Mafioso In Action

Mafioso In Action
Lekas Pulih #44


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Berlin langsung menuju ke ruang rawat inap di mana Adam sedang dirawat. Saat ia berjalan melewati koridor rumah sakit ruang inap yang tidak terlalu ramai akan orang.


Saat sampai di depan ruang di mana Adam sedang dirawat. Melalui jendela pintu yang cukup buram, Berlin langsung bisa melihat temannya yaitu Sasha yang duduk di samping ranjang, dan berbicara dengan Adam yang masih berbaring di atas ranjang tersebut.


Tok ... Tok ... Tok ...!


Berlin dengan perlahan mengetok pintu tersebut.


"Sebentar !" jawab Sasha saat menghampiri pintu untuk membukakannya.


"Berlin ? Ayo masuk !" cetus Sasha tersenyum yang lalu mempersilakan Berlin untuk masuk.


Berlin pun berjalan memasuki ruangan dengan suasana hati yang sangat senang melihat kedua temannya itu kembali tersenyum.


"Gimana kabarmu, Dam ?" Berlin langsung menyapa Adam yang sudah siuman walau dengan infus yang masih terpasang, dan masih harus terbaring di atas ranjang.


"Sudah ... lumayan baik lah ...," jawab Adam dan sedikit tersenyum kepada rekannya itu.


"Syukurlah kalau sudah membaik," sambung Berlin dengan melihat kondisi tangan kanan dan kaki kiri Adam yang terbalut dengan perban.


"Kau dan Nadia ... aman-aman saja, 'kan ?" tanya Adam dengan nada bicara yang masih lemah.


"Tentu saja. Memang kenapa, Dam?" sahut Berlin yang lalu duduk disebuah kursi di samping ranjang.


.


"Soal ... apa yang kau katakan kepada James kemarin ...?" sambungnya.


"Um ... aku tunggu di luar saja, kalian berdua silakan lanjut," sela Sasha yang lalu berjalan keluar ruangan.


...


Setelah Sasha keluar ruangan dan menutup pintu tersebut secara rapat. Adam pun mulai menjawab pertanyaan Berlin soal apa yang ia katakan kepada James saat di ambulans.


Adam juga menjelaskan tentang apa yang terjadi sebenarnya kepada dirinya dan Sasha di lokasi kejadian.


"Kalau itu ... soalnya ... pada waktu itu ... aku benar-benar cemas dengan keadaanmu, Bos. Karena kejadian itu berlangsung sangat cepat sekali," kata Adam kepada Berlin walau masih terbaring di ranjangnya.


"Entah apa yang mereka rencanakan, tetapi ... waktu itu ... mereka berusaha mencari tahu tentang dirimu, dan juga mencoba untuk membawa Sasha."


.


"Namun aku terus menghalangi niat mereka, dan ... alhasil ... seperti ini ...," ucap Adam dengan sedikit melirik dengan maksud menunjukkan dua luka tembak yang terbalut perban tersebut.


"Aku sudah membicarakan tentang kasusmu itu kepada Prawira, dan kita ... mendapatkan prioritas lebih dari pihak kepolisian," cetus Berlin.


.


"Lalu ... maksud yang James sampaikan kepadaku tentang ancaman untukku itu apa ...?" lanjut Berlin.


Adam pun kembali menjawab pertanyaan dari rekannya itu, dengan juga menjelaskannya secara rinci dan sesuai dengan apa yang masih ia ingat.


"Jadi ... waktu kejadian itu ... aku sempat cekcok dengan mereka yang jumlahnya lebih dari delapan orang. Setelah cekcok tersebut, salah satu dari mereka tiba-tiba menembakku dua kali, dan di saat yang bersamaan James datang ke lokasi."


"Di saat James datang, mereka yang panik melihat polisi pun langsung kabur begitu saja. Namun sebelum mereka melarikan diri, salah satu dari mereka sempat mengancam untuk membunuhmu, Berlin."


Mendengar penjelasan dan kronologi kejadian yang dijelaskan secara rinci oleh Adam. Berlin tidak heran dan terkejut bila ancaman tersebut diberi atau ditujukan kepada dirinya, karena baginya hal seperti itu sudah wajar.


"Nadia benar aman-aman saja, 'kan ?" cetus Adam kembali menanyakan kabar Nadia kepada Berlin.


"Haha," Berlin sedikit tertawa kecil ketika melihat temannya itu terus menanyakan kabar kekasihnya.


"Iya, dia baik-baik saja. Kau kan tahu sendiri dia tinggal denganku, jadi ... langsung aku yang menjamin keamanannya," jawab Berlin.

__ADS_1


.


