
Selama dalam perjalanan yang cukup singkat dari Kantor Polisi Pusat menuju Rumah Sakit Kota. Prawira sempat membincangkan beberapa hal kepada Berlin soal kerusakan yang telah terjadi di struktur kepolisian.
"Aku masih ... bingung tentang Gates, dan juga ... tentang keterkaitan ku dengan Carlos," gumam Berlin.
"Memang ... banyak masalah yang rumit dan membingungkan, tetapi ... ku yakin ... kau sudah terbiasa dengan yang seperti itu," sahut Prawira.
"Oh iya, aku penasaran dengan yang terjadi di dalam struktur kepolisian, setelah ... banyaknya anggota yang gugur dan menghilang, atau bahkan ... dikeluarkan seperti apa yang terjadi kepada Nadia." Secara tiba-tiba Berlin berbicara demikian kepada Prawira yang sedang menyetir di sebelahnya.
Prawira tertegun saat mendengar apa yang dikatakan oleh Berlin, karena sangat banyak masalah dalam struktur kepolisian yang saat ini sedang ia usahakan untuk keluar dari masalah-masalah tersebut.
Secara eksternal dan dari pandangan masyarakat atau orang-orang luar, walau kepolisian sedang tertekan dengan banyaknya kasus kriminal yang kian meningkat. Namun pihak kepolisian seakan sudah terbiasa dan sangat ringan untuk menangani semua masalah tersebut.
Tetapi kebanyakan orang atau masyarakat tidak mengetahui sisi internal atau dalam, dan Prawira memang sengaja mencegah agar masalah internal tersebut tidak menyebar ke masyarakat luas. Jika sampai menyebar, maka yang Prawira takutkan adalah menyebabkan beberapa kekacauan dalam ruang lingkup masyarakat, seperti demonstrasi unjuk rasa. Atau bahkan kekacauan yang lebih besar dari demonstrasi serta kasus pengeboman yang sedang berjalan.
"Sebenarnya ... sangat banyak masalah, dari kami yang kehilangan banyak anggota terbaik, struktur kepolisian yang mulai kacau balau dengan berbagai masalah, dan ... penghianatan yang terjadi ...," tutur Prawira dengan pandangan terus fokus untuk menyetir.
.
"Sebenarnya kepolisian benar-benar sedang kacau, maka dari itu ... beberapa berkas kasus yang berjalan ... tertumpuk begitu saja, dan ... jujur ... kami sangat kewalahan untuk menangani semua itu," lanjutnya.
"Kau tidak apa-apa ... memberitahukan atau membicarakan itu kepadaku ?" sahut Berlin.
.
"Aku tidak masalah kok, bila kau tidak mau menjawab pertanyaan ku barusan," lanjutnya.
"Ya ..., karena dirimu tetap menjadi bagian dari keluarga, dan ... aku mempercayai mu, Berlin," jawab Prawira.
Prawira terlihat sangat lelah dengan ekspresi wajah yang mulai lesu, namun dirinya berusaha untuk menyimpan rasa lelah tersebut ketika sedang bersama para anggotanya.
Prawira sendiri cukup bingung untuk mengatasi serta menyelesaikan semua masalah yang sedang menimpa. Karena sebelumnya, dirinya belum pernah menghadapi berbagai masalah berat seperti sekarang yang sedang ia hadapi.
...
Setelah beberapa saat kemudian, Prawira pun akhirnya sampai di Rumah Sakit Kota untuk mengantarkan kembali Berlin.
"Terima kasih banyak, Pak," ucap Berlin kepada Prawira sesaat setelah turun dari mobil.
"Sama-sama, lain kali tidak usah bersikap formal seperti itu, santai saja ...," sahut Prawira saat melihat serta mendengar sikap dan nada bicara formal yang ditunjukkan oleh Berlin kepadanya.
"Um ... aku benar-benar minta maaf, karena sudah bertanya pertanyaan konyol tadi kepadamu," ujar Berlin dengan sedikit menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, justru biar ... dirimu juga tahu," sahut Prawira yang lalu tersenyum kepada Berlin.
.
"Ya sudah kalau begitu ... saya harus kembali ke kantor," sambungnya.
"Nggak mau bertemu dengan Nadia terlebih dahulu ?" sahut Berlin.
"Kurasa ... lain waktu saja, sampaikan salam ku buat dia, ya?" jawab Prawira dengan kembali memanasi mesin mobilnya.
"Baiklah kalau begitu, siap !" ujar Berlin.
