
Pukul 02:00 dini hari.
Gudang Persenjataan Mafioso.
"Siapa yang menjadi sasaran kita pagi ini ?" tanya Cario kepada Carlos.
Sesuai dengan misi yang diberikan oleh Nicolaus. Carlos telah memilih enam orang termasuk dirinya untuk melaksanakan misi tersebut. Tentu ia memilih dua rekannya yaitu Cario dan Gee untuk ikut bersamanya, serta empat orang anak buahnya.
"Asep K Dy, salah satu orang kepercayaan Berlin, dan malam ini aku mendapatkan informasi kalau dia sedang berada di Lounge Caffe," ucap Gee memberikan lampiran sebuah catatan data diri milik orang yang menjadi sasarannya, yaitu Asep K Dy.
.
"Kimmy R Rinna, orang yang juga menjadi kepercayaan Berlin, namun aku tidak mendapatkan informasi di mana dia berada saat ini," lanjut Gee memberikan lampiran catatan keduanya yang berisikan data diri milik Kimmy.
"Bagaimana dengan Berlin sendiri ?" tanya Cario kepada Carlos.
Carlos terlihat sedang berpikir matang untuk membuat rencana yang sesuai dengan misi yang harus ia jalankan.
"Dan siapa yang menjadi sasaran kita ?" tanya seorang pria bernama Boy Matrix kepada Carlos.
"Apakah ... Berlin ?" sambung Gee bertanya.
"Tidak, tidak, itu terlalu cepat," jawab Carlos atas pertanyaan Cario.
"Menurutku, bagaimana kalau kita menjadikan Asep sebagai sasaran kali ini ?" sahut Cario menyarankan sembari bersandar di sebuah box kayu yang ada di gudang itu.
Semua rekannya langsung menatap Cario setelah ia memberikan sarannya. "Aku setuju," sambung Gee setuju dengan saran tersebut.
.
"Karena, Asep tidak bisa kita remehkan soal kemampuannya menjadi informan atau mencari informasi, dia berkali-kali keluar masuk database kepolisian dengan mudah tanpa terdeteksi," lanjutnya.
"Baiklah ...!" seru Carlos yang lalu berjalan menuju mobil beroda enam miliknya dengan membawa pistol di tangannya.
...
Bersama kelima rekannya. Carlos langsung menuju ke Lounge Caffe sesuai dengan informasi yang diberikan oleh Gee. Mereka bergegas melaju melewati jalanan kota yang sangat sepi di pagi hari itu.
"Pedro, Niko, kalian bisa mendahului terlebih dahulu !" titah Carlos kepada kedua rekannya yang mengendarai motor mereka masing-masing melalui radio.
"Siap, Bos !" sahut mereka berdua yang lalu memacu kecepatan motor mereka mendahului mobil yang dikendarai Cario.
"Jadi, apa rencanamu setelah kita sampai di sana ?" tanya Cario sembari fokus menyetir kepada Carlos yang duduk di sampingnya.
"Sudahlah, nanti ikuti perintahku saja !" sahut Carlos dengan nada dan sikap yang benar-benar dingin.
Boy dan Gee saling beradu pandang di kursi belakang dengan tatapan bingung dan penuh tanya. Mereka belum mengetahui apa yang sebenarnya direncanakan oleh Carlos, dan mereka hanya bisa mengikutinya saja.
Suasana malam itu sangatlah dingin dan jalanan kota pun sangatlah sepi. Sangat jarang sekali terlihat kendaraan lain berlalu-lalang, bahkan tidak terlihat sama sekali.
~
Pukul 02:15 dini hari.
Lounge Caffe.
"Berhenti !" titah Carlos.
Mobil yang dikendarai oleh Cario pun berhenti di ujung dari sebuah gang tepat di depan Lounge Caffe bersama kedua rekan pengendara motornya.
Walau waktu menujukkan dini hari dan akan menjelang pagi. Tetapi terlihat situasi pada Lounge Caffe cukuplah ramai dengan pengunjung. Lounge Caffe adalah salah satu tempat yang buka 24 jam tanpa henti, dan sangat jarang sepi pengunjung.
"Apa kau melihatnya ?" tanya Carlos menoleh ke belakang kepada Gee.
