Mafioso In Action

Mafioso In Action
Penguntit #93


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Pukul 12:00 siang.


Pulau tak terpetakan.


"Bagaimana?" tanya seorang pria dengan pakaian rapi serba putih kepada orang-orang yang sepertinya anak buahnya.


Beberapa anak buahnya tampak menggunakan seragam yang sama yaitu pakaian serba putih. Mereka tampak tunduk dan begitu menghormati pria yang berdiri di hadapannya.


"Sepertinya ... kehadiran kita mulai terekspos oleh pihak keamanan Metro," jawab salah satu anak buahnya.


Di belakang dari pria tersebut datang pria lain namun dengan pakaian yang berbeda yaitu serba hitam. "Apa kau memiliki keinginan, Nico?" tanya pria berpakaian serba putih kepada pria yang mendatanginya.


"Aku ingin ... laporan tentang Berlin!" pinta pria yang dipanggil dengan sebutan Nico itu.


Mendengar keinginan tersebut, pria berpakaian serba putih itu pun langsung memerintahkan beberapa anak buahnya untuk segera bergerak.


"Laporan soal apa yang kau inginkan?" tanya pria itu kembali setelah semua anak buahnya yang sebelumnya berlutut di depannya pergi.


"Apapun itu yang pasti penting, aku ingin merencanakan sesuatu," sahut Nico.


"Aku akan bantu untuk menyempurnakan rencanamu," sela pria berpakaian serba putih tersebut.


Pria yang dipanggil dengan panggilan Nico itu hanya terkekeh mendengar apa yang dikatakannya.


.


~


.


Pukul 15:00 sore.


Di sebuah mal pusat kota.


"Oke, kita mulai dari mana?" tanya Nadia ketika berjalan memasuki pintu masuk mal bersama Berlin.


"Um ... baju pengantin? Kita belum mempersiapkannya, bukan?" sahut Berlin sembari menatapnya.


Nadia sedikit tertegun dan tersipu ketika Berlin mengatakannya sembari menatapnya. "Ba-baiklah, a-ayo!" pinta Nadia dengan canggungnya menggenggam dan menarik satu tangan milik Berlin.


Berlin hanya tersenyum dan sedikit tertawa kecil ketika melihat sikap canggung kekasihnya. Dirinya pun mengikuti langkah-langkah kaki Nadia menuju ke sebuah toko khusus untuk baju-baju pengantin yang berada di lantai dua mal tersebut.


Situasi mal saat itu tidaklah terlalu padat, namun tetap ramai akan pengunjung. Ketika berada di depan toko, langkah Berlin tiba-tiba terhenti dan pandangannya tertuju ke lantai paling atas dari mal tersebut. Dirinya merasa sedang diikuti dan dipantau oleh seseorang. Namun ia tidak menghiraukan hal tersebut, karena dirinya sudah mempercayakan hal tersebut kepada orang-orang kepercayaannya.


"Berlin, ada apa?" tanya Nadia bingung dengan sikap Berlin.


"Tidak ada apa-apa. Yuk!" sahut Berlin lalu menarik tangan Nadia masuk ke dalam toko.


***


"Sepertinya dalam waktu dekat akan ada sesuatu yang menarik," gumam seorang pria mengenakan hoodie berwarna putih yang duduk di lantai paling atas mal tersebut. Pandangannya terus saja memperhatikan Berlin yang berada di toko lantai dua.


"Ngomong-ngomong, sepertinya kita juga sedang dipantau," sela satu rekannya berjalan menghampirinya. Pandangan mereka berdua seketika langsung mewaspadai orang-orang di sekitar. Di antara banyaknya pengunjung mal, terdapat beberapa orang dengan hoodie berwarna biru yang tampak sedang memantau mereka berdua.


"Sial aku lupa, Ashgard selalu membayang-bayanginya," gerutu pria dengan hoodie putih tersebut.


Mereka berdua pun segera beranjak pergi dari posisi mereka dengan tujuan untuk meloloskan diri dari pantauan orang-orang Ashgard.


***


"Sep, kau lihat dua orang itu?" ucap Kimmy kepada Asep melalui radio.


