Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
bab 23 Niat baik


__ADS_3

Percakapan dua sejoli yang tengah merasakan getaran cinta terus berlanjut,hingga membuat mereka larut dalam perbincangan hangat yang tak pernah mereka bayangkan sebelum nya.


Sikap serta sifat As yang dewasa,mampu membuka hati Mar yang tak mudah jatuh cinta untuk menerima tawaran sebuah rasa istimewa dari seorang As,dan itu harus diakuinya bahwa dia terpesona dan telah jatuh cinta sejak malam ini.


"Sudah terlalu malam Dek.."


As tengah bersiap untuk pamit pulang.


"Iya..mau pulang sekarang?,biar ku panggilkan mak"


Mar beranjak dari duduk nya,


"Mak,As mau pamit pulang"


ucap Mar begitu menjumpai Masning di dalam kamar nya.


Masning yang tengah menjahit menghentikan aktifitas nya,dengan memasang senyum tulus,kemudian bergandeng tangan dengan putrinya menemui As.


"Buk,aku mau pamit pulang,,maaf mengganggu istirahat Ibu"


Dengan membungkuk dan mencium punggung tangan Masning,As berpamitan pulang.


"Ah,,enggak mengganggu,ibu jg belum tidur,masih menjahit kain"


Mar mengantarkan As sampai depan pintu,dan tak beranjak hingga punggung tegap itu menjauh dari jarak pandang nya.


"Dia sopan,,gagah dan sepertinya kalian cocok"


Ujar Masning seraya menyenggol bahu Mar yang masih berdiri terpaku meski bayang As sudah tak terlihat.


Mar yang kaget mendengar celetukan Ibunya,mematung sesaat kemudian tersenyum lebar sembari memeluk Masning dari belakang,lalu berbisik..


"Semoga saja benar Bu"


kemudian berlalu masuk ke kamar nya meninggalkan Masning sendiri,,kali ini gantian Masning yang kaget mendapati sikap putrinya barusan.


Masning pun berlalu seraya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum bahagia.


Di dalam kamar...


Mar terus membolak balik tubuh nya untuk mendapatkan posisi ternyaman untuk tidur,,namun gagal..Mar sama sekali tak dapat tidur malam ini ,meski berulang kali mencoba memejamkan matanya.


Bayang wajah As ketika berbicara berhadapan dengan nya tadi terus saja menggoda nya,,seolah tak ingin menjauh dan mengizin kan Mar untuk terlelap.


Sudut tajam mata As mampu menembus pertahanan hati Mar,senyum manis nya mampu menentramkan jiwa nya,serta setiap kata demi kata yang keluar dari mulut As,,bagi Mar bagai syair puisi yang membuatnya terjerat dalam kekaguman.


"Ya....aku jatuh cinta...benar- benar jatuh cinta"


Batin nya meyakinkan diri,lalu bangkit dan duduk memangku bantal.


Rasa yang tak pernah ia rasakan kepada siapapun sebelum nya.


"Aku tak butuh waktu lama untuk berfikir tentang yang aku rasakan saat ini,aku yakin...aku mencintainya."


batin mar,terus saja berkata- kata seolah kompak dengan raut yang tersenyum lepas.

__ADS_1


***


Kreeek...!!!


As membuka perlahan pintu rumah nya,,ia sangat berhati-hati sekali,takut membangunkan orang rumah yang mungkin saja sudah tertidur.


Namun baru saja ia selesai mengunci kembali pintu rumahnya,dan berbalik,


Deg..!!


Jantung nya berdegup kencang,,ia kaget bukan kepalang,tiba- tiba Husna telah berdiri di hadapan nya,,


"Baru pulang??"


"Astaga.....!!sumpah,,kapan nongol nya sih,,? tiba- tiba dah ada aja di sini!"


As sewot,sembari mengelus dadanya sendiri.


Husna yang tadinya memasang tampang serius,,kini berubah tergelak melihat expresi dari muka adik nya.


"Ya...malah ketawa,,untung aku gak jantungan,,coba kalau jantungan,,tewas deh malam ini!"


Oceh As,,sambil terus berjalan ke kamar nya.


"Terus gimana tadi?,kamu sudah bicara pada ibunya??,Apa Dia juga suka kamu?,terus kamu diterima?"


Husna terus mencecar pertanyaan mengiringi As masuk ke kamar.


