
Pukul 11:00 siang.
Vila Tepi Pantai.
Di hari ini Berlin harus kembali sibuk untuk mempersiapkan hari esok di sebuah vila mewah yang telah ia sewa. Dirinya memilih untuk menjadikan vila tersebut sebagai tempat dilaksanakannya acara pentingnya, karena lokasinya di tepi pantai yang tentunya memiliki pemandangan sangat indah jika di sore hari. Bahkan tempat itu dapat digunakan untuk menyaksikan matahari terbenam.
"Berlin, apa tempat ini tidak berlebihan? Um ..., maksudku ... pasti tidak murah untuk menyewa vila ini, 'kan?" tanya Nadia menghampiri Berlin yang berdiri memandangi laut melalui halaman belakang vila tersebut.
"Tetapi kamu suka, 'kan?" sahut Berlin dengan pandangan masih memandangi pesisir pantai dan laut.
Nadia juga ikut memandangi pemandangan yang sama dengan yang dilihat Berlin, dan dirinya memang sangat suka dengan pemandangan ini. "I-iya, tetapi ...," gumamnya tiba-tiba merasa tidak enak hati.
"Aku sengaja memilih tempat ini, karena aku tahu kamu pasti suka dengan pemandangan seperti ini," ucap Berlin.
"Bahkan aku pun suka," lanjut lelaki itu mengalihkan pandangannya menuju ke wajah cantik kekasihnya seraya mengulas senyum padanya. Hal itu seketika cukup membuat Nadia terdiam dan tersipu.
"Ekhem!" Prawira tiba-tiba berdeham saat berjalan menghampiri sepasang kekasih yang sedang berbunga-bunga itu. "Berlin, aku perlu bantuanmu di dalam!" pintanya kepada Berlin.
"Baik," jawab Berlin.
"Nadia, Netty sudah datang dan dia ingin menemui mu," ucap Prawira.
"Baik, aku akan segera ke sana sebentar lagi," jawab Nadia.
Prawira pun kembali masuk ke dalam vila melalui pintu belakang itu, diikuti oleh Berlin di belakangnya. Sedangkan Nadia tampak duduk di sebuah bangku taman dan menikmati pemandangan pantai sebelum dirinya kembali masuk ke dalam vila.
Hari ini akan menjadi hari yang sangat sibuk bagi sepasang kekasih itu. Berlin dan Nadia, mereka berdua harus mempersiapkan banyak hal untuk hari esoknya. Tentunya mereka berdua ingin acara esok berjalan dengan lancar dan membawa kebahagiaan untuk mereka.
Beruntung ada Prawira dan Netty yang hadir di sana untuk membantu segala persiapan agar acara esok dapat berjalan sesuai rencana.
~
Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, tepatnya berada di bengkel atau lebih tepatnya markas milik Ashgard. Adam tampak sedang berkumpul dengan beberapa temannya di ruang utama tanpa hadirnya Asep dan Kimmy, dan ia tampak tengah menunggu sesuatu.
"Sasha," ucap Adam memanggil rekannya.
"Baik, ini catatan gudang kita," sahut Sasha memberikan sebuah lampiran catatan kepada Adam.
"Semua perlengkapan sangat mencukupi untuk aksi aktif maupun pasif, hanya saja kita kekurangan rompi untuk mendukung semua itu. Mungkin aku akan menghubungi kantor pusat untuk meminta persediaan tersebut?" lanjut Sasha.
"Menurutku kita tidak perlu rompi untuk aksi, sih," celetuk Aryo dengan nada dan sikap tengilnya.
"Nggak gitu juga, Aryo. Tentu rompi menjadi bagian yang penting untuk mendukung aksi kita," sahut Rony menasihati rekannya itu.
"Meskipun tanpa rompi, aku yakin kita masih bisa dengan mudah untuk aksi, karena dahulu waktu awal Ashgard dibentuk pun kita tidak didukung dengan fasilitas seperti rompi tersebut," timpal Faris.
"Iya, itu benar, sih. Baru sekarang kita dipermudah dengan segala fasilitas yang disediakan oleh kepolisian," sambung Bobi.