Tidak lama kemudian Prawira pun kembali menancapkan pedal gasnya, dan pergi meninggalkan halaman depan dari Rumah Sakit dengan mobilnya.
***
__ADS_1
"Aku sungguh minta maaf, Berlin. Di usiamu yang memasuki 22 tahun ini, kau justru sudah mendapatkan banyak masalah yang tidak kau pahami, dan sudah seharusnya kau ketahui," gumam Prawira di tengah perjalanannya kembali menuju ke kantor.
.
"Ini salahku. Mengapa dahulu aku memilih untuk menghilangkannya beberapa ...?" gumamnya kembali dengan terlihat cukup menyesal dan kecewa dengan dirinya.
***
~
Dengan perlahan Berlin berjalan melewati keramaian orang di lobi dari Rumah Sakit tersebut. Dirinya merasa seakan hampir semua orang yang berada di sekelilingnya, melirik sinis kepadanya.
Namun ia tidak begitu menghiraukan hal tersebut, dan terus berjalan melewati lorong menuju ruang perawatan di mana saudara dari temannya sedang dirawat.
Di saat Berlin berjalan perlahan melewati lorong tersebut, Nadia tiba-tiba berlari ke arahnya saat dia melihat kedatangan dirinya. Sangat terlihat ekspresi senang yang terpancar dari wajahnya, saat ia berlari kecil menghampiri Berlin.
"Benar apa yang 'ku bilang, 'kan ?" cetus Berlin kepada kekasihnya tersebut yang menghampirinya.
Nadia mengangguk dan terlihat tersenyum lega, karena kekhawatiran serta kecemasan yang terlalu ia pikirkan itu tidak terjadi. Dirinya pun langsung bersandar serta memeluk Berlin, dan mengatakan, "aku kira ... kamu tidak akan bisa kembali ..., karena sudah ditangkap sama polisi," celetuk Nadia dengan menunjukkan sikap manja nan polosnya, serta nada yang sungguh pelan berbisik.
Berlin sedikit tertawa kecil saat mendengar ucapan yang terlontar dari mulut wanitanya tersebut. Saat membalas dengan pelukan juga, dan perlahan membelai rambut hitam milik Nadia yang terurai sampai punggung, Berlin mengatakan, "bukannya ... sekarang ... aku sedang kamu tangkap, ya ?"
Nadia yang mendengar apa yang dikatakan oleh lelakinya itu, secara langsung membuat wajahnya merah tersipu. Dengan sedikit melepaskan pelukan tersebut, dirinya pun menjawab menanggapi ucapan yang terlontar dari mulut lelakinya itu, dengan mengatakan, "iya ... aku tangkap kamu, dan lalu ... akan terus 'ku simpan di satu tempat dalam hatiku, selamanya ...," bisiknya yang lalu tersenyum dengan menatap kedua mata milik Berlin yang tepat berada sangat dekat di hadapannya.
"Oh, jadi ... sudah mulai pintar menggombal, nih ?" ucap Berlin dengan nada yang sungguh lembut, serta dengan terus menatap kedua bola mata yang sangat indah yang dimiliki oleh Nadia.
.
"Hehehehe ...," Nadia terlihat sangat manis dengan tersenyum lebar , dan lalu sedikit tertawa kecil sesaat setelah mendengar perkataan dari Berlin tersebut.
"Oi, oi, oi, tolong lah ... ini lagi di rumah sakit ...!" sela Adam yang bersandar di dinding sebelah pintu keluar masuk dari ruang perawatan tersebut.
.
"Hahaha ..., makanya ... kalau ada kesempatan tuh ... jangan malah dipermainkan !" lanjut Kimmy.
.
"Tau tuh, kebiasaan ...!" sambung Sasha.
"Hahaha ..., cukup, sekarang ... Vhalen di mana?" ucap Berlin yang menyela pembicaraan ketiga temannya.
"Itu, di depan ruang perawatan," jawab Sasha dengan menunjuk Kimmy yang terlihat sedang merangkul Vhalen di depan jendela dari ruang perawatan.
Dengan melihat kondisi dari Vhalen sendiri yang cukup memprihatinkan, Berlin pun berjalan bersama dengan Nadia untuk menghampiri temannya tersebut.
Berlin melepas genggaman tangannya dari tangan Nadia, dan mendekati Vhalen serta memegang kedua pundak milik temannya tersebut dari belakang. Sesaat setelah menghela napas, Berlin mengatakan, "jadi ... itu adikmu, yang katamu ingin bertemu dengan ku ?"
