
"Dahulu ... Carlos adalah anak yang baik, dia lahir satu keturunan lebih awal sebelum kau dilahirkan, Berlin. Kalian berdua juga saling mengenal satu sama lain, dan ... dari pandanganku ... kalian berdua tidak memiliki masalah apapun ..., mata ku melihat ... kalian berdua itu hanya sebagai rival dalam satu akademi ... bukan lebih."
Secara perlahan Prawira mencoba menjelaskan hubungan atau keterkaitan Berlin dengan Carlos, selama dirinya dan mereka berdua masih dalam satu keluarga yang sama, serta dalam akademi yang sama.
Berlin terlihat sangat bingung untuk mengikuti serta memahami penjelasan yang Prawira berikan. Karena dirinya benar-benar tidak memiliki ingatan atau memori tentang apa yang dikatakan oleh Prawira. Dirinya juga bahkan merasa tidak memiliki ingatan tentang hubungannya dengan keluarga besar tersebut, yaitu Gates.
"Apa itu benar ?" cetus Berlin bertanya demikian untuk memastikan perkataan Prawira tentang keterkaitannya dengan Carlos.
"Iya, seratus persen benar dan akurat, aku tahu ... kau pasti bingung ..., suatu saat nanti akan 'ku jelaskan mengapa kau ... bisa sulit untuk mengerti serta memahaminya," jawab Prawira dengan menepuk pundak milik Berlin.
"Kenapa harus suatu saat nanti ?"
"Semua pasti ada waktunya, dan ... tidak semua hal bisa diterima begitu saja, Berlin."
Berlin benar-benar baru mengetahui kalau dirinya memiliki hubungan keluarga dengan seseorang bernama Carlos itu. Dirinya sempat tidak percaya dengan apa yang ia ketahui, serta apa perkataan yang terlontar dari mulut Prawira.
Dirinya hanya mengetahui bahwa Prawira adalah satu-satunya orang terdekatnya, sekaligus orang yang merawat serta mendidiknya. Namun Berlin tidak mengetahui tentang keluarga besar Gates, dan berbagai macamnya tentang keluarga tersebut.
"Selain itu ... masih ada banyak hal yang belum kau ketahui atau pahami, dan ... seiring berjalanya waktu ... kau pasti dapat mengikuti serta paham dengan semuanya, Berlin."
Berkali-kali juga Prawira melontarkan beberapa kata dan penjelasan yang sangat sulit bagi Berlin untuk dimengerti. Namun Berlin berusaha untuk mengikuti semua penjelasan tersebut, walau terlihat begitu kesulitan.
...
"Semua ini ... sangat rumit bagi ku," gumam Berlin setelah mendengar atau mendapatkan semua jawaban serta penjelasan yang diberikan oleh Prawira, tentang beberapa pertanyaan yang mengganjal di pikirannya.
"Ya ... seperti itulah, segala sesuatunya pasti ada hal yang membuat kita sulit untuk menerka dan memahaminya," ujar Prawira yang lalu menghela nafas.
.
"Ngomong-ngomong ... kau tau soal senjata modifikasi, 'kah ?" sambungnya.
"Modifikasi, semacam ... rakitan ulang ?" sahut Berlin dengan melirik Prawira.
.
Prawira menanggapinya dengan mengangguk dan berkata, "ya semacam itu ...."
"Tidak terlalu, memang kenapa ?" ujar Berlin dengan menutup serta menyimpan kembali buku tersebut di dalam saku dari hoodie yang ia kenakan.
"Prime, segera bertemu dengan saya dengan bukti tersebut, saya tunggu di Helipad Kantor Polisi Pusat !" titah Prawira tiba-tiba dengan menekan tombol di radio yang terpasang di pundaknya.
Berlin cukup bingung dengan apa yang dimaksudkan oleh Prawira, tentang modifikasi atau semacamnya. Dirinya juga tidak tahu apa maksud dari perkataan yang baru saja Prawira katakan.
...
Tidak lama kemudian seseorang yang disebut oleh Prawira itu datang menghampirinya, namun bersama dengan seorang polisi wanita. Berlin benar-benar tidak tahu maksud dari Prawira memanggil kedua rekannya itu.