"Baik, cukup!" tegas Adam menyudahi perbincangan dan sedikit perdebatan antar temannya. "Sasha, silakan kau hubungi kantor pusat untuk itu!" pintanya.
__ADS_1
"Baik," sahut Sasha yang lalu bergegas pergi menuju lantai dua untuk menghubungi kantor pusat.
"Sekarang ... kita hanya perlu menunggu kepastian Asep dan Kimmy, dan juga regu informan kita," ucap Adam yang lalu duduk di sebuah sofa di ruang utama tersebut.
.
~
.
Di waktu yang sama.
Wilayah Barat Kota.
Di meja sudut dari sebuah kafe kecil, tampak dua pria dan satu wanita mengenakan baju-baju santai menikmati waktu siang hari mereka. Dan tiga orang tersebut ternyata adalah Salva, Vhalen, dan Kent.
"Hasilnya nihil, kita tidak menemukan petunjuk soal Clone Nostra di wilayah mereka sendiri," ucap Salva yang duduk tepat di samping Vhalen.
"Aku pun tidak menemukan informasi penting apapun di toko baju langganan orang-orang Clone Nostra itu," sambung Kent.
"Aku juga tidak menemukan apapun setelah masuk ke klub 24 jam milik mereka, bahkan aku sampai membaur seperti wanita-wanita bayaran untuk mendapatkan secuil informasi. Eh, yang ada aku hampir dibeli dan dibawa oleh pria-pria hidung belang itu, bahkan mereka hampir saja meraba ku seenaknya," gerutu Vhalen lalu menghela napas.
"Apa?! Mana pria-pria itu?! Biar ku kasih pelajaran atas perlakuan br*ngs*k yang mereka lakukan!" ketus Salva tiba-tiba kesal.
"Tidak perlu, sayang. Lagipula mereka tidak sempat melakukannya, karena aku sudah terlebih dahulu menghindarinya," ucap lembut Vhalen seraya menyandarkan kepalanya ke bahu milik Salva dan memeluk lengan lelaki itu.
"Apa kau ingat apa yang diajarkan, Berlin? 'Jangan berlebihan dalam mencari informasi yang hasilnya sudah nihil, bahkan sampai mempertaruhkan harga diri'. Jadi aku memilih untuk mundur dan segera pergi dari tempat jahanam itu," lanjut wanita itu seraya mengingat-ingat kata-kata yang pernah ia dengar dari seseorang yang sudah ia anggap seperti idola.
Kedua rekannya yang melihat pun dibuat tertawa dengan sikap Kent. "Hei, tunggu dong! Kita 'kan hanya memakai satu mobil, kau mau pulang pakai apa?" tanya Vhalen segera menyusul temannya itu bersama Salva di sampingnya.
"Aku bisa pesan ojek atau taksi," jawab Kent memasang sikap dingin.
"Jangan dingin gitu, dong! Mau ke manapun, kita akan tetap bersama pokoknya!" seru Vhalen.
Salva hanya tersenyum tipis melihat sikap rekannya itu, "Kent, mau bikin catatan laporannya? Atau aku saja?" tanyanya.
"Biar aku saja," jawab Kent sedikit menoleh dan melirik Salva.
Mereka bertiga pun berjalan menuju mobil mereka yang berada di halaman parkir, dan segera kembali ke markas meskipun membawa hasil yang nihil.
.
~
.
Pukul 15:00 sore.
Markas Ashgard.
__ADS_1
Adam kini kembali berkumpul dengan semua teman-temannya lengkap kecuali Berlin yang tidak hadir di sana, dan dirinya dipercaya oleh sahabatnya itu untuk menggantikan posisinya untuk sementara waktu.
"Semuanya sudah ada di sini kecuali Berlin, ya?" tanya Adam berdiri di depan teman-temannya. Terdapat Asep dan Kimmy yang kini berdiri tepat di sampingnya.
"Sudah!" jawab rekan-rekan.
"Kita sudah mendapat laporan dari Vhalen, Salva, dan Kent yang mencoba menggali informasi langsung di wilayah mereka. Namun ... hasilnya ... nihil," ucap Adam membuka suara dan berbicara layaknya seorang pemimpin, sama seperti ketika melihat Berlin yang selalu ada di posisinya saat ini.