"Yup!" jawab Asep.

__ADS_1


"Ikuti dan kejar mereka!" pinta Kimmy.


Kebetulan cuma Asep seorang yang jaraknya cukup dekat dari dua orang penguntit misterius itu. Dirinya pun melaksanakan apa yang Kimmy minta untuk mengejar kedua orang itu.


"Faris, Galang. Kalian berdua ikut aku!" pinta Asep kepada kedua rekannya melalui radio seraya dirinya mengikuti ke mana dua orang tadi pergi.


"Cukup mereka bertiga saja yang menangani dua orang itu!" pinta Kimmy kepada semua rekan-rekannya melalui radio. Dirinya tak lupa untuk mengirimkan pesan singkat kepada Berlin tentang dia orang tadi yang sedang ditangani.


***


"Diperlukan untuk kapan?" tanya seorang wanita paruh baya berkacamata yang melayani Berlin dan Nadia di toko baju tersebut.


Nadia pun menjawab pertanyaan tersebut. Sedangkan Berlin, dirinya mendapatkan pesan masuk dari Kimmy, "dua orang penguntit sedang ditangani oleh Asep, Faris, dan Galang. Kau Lanjutkan saja tanpa harus mengkhawatirkan mereka," isi pesan tersebut.


"Ternyata sulit juga jika harus jalan berdua namun dalam keadaan menjadi buronan oleh orang-orang jahat seperti itu," batin Berlin. Mengingat sekarang dirinya juga harus memikirkan keamanan Nadia yang saat ini bersamanya, dibandingkan dahulu yang ia hanya perlu memikirkan keamanan dirinya sendiri.


Setelah membaca isi pesan tersebut. Berlin kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku, dan melanjutkan kesibukannya dengan Nadia.


~


"Dia terus melarikan diri menuju parkiran," ucap Asep terus melaporkan statusnya yang masih terus mengejar serta mengikuti dua orang itu pergi. Beruntung dirinya tidak sendirian untuk mengikuti serta mengejar kedua orang itu, karena ada Faris dan Galang bersamanya dan siap membantunya.


"Laporkan terus!" pinta Kimmy kepadanya melalui radio.


"Sebisa mungkin jangan sampai membuat kekacauan di area mal, apalagi sampai menggunakan timah panas!" tegas Adam memperingatkan ketiga rekannya itu melalui radio komunikasi mereka.


"Baik!" jawab Asep menggunakan radionya.


Kedua orang penguntit itu terus berjalan menuruni area parkiran mal dan menuju ke pintu keluar. Mengetahui mereka berdua akan keluar dari area mal, Asep bersama kedua rekannya pun segera mengejarnya. Dan benar saja, ketika sudah keluar dari area mal, kedua orang itu langsung berlari dengan maksud melarikan diri.


"Mereka melarikan diri keluar dari area mal. Aku akan mengejarnya!" seru Asep melaporkannya melalui radio.


Karena sudah keluar dari area mal, dirinya pun mengejar mereka bersama kedua rekannya. Kedua orang itu berlari melalui trotoar pinggir jalan besar yang pada saat itu juga cukup ramai akan kendaraan berlalu-lalang.


TAP ... TAP ... TAP ...!!!


"Harus dapat! Berani-beraninya dia menguntit bos kita," sahut Galang yang tampaknya begitu berambisi untuk menghajar kedua orang tersebut.


"Kalian membawa senjata, 'kan? Apapun itu mau senjata api atau apapun," tanya Asep terus berlari mengikuti kedua orang itu tepat di belakangnya.


"Bawa," jawab kedua rekannya.


"Mau tembak?" tanya Galang hendak mengeluarkan pistolnya.


"Jangan! Kita berada di tempat umum," sahut Asep melarangnya.


"Kita memiliki otoritas sebagai aparat berwenang dari Prawira untuk menembak, sih," timpal Faris.


"Tidak bisa, jangan terlalu ambil resiko!" sahut Asep kembali melarang serta memperingatkan.


Ketika mereka bertiga mempertimbangkan untuk mengambil tindakan. Tiba-tiba saja kedua orang yang mereka kejar berbelok masuk ke sebuah gang kecil pada pinggir trotoar tersebut.