"Bagaimana, Ndan ?" cetus Prime saat berjalan menghampiri Prawira, dengan membawa sebuah kotak berwarna coklat yang tertutupi oleh kain berwarna putih.
"Tunggu, kenapa dia ikut ke sini ?" cetus Prawira terlihat menanyakan soal wanita yang ikut datang bersama dengan Prime.
"Dia ... katanya ... ingin bertemu dengan Berlin ...," jawab Prime dengan berbisik kepada Prawira.
"Ya sudahlah ...," jawab Prawira yang kemudian menghela napas.
Wanita tersebut terlihat sangat canggung dan terus-menerus melihat Berlin dengan tatapan serta ekspresi kagum. Tetapi Berlin tidak begitu menghiraukan orang tersebut, dan lebih fokus kepada benda yang dibawah oleh rekan Prawira.
"Um ... salam kenal, kamu ... Berlin, ya?" celetuk wanita tersebut dengan nada yang sangat canggung saat berjalan perlahan mendekati Berlin.
"Iya, salam kenal ... siapa ini ?" jawab Berlin dengan nada dan sikap yang cukup dinginnya, serta mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
.
"Siska !" jawab perempuan tersebut dengan langsung menyahut serta berjabat tangan dengan Berlin.
"Oi, oi, Siska, jangan sampai kehadiran mu di sini membuat dia risih," ujar Prime kepada Siska yang terlihat begitu senang saat bertemu langsung dengan Berlin.
"Si-siap, Pak. Te-tenang saja ...," sahut Siska setelah melepas genggaman tangannya, namun tidak mengalihkan pandangannya dari Berlin.
__ADS_1
...
Berlin pun mengalihkan perhatiannya kembali menuju ke arah benda yang masih tertutup dengan kain. Karena rasa penasarannya cukup tinggi, ia pun menanyakan tentang benda tersebut.
.
"Apakah ini yang dimaksud dengan modifikasi, sesuai dengan apa yang kau katakan ?" ucapnya bertanya demikian kepada Prawira.
"Ya," jawaban singkat dari Prawira, yang lalu membuka kain penutup berwarna putih tersebut.
Setelah kain penutup tersebut dibuka oleh Prawira, Berlin bisa melihat dengan jelas sebuah senjata api yang terletak di dalam kotak tersebut. Dirinya juga sangat tidak asing dengan senjata api yang tersimpan di dalam kotak, yang dibawa oleh orang bernama Prime itu.
"Jadi ... senjata ini adalah barang bukti yang saya temukan dari pelaku bom bunuh diri Lounge Caffe," ucap Prime dengan tangannya yang terus membawa kotak tersebut.
.
"Aku sendiri juga sudah tahu ... kalau pistol ini telah dimodifikasi ulang. Menurutmu bagaimana, Berlin ?"" sambung Prawira.
"Glock 17 ini telah dimodifikasi ulang ... nomor kerangkanya saja sudah custom, dan juga ... tentunya ... memiliki jarak tembak efektif yang jauh melebihi Glock standar milik anggota," tutur Berlin setelah melihat sekilas senjata api tersebut.
.
"Aku pun yakin ... dengan jarak tembak yang melebihi Glock standar milik anggota, dengan beberapa komponen krusial yang telah diganti, itu membuat peningkatan tersendiri dari senjata api ini," sambung Prawira yang terlihat setuju dengan pernyataan dari Berlin.
"Kalau ... Glock standar memiliki jarak tembak efektif 50 meter, berarti ... Glock modifikasi ini --?" ucap Prime lalu terhenti.
.
"400 meter," sahut Berlin yang menjawab pertanyaan Prime.
"Huh, 400 meter ?!" gusar Siska yang terlihat tercengang saat mendengar jarak yang cukup jauh tersebut.
"Apakah itu benar ?" lanjut Prime
"Jarak yang cukup jauh, untuk sebuah pistol ...," gumam Prawira.
.
Berlin bisa yakin dengan semua yang ia katakan, serta terlihat sangat mengetahui tentang semua hal yang ia lihat sendiri dengan mata kepalanya. Karena pengalamannya selama bertahun-tahun di dunia yang sangat kelam, telah memberikannya banyak pembelajaran.