"Di sana ! Dia memakai topi putih, dan hoodie berwarna biru putih," jawab Gee menunjuk ke arah seorang pria yang menempati meja paling ujung di antara banyaknya pengunjung yang hampir menutupinya.
Carlos dan rekan-rekannya pun turun dari kendaraan dan langsung berjalan menuju pintu masuk Lounge Caffe. Di depan pintu masuk itu terdapat dua penjaga yang sedang berjaga, dan kemungkinan akan merepotkan Carlos dan rekan-rekannya.
Sembari berjalan menuju pintu masuk, Carlos dan semua rekannya menyembunyikan senjata mereka di balik hoodie dan jas hitam mereka.
***
GLUP ... GLUP ... GLUP ...!
Setelah selesai meminum segelas minuman yang ia pesan. Mata milik Asep langsung tertuju kepada sekelompok orang berpakaian serba hitam yang memasuki Caffe dengan gerak-gerik mencurigakan.
Dengan mata terus tertuju pada sekelompok orang itu. Asep menarik topi berwarna putih yang ia kenakan ke bawah dan membuat wajahnya sedikit tertutup topi.
"Sial !" gusarnya ketika salah satu dari mereka menoleh dan melihat dirinya.
Asep langsung beranjak dari tempat duduknya dan berlari keluar Caffe melalui pintu samping.
***
"Itu dia !" cetus Gee menunjuk ke arah Asep yang melarikan diri.
Kericuhan sempat terjadi di antara para pengunjung di sana yang terlihat bingung dan ketakutan dengan kedatangan Carlos dan anak buahnya.
"Kejar !" titah Carlos menepuk kedua pundak rekannya yaitu Boy dan Gee.
Boy dan Gee pun langsung berlari mengejar Asep yang berusaha melarikan diri dari mereka.
"Sisanya, ikut aku !" lanjut Carlos berlari bersama sisa rekannya menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh.
"Berhenti !" titah penjaga pertama.
.
"Jangan bergerak !" lanjut penjaga kedua dengan sebuah senjata setrum yang siap di tangannya.
__ADS_1
"Todong !" titah Carlos kepada Pedro dan Niko sembari terus berlari.
Sembari terus berlari. Pedro dan Niko pun langsung menodong kedua penjaga tersebut, dan membuat kedua penjaga itu terlihat gentar menatap mereka berdua yang menunjukkan tatapan kejam.
"Gee ?" cetus Carlos menanyakan rekannya melalui radio.
"Dia berlari menuju halaman parkir !" sahut Gee berteriak.
.
"Aku mau tembak ya, Bos ?!" lanjut Boy.
"Tembak kalau bisa !" jawab Carlos.
***
"Sial, mengapa mereka di sini ?!" gusar Asep dengan sendirinya setelah sampai di mobil miliknya.
Asep tanpa berpikir panjang langsung menyalakan mesin mobilnya dan segera menginjak pedal gas.
DOR ... DOR ...!
Dua tembakan ditujukan kepada Asep yang berusaha melarikan diri menggunakan mobilnya. Beruntung, dua tembakan itu tidak melukai dirinya, dan hanya mengenai kaca belakang.
***
"Kalian berdua, kejar dia terlebih dahulu !" perintah Carlos kepada dua rekan pengendara motornya.
"Diterima, Bos !" sahut Pedro dan Niko yang lalu melaju sangat kencang menggunakan motor mereka untuk mengejar mobil yang dikendarai oleh Asep.
"Gee, Boy !" teriak Carlos ketia mobilnya mendekati mereka berdua yang berlari dari halaman parkir.
"Sial, dia melarikan diri," gusar Boy sesaat setelah masuk ke dalam mobil dengan napas terengah-engah.
"Kau nembak ga ada yang kena !" sahut Gee menyalahkan rekannya.
***
Asep terus memacu kecepatan mobilnya dengan sangat cepat melewati jalanan kota yang untunynya sangat sepi di pagi itu. Beruntung dua tembakan tadi tidak mengenai tubuhnya, dan tidak mengenai ban mobilnya.
"Berhenti !" teriak tiba-tiba seorang pria pengendara motor berpakaian serba hitam serta masker yang menutup identitasnya. Pengendara tersebut mendesak mobil berwarna hitam yang dikendarai Asep, dan beberapa kali menodongkan senjata api kepadanya.
