
Kehadiran Baby Win ditengah keluarga mereka adalah sumber semangat dan kebahagian baru untuk pasangan Mar dan As, Perekonomian yang semakin meningkat drastis, benar- benar membuat keluarga As bangkit dari keterpurukan.
Hari berlalu begitu cepat, tanpa terasa baby Win tumbuh menjadi balita sehat, cerdas dan lincah, begitupun dengan Ketiga putri yang semakin tumbuh menjadi Anak- Anak pintar cantik dan menggemaskan,
Namun disaat Mar dan As tengah mengecap Nikmat dan bahagia mereka, mimpi buruk itu kembali hadir memporak-porandakan mahligai kebahagiaan yang baru saja mereka tata kembali dan menghempaskan mereka kejurang kesengsaraan baru lagi.
Selepas Magrib,
Baru saja selesai As memimpin sholat untuk keluarganya, tiba- tiba perasaan nya berubah tak enak, membuatnya berdiam diri lebih lama diatas sajadahnya, berdzikir dan memejamkan mata demi menenangkan rasa gelisah yang tiba-tiba hadir begitu saja di hatinya.
Mar yang merasakan sesuatu tengah dirasakan suaminya menyentuh punggung suaminya tatkala 10 menit bergeming.
As menoleh sesaat kemudian mengangguk tersenyum dan melanjutkan dzikirnya.
"Ma...laper....."
Rengek Eni masih dengan mukena mungil yang menampilkan wajah bulatnya semakin menggemaskan.
"Iya...iya..sayang yuk.. Kita makan..."
Mar buru-buru melepas mukenanya dan melipatnya.
Dibantu Sisulung Ana, mereka menyiapkan makan malam.
Hingga hidangan makan malam selesai di sajikan As tak kunjung datang kemeja makan.
Setelah meladeni keempat Anaknya, Mar menghampiri As yang masih terduduk ditempat nya.
"Pa...Kamu kenapa?? Ada masalah?"
As membuka matanya, dan berdiri melipat sajadah.
"Gak ada Ma..."
"Lantas kenapa terlihat seperti ada yang dipikirkan?" Tanya Mar heran bercampur khawatir.
"Tak ada yang Aku pikirkan, Aku cuma menenangkan hati,, tiba-tiba saja pikiran gak tenang, perasaan jadi gak enak seolah-olah akan datang masalah"
Jelas As.
"Mungkin cuma perasaan kamu yang terlalu capek bekerja seharian ini Pa,, jangan terlalu dipikirkan..serahkan semua sama Allah ya... Yakin semua yang terjadi sudah diatur dan semua yang akan terjadi adalah rencana Allah...dan itu pasti yang terbaik"
As memeluk Mar,,
"Iya Ma.... Makasih ya....."
"Iya sama-sama... Ya udah kita makan malam dulu, Anak-Anak menunggumu."
Mar dan As berjalan saling merangkul menuju meja makan.
Selepas Makan malam..
__ADS_1
"Ma... Aku ke Panglong sebentar ya.. mau ngecek ada kayu yang baru datang"
As mencium kening Mar dan berlalu.
Mar mengangguk.
"Hoaammmm..."
Mulut Win terbuka lebar, menandakan sedang mengantuk berat.
"Ana... Mama nina bobokin Adek dulu ya... Ana mainnya juga perhatiin Adek-Adek ya, jangan sampe mereka berantem."
Mar berjalan menggendong Win masuk kamar meninggalkan Ketiga Putrinya yang masih bermain boneka.
Hampir Setengah jam, akhirnya Win pulas, perlahan Mar turun dari tempat tidur menemui Ketiga Putrinya.
"Ana... Vin... Eni... Sudah malam sayang...besok lagi mainnya ya...sekarang bobok yuk.."
Ajak Mar lembut.
Dengan manis ketiga Putri mengangguk dan kompak menjawab "Iya...Mama...."
Mar menuntun mereka masuk kamar, setelah membaca Doa tidur, Mar menyelimuti mereka dan mengecup kening ketiga nya bergantian.
Sungguh tak ada firasat buruk sebelumnya.
Semua berjalan baik-baik saja.
"Papa kemana ya...kok belum pulang tadi katanya cuma sebentar,, Apa kayu yang masuk sangat banyak ya?? makanya belum selesai ngecek"
Mar berbicara sendiri sembari membuka pintu melongok kekiri dan kanan.
"Ahh... mungkin lagi ngobrol sama Akiyong, kebiasaan sih Papa kalo udah ngobrol sama Akiyong suka lama."