Di sisi lain Berlin sendiri juga sempat mempunyai berbagai macam senjata api rakitan, yang ia simpan di brankas miliknya tanpa sepengetahuan orang lain.
"Apakah pelaku ... adalah salah satu ... dari kelompok hitam atau Mafioso ?" cetus Berlin dengan melipat lengan.
"Dari ciri-ciri fisik dan pakaian yang dipakai telah terkonfirmasi benar, serta kasusnya sama di waktu yang bersamaan," jawab Prawira dengan menutup kembali barang bukti tersebut dengan kain yang sebelumnya ia buka.
"Hmm ...," gumam Berlin dengan terlihat sangat berpikir keras tentang suatu hal.
"Kami masih dalam proses pendalaman dari mana asal pelaku tersebut mendapatkan senjata ini," ucap Prime dengan menata serta menutup kotak yang ia bawa secara perlahan dan hati-hati.
.
"Ya, karena mau bagaimanapun ... itu adalah senjata milik pemerintah, dan ... dimiliki oleh seseorang yang seharusnya tidak memiliki otoritas untuk memilikinya, itu ... sangatlah mencurigakan tentunya," sambung Prawira.
"Ya sudah kalau begitu, saya izin menyimpannya kembali di brankas petinggi," cetus Prime kepada Prawira serta memberinya hormat dengan menundukan kepalanya.
"Silakan, dan jangan sampai mengubah barang bukti !" sahut Prawira.
Prime pun mengangguk dan lalu berjalan kembali menuju pintu masuk menuruni anak tangga, dengan membawa sebuah kotak yang berisikan barang bukti tersebut.
Prawira sendiri telah mempercayakan Prime untuk menjaga serta merawat barang bukti yang berhasil diamankan. Walau dirinya sempat merasa pengkhianatan yang terjadi oleh kedua orang yang ia percayakan sebelumnya. Namun ia tetap percaya kepada salah satu saudara-saudaranya, yang juga menjabat beberapa posisi di kedudukan teratas struktur kepolisian.
...
"Mungkin ... cukup dulu untuk pertemuan kita kali ini, walau singkat ... tapi bagiku ... cukup berarti," ucap Prawira kepada Berlin.
Tapi Berlin hanya diam saja tanpa memberikan respon apapun, setelah Prawira berbicara.
"Berlin ?"
__ADS_1
Prawira mencoba untuk memanggilnya serta menepuk pundaknya berkali-kali, namun Berlin tidak memberikan respon apapun selain dengan tatapan kosong yang jelas terlihat. Siska yang juga melihatnya pun melangkah lebih dekat kepada Berlin, serta mencoba untuk menyadarkannya dari lamunan tersebut.
"Berlin, Berlin, Berlin ...!" pekik Siska dengan sedikit mengguncang tubuh Berlin dengan cukup keras.
"Nadia ...?" gumam Berlin sendirinya dengan nada berbisik sesaat sebelum dirinya tersadarkan dari lamunan yang sempat menenggelamkan dirinya.
"Berlin ?!" teriak Siska kembali.
"Berlin, sadar !"
"Huh? Aku melamun, maaf ...," sahut Berlin dengan sedikit terkagetkan saat Siska dan Prawira memanggilnya.
"Sudahlah ..., Aku akan antarkan kau, ayo !" ujar Prawira yang lalu berjalan memasuki pintu serta menuruni anak tangga, dan menuju ke mobil miliknya yang terparkir di halaman parkir.
"Ba-baik !" jawab Berlin yang lalu berjalan bersama dengan Siska tepat di belakang Prawira.
Berlin sangat bingung dengan suatu banyangan yang secara tiba-tiba terlintas begitu saja di pikirannya. Dirinya merasa ada sesuatu yang aneh karena terdapat bayang-bayang seorang pria yang sangat menarik perhatiaannya.
Dalam banyangan yang terlintas di pikirannya tersebut, dirinya dapat merasakan kehangatan tentang dari sebuah kenangan yang sangat berharga. Tetapi Berlin tidak paham dan merasa itu adalah ingatan miliknya, tetapi juga dirinya tidak merasa kalau itu bukanlah ingatan atau kenangan miliknya.