"Kenapa harus berhenti ?!" sahut Asep meneriaki pengendara itu tanpa ada rasa gentar yang tertunjuk pada nada bicaranya.
Tiba-tiba dari sisi lain mobilnya. Terdapat pengendara motor lain dengan ciri-ciri pakaian yang sama, dan sama-sama menodong Asep yang terus fokus menyetir.
"Berhenti sekarang, atau kami tembak !" tegas pengendara motor kedua yang datang dari arah samping kiri mobilnya, dan tampaknya sudah sangat kesal dengan pistol yang terus menodong Asep.
Tanpa basa-basi Asep langsung menambah kecepatan mobilnya, dan sembari berteriak, "kejar dong kalau bisa, payah !"
DOR ... DOR ...!
Dua tembakan kembali didapatkan oleh Asep, dan itu kembali merusak mobil yang ia kendarai.
***
"Aku tidak mau tahu, kalian harus terus kejar sampai dapat !" tegas Carlos dengan emosi yang sepertinya sudah mulai terpancing akibat apa yang dilakukan oleh Asep.
"Siap, Bos !" sahut Pedro dan Niko.
Aksi kejar-kejaran terus terjadi sepanjang jalanan kota pada dini hari itu. Mobil sedan berwarna hitam yang dikendarai oleh Asep melaju sangat kencang dan perlahan menghilang dari pandangan Carlos.
Namun Carlos masih bisa mengandalkan kedua anak buahnya yang mengendarai motor untuk terus menginformasikan di mana Asep berada.
"Dia masih dalam pandanganku, Bos !" cetus Pedro melalui radio dengan diikuti suara deru angin yang sangat kencang.
"Kalian berdua, dekati mobil itu dan langsung tembak saja ban mobilnya !" titah Carlos dengan nada bicara memuncak.
"Siap, diusahakan, Bos !" sahut mereka berdua.
.
15 menit kemudian.
.
Aksi kejar-kejaran itu akhirnya berhenti di sebuah pertigaan tepat di perbatasan sebelum memasuki pedesaan dan wilayah pegunungan kota.
"Kami berdua kehilangan dia, Bos," Pedro memberikan laporannya kepada Carlos melalui radio dengan nada bicara sedikit takut untuk mengatakannya.
BUK ..!
Carlos yang terlihat sangat kesal pun memukul dashboard mobil dengan sangat keras, dan membuat rekan-rekannya hanya bisa terdiam.
"Kembali ke markas, sekarang !" perintah Carlos dengan nada yang terdengar marah.
"Siap, Bos," jawab kedua pengendara motornya dengan nada cukup takut.
.
~
.
Pukul 03:25 dini hari.
Gudang Persenjataan Mafioso.
Carlos masih terlihat sangat kesal dan marah karena kembali ke markas dengan hanya membawa tangan kosong atau tanpa hasil.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kalian berdua kehilangan dia ?!" tanya Carlos dengan nada dan sikap sangat dingin kepada Pedro dan Niko.
"Maaf, Bos," jawab Pedro dan menundukkan dirinya di hadapan Carlos.
"Dia tiba-tiba saja menghilang di pertigaan itu, dan ... mobilnya sangat laju, Bos," sambung Niko.
"Subaru WRX STI, wajar kalau mobil yang dia kendarai sangat kencang," lanjut Boy.
"Sepertinya ... kita salah menggunakan mobil, sih," cetus Cario dengan santainya duduk di atas kotak kayu yang ada di gudang itu.
"Arghh ...!" gusar Carlos sembari menendang sebuah kotak kayu, dan sampai membuat kotak tersebut rusak. Ia terlihat sangat kesal dengan gagalnya rencananya kali ini.
"Tenang, Bos. Ini masih awal hari," ucap Gee.
"Dia pasti melapor kepada Berlin dan teman-temannya itu," ucap Mike.
"Sudahlah, nanti aku akan melapor ke Nicolaus. Kalian bersiap saja sampai menerima perintah lanjutan dari ku !" ujar Carlos kepada kelima anak buahnya.
.
"Kalian berdua, belajar menembak lagi !" lanjut Carlos dengan sangat tegas kepada Pedro dan Niko.
