
Pukul 19:00 malam hari.
Bengkel Pribadi Ashgard.
Tampak Berlin tengah menyusun rencana untuk misi pertama bagi kelompoknya sebagai tim pengintai. Walau dirinya tidak pernah dan tidak memiliki pengalaman untuk berperan sebagai tim pengintai. Namun hal-hal seperti ini sudah sering Berlin lalui selama dirinya menjalani kehidupan di dunia kriminal bertahun-tahun.
"Semua sudah berkumpul, ya?" tanya Berlin berdiri di hadapan semua teman-temannya yang berbaris di ruang utama. Sedangkan Nadia hanya menunggu Berlin di dalam mobil sesuai dengan permintaan Berlin sendiri.
"Sudah, Bos!" sahut mereka dengan serempak.
"Semua sudah dapat perlengkapan?" tanya Berlin kembali memastikan.
"Sudah, Bos!" jawab teman-temannya kembali dengan serempak.
Semua temannya tampak sudah dipersenjatai oleh Berlin, dan dibantu oleh Kimmy yang ia percayai sebagai pemegang kunci brankas. Senjata api seperti pistol, peluru, rompi anti peluru, dan beberapa perlengkapan yang mungkin nantinya akan menjadi sangat penting saat di lokasi. Berlin sudah menyiapkan itu semua untuk dirinya dan juga teman-temannya.
"Baik. Mungkin ... ini kali pertama bagi kita untuk menjadi tim pengintai bagi kepolisian. Namun, dengan semua pengalaman kita selama ini, aku yakin ... seharusnya tugas ini tidaklah sulit bagi kita," ucap Berlin dengan tegas selayaknya pemimpin di hadapan semua temannya.
Teman-temannya terlihat begitu saksama mendengarkan ketika Berlin berbicara di hadapan mereka.
"Ada rencana, Bos?" tanya Asep.
"Hmm," gumam Berlin menghela napas panjang seraya melipat lengannya dan berpikir. "Seperti yang kita sudah ketahui, Bukit Sunyi adalah tempat yang cukup besar dan memiliki hutan yang cukup lebat, serta terdiri dari beberapa perbukitan," jelas Berlin mengulas tentang tempat yang akan dirinya dan teman-temannya tuju.
"Sesuai koordinasi dari James dan pihaknya, kita akan memasuki wilayah Bukit Sunyi melalui Utara. Walau wilayah Utara cukup strategis, namun sebenarnya aku ingin dua orang masuk melalui Selatan, karena lokasi di sana juga cukup strategis dan dapat memantau langsung ke arah bibir pantai Timur," ujar Berlin.
.
"Hanya akan satu mobil yang akan kita gunakan, itupun off-road, sisanya gunakan motor kalian yang bisa di segala medan, karena tentu kita akan melewati jalanan tanah bebatuan," lanjutnya.
"Baik, Bos!" jawab mereka serempak.
Tidak lupa, Berlin juga membagikan semua temannya pada setiap masing-masing kendaraan yang akan digunakan. Dirinya sudah memperkirakan semua keputusan yang diambil untuk menyusun rencana.
~
Pukul 19:40 malam.
Masih di tempat yang sama, Bengkel Pribadi Ashgard.
Ketika semuanya sudah sangat siap, dengan persiapan-persiapan yang sekiranya sudah matang. Berlin dan kelompoknya pun segera beranjak pergi dari tempat berkumpul mereka menuju kantor polisi Shandy Shell, sesuai dengan arahan Prawira sebelumnya.
Berlin pun pergi ditemani dua rekannya pada satu mobil beroda enam miliknya. Nadia juga ikut serta dalam mobil tersebut, namun hanya ikut sampai tiba di kantor polisi Shandy Shell saja. Karena ia juga dipanggil oleh Prawira untuk membantu Netty di sana.
Jantung berdebar-debar, perasaan resah gelisah menyelimuti diri dan pikiran. Itulah yang dirasakan Nadia saat ini. Pikirannya tak bisa lepas dari Berlin yang akan melakukan tugas pertamanya.