Namun di tengah bayang-bayang tersebut seolah mengambil alih fokusnya, dan membuatnya semakin tenggelam ke dalam lamunan sesaat. Tiba-tiba Berlin mendengar panggilan suara seorang wanita yang sangat ia kenal, dan suara tersebut secara tidak langsung menyadarkan dirinya dari lamunan tersebut.
Tetapi setelah Berlin pikirkan secara serius, terdapat keanehan dari seseorang yang dijelaskan oleh Prawira, yaitu Carlos salah satu saudaranya. Dirinya merasa tidak percaya jika saudaranya melakukan hal-hal yang sangat menentang, bahkan sangat bisa untuk menjatuhkan orang-orang terdekatnya atau keluarga besarnya sendiri.
.
"Apa ... bayangan pria yang ada di pikiranku tadi ... adalah ... Carlos ... ?" gumam hatinya yang merasa gelisah karena bayangan seorang pria yang sangat tidak ia kenal.
"Apakah saya boleh ikut mengantarkan Berlin, Pak?" celetuk Siska kepada Prawira saat menuruni anak tangga.
"Maaf sekali ... tapi tidak bisa, kamu kembali ke meja kerjamu saja, ya?" jawab Prawira.
"Ih, jawaban yang menyebalkan !" sahut Siska dengan memasang wajah kesal terhadap atasannya tersebut.
.
"Kamu hati-hati, ya !" sambungnya dengan melirik ke arah Berlin.
Berlin hanya menjawab secara singkat dan sangat jelas serta nada yang cukup datar, dengan mengatakan, "ya ...."
Berlin sendiri berkali-kali harus menahan gelak tawanya saat melihat kelakuan, serta mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Siska. Walau dirinya baru pertama kali bertemu dengan orang tersebut, tetapi Siska terlihat sangat baik kepadanya serta sikapnya hampir sama persis seperti Nadia.
Di saat pertama dirinya melihat Siska berjalan dengan terlihat sangat canggung menghampirinya. Berlin jadi teringat sebuah momen di saat dirinya bertemu untuk yang pertama kalinya dengan Nadia, walau dengan kondisi yang jauh berbeda.
Berlin dapat bertemu serta berkenalan dengan Nadia, karena suatu peristiwa yang secara tidak sengaja mempertemukan mereka berdua. Peristiwa tersebut tidak seharusnya terus diingat oleh dirinya, karena itu pengalaman yang cukup buruk yang didapatkan oleh kekasihnya yaitu Nadia.
Tetapi dirinya juga tetap tidak bisa menghilangkan kenangan tersebut. Walau jika Berlin ketahuan oleh Nadia untuk mengingatnya kembali, dirinya akan terkena marah dan akan selalu terkena omelan dari mulut wanitanya tersebut. Walau juga di mata Berlin, Nadia adalah gadis atau wanita yang sulit untuk marah.
.
~
.
"Bos, sepertinya sudah timbul kecurigaan dari Prawira tentang kami berdua."
"Iya, Bos. Jika kami kembali ke Kantor Pusat, maka bisa saja kami akan tertangkap dan terpidana."
Terdapat dua orang menggunakan seragam anggota polisi, mengucapkan demikian kepada seorang pria misterius yang duduk di sebuah kursi tahta, dengan berpakaian serba hitam serta masker hitam dan hanya memperlihatkan dua mata berwarna coklat muda.
Kedua orang berseragam anggota polisi tersebut terlihat berlutut dan tunduk terhadap orang misterius itu.
"Tidak apa, terima kasih atas kerjasamanya, Paman." Seseorang pria lain tiba-tiba menghampiri dari balik tirai gelap, dan menyela pembicaraan mereka berdua.
.
"Selanjutnya biar aku sendiri yang mengambil alih, sekaligus soal Berlin," sambungnya dengan sedikit memasang senyuman sinis.
"Sudah siap untuk lanjut ke rencana kedua ?" cetus seorang pria yang duduk di kursi tahtanya secara tiba-tiba.
__ADS_1
.
Bersambung.