Asep memperlambat serta menghentikan langkahnya sejenak, diikuti oleh kedua rekannya. Dirinya mengetahui kalau gang tersebut buntu atau tidak ada jalan lain ketika memasukinya.


"Mereka berlari ke arah Barat dan berbelok ke sebuah gang buntu, dan sekarang aku berada tepat di depan gang tersebut." Asep melaporkan hal tersebut kepada seluruh rekannya melalui radio.


"Baik, cuku ---" belum selesai Kimmy berbicara. Asep tiba-tiba menyela dengan berkata, "dan sepertinya aku, Faris, dan Galang akan tetap mengejarnya masuk ke dalam gang."


Kimmy cukup terkejut dengan keputusan rekannya yang menurutnya cukup beresiko. "Tunggu! Kita tidak tahu apakah mereka berdua memasang atau mempersiapkan jebakan di dalam gang itu!" tegas Kimmy dengan ketus memperingatkan rekannya.


Namun sepertinya Asep dan kedua rekannya tidak begitu menghiraukan peringatan dari Kimmy. Mereka bertiga langsung berjalan memasuki gang tersebut dengan posisi siaga.


"Setahuku di ujung gang ini hanyalah dinding dan jalan buntu, tidak ada apapun di sana," ujar Faris.


"Kanan kiri kita saja cuma dinding, memangnya dua orang tadi mau kabur ke mana?" cetus Galang melihat ke kanan dan kirinya yang hanyalah dinding bangunan sekitar.

__ADS_1


"Maka dari itu, aku yakin mereka merencanakan sesuatu di sini. Tetap siaga!" ucap Asep dengan sebuah pistol di tangannya.


Mereka bertiga terus berjalan perlahan dan kemudian hampir sampai di ujung gang. Namun di ujung gang terdapat sekitar lima orang dengan pakaian layaknya preman. Mereka berlima seketika langsung menghadap Asep dan kedua rekannya.


"Hei, sepertinya kita kedatangan tamu," cetus seorang preman yang tampaknya pemimpin dari keempat preman yang lain.


Dengan tenangnya Asep menyimpan kembali pistol miliknya dan sebisa mungkin tanpa diketahui oleh para preman itu. Dirinya juga memberikan kode kepada dua rekannya dengan hanya menatap mata mereka untuk menyimpan senjata api mereka.


"Hmm, pakaian itu, seperti tidak asing di mataku," celetuk salah satu preman lain yang menyadari hoodie berwarna biru berlengan putih yang dipakai oleh Asep dan kedua rekannya.


"Ashgard, tak seharusnya kalian berada di sini! Meskipun kami tahu kalian siapa, tetapi ini wilayah kami dan kami akan menghajar kalian di sini juga!" tegas sang pemimpin preman tersebut dengan mengeluarkan senjata tajam berupa pisau dari sakunya.


Keempat preman lainnya pun juga sama. Mereka tampak begitu siap untuk menghadapi Asep dan kedua rekannya, ditambah lagi para preman itu mengetahui kalau mereka unggul dari jumlah.


Asep dengan tenangnya menatap kedua rekannya yang juga tampak begitu tenang tanpa ada ketakutan ketika berhadapan dengan para preman itu. Baginya dan teman-temannya, preman seperti ini hanyalah penjahat lucu.


"Sebenarnya kami hanya ingin bertanya dan tidak ingin membuat masalah dengan kalian. Tetapi melihat respon kalian yang seperti ini, jadi apa boleh buat? Tentu kami akan memberikan respon balik!" Asep berbicara dengan tenang dan dingin kepada lima preman di hadapannya.


Dirinya mengepalkan kedua tangannya dan tampak sangat siap untuk menghadapi para preman itu dengan tangan kosong. Tak hanya dirinya dan tak mau ketinggalan, Galang dan Faris pun sama.


"Sudah lama aku tidak berhadapan dengan penjahat-penjahat lucu seperti ini," celetuk Faris yang sepertinya ucapannya membuat para preman itu sangat marah.


