menerima ku di Ashgard," celetuk Asep yang tiba-tiba berbicara seolah akan berpisah.


"Kau bicara apa sih?" sahut Berlin menyela. Dirinya sedikit mendekati temannya itu dan lalu berkata, "selama masih ada aku, kita semua akan baik-baik saja. Kau percaya dengan rencana ku, 'kan?"


"Ya, aku percaya, bahkan aku selalu mempercayai segala keputusanmu sejak dahulu," sahut Asep dengan ekspresi sedikit bersemangat.


Berlin tersenyum mendengarnya. "Tenang saja, mereka hanya menang jumlah. Tetapi, kalau soal kekuatan tempur ... boleh diadu dengan kita, bukan?" celetuk Berlin yang lalu tersenyum sinis.


Wajar saja bagi Berlin mendapati rekannya yang tampak kehilangan kepercayaan diri ketika melihat jumlah lawan yang banyak seperti itu. Namun dirinya terus meyakinkan temannya itu untuk terus percaya dengannya.


Di tengah pembicaraan Berlin. Tiba-tiba saja Galang menyela pembicaraannya melalui radio yang dibawa oleh Asep. "Mereka datang, personel gabungan mulai bergerak ..!" lapor Aryo melalui radio.


"Mungkin, ini saatnya kita untuk beraksi?" ucap Berlin menepuk salah satu pundak milik Asep dan lalu bersiap dengan pistol di tangannya.


"Oke! Semua siap di posisi masing-masing! Biarkan personel gabungan menyerang terlebih dahulu! Kita akan melakukan penculikan satu-persatu dari belakang!" Berlin mulai memberikan perintah serta arahannya kepada teman-temannya melalui radio miliknya yang kembali ia nyalakan.


"Berlin, tunggu! Tolong jangan terlalu gegabah!" suara Kimmy tiba-tiba menyela melalui radio tersebut.


"Kim, aku tidak sedang gegabah, kok. Tenang saja, aku akan segera menyelesaikannya," sahut Berlin yang lalu menyimpan radionya ke dalam saku. Berlin tidak begitu menghiraukan apa yang dikatakan oleh Kimmy.


DOR ... DOR ...!


BOOOMM ...!


Tepat saat waktu menunjukkan pukul 23:00 malam. Tiba-tiba saja keheningan dan kesunyian yang sempat terbentuk pun lenyap dengan suara-suara tembakan dan ledakan yang langsung terdengar bersahutan. Benar saja, personel gabungan benar-benar tidak gentar langsung menyerang orang-orang bersenjata dari Mafioso itu.


Serangan berskala cukup besar yang dilakukan oleh pihak milik Garwig itu sangat memancing seluruh perhatian musuh. Mereka langsung terfokuskan untuk bertahan dari serangan yang diberikan oleh Garwig dan personelnya. Akibatnya mereka melepaskan pertahanan di bagian belakang, yang di mana itu adalah posisi Berlin dan teman-temannya berada.


Mengetahui kalau dirinya mendapatkan kesempatan untuk menyerang. Berlin langsung saja memberikan arahannya kepada teman-temannya untuk melepaskan tembakan.


"Sekarang!" titah Berlin melalui radio kepada teman-temannya.


DESING ... DESING ...!


"Apa?!"


"Dari belakang!!!"


Orang-orang bersenjata dari pihak Mafioso dibuat sangat terkejut dengan serangan yang tidak diketahui sumbernya, karena Berlin dan teman-temannya memanfaatkan pepohonan serta semak belukar untuk menyembunyikan lokasi mereka.


"Habisi mereka semua tanpa ampun!" ucap Berlin dengan nada yang terdengar cukup dingin. Dirinya juga ikut menembaki orang-orang bersenjata itu tanpa ampun, bahkan semua tembakannya telak mengenai kepala-kepala dari sasarannya.


***


"Kita benar-benar digempur habis-habisan jika di sini. Apa yang akan kau lakukan?!" tanya Kibo panik. Dirinya hanya bersembunyi di dalam mobilnya saja.


"Aku ingin kau cukup bersiap di mobil ini saja. Sisanya serahkan padaku ...!" sahut Nicolaus yang tampak sangat tenang walaupun situasi di sekelilingnya sangat kacau dan ricuh dengan suara tembakan yang terjadi.


Tampak Nicoalus berjalan perlahan mendekati mobil sedan berwarna hitam yang ia persiapkan sedari tadi. Entah apa yang ia rencanakan, tetapi ekspresi wajahnya sangat yakin dengan sedikit tersenyum sinis.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2