Makmum Untuk Sang Pendosa

Makmum Untuk Sang Pendosa
Bab 17


__ADS_3

Beberapa jam kemudian setelah Hanum datang kerumah Rubi dan berniat mengabari wanita itu bahwa Bryan kecelakaan.


Hingga kini oprasi telah selesai Rubi belum juga menampakkan dirinya.Rubi bahkan tak mau menemuinya,alhasil ia dan Bryan hanya menitipkan pesan pada Bu Yanti agar menyampaikan bahwa Bryan kecelakaan dan


Kini...


di dalam ruangan yang dipenuhi berbagai alat bantu kesehatan yang menempel di tubuh pria yang masih dalam kondisi kritis itu.Dengan baju hijau hijau khas seragam besuk rumah sakit,gadis manis itu kembali mengusap lelehan air mata yang mengalir deras di pipi nya.Gadis itu duduk di kursi samping ranjang tempat dimana sang kakak tergolek lemah tanpa pergerakan.Perban membalut lengan, kaki dan kepalanya.Alat bantu pernafasan dan juga selang infus pun terpassng di sana.Mata pria itu terus terpejam membuat sang adik semata wayang seolah tak bisa bernafas dengan tenang.Entah sudah berapa jam air mata itu menetes.Hanum seolah tak pernah lelah menangis meratapi nasib malang sang kakak.Batal menikah,kecelakaan,dan kini terkesan tak dipedulikan oleh wanita pujaan hatinya.


Sebenarnya apa yang terjadi?


Kenapa semua jadi seperti ini


Hanum terus sesenggukan....


Di belakangnya....


Laki laki itu masih setia menunggui dua adik tiri sahabatnya itu.Ia mengesampingkan semua pekerjaannya.Ia lebih memilih berada di samping keluarga tiri Zev Smith Anderson tersebut dari pagi hingga kini sudah hampir maghrib.


Ia tau saat ini keluarga tersebut tengah butuh dukungan.Zev sudah menelfonnya tadi.Ustad Hanif sudah mengabarinya melalui sambungan telepon tadi siang,dan kini ia dan Nabila sudah dalam perjalanan menuju Malang.


Tangan bertato itu tergerak menyentuh pundak wanita yang terlihat rapuh itu.Nampak jelas betapa ia sangat menyayangi Bryan.Betapa ia sangat takut kehilangan laki laki tersebut.


"Hanum....kita keluar dulu ya...biarin Bryan istirahat..." ucap Jordan.


"aku mau nungguin mas Bryan...." ucap Hanum lirih.


"lo juga harus jaga kesehatan lo..kasian abi lo kalau nanti lo ikut sakit...lo dari pagi belum makan loh....kita makan dulu ya....biar perut lo nggak kosong..." ucap Jordan.


Hanum menangis lagi.Jordan mengusap pundak sang gadis.


"makan dulu yukk....ntar kita balik lagi kesini.." ucap Jordan.


Hanum akhirnya mengangguk.Ia mengikuti langkah Jordan keluar dari ruang ICU tempat Bryan di rawat untuk melepas seragam besuknya dan pergi untuk makan.

__ADS_1


Jordan mengajak gadis itu untuk menuju kantin rumah sakit.Selama di kantin,Hanum seolah tak memiliki selera makan.Ia hanya sibuk mengaduk aduk makanan di dalam piring di hadapan nya dengan air mata yang tak henti menetes.


Jordan menghela nafas panjang.Ia yang semula duduk di kursi yanv berhadapan dengan Hanum kini berpindah duduk di samping gadis manis itu.


"di makan dulu...." ucap Jordan lembut.


Hanum menangis lagi...


"Bryan akan baik baik aja..." ucap laki laki itu.


"sekarang lo makan...abis itu kita ke mushola...kita sholat...doa in kakak lo..." ucap Jordan kembali mencoba menghibur Hanum.


Hanum kembali mengangguk.


"udah...makan gih...mau gue suapin?" tanya Jordan lagi.


Hanum hanya menggelengkan kepalanya.Gadis itu pun mulai melahap makanan di hadapan nya dengan malas malasan.


1 jam kemudian.....


Hanum selesai dengan solat maghrib nya.Ia bergegas keluar mushola rumah sakit tersebut.Dilihatnya tak jauh dari tempatnya berdiri.Jordan nampak duduk di lantai rumah sakit sambil menunduk memainkan ponselnya.


Hanum mendekat.Ia lantas duduk di samping laki laki yang mengajak nya solat tapi tak ikut solat itu tanpa berucap sepatah katapun.


Laki laki itupun menoleh ke arahnya....


"udah selesai?" tanyanya.


Hanum hanya mengangguk.


"tadi kamu yang ngajakin solat...terus kenapa kamu nggak ikut masuk ke dalam?" tanya Hanum .


Jordan tersenyum....

__ADS_1


"Tuhan nggak pernah mendengar doa gue.." ucapnya di barengi sebuah senyuman getir.


Hanum menoleh ke arah Jordan.


"kok gitu....Allah itu Maha Mendengar...." ucapnya.


Jordan menatap sendu ke arah Hanum.Ia kemudian tersenyum...lagi lagi...senyuman yang terlihat perih...


"mendengar...tapi tidak mengabulkan...." ucapnya kemudian bangkit.


Hanum mengernyitkan dahinya.Apa maksudnya?


"kita liat keadaan umi lo dulu yuk......kita beli makan dulu buat abi lo....kasian dia...dari pagi keknya juga belum makan.." ucap Jordan.


Hanum menatap dalam ke arah pria yang seharian ini terus menemani aktifitas nya tersebut.


"kenapa kamu perhatian banget sama keluarga aku?" tanya Hanum.


Jordan tersenyum lembut.Tangannya tergerak mengacak acak pelan rambut berbalut hijab itu tanpa menjawab pertanyaan Hanum.


"yuk..." ucapnya.Ia meraih lengan gadis delapan belas tahun itu dan menggandengnya berniat menuju ke ruang rawat inap umi Atikah.


Jantung Hanum berdetak kencang.Untuk pertama kalinya ia di gandeng seoarang pria selain abi dan kakaknya.


Sepanjang perjalanan mata bulat gadis itu tak lepas mengamati wajah tampan putih berjambang tipis milik Jordan.Laki laki yang beberapa hari belakangan selalu menjadi teman debatnya di setiap pertemuan mereka.Ia sempat berfikir bahwa Jordan adalah pria bre**sek yang angkuh dan tau sopan santun.Tapi hari ini,Hanum seolah melihat sisi lain dari seorang Jordan.Ia begitu peduli dan perhatian,bahkan pada orang orang yang bukan keluarga nya.Ia bahkan membawa Bryan ke rumah sakit saat melihat laki laki itu tergeletak di pinggir jalan karena kecelakaan.Ia seolah tak peduli bahwa Bryan pernah memberinya tinjuan di wajah Jordan kemarin sore saat ia mengantar Hanum pulang.


Hanum tersenyum menatap wajah itu.


Dia baik juga ternyata.....


...----------------...


Selamat pagi....

__ADS_1


__ADS_2