"Lucu?!" Tampaknya para preman itu sangat marah dengan perkataan yang dilontarkan oleh Faris.


"Mungkin ini kesempatan kita untuk bisa membuat orang Ashgard babak belur!" seru salah satu preman yang membuat keempat rekannya begitu percaya diri. Tanpa menunggu lama, mereka berlima menyerang Asep dan kedua rekannya secara serempak menggunakan senjata tajam yang mereka miliki.


SET ...!


Baku hantam pun terjadi. Meskipun Asep dan kedua rekannya kalah jumlah, tetapi tampaknya mereka begitu menguasai jalannya baku hantam tersebut.


"Jangan sampai membuat mereka terbunuh, tetapi jika mereka minta itu maka berikanlah!" pinta Asep sedikit mundur memberikan jarak untuk ia berbicara. Belum ada satu detik setelah ia berbicara. Dirinya pun mendapatkan serangan dari dua orang preman secara serempak. Kedua preman tersebut menghunuskan pisau mereka ke arah Asep. Namun beruntungnya Asep dapat menangkis serta menyerang balik dengan cepat kedua preman itu, dan membuat lawannya tak bisa melawan.


"Segini doang?" celetuk Faris ketika lawannya dua lawannya tampak lemah tak berdaya tersandar di sebuah dinding.


BRuuKkk ...!!


Galang mendorong salah satu preman dan membuatnya terbentur ke arah dinding dengan sangat keras. Dirinya berhasil merebut pisau milik preman yang ia lawan, dan menancapkan pisau tersebut tepat di dinding sebelah kepala dari preman yang telah terduduk lemah di hadapannya.


Jleebb ...!


"Beruntung terdapat perintah untuk tidak membunuh. Jika tidak, mungkin sudah habis kau di sini dengan kepalamu yang terpisah, mungkin," celetuk Galang dengan nada sangat mengancam dan menatap tajam satu preman yang tertunduk di hadapannya.


Setelah baku hantam singkat yang tidak penting itu. Asep dan kedua rekannya pun mengumpulkan kelima preman yang telah menyerah itu. Mereka bertiga pun mengintrogasi para preman itu.


"Apa kalian preman bayaran? Jawab!" tegas Asep dengan nada sangat tinggi dan membuat para preman itu takut. Matanya terlihat sangat tajam menatap terus tanpa melepaskan pandangannya dari para preman yang kini tertunduk di hadapannya.


"Kalian dibayar untuk menghalangi kami, bukan?!" timpal Faris dengan mengeluarkan pistolnya dari saku dan menatap para preman itu dengan tatapan mengancam.


"Y-ya, ka-kami dibayar untuk itu." Para preman yang ketakutan itupun menjawab pertanyaan yang diberikan.


"Siapa yang membayar kalian?" tanya Galang.


"Anak buah dari Clone Nostra," jawab satu preman yang sebelumnya tampak seperti pemimpin dari keempat preman lainnya, namun sekarang tidak lagi.


Asep sedikit terkejut dengan jawaban itu, namun di sisi lain dirinya sudah menduga kalau penguntit itu adalah orang-orang dari sebuah kelompok bernama Clone Nostra.


Asep dan kedua rekannya pun terus menanyakan banyak pertanyaan serta menggali banyak informasi dari para preman itu.


...


Setelah selesai mengintrogasi para preman itu. Asep mengembalikan senjata tajam yang sebelumnya ia dan kedua rekannya rampas kepada para preman itu.


"Ashgard tidak pernah mencari masalah, dan tidak akan pernah menyenggol pihak manapun. Namun semua itu akan berubah ketika terdapat pihak yang menyulut api pada kami, dan silakan dicoba saja untuk menangkal api tersebut!" Asep memberikan peringatannya dengan kata-kata tersebut setelah ia mengembalikan senjata tajam kepada mereka.


"Berlin, aku pinjam kata-kata mu itu, ya," batin Asep setelah mengatakan hal tersebut sebagai peringatan. Dirinya tiba-tiba saja teringat dahulu beberapa tahun yang lalu, ketika awal Ashgard didirikan Berlin pernah berkata seperti itu.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2