
"Terus begitu, jangan bergerak ...!" ucap Carlos seraya menodongkan pistolnya ke arah Berlin yang berlutut di depannya.
Di saat itu juga, Nadia terlihat seperti menangis. Air mata menetes membasahi pipinya ketika melihat Carlos menodong Berlin. Karena apa yang ia lihat saat ini sama dengan mimpi buruk yang sempat ia lihat kemarin malam.
"Berlin," gumam Nadia dengan sedikit terisak menatap Berlin.
***
"Hei, apa yang dia lakukan?!" cetus Galang bertanya kepada teman-temannya melalui radio.
"Berlin menyerahkan dirinya begitu saja?!" sambung Bobi.
"Tidak mungkin!" sahut Salva.
"Tidak, tidak, aku yakin dia pasti sedang memikirkan sesuatu!" sela Kimmy yang terlihat sangat berharap keberuntungan dan kebaikan berpihak kepada Berlin.
"Kita hanya tinggal menunggu saja!" sambung Asep.
Teman-teman Berlin tampak kebingungan dengan sikap Berlin yang terlihat seakan menyerah di hadapan Carlos. Namun mereka masih saja terus bersembunyi sesuai dengan rencana yang disusun oleh Berlin sendiri.
***
"Apakah ... aku harus ... melakukannya sekarang?" batin Berlin bertanya kepada dirinya sendiri. Dirinya juga terus menatap Nadia yang tampak meneteskan air mata saat menatap dirinya.
"Baiklah!" batinnya kembali.
Berlin pun bangkit dan berdiri tepat di hadapan Carlos tanpa memasang ekspresi takut sama sekali, walaupun sebuah pistol masih tertodong ke arah dirinya. Saat berhadapan dengan saudaranya itu, ia berbicara, "Carlos, menurutku ... ini masih belum terlambat untuk mu berubah," ucapnya seraya mengangkat satu tangannya ke atas.
"Huh?" gumam Carlos kebingungan dengan sikap Berlin. "Jangan bercanda kau!" bentaknya. Cengkeramannya dari Nadia juga belum saja lepas, dan itu cukup menyulitkan Berlin untuk menyelamatkan Nadia dari genggaman Carlos.
"Benar-benar merepotkan," gumam Berlin yang lalu melambaikan sekali satu tangannya ke atas.
***
"Itu tanda kita!" cetus Asep kepada teman-temannya melalui radio.
Di sisi lain, Prime dan semua anggotanya juga melihat tanda yang diberikan oleh Berlin. Ia pun langsung memberikan perintah, "penembak jitu, kalian dipersilakan menembak sesuai dengan rencana!" titahnya.
.
"Yang lain, langsung kepung dan lumpuhkan!" lanjutnya.
Walau Prime sendiri cukup ragu untuk menyuruh anggotanya melakukan tembakan dan menyerang, karena dirinya belum melihat Nadia yang aman bersama Berlin. Tetapi, karena Berlin sendiri yang memutuskan, dirinya hanya bisa mengikutinya sesuai dengan rencana yang dibuat oleh Berlin.
DESING !
BRuukK !
Dua orang anak buah milik Carlos yang berdiri tepat di samping Carlos langsung terjatuh dengan keadaan berlumuran darah yang keluar dari dada mereka. Carlos terpaku dengan apa yang terjadi di depan matanya, lantaran tak begitu terdengar suara tembakan yang terjadi dan tidak diketahui dari mana asalnya.
"A-apa ...?" gumamnya gemetaran melihat dua anak buahnya tersungkur dengan tidak bernyawa.
Carlos dan semua anak buahnya pun langsung dibuat panik. Karena dengan waktu yang bersamaan, mereka mendapatkan serangan yang bertubi-tubi dari arah luar, yaitu dari kelompok Berlin dan regu Brimob milik Prime.
"Nadia!"
Tak mau melewatkan kesempatan yang ada di depan matanya. Berlin langsung menyerang Carlos dengan memukul tangannya, dan membuat pistol yang sebelumnya terarah ke dirinya pun terlempar jauh.
SET.