"Memangnya kenapa ?" lanjutnya.


"Hehe," Adam tertawa kecil dan lalu menjawab, "nggak, takutnya ... mereka melakukan tindakkan yang nekat hanya dengan maksud mencarimu, Berlin."


"Maksudmu ... dengan melakukan penculikan atau penyanderaan, begitu ...?" sahut Berlin.


"Ya ... kau harusnya tahu 'kan ... penjahat ?" jawab Adam dengan mengembalikan pertanyaan.


.


"Teror yang sedang terjadi kepada Nadia pun ... aku yakin pasti ada unsur atau maksud yang ditujukan kepadamu, Berlin," lanjut Adam.


Semua pembicaraan itu membuat Berlin semakin kepikiran dan cukup gelisah dengan keselamatan kekasihnya, yaitu Nadia. Dirinya juga dibuat cukup merasa bersalah dengan apa yang terjadi kepada Nadia dan itu tidak seharusnya terjadi.


Berlin juga dibuat sangat bingung dengan apa tindakan yang harus atau akan ia ambil dan lakukan kedepannya.


"Baiknya kau lebih berhati-hati untuk kedepannya, Berlin !" ucap Adam dengan pelan dan terlihat sangat memikirkan temannya itu.


"Iya, terima kasih, Dam," sahut Berlin.


.


"Lekaslah pulih !" lanjutnya yang lalu tersenyum tipis kepada sahabatnya itu yang masih terbaring di atas ranjang.


...


Setelah cukup lama, Berlin akhirnya selesai berbicara dengan Adam. Ia pun ingin langsung berpindah ke ruangan di mana adik dari Vhalen sedang di rawat.


Untungnya ruangan mereka berdua tidak terlalu jauh, jadi Berlin hanya memerlukan waktu yang sangat singkat.


~


Di saat Berlin akan mengetuk pintu, tiba-tiba ada seorang suster keluar dari kamar tersebut dengan membawa kotak obat di tangannya.


"Terima kasih, suster," ucap Lakit ketika suster tersebut keluar dari kamarnya.


"Si-silakan masuk !" cetus Lakit kepada Berlin dengan ekspresi sedikit terkejut.


"Hai, Lakit Angkasa, bukan ?" sapa Berlin saat berjalan memasuki kamar.


"I-iya, Kak," jawab Lakit saat memposisikan dirinya untuk duduk walau masih di atas ranjang.


Berlin dapat melihat ekspresi dari Lakit yang terlihat cukup terkejut dengan kedatangannya ke sini.


"Gimana kondisimu ?" tanya Berlin saat duduk di kursi samping ranjang.


"Udah ... lumayan, untungnya ... luka bakar dan luka karena percikan dari partikel itu tidak terlalu parah, hanya saja ... waktu itu tubuh sempat terhempas dan kepalaku terbentur sesuatu," jawab Lakit sembari sedikit menggerak-gerakkan kedua tangannya yang masih terbalut perban.


"Tetapi, kepalamu tidak apa-apa, 'kan ?" sahut Berlin saat melihat perban yang masih terbalut di kepala milik Lakit.


"Aku beruntung ... tidak ada cidera yang parah di kepala, hanya sedikit luka sobek saja di bagian jidat," jawab Lakit dengan pelan dan sedikit mengelus perban yang terbalut pada kepalanya.


...


Lakit terlihat sedikit murung dan tertunduk sembari mengepalkan kedua telapak tangannya yang masih dalam keadaan terbalut perban.


"Vhalen bilang kepadaku, kalau kau ingin bertemu denganku ?" ujar Berlin.


"Hehe," Lakit langsung tertawa kecil saat mengangkat kembali kepalanya dan menoleh ke arah Berlin dengan sedikit canggung.


.

__ADS_1


"Ketika di rumah, Kak Vhalen selalu bercerita kepadaku tentang, Kakak. Dan entah kenapa ... aku tiba-tiba terobsesi aja kepada, Kak Berlin," ujar Lakit dengan sedikit canggung.


"Hahaha," seketika Berlin sedikit tertawa setelah mendengarnya. "Kenapa kau begitu terobsesi kepadaku ? Padahal aku kan bukan tokoh publik atau orang terkenal," sahutnya.


"Hehe," Lakit kembali tertawa kecil dan menjawab, "karena banyak hal yang membuatku begitu terobsesi kepada, Kakak."


"Banyak hal ?" sahut Berlin dengan kembali bertanya.


Lakit mengangguk pelan dan menjawab, "Kak Vhalen selalu bercerita tentang ... keahlian kakak dalam menembak, bela diri, dan dalam menyatukan banyak orang. Tak hanya itu, ada banyak lagi yang Kak Vhalen ceritakan kepadaku."


