Mafioso In Action

Mafioso In Action
Kelompok Putih #81


__ADS_3

Pukul 12:25 siang.


Rumah Sakit Pusat.


Nadia kembali mendapatkan pemeriksaan di laboratorium guna mencari bagaimana penanganan yang cocok untuk cedera pada pergelangan kaki kanannya. Dirinya tidak sendirian saat menjalani pemeriksaan yang ketiga kalinya, karena selalu ada Berlin yang menemaninya.


"Setelah pemeriksaan yang ketiga kalinya, saya merekomendasikan Nona Nadia untuk menjalani operasi penyembuhan retak tulang," ucap Zein seraya menunjukkan hasil foto rontgen pada tulang kaki kanan milik Nadia.


.


"Saya sudah menghubungi dokter bedah tulang, dan jika anda siap, operasinya akan dilakukan jam dua siang ini," lanjut Zein kepada Nadia yang duduk di depan mejanya.


Nadia mengangguk yakin, "saya siap, Dok!" ucapnya dengan penuh keyakinan. Berlin yang duduk di sampingnya dapat merasakan kalau Nadia memberanikan diri untuk mengatakannya.


"Baiklah, saya akan pasangkan gips pada pergelangan kaki anda sampai waktu operasi tiba," ucap Zein beranjak dari kursinya.


~


Di sisi lain tepat di halaman depan rumah sakit, tampak ada Asep dan Bobi yang sedang berdiri dan berbincang. Di sela-sela mereka berdua berbincang, pandangan mereka berdua tiba-tiba saja tertuju pada sekelompok orang berpakaian serba putih yang berjalan menjauhi halaman rumah sakit.


"Mengapa mereka ada di sini?" cetus Bobi bertanya kepada Asep dengan mata masih melirik ke arah sekelompok orang itu.


"Aku tidak tahu, tetapi kurasa tidak seharusnya mereka ada di sini," jawab Asep memandang sekelompok orang yang berjalan menjauh itu dengan pandangan penuh waspada dan curiga.


Sesaat setelah sekelompok orang berpakaian serba putih itu menghilang di kejauhan. Asep bersama Bobi pun kembali masuk ke dalam rumah sakit, dan ingin segera bertemu dengan Berlin serta menyampaikan soal apa yang barusan mereka berdua lihat.


~


Pukul 12:30 siang.


Kamar inap milik Nadia.


"Kenapa? Takut?" cetus Berlin dengan nada sedikit menggoda Nadia yang terduduk di atas ranjangnya dengan mata memandangi gips yang terpasang pada pergelangan kaki kanannya.


"Sedikit berdebar, karena sepanjang hidupku ... aku belum pernah menjalani operasi apapun," jawab Nadia.


"Ingat, aku tidak bisa masuk ke ruang operasi, loh. Jadi aku hanya bisa menemanimu dari luar ruang operasi, ya?" ucap Berlin menghampiri serta duduk tepat di samping kekasihnya itu.


Nadia mengangguk, "iya, aku tahu! Aku juga bukan anak kecil!" sahutnya seraya mengerucutkan bibirnya. Berlin tersenyum dan sedikit terkekeh melihat sikap yang ditunjukkan Nadia padanya.


Tok ... Tok ... Tok ...!


"Masuk!" titah Berlin kepada seseorang yang mengetuk pintu kamar.


Orang yang mengetuk pintu ternyata adalah temannya yaitu Asep. "Bos, ada yang ingin ku bicarakan," ucap Asep sesaat setelah membuka pintu tersebut dan hanya berdiri di sana.


"Oke," jawab Berlin beranjak keluar ruangan.


.


"Tunggu sebentar, ya?" lanjutnya kepada Nadia.


"Iya," jawab Nadia dengan mengangguk dan tersenyum.


...


Setelah Berlin menutup pintu, dirinya langsung bertemu dengan Asep dan Bobi. Tak hanya kedua temannya saja, tetapi di sana juga ada Kimmy yang duduk di bangku tunggu tepat di depan kamar inap.