"Sialan, kau!" gusar Carlos kesal karena Nadia terlepas dari cengkeramannya. Ia dengan cepat menangkis tendangan yang dilancarkan oleh Berlin dengan sangat keras menggunakan kedua tangannya. Namun saking kerasnya serangan yang Berlin berikan, itu membuat dirinya terpental cukup jauh dari jangkauannya dengan Nadia.
BRuukK !
Setelah Carlos terpental. Berlin dengan sigap membopong Nadia dan membawanya ke balik dari sebuah kotak kayu yang amat besar untuk berlindung. Di saat itu juga, Berlin melepaskan ikatan kuat yang mengikat tangan dan kaki milik Nadia.
"Bunuh dia! Habisi saja sanderanya!" teriak-teriak Carlos kepada anak buahnya. Namun semua anak buahnya tampak tidak begitu mendengarkan perintah Carlos, karena mereka cukup dibuat panik dengan serangan dari luar.
"Berlin," ucap Nadia terduduk di tanah dan bersandar seraya menatap Berlin dengan tatapan cukup ketakutan. Berlin mengetahui rasa takut yang dirasakan Nadia dari tatapan tersebut.
"Tenang, ya? Aku di sini untuk menjemput mu, sayang," ucap Berlin tersenyum.
...
__ADS_1
DOR ... DOR ... DOR ...!
Suara tembakan dan desing peluru berkali-kali terdengar. Baku tembak telah pecah antara Ashgard dan regu milik Prime dengan pihak milik Carlos dari Mafioso.
Berlin tak bisa banyak membantu teman-temannya yang sedang menembaki anak buah milik Carlos, karena dirinya tak membawa senjata apapun itu.
"Salva, bagian sana!" suara teriakan dari Asep yang terdengar oleh Berlin.
"Clear!" sahut Salva.
"Kita perlu sisakan satu atau tidak, nih? Siapa tahu mau disiksa dahulu," cetus Aryo.
Teman-temannya tampak berhasil menerobos masuk ke dalam gudang, dan Berlin melihat semua aksi yang dilakukan oleh teman-temannya itu. Mereka benar-benar kompak untuk menjaga satu sama lain, dan menghabisi musuh-musuhnya tanpa ampun.
***
"Sial! Benar-benar anak buah yang tidak berguna!" gusar Carlos seraya berjalan mundur dari semua kekacauan yang terjadi. Ia berjalan menuju belakang gudang dengan maksud untuk melarikan diri.
Namun langkahnya terhenti di sebuah kotak berwarna hijau yang terletak di dekat dengan pintu belakang gudang. Carlos tersenyum sinis ketika membuka isi dari kotak itu, yang ternyata adalah bom berbentuk kotak.
"Untung aku mempersiapkannya," gumam Carlos ketika mengambil dan menyiapkan bom tersebut.
***
"Berlin!" cetus Nadia yang melihat Carlos sedang mempersiapkan sesuatu kepada Berlin.
Berlin pun langsung menoleh dan melihat sebuah bom yang dipegang oleh saudaranya itu.
"Rasakan ini!" teriak Carlos yang lalu melempar bom tersebut ke arah dalam gudang, dan lalu melarikan diri dari pintu belakang.
Klotak ...!
Bom berbentuk kotak itu jatuh tepat di dekat kotak kayu yang digunakan oleh Berlin dan Nadia berlindung. Menyadari hal tersebut, secara spontan Berlin berlari ke arah bom tersebut dan menendangnya dengan sangat keras ke arah pintu di mana Carlos melarikan diri.
"Berlin!" teriak Nadia tampak tidak menginginkan tindakan itu dilakukan oleh Berlin.
BOOM ...!!!
Ledakan pun terjadi, dan disusul dengan api yang membara cukup besar. Ledakan itu sempat membuat tubuh milik Berlin terhempas cukup jauh dari Nadia dan membentur dinding. Namun beruntungnya, ia tidak mengalami luka yang cukup serius. Hanya saja serpihan kaca sempat menerpa dirinya, dan membuat sebuah luka gores yang untungnya tak terlalu dalam.
Dari sisi luar, terdengar beberapa kepanikan dari teman-temannya yang melihat ledakan serta api yang mulai membara dari bagian belakang gudang.