.


"Tetapi ... aku tertarik dalam hal menembak dan bela diri, aku ingin sekali ... bisa belajar kepada, Kak Berlin !" lanjutnya dengan nada dan ekspresi cukup memohon kepada Berlin.


Berlin sedikit terkejut dengan ekspresi dari Lakit yang menurutnya sedikit mirip dengannya di saat masih memasuki jenjang remaja. Karena dirinya juga pernah begitu terobsesi dengan seseorang di masa itu, dan juga sempat memohon hal yang sama dengan yang dimohon oleh Lakit saat ini kepadanya


Lakit langsung tertunduk dan terlihat sedikit murung ketika Berlin hanya diam dengan memberikan sikap yang cukup dingin kepadanya setelah mendengar permohonannya. Ia sadar memang dirinya tidak seharusnya meminta atau memohon hal seperti itu kepada Berlin.


Melihat Lakit yang tertunduk murung, Berlin hanya sedikit tersenyum dan tertawa kecil saat melihat sikap yang ditunjukkan kepadanya itu. Dirinya pun bangkit dari duduknya untuk melangkah ke depan jendela kamar rumah sakit, dan melihat ke arah jalanan kota yang terlihat dari kaca jendela tersebut.


"Dahulu, aku sempat memohon hal yang sama sepertimu kepada seseorang yang ku kenal, dan ku sebut ia sebagai guru. Namun dia mengecewakanku, dan memberiku pelajaran yang sangat berarti hingga sekarang," ucap Berlin dengan pandangan ke arah luar jendela.


.


"Walau seperti itu, tetapi tetap saja ... dia pernah mengecewakanku dan membuatku murung selama beberapa hari," lanjutnya.


"Mengapa kau ingin belajar kedua hal itu ?" tanya Berlin saat menoleh kepada Lakit.


Saat tertunduk lesu Lakit menjawab, "aku ... hanya ingin lebih berguna ..., dan ... bisa menjaga Kak Vhalen," jawabnya dengan nada yang sungguh pelan dan mengatupkan kedua telapak tangannya ke bawah.


.


"Aku juga ingin ... menjadi laki-laki yang jago bela diri, biar bisa melindungi seseorang yang ingin ku lindungi," lanjutnya.


"Hehehe," Berlin kembali dibuat tertawa kecil dengan apa yang diucap Lakit kepadanya. "Laki-laki itu tidak harus bisa bela diri, bahkan aku sendiri tidak begitu mahir dalam hal tersebut," kata Berlin menghadap ke arah Lakit.


Berlin maju satu langkah ke arah Lakit yang masih duduk di atas ranjangnya dan dengan ekspresi yang masih murung itu. "Aku sendiri belum pernah mengajar seseorang, jadi aku harus memikirkannya lagi," ucap Berlin kepada Lakit.


Lakit mengangkat kembali kepalanya secara perlahan dan menoleh kepada Berlin, ketika mendengar apa yang Berlin katakan kepadanya.


"Tetapi, kau tidak bisa memegang senjata api dan berlatih dalam keadaan seperti itu, 'kan ?" cetus Berlin dengan menatap ke arah Lakit.


.


"Jadi, cepatlah pulih terlebih dahulu, ya ?" lanjutnya yang lalu tersenyum kepada seorang remaja laki-laki yang ada di hadapannya itu.


Seketika ekspresi Lakit terlihat sangat senang dan berseri-seri, ketika Berlin mengatakan hal tersebut kepadanya. Dengan semangatnya, dirinya mengangguk dan berkata, "terima kasih, Kak !"


Saat melihat ekspresi senang tersebut, Berlin juga merasa sangat senang ketika bisa membuat Lakit begitu senang. Meskipun dirinya tidak yakin dengan apa keputusan yang akan ia ambil terhadap Lakit kedepannya.


Berlin berkata seperti itu, karena dirinya tidak ingin melihat dan membuat Lakit kecewa seperti dirinya beberapa tahun yang lalu, ketika meminta atau memohon hal yang sama kepada seseorang yang sangat ia kenal.


***


"Terima kasih banyak, Berlin," gumam Vhalen dengan mengatupkan kedua telapak tangannya di atas dada, dan tersenyum senang dengan mata sedikit berkaca-kaca.


Vhalen menyaksikan itu semua dari balik jendela kaca pintu ruangan, dan dirinya benar-benar merasa sangat senang ketika melihat adik laki-lakinya itu juga senang.


Vhalen juga cukup terharu dan sangat berterimakasih dengan apa yang dilakukan teman laki-lakinya yaitu Berlin, sampai mau mengabulkan permintaannya.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2