Makmum Untuk Sang Pendosa

Makmum Untuk Sang Pendosa
Mampir di novel Baru yukk...


__ADS_3

Hai hai....


readers yang masih nungguin kisahnya dedek angsaaa.....


yuk....


sambil nunggu mampir dulu di novel ke 4 author


.


.


ceritanya nggak kalah seru....plus bikin deg deg an...


sambil nungguin baby tiger gede ya kaaannn....mampir dulu yukkk....


karena mungkin akan adaa satu dua tokoh di novel ke 4 yang nantinya akan author masukkan dalam kisahnya dedek Angsa....


alias di gabungin....


jadi jangan lupa mampir semua.....


kepoin yuk kisah merekaaa......


👇👇👇

__ADS_1


Azizah mengayuh sepedanya santai menuju kediaman nya setelah mampir sebentar ke rumah sang pemesan kue.


Dengan satu kantong kresek berisi beberapa biji kue kering sisa pesanan di stang sepeda nya,wanita tuna wicara yang tak bisa menggunakan bahasa isyarat itu terus mengayuh sepeda kayuh tuanya menuju rumah sederhana yang menjadi tempat tinggalnya bersama tante dan kedua sepupunya.


Ya....


Namanya Azizah Rahmaniar.Gadis belia dua puluh tahun, penyandang tuna wicara yang hidup menumpang bersama tante dan dua sepupunya.Orang tua Azizah meninggal karena kecelakaan saat usia Azizah baru delapan tahun waktu itu.Sebuah kecelakaan tragis nan dahsyat yang berhasil merenggut nyawa ayah dan ibunya,mengakibatkan kakak laki lakinya kehilangan salah satu kakinya dan Azizah si anak kedua mengalami trauma kepala yang berujung ketidak mampuannya untuk berbicara.


Kini Azizah dan sang kakak Amar,hanya bisa hidup menumpang di keluarga sang paman lantaran seluruh harta benda peninggalan kedua orang tua mereka habis untuk pengobatan Amar dan Azizah,namun sayangnya tidak membuahkan hasil.


Awalnya,mereka merasa bahagia,karena walaupun bukan keluarga kandung,namun sang paman,Ridwan memperlakukan dua saudara itu selayaknya anak kandung sendiri.


Namun sayang....semua berubah saat Ridwan meninggal dunia....


Hal itu seolah menjadi alasan ketidak sukaan mereka terhadap dua anak yatim piatu yang terpaut usia sepuluh tahun itu.


Tari sang tante bahkan sempat meminta kedua anak malang itu untuk angkat kaki dari rumah itu kala usia Amar dua puluh tahun, sedangkan Azizah baru sepuluh tahun.


Dengan deraian air mata dan tangis memohon pilu dari kedua anak malang itu,akhirnya Tari mengizinkan keduanya untuk tetap tinggal dirumahnya yang sederhana.Namun dengan satu syarat.Mereka harus bekerja selayaknya pembantu.Bersih bersih dan menyiapkan segala kebutuhan Tari dan kedua anak anaknya.Selain itu,Tari juga tak mau menghidupi Amar dan Azizah.Tak ada uang sepeser pun yang keluar dari kantong Tari untuk Amar dan Azizah.


Azizah terpaksa putus sekolah.Ia hanya menamatkan pendidikan sampai jenjang sekolah dasar.Ia banting tulang menghidupi dirinya dan sang kakak dengan berjualan koran,tukang cuci piring,dan banyak lagi pekerjaan keras yang ia lakukan di usianya yang masih sangat belia kala itu.Membuatnya menjadi wanita mandiri dan tahan banting.


Kini ia sudah bekerja hampir lima tahun bersama Andrew dan Livia.Ia sangat bersyukur dipertemukan dengan sepasang suami istri baik hati itu.Pekerjaannya menetap.Ia tak perlu lagi panas panas an di jalan hanya demi mencari sesuap nasi untuk dirinya dan sang kakak.


Ya....Andrew dan Livia memang sangat baik padanya..

__ADS_1


Sepeda tua peninggalan sang paman terus dikayuhnya....


Sepuluh menit berselang,ia sampai di sebuah rumah sederhana dengan halaman rumput hijau yang nampak asri dengan beberapa tanaman serta jalan setapak berbatu menuju teras rumah nya.


Dari kejauhan mata indah Azizah menyipit.


Dilihatnya disana,sebuah mobil mewah dan dua buah sepeda motor terparkir di depan rumahnya.Sekelompok pria berpakaian serba hitam nampak berkerumun di teras rumah yang tak seberapa luas itu..


Azizah mempercepat laju sepedanya.Dengan cepat ia turun dari sepeda itu dan menyandarkan kendaraan tanpa bensinnya tersebut di pagar bambu depan rumahnya.


Azizah berlari ke teras rumahnya dengan membawa kantong kresek berisi kue kering pemberian Livia.Ia sudah tak peduli dengan warga sekitar yang nampak berkerumun menyaksikan keributan yang terjadi di rumah sederhana itu


Azizah membuka mulutnya lebar.Andai ia bisa berucap ia ingin berteriak "Kakaaakkk.....!!!!”


Dilihatnya di sana Amar meringkuk di teras rumah dengan wajah penuh luka.Tongkat yang biasa ia gunakan sebagai alat bantunya berjalan sudah raib entah kemana.Sekelompok orang berbaju hitam mengepungnya.Memaki,meludahi dan sesekali menendang tubuhnya yang sudah tak berdaya penuh luka.Siapa orang orang ini??


Azizah berlari....!





__ADS_1


__ADS_2