"Ada apa? Sepertinya serius," tanya Berlin melihat wajah yang begitu serius dari rekannya.


"Aku dan Bobi baru saja melihat orang-orang dari kelompok Clone Nostra ada di halaman rumah sakit. Bukankah tidak seharusnya mereka ada di sini?" ucap Asep dengan nada memelan seolah dirinya tidak ingin ada orang lain mendengar apa yang ia bicarakan ini, mengingat saat ini sedang berada di rumah sakit.

__ADS_1


Berlin sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Asep, namun dirinya sangat tenang ketika mendengarkan.


"Apa kau serius?" sela Kimmy kepada Asep.


"Ya, aku juga melihatnya. Tetapi sekarang mereka sudah pergi," sahut Bobi.


"Hmm," gumam Berlin tampak memikirkan sesuatu, "memang benar wilayah kekuasaan mereka sangat jauh dari pusat kota, apalagi di kota sebelah barat juga sudah terdapat rumah sakit cabang," ucapnya.


.


"Tetapi, aku tidak ingin cepat menarik kesimpulan yang tidak-tidak. Mungkin saja ada salah satu pasien di rumah sakit ini yang memiliki hubungan dengan mereka?" lanjut Berlin.


"Benar juga," gumam Asep.


"Oh iya, bisa saja seperti itu," sambung Bobi.


"Namun aku tetap ingin kita waspada terhadap mereka, karena seperti yang kalian tahu, Clone Nostra adalah kelompok paling mengerikan setelah Mafioso yang kita hadapi kemarin," cetus Berlin.


"Soal itu aku setuju, Bos," ucap Kimmy.


"Sep, bisakah kau mengumpulkan data soal apakah ada pasien di rumah sakit ini yang memiliki hubungan dengan mereka?" tanya Berlin.


"Tenang saja, kalau soal seperti itu serahkan saja padaku!" sahut Asep.


"Kimmy, kau hubungi yang lain untuk tetap berhati-hati meskipun Mafioso sudah berhasil dikalahkan kemarin!" titah Berlin kepada Kimmy.


"Oke, Bos!" sahut Kimmy.


"Bobi, ajak Aryo dan Faris untuk berjaga-jaga, siapa tahu mereka kembali lagi," ujar Berlin kepada Bobi.


"Siap, Bos!" sahut Bobi.


~


"Tidak ada, sayang," jawab Berlin tersenyum sambil berjalan menghampirinya.


Nadia sangat berdebar menjelang operasinya tiba, ditambah lagi waktu sudah menunjukkan pukul 13:00.


"Tenang saja, operasi tidak akan sakit, kok," ucap Berlin duduk di samping Nadia di pinggir ranjang.


"Memangnya kamu udah pernah?" tanya Nadia menoleh dan menatap Berlin.


"Belum, sih," sahut Berlin lalu tertawa kecil.


Nadia tampak cukup cemas bercampur gugup dan sedikit takut. Berlin dapat melihat dan menyadari semua itu hanya dari mata dan eskpresi yang ditunjukkan Nadia.


"Aku ingin berbicara sesuatu, boleh?" cetus Berlin.


"Bicara apa?" sahut Nadia penasaran.


"Aku hanya ingin mengatakan, kalau ... setelah kamu sudah benar-benar pulih, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," ucap Berlin sedikit gugup ketika berbicara.


Nadia tersenyum senang ketika mendengarnya, walaupun dirinya tidak tahu tempat yang dimaksudkan oleh Berlin.


.


~


.


Pukul 13:30 siang.

__ADS_1


Kantor Polisi Pusat.


Tok ... Tok ... Tok ...!


Di saat Garwig sendiri berada di ruangannya. Pintu ruangan tiba-tiba diketuk oleh seseorang.


"Masuk!" titah Garwig kepada orang yang mengetuk pintunya.