Saat berjalan mendekati Nadia. Ia melihat kekasihnya itu berusaha berjalan ke arahnya dengan menyeret satu kakinya seraya mengucap, "beritahu ... aku ... kamu baik-baik ... saja!" ucapnya benar-benar khawatir.
Dengan sigap ia langsung menghentikan langkah Nadia yang bisa saja membuat cidera pada kakinya makin parah. Nadia pun kembali terduduk di tanah, diikuti Berlin yang mengatakan "Iya, aku baik-baik saja, hanya luka gores, kok," ucap Berlin tersenyum.
"Berlin! Apa kau di sana?!" suara-suara yang sangat ia kenal, yaitu suara dari teman-temannya yang menerobos masuk dan menghampiri Berlin yang sedang bersama Nadia.
"Kau baik-baik saja, 'kan?" tanya Asep terlihat khawatir.
"Iya, tetapi Carlos telah melarikan diri melalui belakang gudang," jawab Berlin menoleh kepada Asep.
"Yang penting kau dan Nadia selamat," sela Kimmy.
"Um, kupikir ... kita harus segera pergi dari sini nggak sih?" celetuk Aryo dengan tatapan mengarah ke sebuah api yang mulai berkobar-kobar sangat besar merambat ke arah tempat mereka.
SET!
Asep dengan cepat membantu Berlin untuk berdiri dan ingin segera membawa rekannya itu bersama Nadia keluar dari tempat ini.
"Sep, bawa Aryo bersamamu, dan ikuti ke mana Carlos pergi!" titah Berlin kepada Asep.
"Apa kau yakin?" sahut Asep sesaat setelah membantu Berlin berdiri.
"Ya!" jawaban singkat dari Berlin.
Asep pun segera pergi bersama Aryo sesuai perintah yang diberikan oleh Berlin, yaitu untuk mengikuti ke mana Carlos melarikan diri.
"Nadia, ayo! Kita harus keluar dari sini!" cetus Kimmy membantu Nadia untuk berdiri. Namun nampaknya Nadia sangat kesulitan untuk berdiri karena kakinya yang cidera. "Awh," rintih Nadia.
"Kim, tolong urus yang lain untuk mundur ke titik kumpul! Biar aku yang membawa Nadia keluar dari sini, terima kasih," ucap Berlin.
"Ba-baik, Bos!" sahut Kimmy yang lalu segera pergi bersama teman-teman yang lainnya.
__ADS_1
DEG.
"Eh?" cetus Nadia terkejut
Sesaat setelah Kimmy pergi. Berlin langsung saja kembali membopong tubuh milik Nadia dengan kedua tangannya, dan mengucap, "yuk, kita keluar dari tempat ini?"
Nadia benar-benar terkejut dengan Berlin yang tiba-tiba saja menggendong dirinya. Jantungnya berdebar-debar saat berada di atas kedua tangan milik Berlin. Ditambah wajahnya tampak memerah ketika melihat raut wajah tampan milik lelakinya yang menggendong dirinya.
Tanpa berlama-lama lagi, Berlin pun langsung keluar dari gudang yang mulai perlahan hangus terbakar itu. Dirinya sangat beruntung bisa selamat, dan sekaligus menyelamatkan Nadia dari tempat itu.
~
Setelah berjalan keluar dari area gudang. Berlin pun sampai ke titik kumpul awal dengan regu milik Prime. Dirinya segera pergi ke mobil miliknya yang terparkir, dan membawa Nadia untuk beristirahat di mobil tersebut.
"Berlin, maaf ... aku merepotkan," celetuk Nadia menatap Berlin yang belum menurunkannya dari gendongan itu.
Berlin melirik dan menyanggah, "aku benar-benar membenci kamu berbicara seperti itu!"
Nadia tersenyum kecil dengan sanggahan yang diberikan oleh Berlin. Dirinya bersyukur Berlin tidak menganggapnya seperti yang ia pikirkan.
"Sayang, sudah menjadi kewajiban ku sebagai lelaki untuk melindungi orang yang ku cintai. Jadi kamu jangan berkecil hati dengan dirimu sendiri, ya?" ucap Berlin dengan lembut ketika sampai mengantarkan Nadia untuk beristirahat di dalam mobilnya.