Selama perjalanan, Nadia hanya diam melihati pemandangan luar jendela mobil dengan masih tersimpan rasa gelisahnya. Dan tentunya, Berlin menyadari hal tersebut. Dirinya memegang salah satu pundak milik kekasihnya yang duduk di kursi belakang bersamanya, dan lalu berkata, "tenanglah, semua akan baik-baik saja, aku yang jamin," ucapnya dengan sangat lembut dan tenang.
"I-iya, aku percaya itu," sahut Nadia tampak berusaha menenangkan diri dan pikirannya.
"Santai saja, Nadia. Jika Berlin melakukan hal yang bodoh, aku akan mencegah sekaligus memberinya pelajaran!" cetus Kimmy yang duduk di kursi depan dengan sedikit menoleh dan melirik tajam kepada Berlin. Ia juga terlihat tersenyum sinis ketika mengatakannya.
"Yup! Kami sebagai temannya tentu tak akan membiarkan dia melakukan hal yang bodoh!" sambung Asep sembari terus fokus untuk menyetir.
Apa yang dikatakan oleh Asep dan Kimmy, itu cukup membuat Nadia merasa sedikit lebih tenang. "Terima kasih," ucap Nadia dengan nada yang sungguh pelan nan lembut dan lalu tersenyum kecil.
Berlin tersenyum senang dan merasa cukup lega dengan ekspresi yang ditunjukkan Nadia barusan. "Aku yakin semuanya akan baik-baik saja, Nadia. Tenanglah," batinnya seraya terus memperhatikan kekasihnya itu yang tampak cantik tersorot sinar bulan yang sangat terang di malam ini.
.
~
.
Pukul 20:00 malam hari.
Kantor Polisi Shandy Shell.
Berlin dan rombongannya akhirnya sampai di kantor polisi Shandy Shell tepat waktu. Di sana tampak sangat banyak kamp-kamp yang didirikan di halaman belakang kantor polisi. Kamp-kamp itu tampak sangat banyak, dan didirikan tepat di pinggir danau Shandy Shell.
"Hei, hei, siapa mereka?" cetus beberapa anggota polisi yang ada di sana.
"Dia siapa?" Orang itu tampak sombong sekali seperti bos saja," lanjut salah satu polisi menatap dengan tatapan tidak suka kepada Berlin.
"Mereka sangat mencurigakan," sambung seorang polisi lain.
"Walau tampak mencurigakan dan sombong, tetapi dia tampak keren di mataku," celetuk salah satu polisi wanita dengan memandang kagum kepada Berlin.
.
"Aku setuju, orang yang berbicara dengan Pak Prawira dan Pak Garwig itu, 'kan?" sambung polisi wanita lainnya
"Iya, iya!" sahut beberapa polisi wanita kemudian.
Kelompok dari Berlin juga sepertinya mendapatkan sambutan dari seluruh anggota polisi yang ada di sana. Semua anggota polisi itu menatap Berlin dan teman-temannya dengan tatapan sinis. Namun tidak bagi beberapa polisi wanita yang sepertinya malah tampak terkagum dengan kehadiran Berlin.
Para anggota polisi itu. Mereka semua tampak bingung dengan kehadiran Berlin dan kelompoknya di sini. Namun Berlin menaruh sikap acuh tak acuh dengan semua pandangan itu. Dirinya justru bingung mengapa ada kamp di kantor Shandy Shell ini.
__ADS_1
"Kamp?" batin Berlin bertanya-tanya.
Banyak juga anggota polisi yang terlihat sedang bersiap-siap dengan seluruh perlengkapan yang sudah mereka siapkan. Berlin sendiri merasa cukup bingung dengan situasi yang ada, banyak sekali tenda yang didirikan di sana dan di sini, dan banyak juga anggota polisi yang tampak sedang bersiap serta sedikit berlatih.
"Selamat datang, Berlin." Garwig yang menyapanya untuk pertama kali ketika sampai. "Selamat datang di kamp kami," sambung Prawira.
"Nadia, kalau kamu sudah siap, kamu langsung bergabung dengan Netty di brankas dalam kantor, ya?" cetus Prawira kepada Nadia yang berdiri di samping Berlin.
"Ba-baik, Pak!" jawab Nadia dengan tegas selayaknya dirinya yang dahulu sebagai anggota.
"Tunggu, ada apa dengan semua tenda ini?" tanya Berlin.