Vhalen tertegun saat mengetahui kehadiran dari temannya tersebut, dan dirinya juga kaget saat secara tiba-tiba kedua pundaknya dipegang oleh Berlin. Sangat terasa kedua telapak tangan yang sangat hangat milik Berlin, saat memegang pundaknya.
Mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Berlin. Vhalen pun meresponnya dengan sedikit mengangguk perlahan, dan mengatakan, "iya ...."
"Yang terpenting ... sekarang ... dia sudah mendapatkan perawatan yang terbaik, bukan ?" ucap Berlin yang lalu duduk di bangku ruang tunggu tepat berada di depan dari ruang perawatan tersebut.
.
"Kamu juga tidak perlu khawatir ... tentang biaya perawatannya, yang penting adikmu baik-baik saja !" sambungnya.
__ADS_1
Dengan mata yang masih sembab akibat terlalu banyak mengeluarkan air mata. Vhalen menoleh dan lalu mengangguk, serta mengucapkan, "terima kasih ... banyak ..., Bos," ucapnya dengan sedikit terisak-isak.
Berlin hanya tersenyum kepada temannya tersebut yang terlihat menunduk kepalanya kepadanya, dan lalu mengatakan, "sudah ... angkat kepalamu! Aku 'kan sudah menganggap mu seperti keluarga ... sama dengan yang lain, jadi ... kau tenang saja ...."
"Nah betul itu !" cetus Kimmy dengan merangkul temannya tersebut.
"Ya, dan ... jangan lupakan teman-teman mu yang berada di sisimu ketika kamu sedang kesusahan atau terpuruk !" lanjut Nadia dengan tersenyum kepada Vhalen.
Vhalen merasa sangat beruntung telah mengenal banyak teman seperti mereka, termasuk juga dapat mengenal dekat dengan Berlin yang menariknya untuk masuk ke dalam kelompok tersebut.
.
"Terima kasih ..., Semuanya ...," gumamnya dengan nada yang terdengar sungguh pelan dan sedikit serak.
.
~
.
"Kau mau berangkat sekarang 'kah, Los ?"
.
"Ya, aku akan berangkat bersama dengan Gee dan Cario."
"Meneror lagi, 'kah ?"
.
"Bisa dibilang begitu, tetapi hanya untuk seseorang."
Di sebuah wilayah yang sangat kelam dan memiliki suasana gelap walau di siang menuju sore hari yang sangat cerah ini. Terdapat tiga orang yang dipimpin oleh seorang pria tentunya, berangkat meninggalkan wilayah teritorial mereka untuk melakukan rencana kedua.
"Ya sudah, kalau ada masalah ... kau bisa langsung hubungi markas !" ujar salah satu seorang pria yang tampaknya adalah Ketua Tertinggi dari kelompok hitam tersebut.
"Siap, terima kasih," jawab seorang pria dengan menundukkan kepalanya kepada Sang Ketua.
Setelah berterimakasih kepada ketua, Pria tersebut berangkat pergi dengan menggunakan satu mobil, juga bersama dengan dua anak buah yang ia sebut untuk menemaninya dalam melaksanakan rencana kedua.
...
"Cario, kemungkinan besar kita tidak perlu keluar timah, jadi kau santai saja dan simpan kembali pistolmu ke saku," ucap Gee kepada temannya saat berada di mobil, dan dalam perjalanan ke sebuah tempat yang di mana tempat tersebut telah mereka jadikan sebagai target untuk rencana kedua.
"Lalu ... rencana kedua kita apa ?" cetus Cario yang terlihat bingung dengan situasi.
"Udah ... kau ikut saja, kita hanya mengirimkan barang 'kok !" jawab seorang pria yang duduk serta menyetir di bangku pengemudi, dan terlihat sedikit tersenyum sinis setelah mengatakannya.
"Tuh ... kapan lagi kita jadi kurir," sahut Gee yang lalu tertawa terbahak-bahak dan tidak dapat ditahan lagi.
"Oke, akan 'ku anggap ini sebagai pelatihan untuk menjadi seorang kurir, hahahaha ...," sambung Cario dengan ketawa yang juga mulai pecah dan tidak dapat di tahan lagi.
Namun seorang pria yang mengatakan kalau mereka akan menjalankan rencana sebagai pengirim barang, hanya terdiam dengan terus tersenyum sinis dengan rencana kedua yang akan mereka bertiga laksanakan.
.
"Sayang, pastikan kau melihat apa yang 'ku bawakan untuk mu ...," gumamnya yang lalu tertawa kecil dan dengan pandangan yang terus fokus ke jalanan.
__ADS_1
.
Bersambung.