"Kita benar-benar buta informasi soal Clone Nostra untuk persiapan esok, tidak ada kabar apapun dan tidak ada desas-desus sedikitpun soal mereka," lanjutnya.
Teman-temannya tampak cukup kebingungan dan sedikit kecewa karena tidak mendapat informasi apapun mengenai Clone Nostra, terutama kekecewaan ketiga orang yang sempat menjadi informan.
"Di sini sudah ada Kimmy dan Asep yang baru saja datang, dan tentunya kita berharap mereka membawa sedikit angin segar untuk kita." Adam pun mempersilakan kedua rekan yang ia sebutkan itu untuk berbicara.
"Baik, seharian tadi kami berada di kantor pusat untuk menghadap kepada Garwig, dan lalu kami dibawa oleh Garwig menuju Federal untuk menemui dua orang Clone Nostra yang kini menjadi narapidana setelah ditangkap di perbatasan beberapa waktu kemarin." Asep membuka suara terlebih dahulu, diikuti oleh Kimmy yang tampak membuka sebuah buku catatan kecil miliknya.
"Kami mencoba untuk menggali informasi melalui dua narapidana tersebut, dan di situlah kami menemukan beberapa informasi menarik nan penting," lanjut Asep lalu melempar bicaranya kepada Kimmy untuk melanjutkannya.
"Sesuai dengan apa yang mereka berdua katakan, Clone Nostra berencana akan melakukan aksinya esok ... tepatnya pada acara pernikahan yang akan digelar. Dan mereka juga mengatakan kalau ... target atau objektif utamanya adalah Berlin dan Nadia." Kimmy langsung mengambil bagiannya dan memberitahu semua itu sesuai dengan apa yang ia catat pada buku catatannya.
Mendengar dan mendapat informasi yang disampaikan oleh Kimmy. Semua rekannya tampak sangat geram dan kesal terhadap Clone Nostra, dan Adam memaklumi hal tersebut.
"Sialan memang Clone Nostra! Apa sih sebenarnya keinginan mereka?! Padahal akhir-akhir ini kita hanya bermasalah dengan Mafioso."
"Mereka memang kelompok yang licik, mencoba untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan setelah kita konflik dengan Mafioso!"
"Atau ... mereka ada hubungannya dengan Mafioso? Dan mungkin itu ada kaitannya dengan menghilangnya Nicolaus secara tiba-tiba?"
Gerutu dari semua rekannya terdengar menghiasi ruangan, sampai-sampai Kimmy harus menghentikan sementara bicaranya.
"Harap tenang! Apa kalian mudah terpancing begitu saja?!" tegas Adam menyela dan membuat teman-temannya langsung kembali tenang dan terdiam.
"Lanjutkan!" lanjut Adam meminta kepada Kimmy untuk melanjutkannya.
"Namun ... salah satu dari kedua narapidana tersebut juga memberitahu, kalau ... rencana awal itu ... mungkin atau bisa saja dibatalkan," ucap Kimmy dan langsung membuat rekan-rekannya berpikir.
"Bisa saja itu hanya tipuan yang dia buat agar kita tidak berjaga-jaga dan tidak memiliki kesiapan?" sahut Kina.
"Aku setuju dengan Kina!" sambung Faris.
"Tetapi dari pertimbangan ku setelah mengintrogasi kedua narapidana itu, mereka berdua tampak lebih menekankan dan meyakinkan kalau rencana awal itu akan dilakukan. Meskipun ... aku masih ragu," timpal Asep.
"Baiklah begini saja, sesuai dengan perintah dan amanat yang Berlin berikan pada kita, aku memiliki rencana untuk esok," sela Adam berpikir.
"Dari awal dan dari dahulu Clone Nostra memang terkenal sebagai kelompok kriminal yang mengerikan, dan sering memberikan aksi-aksi yang mengejutkan."
"Maka dari itu, kita ... juga akan memberikan kejutan soal keamanan! Kita akan tunjukkan bahwa Ashgard adalah kelompok hebat yang didirikan oleh seorang putra dari mantan walikota Axel Gates yang terhormat!" seru Adam yang sepertinya berhasil membangkitkan semangat serta mentalitas rekan-rekannya.
.
__ADS_1
Bersambung.