"Kami hanya melakukan persiapan untuk besok. Karena Bukit Sunyi tidak cukup jauh dari sini, maka dari itu kami menjadikan kantor polisi Shandy Shell sebagai rumah sementara untuk para anggota," Prawira langsung menjawab pertanyaan Berlin itu.
.
"Dan juga, hanya firasatku yang menuntunku untuk membangun base camp ini," sambung Garwig.
Di tengah berbincang. James berjalan menghampiri mereka berempat yang sedang berbincang di halaman belakang kamp. Dirinya sangat bersemangat dengan tugas yang akan ia jalani. Karena, dirinya memiliki kesempatan untuk langsung berada satu tim yang sama dengan Berlin, orang yang selalu ia bantu ketika mendapatkan masalah yang berkaitan dengan hukum.
"Kalian sudah berkoordinasi soal pemegang tim, 'kan?" cetus Prawira kepada Berlin dan James dengan maksud memastikan.
"Sudah!" jawab James.
"Baik, aku akan menentukan waktu kalian. Jika waktu kalian sudah habis, mau tidak mau harus menuruti perintah untuk kembali ke base camp dengan segera!" titah Prawira dengan ketus.
"Tenang saja," jawab Berlin dengan santainya.
"Berlin, bagaimana dengan perlengkapan kalian?" sambung Garwig.
"Menurutku ... malam ini kami akan memakai perlengkapan kami sendiri saja, terima kasih," jawab Berlin terlihat sangat percaya diri dengan keputusannya.
.
"Berlin ...!" gusar Nadia yang tampak tidak setuju. Namun Berlin tidak menghiraukannya.
"Baiklah kalau begitu, bawa ini, dan kami akan terus memantau keadaan kalian," ucap Prawira seraya memberikan sebuah lencana kecil berlogokan logo kepolisian kepada Berlin dan teman-temannya.
.
"Tetap bawa terus lencana itu apapun yang terjadi, dan jangan jauhkan itu dari diri kalian," lanjutnya ketika lencana itu terbagikan merata kepada teman-teman Berlin.
"Terima kasih," cetus Berlin sedikit menundukkan kepalanya kepada Prawira dan juga Garwig.
Teman-temannya tampak sedikit kaget dengan sikap Berlin yang begitu sopan ketika di hadapan dua jenderal tinggi kepolisian itu. Begitu pula dengan Nadia yang merasa kalau ini pertama kalinya melihat Berlin bersikap seperti itu.
...
Semua persiapan tim pengintai sudah selesai, dan Prawira juga sudah memberikan semua arahannya tentang apa yang harus dilakukan atau apa misi dari tim pengintai. Berlin mendengarkan dan menerima semua arahan yang diberikan.
"Jika terjadi hal yang tidak diinginkan, kalian dipersilakan untuk melawan dengan tujuan untuk mempertahankan diri, bukan untuk menyerang mereka," ucap Prawira di hadapan Berlin setelah selesai memberikan semua arahannya kepada Berlin dan teman-temannya.
"Baik, diterima," sahut Berlin kemudian melirik Nadia yang berdiri di samping Prawira.
Kegelisahan sangat tertampak sekali dari wajah Nadia ketika memandang ke arah Berlin yang akan berangkat untuk melakukan tugasnya. Namun dirinya berusaha untuk tenang, karena mau bagaimanapun mengingat itu adalah tugas yang harus Berlin lakukan.
Berlin melangkah kakinya untuk lebih dekat dengan Nadia, dan lalu berkata, "tenang saja," ucapnya dengan nada yang sungguh lembut seraya membelai sedikit rambut di telinga milik Nadia. Tak lupa ia juga tersenyum lebar kepada kekasihnya, dan menunjukkan sikap sangat tenang.
.
"Aku berangkat dahulu, ya?" lanjut Berlin.
"He'em," gumam Nadia mengangguk tersenyum. Dirinya benar-benar yakin dan percaya kepada lelakinya itu, serta berusaha untuk menyingkirkan pemikiran negatifnya.
Berlin merasa jauh lebih tenang ketika mendapatkan eskpresi yang diberikan oleh Nadia kepadanya. "Semuanya akan baik-baik saja, kok," batin Berlin setelah melihat ekspresi ceria milik Nadia.