Mar memutuskan untuk kembali masuk dan tidur bersama buah hatinya.
Mata yang mengantuk serta tubuh lelah seharian mengurus keempat Anaknya sendiri membuat Mar cepat sekali tertidur hingga pulas.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mar tersentak kaget dan bingung ketika terasa tubuhnya di guncang-guncang keras oleh seseorang.
"Ma..... Bangun Ma....!!! Bangun Ma..!!!!"
As terus menggoyangkan bahu Mar berharap Mar segera terjaga dan sadar.
Dengan terhuyung memegang kepalanya yang pusing karena dibangunkan tiba-tiba.
"Pa....Ada apa?? Kenapa??"
Tanyanya panik dan semakin panik tatkala melihat wajah pucat pasi pada As suaminya.
__ADS_1
"Habis ma...!!! Segera bangunkan Anak-Anak... Kita lari...!!! Selamatkan diri...!!!!"
Ujar As bergegas membangunkan keTiga putrinya.
Mar memeluk Win yang tertidur pulas, hawa panas dan asap tebal mulai memenuhi ruang kamar mereka, sempat Mar melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
Langit diluar begitu terang merah menyala, suara gemeretak dan dentuman silih berganti, bersahutan dengan teriakan, dan lolongan warga sekitar yang berteriak-teriak
"Api.....!!!! Api...!!!!!! KEBAKARAN....!!! KEBAKARAN!!!!"
Mar beranjak dari tempat tidurnya, berlari keluar untuk memastikan yang ia khawatirkan.
Mar terbelalak ketika Api besar sudah didepan rumahnya bahkan sudah memakan hampir separuh bagian teras rumahnya.
Mar memandang sekeliling rumah, ia merasa benar-benar sudah dikepung api.
Pengalaman pahit itu kembali terulang, dan kali ini lebih dahsyat.
Dengan kaki gemetaran Mar kembali masuk ke kamar, menggendong Eni ditangan kanan sementara Win ditangan kiri, mendadak tenaganya bertambah berlipat lipat untuk sanggup mengendong dua balita bongsor.
Sementara As berusaha menjebol jendela kamar yang belum tersambar Api, kemudian menggendong Ana dan Vin yang masih belum sadar sepenuhnya dari tidur.
Mereka berlari.... terus berlari tanpa alas kaki, berlindung ke tempat yang jauh dari Api, tanpa membawa harta sepeserpun kecuali baju yang menempel dibadan.
Nafas yang tersengal dan keringat mengucur bercampur airmata.
"Lagi Pa???!! kali ini habis tak bersisa...hiks..hiks... Bagaimana esok??"
Ucap Mar pada As dengan terisak dan mata yang basah.
As memilih diam, ia tak sanggup bersuara sedikitpun, jiwanya terguncang hebat... yang ada di pikirannya saat ini hanya tentang bagaimana mereke kedepan.
Keempat Anak mereka menangis saling bersahutan,, sementara As menatap nanar Api yang memakan habis tempat tinggal mereka menyapu bersih panglong tak terkecuali rumah Ko Akiyong dan Ci Meina.
Sementara masi tersedu, air matanya mengalir, ia menangis tanpa suara, hatinya ngilu.. otaknya membeku..membayangkan hari-hari kedepan.. membayangkan nasib keempat Anaknya.
Ini bukan yang pertama, mereka pernah mengalami peristiwa serupa... namun pada saat itu, Mar masih sempat menyelamatkan barang berharga milik mereka, tapi kali ini...Mar tak sempat membawa satupun barang berharga miliknya.
Mar memeluk keempat Anaknya, bersyukur masih bisa menyelamatkan nyawa Anak-Anaknya.
"Ma...kenapa Api itu datang lagi Ma...Apinya makan mainan kita lagi Ma...Apinya bikin rumah kita hangus lagi..Ma..."
Ocehan Sulung Ana menambah perih hati Mar, ia tak bisa menjawab, Air matanya semakin deras, Mar mendekap Ana erat..dan kemudian kembali merangkul Ke empat Anaknya.
Bersambung***
Makasih ya..teman-teman yang udah mau singgah dan menyempatkan membaca kisah Mar,As dan perjuangan mereka..
Maafkan untuk segala kekurangan Author dalam menulis, baik Typo maupun PEUBI yang masih banyak berantakan.
Author janji, Akan MEREVISI tiap Bab pelan-pelan.
__ADS_1
Makasih juga untuk teman-teman yang udah like, komen, vote, rate, love serta yang berbaik hati memberikan Author hadiah, semoga kalian sehat selalu dan diberi rejeki yang lancar.