"Borongan nanya nya?,,Aku belum bicara apa- apa"


"Hah???,apa??,belum bicara?,,jadi..sekian jam kau disana ngapain???"


Kali ini Husna memutar tubuh Adik nya yang membelakangi nya,kemudian mendorong nya duduk di tempat tidur.


As hanya pasrah,ia tau akan di introgasi.


"Ehm...yaaa,,aku bicara,,cuma yaaaa,,sekedar obrolan santai,"


"Kau suka dia??"


"Iya"


"Dia menyukai mu??"


"Ehm..sepertinya iya"


"Kau yakin,,dengan perasaan mu??"


"Ya"


"Dia gadis yang baik,,keluarganya pun baik..terlebih dia seorang gadis yg lembut,sopan dan sayang keluarga,,itu sudah cukup memenuhi kriteria istri yang baik,aku mengenal nya jauh sebelum kau mengenal Dia"


As hanya termenung mendengarkan kata demi kata yang Husna lontarkan.


"Lalu???"

__ADS_1


As berdiri,menunggu kelanjutan ucapan Husna.


"Lalu tunggu apa lagi,,datangi Dia dan lamar Dia"


Jawab Husna spontan.


"Hah???Lamar??secepat itu kah??,kakak tau kan,,aku baru saja bekerja,,aku belum ada cukup uang untuk hal semacam itu,,Nikah butuh uang yang banyak.sementara tabungan ku belum cukup untuk itu"


As menunduk,menuturkan kegelisahan nya dengan raut wajah sedih.


Husna yang melihat hal itu segera merangkul pundak Adiknya,


"Jika Dia mencintai mu,,Dia akan menerima mu tanpa imbalan,jika Dia perempuan yang baik,,aku yakin dia tak kan membebani mu dengan kemewahan pesta pernikahan,Dia akan siap menerima kapan pun lamaran mu,meski hanya pernikahan sederhana"


Kata-kata Husna barusan membuat As menarik nafas panjang,mendongak kan kepalanya keatas menatap langit- langit kamar seolah mencari sebuah jawaban disana.


"Aku ragu kak,aku tak punya nyali untuk melamar nya dengan kondisi ku saat ini!"


As mengusap mukanya kemudian menyelipkan tangan nya di saku celana.


"Kau tak perlu ragu,,jika dia menolak mu dengan alasan kau belum mapan,,tinggalkan Dia,,lupakan Dia..itu artinya Dia tidak mencintaimu dengan hati"


Lagi- lagi Husna memberikan Adiknya semangat untuk melamar Mar.


"Sudahlah,ini sudah malam..kau istirahat,besok kita bicara lagi."


Husna mengusap pundak As yang masih berdiri di samping jendela kamar,kemudian berlalu keluar meninggalkan Adiknya sendiri.


"Mar...bersedia kah kau jika aku memperistri mu dgn kondisi ku saat ini??"


Batin As .


Malam semakin larut,seiring rembulan yang meninggi.


As masih saja terjaga,ucapan kakak nya Husna terus saja terngiang di telinganya,As yakin Mar memiliki rasa yang sama padanya,namun ia ragu Apakah Mar mau menikah dengan nya secepat saran Husna.


Hatinya berkecamuk,bagai dua sisi yang bercabang.


Di satu sisi ia ingin sekali secepatnya menikahi gadis pujaan hatinya yang selama ini di impikan nya,namun disisi lain,As merasa belum mampu membahagiakan Mar dengan kondisi finansial nya yang hanya seorang pekerja proyek kontrak.


As takut,Mar tak bahagia,As takut Mar menderita hidup pas- pasan bersama nya.


As,beranjak dari tempat tidurnya.membuka lemari dan mengambil sesuatu dari bawah lipatan pakaian nya,


sebuah amplop yang berisi uang tabungan nya.


As menghitung lembar demi lembar,kembali ia memasuk kan nya dan menyimpan nya.


Beberapa detik berselang,As menghela nafas panjang,menggaruk kasar kepalanya yang tidak gatal,lalu menghempaskan tubuh nya kembali ke tempat tidur.


"Baiklah....besok aku akan bicara kan ini,bukankah niat baik tak boleh ditunda?"


As berbicara sendiri dengan Senyum yang tiba- tiba mengembang lebar.


Bersambung**

__ADS_1


__ADS_2