Walau perasaan gelisah untuk membiarkan Berlin pergi bertugas, tetapi Nadia tidak membiarkan perasaan itu menyelimuti dirinya.
.
~
.
Pukul 21:00 malam hari.
Wilayah Perbukitan Bukit Sunyi.
"Cek, cek, apakah suaraku terdengar?" tanya Kina melalui radio.
"Dengan sangat jelas!" jawab Asep pada radio.
"Berlin, apa kau yakin mengirim Kina dan Bobi di perbukitan Selatan?" tanya Kimmy yang sepertinya mengkhawatirkan kedua temannya itu.
Dengan bersandar di mobil berwarna hitam miliknya. Berlin menjawab, "ya," jawaban singkat darinya sembari memandang ke arah bulan di langit yang tampak bersinar sangat terang di malam itu.
Berlin bersama kelompoknya termasuk James sudah berada di wilayah musuh, yaitu Bukit Sunyi. Misi atau tugas mereka sebagai tim pengintai baru saja dimulai.
__ADS_1
"Apapun itu, aku percaya dengan rencanamu," celetuk James mengambil sebuah teropong dari bagasi mobil.
Walaupun tim pengintai ini milik kepolisian, dan James yang memiliki tanggung jawab untuk itu. Tetapi, dirinya memberikan kepercayaan komando penuh kepada Berlin. Ia memberikan rekannya yaitu Berlin posisi penting itu, agar Berlin dapat dengan leluasa menggerakkan semua temannya.
Meski rasanya cukup memalukan bagi James yang hanya dirinya di tim tersebut yang memakai seragam polisi, dan mengikuti arahan atau perintah dari orang yang bukan aparat. Namun itu tak masalah baginya, dan ini sudah menjadi tugas yang diberikan oleh Prawira kepadanya. Dirinya juga sangat bersemangat menunggu momen ini. Momen di mana dirnya bisa merasakan berada di bawah perintah Berlin secara langsung. James sangat menunggu momen ini, karena selama ini dirinya hanyalah koneksi kepolisian yang dimiliki Berlin jika terjadi suatu masalah.
"Apakah yang lain sudah menyebar juga?" tanya Berlin kepada Asep di sampingnya.
"Sudah, Bos!" jawab Asep.
Tak hanya Bobi dan Kina saja yang Berlin kirim untuk memisahkan diri dari rombongan. Tetapi beberapa temannya juga ia perintahkan untuk menyebar memantau situasi di sekitar wilayah tersebut.
"Salva dan Vhalen, sudah di posisi," ucap Salva melalui radio.
"Aryo dan Kent, siap pasang mata!" ucap Aryo melalui radio.
"Rony dan Galang, mata elang siap!" ujar Rony melalui radio.
"A-aku ... ma-maksudnya, Sasha dan Faris, sudah berada di posisi," ujar Sasha melalui radio.
Semua temannya sudah berada di posisi yang ditentukan langsung oleh Berlin untuk melakukan pemantauan. Dari semua temannya, sepertinya Sasha gugup untuk berada di misi atau tugas ini. Berlin sendiri menyadari hal tersebut.
"Sasha, kau baik-baik saja?" tanya Berlin kepada Sasha dengan tenang melalui radio.
"A-aman, Bos! Te-terpantau ... tidak ada yang mencurigakan di sini ...!" sahut Sasha dengan lantangnya.
Berlin sedikit tertawa kecil mendengar jawaban itu yang sepertinya Sasha salah mengartikan pertanyaan. Namun itu tidak menjadi masalah baginya, dan juga sepertinya tidak menjadi masalah juga bagi Sasha sendiri.
"Baik, dengar! Apapun yang kalian dengar, kalian lihat, dan semua yang mencurigakan, laporkan! Jangan ada informasi yang bertabrakan di radio, dan tetap satu perintah!" cetus Berlin dengan ketus kepada semua temannya melalui radio yang ia genggam.
.
"Kurangi candaan kalian! Aku tidak melarangnya, dan aku percaya kalau kalian bisa memposisikan diri," lanjutnya dengan sangat tegas.
Berlin mencoba untuk mengarahkan semua temannya agar lebih teratur dan terstruktur dengan rapi. Dirinya juga menghindari beberapa kebiasaan teman-temannya dalam hal bercanda. Walau dirinya tetap saja tidak bisa melarang mereka untuk melakukan candaan mereka seperti biasanya.