Orang yang mengetuk pintu tersebut ternyata adalah Prime. Prime datang tampaknya ingin memberikan sebuah laporan kepada Garwig yang duduk di kursinya.


"Pak, saya ingin melapor!" cetus Prime langsung berhadapan dengan Garwig dengan sebuah tablet yang ia bawa.


"Tepat lima menit yang lalu, terdapat lima kapal ilegal yang berlalu-lalang di perbatasan laut tenggara," lanjut Prime langsung pada intinya.


"Bagaimana ciri-cirinya?" sahut Garwig bertanya.


"Lima kapal cepat Predator berwarna putih, dan lima orang di setiap kapal dengan pakaian serba putih," jawab Prime seraya menunjukkan sebuah bukti gambar pada tablet yang ia bawa.


"Kenapa tidak diberhentikan?" sahut Garwig beranjak dari kursinya dengan sedikit terbawa emosional.


"Kami sudah mencobanya, bahkan terjadi sedikit pengejaran di atas air. Namun kami tidak bisa terus mengejar, karena mereka melarikan diri dengan keluar dari batas teritorial menuju terus ke arah tenggara," jawab Prime.


Mendengar jawaban tersebut, Garwig kembali duduk dan tenang. Jawaban yang diberikan Prime tidak bisa dibantah lagi.


"Jika kami terus memaksa sampai keluar dari batas teritori, maka 'hukum laut' akan berlaku dan tentunya itu sangat membahayakan anggota," Prime sedikit memberi penjelasan mengapa para anggotanya yang berjaga di perbatasan tidak dapat terus mengejar kapal-kapal itu.


Apa yang dikatakan Prime ada benarnya. Garwig tampak sedang berpikir dengan satu tangan menopang dagu dan sedikit mengernyitkan dahinya. Dirinya menghela napas berat, mengambil gagang telepon di samping mejanya dan lalu menghubungi seseorang untuk datang ke ruangannya.


...


Beberapa saat kemudian, orang yang Garwig minta untuk datang akhirnya datang juga. Orang itu ternyata adalah Prawira.


"Prawira, apakah kau mengetahui informasi mengenai orang-orang berpakaian serba putih ini?" tanya Garwig menyambut Prawira yang datang dengan pertanyaan seraya menunjukkan foto pada tablet milik Prime.


Prawira tampak sedikit tercengang ketika melihat foto yang ditunjukkan padanya. "Apakah ini orang-orang dari Clone Nostra?!" cetus Prawira terkejut melihat gambar yang ditunjukkan.


"Clone Nostra?" cetus Garwig tidak percaya.


"Apa benar Clone Nostra?" sahut Prime.


"Clone Nostra adalah kelompok kriminal yang sempat tersangkut kasus pembantaian terhadap suatu kelompok kriminal kecil lainnya, dan mereka sangat identik dengan cara berpakaian mereka yang serba putih." Prawira sedikit memberikan penjelasan mengenai Clone Nostra seraya mengingat serta menunjukkan berkas kasus yang ia maksudkan.


"Hanya itu yang ku tahu, selebihnya aku tidak begitu menahu soal kelompok itu," lanjut Prawira.


"Prime, terus selidiki ke mana tujuan sebenarnya mereka dengan seenaknya keluar masuk teritorial milik kita!" titah Garwig.


"Siap, Pak. Akan saya laksanakan sebaik mungkin!" sahut Prime berdiri tegap.


"Prawira, apakah kau sudah atur pertemuan dengan Berlin besok?" tanya Garwig kepada Prawira.


"Sudah," jawab Prawira.


"Baiklah, untuk saat ini dan sementara. Jangan sampai informasi atau berita atau kabar soal perbincangan kita ini diketahui atau bocor ke media!" tegas Garwig memperingatkan kedua rekannya itu.


.


"Aku tidak mau ketenangan serta angin segar yang sedang dirasakan masyarakat saat ini setelah mengetahui Mafioso dikalahkan, berubah menjadi kekhawatiran atau kecemasan serta ketakutan kembali!" lanjutnya.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2