"Baik, Bos," jawab mereka berdua dengan sedikit tertunduk dan merasa sangat bersalah.
"Selanjutnya, jika kita tidak bisa mendapatkan satu dari anak buahnya. Kita akan langsung saja mendapatkan pemimpin mereka, yaitu Berlin !" cetus Cario kepada Carlos.
Carlos tertegun dan terdiam. Ia memikirkan apa yang dikatakan oleh rekannya itu, dan menurutnya ide itu tidaklah buruk. "Lakukan misi ini dengan caraku sendiri 'kan, Nicolaus ?" batin Carlos sembari tersenyum sinis dengan sendirinya.
.
~
.
Pukul 03:30 dini hari.
Villa Gates.
"Berhenti ! Angkat dan tunjukkan kedua tanganmu ke luar jendela !" teriak Salva sembari menodongkan pistol yang ia genggam ke arah dari sebuah mobil berwarna hitam yang tiba-tiba berhenti di depan gerbang.
"Salva, ini aku !" sahut pengemudi mobil tersebut dengan melambaikan kedua tangannya ke luar jendela.
Suara yang sangat tidak asing terdengar di telinga Salva.
"Asep ?!"
Betapa terkejutnya Salva ketika mendapati kalau ternyata pengemudi dari mobil tersebut adalah temannya, yaitu Asep.
"Iya, ini aku," ucap Asep turun dari mobilnya.
"Ada apa ini ?" tanya Kimmy berjalan keluar dari Villa karena mendengar keributan dari luar.
.
"Asep, kau kenapa terlihat cukup panik begitu ?" lanjutnya bingung.
"Mobilmu juga kenapa ada bekas tembakan ?" sambung Salva.
Asep menggelengkan kepala dan menjawab, "sekelompok orang dari Mafioso sempat mengejarku."
Salva dan Kimmy langsung terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh Asep. Mereka langsung memasang pandangan waspada terhadap bukit-bukit kecil di sekitar.
"Ya sudah, kau langsung masuk saja !" titah Kimmy kepada Asep.
"Kau tidak diikuti, 'kan ?" lanjut Salva dengan pandangan terus memperhatikan ke sekelilingnya.
"Tidak, mereka kehilangan aku saat mengejarku," jawab Asep menggelengkan kepalanya.
...
"Asep ?" cetus Aryo terkejut dengan kedatangan Asep yang tiba-tiba.
"Kau kenapa ?" tanya Kina khawatir dengan rekannya itu yang terlihat cukup tidak baik-baik saja.
Beberapa temannya langsung menyambut kedatangan Asep yang secara tiba-tiba dan mengejutkan. Mereka terkejut dengan kedatangan Asep yang tiba-tiba, karena kata Asep sendiri ia tidak bisa datang dan berjaga di Villa untuk malam ini.
"Beberapa bedebah Mafioso itu tiba-tiba mengejarku dari Lounge Caffe," Asep duduk di sebuah sofa untuk menenangkan dirinya dan sedikit menjelaskan apa yang terjadi kepadanya di hadapan beberapa temannya.
"Galang, Faris, sekarang jam kalian berdua untuk berjaga !" ucap Kimmy dengan tegasnya kepada kedua temannya itu.
"Baik !" sahut mereka berdua dan langsung berjalan menuju gerbang dan halaman depan Villa.
"Lanjut, Sep," ucap Kimmy kemudian.
Asep pun memberitahukan kronologi dan apa yang terjadi kepadanya secara rinci dan detil kepada beberapa temannya yang saat ini ada di situ.
"Aku tidak tahu tujuan mereka apa, tetapi aku sangat yakin mereka sangat mengincar kita," ujar Asep.
"Awal hari yang cukup buruk," gumam Aryo mengerutkan keningnya dan terlihat berpikir.
"Kabari teman-teman yang tidak sedang ada di sini !" titah langsung Kimmy kepada teman-temannya yang ada.
"Baik, Kim !" sahut Kina.
"Berlin juga harus segera tahu ini," sambung Salva.
.
"Dan ku harap ... dia baik-baik saja," batin Kimmy terlihat cukup mencemaskan Berlin yang sedang beristirahat di kediamannya dan tidak tahu tentang ini.
__ADS_1
.
Bersambung.