Di saat yang bersamaan, Kimmy pun datang dengan kotak medisnya. "Aku akan mengobati lukamu untuk sementara waktu," ucap Kimmy kepada Nadia.
Nadia mengangguk kepada Kimmy. Lalu dirinya menoleh dan menatap Berlin dengan tatapan senang, seraya berkata, "iya. Terima kasih, aku senang mendengarnya," ucapnya dan lalu tersenyum tulus.
Berlin membalas senyuman itu dengan senyuman. Dirinya merasa jauh lebih tenang dan lega setelah Nadia berhasil ia selamatkan dari tempat itu.
"Kamu nggak perlu takut lagi, ya? Di sini Kimmy akan mengobati lukamu, dan teman-teman yang lain juga di sini menjagamu," ucap Berlin mengelus lembut kepala milik Nadia.
"Kamu mau pergi ke mana?" cetus Nadia kepada Berlin kembali memasang wajah khawatir.
"Ketahuan ya, kalau aku mau pergi?" sahut Berlin dengan menggaruk tengkuknya karena niatnya ketahuan.
DRAP!
Nadia langsung memeluk dan bersandar di dada bidang milik Berlin, seakan tidak ingin lelakinya pergi. Dirinya belum tahu maksud dari Berlin, namun rasa cemasnya tetap saja melarang Berlin untuk pergi.
"Bukannya kita sudah aman? Kenapa tidak kita segera pulang saja?" ucap Nadia seraya terus bersandar di dada milik Berlin.
"Masih ada saudaraku ... Carlos, yang harus aku tangani, dan mungkin juga ada masalah di antara kami berdua yang harus segera diselesaikan," ucap Berlin mencoba menjelaskan.
.
"Maka dari itu, tadi aku mengirim Asep dan Aryo untuk mengikutinya. Dan sekarang, aku harus segera menyelesaikannya!" lanjutnya.
Nadia beranjak melepaskan pelukannya, dan tak dapat lagi menahan Berlin untuk pergi mengejar Carlos. Walau hatinya sungguh berat untuk membiarkan Berlin mengejar Carlos. Begitu pula yang dirasakan oleh Kimmy.
"Tenang saja, kamu tidak perlu begitu mengkhawatirkan ku, terima kasih!" ucap Berlin seraya memegang kalung emas berbentuk hati pemberiannya yang melingkar di leher milik Nadia.
"Kalau memang sudah begitu urusanmu, aku tak bisa lagi menahan mu," ucap Nadia menundukkan kepalanya.
.
"Kalau begitu, aku akan menunggumu untuk kembali!" lanjutnya yang lalu tersenyum. Terlihat senyuman paksaan yang ditunjukkan oleh Nadia kepada Berlin, dan Berlin sendiri mengetahuinya.
"Aku berangkat, ya?" ujar Berlin berpamitan.
"He'em," gumam Nadia mengangguk walau sangat berat hati untuk mengangguk.
"Kim, tolong, ya?" ucap Berlin tersenyum kepada Kimmy.
"Baik, Bos!" sahut Kimmy menundukkan kepalanya.
Tidak ingin membuang waktu lagi. Berlin pun segera berjalan pergi dari menjauhi mobil tersebut. Namun tiba-tiba Kimmy berlari menghampirinya dan mengatakan, "kalau kau memerlukan kami, maka jangan ragu untuk perintah kami! Kami selalu siap kapanpun!" ucapnya dengan tegas seraya menundukkan kepalanya di hadapan Berlin.
"Apa-apaan sikapmu ini?" sahut Berlin tidak suka. "Angkat kepalamu!" lanjutnya.
"Tentu saja, aku mengandalkan kalian semua!" lanjutnya kembali, dan lalu berjalan pergi dengan persiapan sebuah pistol yang sudah ada di saku pinggangnya.
Nadia benar-benar berharap tidak terjadi sesuatu yang sangat tidak diinginkan kepada Berlin, dan sangat berharap Berlin baik-baik saja. Karena mengingat betapa mengerikannya Carlos di matanya. Begitu pula dengan Kimmy.
.
__ADS_1
Bersambung.