"Baik, Bos!" jawab teman-temannya.
...
"Bos," cetus James kepada Berlin dengan memberikan teropongnya sembari terus melihat ke arah lereng perbukitan m
Berlin menerima teropong tersebut dan menggunakannya. Benar saja, ia melihat sebuah rumah bercat dominan hitam yang sangat besar, beserta sebuah gudang di samping rumah tersebut. Halaman rumah itu benar-benar luas, dan tampak sangat ramai sekali dengan orang-orang berpakaian serba hitam di sana.
"Tak salah lagi," gumam Berlin setelah melihat apa yang ia lihat.
"Aku memperkirakan jarak posisi kita dengan tempat itu sekitar 500 meter, jadi seharusnya di sini aman dari jangkauan orang-orang itu," ujar Asep dengan melihat peta pada tablet yang selalu ia bawa.
"Aku melihat mereka, Bos," cetus Sasha di radio.
"Ya, kami juga mendapatkan pengelihatan untuk tempat itu!" sahut beberapa teman yang lainnya.
Malam itu. Di halaman rumah besar itu, terpantau banyak sekali aktivitas dari orang-orang berpakaian serba hitam itu. Entah apa yang mereka lakukan, tetapi terlihat orang-orang itu seperti sedang bersiap-siap akan suatu hal. Tentu ini menjadi informasi yang sangat penting bagi Berlin dan timnya.
"Banyak ... sekali," gumam Kimmy terlihat gemetaran melihat jumlah dari musuh yang sangatlah banyak, bahkan sudah di luar akal sehat untuk disebut sebagai kelompok.
"Apa-apaan ini?! Puluhan orang ada di tempat itu?!" gusar James tidak menyangka.
Berlin menyadari Kimmy yang sepertinya sedikit ketakutan setelah mengetahui jumlah musuh yang sangat banyak. Ia tiba-tiba mendekati dan memegang salah satu pundak milik Kimmy, dan lalu berkata, "tenang saja, mereka hanya mengandalkan keramaiannya saja," ucapnya dengan tenang.
Kimmy sedikit terkejut ketika Berlin mendekati dirinya. Namun apa yang dikatakan Berlin, dan juga sikap tenang yang ditunjukkan oleh Berlin. Itu membuat dirinya dan hatinya sangat tenang.
"Berlin ...," batin Kimmy yang tak bisa melepaskan pandangannya yang terus memandangi Berlin. Entah mengapa hatinya menjadi sangat tenang jika terus-terusan melihati Berlin seperti itu.
"Kim, tolong, ya?" cetus Berlin melangkah ke depan bdengan pandangan melihat ke arah langit malam yang cerah dipenuhi bintang.
DEG.
Seketika angin malam bertiup cukup kencang dengan membawa suasana yang cukup dingin. Kimmy benar-benar terkejut dengan apa yang terucap dari mulut Berlin, dan itu terdengar sangat tulus.
"Berlin ... meminta tolong ... kepadaku?" batin Kimmy bertanya-tanya, karena baru ini dirinya mendengar sebuah permintaan tolong yang benar-benar tulus dari Berlin.
.
"Kamu benar-benar sudah berubah, ya?" batinnya kembali. Dirinya senang dengan perubahan sikap dan sifat yang ditunjukkan Berlin yang semakin hari semakin baik.
"Kim?" cetus Berlin menoleh kepada Kimmy di belakang.
"Oh, baik, te-tenang saja!" sahut Kimmy dan lalu tersenyum.
Berlin memberikan senyumannya setelah mendengar jawaban tersebut, dan membuat Kimmy tertegun. Senyuman yang sangat ia inginkan dari dahulu, akhirnya didapatkannya malam ini. Dirinya sangat senang, benar-benar senang melihat Berlin yang sekarang.
"Kamu benar-benar sudah menemukan orang yang tepat ya, Berlin. Terima kasih, Nadia," batinnya merasa senang, walau bercampur dengan sedikit perasaan sedih juga karena harus menerima kenyataan itu. Namun dirinya tetap saja senang dengan Berlin yang sekarang dibandingkan dahulu.
.
Bersambung.
__ADS_1