Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 84 Mar jatuh sakit


__ADS_3

Tahun demi tahun berganti, kini usia senja telah menghampiri As dan Mar, mereka sudah tidak muda lagi..garis-garis muka yang semakin tegas menebal, rambut yang mulai memutih bahkan langkah yang mulai gemetaran.


Tugas mereka hampir selesai, Ke 6 anaknya sudah dewasa 5 dari anaknya semua sudah menikah, bahkan dalam waktu dekat, Sari putri bungsunya akan melangkah ke jenjang pernikahan.


Mar dan As berhasil menjadi orang tua untuk anak-anak nya yang hebat.


Ana sudah memiliki 3 buah hati, kini sukses berwirausaha, Vin yang merantau keluar kota memilih menetap disana setelah menemukan jodohnya disana dan berkarir menjadi seorang guru, dan kini juga sudah memiliki 3 orang jagoan, Begitupun dengan Eni yang sukses menikah dengan pengusaha bahan material bangunan dengan 2 cabang toko, ia juga sudah memiliki 2 jagoan, Win yang sukses dengan cita-citanya menjadi chef disebuah hotel ternama dikotanya, begitupun dengan Hen yang kini menjadi salah satu karyawan bank dikota seberang, ia juga sukses menjadi pelatih salah satu cabang bela diri dan kini sudah mendirikan sendiri klub yang memiliki banyak siswa.


Sungguh perjuangan yang tak sia-sia bagi Mar dan As.


Pagi ini,


Suasana dirumah Mar ramai keluarga berkumpul, karena besok adalah hari pernikahan putri bungsunya.


Semua sibuk mulai dari membuat makanan, menghias ruangan, menyusun kursi hingga hanya duduk berkumpul dan mengobrol santai.


As sedang mengobrol bersama keluarga lain, sementara Mar tengah berbaring di ranjang tua miliknya, hari ini ia merasakan badannya tidak sehat, dari semalam kakinya terasa ngilu.


"Ma..Mama baik-baik sajakan?"


Tanya sari yang duduk ditepi tempat tidur sembari memegang bahu Mar.


"Mama baik-baik saja Dek, cuma sedikit meriang, mungkin kecapekan sebentar istirahat juga pasti pulih, tadi juga sudah minum obat"


Jawab Mar dengan mengulas senyum.


Ada sejumput kekhawatiran dalam benak Sari melihat kondisi Ibunya yang meringkuk dalam selimut.


"Ya Allah, sehatkan Ibuku, Aku rindu dengan semangat dan keceriaan nya yang terasa sedikit menghilang di 2 tahun terakhir ini"


Batin Sari.


"Mama sehat-sehat ya Ma, besok Adek nikah mau lihat wajah Mama ceria"


Suara Sari mulai parau,


Sudah hampir 2 tahun ini Mar kerap sakit-sakitan, keluhannya selalu tentang kakinya yang keram, sakit bahkan kadang-kadang tak bisa tidur karena merasakan ngilu yang hebat dikakinya.


"Kenapa Dek?"


Tanya Eni yang tiba-tiba datang dari arah depan.


Tanpa menjawab Sari hanya memberi kode tatapan pada Eni,


Eni menarik nafas panjang.


"Semoga besok Mama pulih ya, kamu jangan sedih."


Sari tersenyum mengangguk.


As mendekat ke ranjang Mar,

__ADS_1


"Ma..kamu sedang tidak baik-baik saja kan? Aku tau kamu sedang berbohong"


Ujar As mengusap pucuk kepala Mar, sesaat setelah kedua Anaknya menjauh.


Mar tersenyum getir,


"Ma..Aku selalu berdoa untuk mu, untuk Kita dan untuk semua anak-anak kita, Aku selalu memohon kesehatan untukmu, tapi sepertinya kali ini Tuhan sedang mengujiku, dengan memberikanmu sakit"


As menggenggam erat tangan Mar.


"Pa, Aku akan segera sehat, besok kita akan menyaksikan putri bungsu kita menikah, mengantarkannya pada pelaminan dan menyerahkan tanggung jawab kepada calon suaminya"


Mar membalas genggam erat As,


"Iya Sayang...cepat sehat ya...Aku tau kamu kuat, kamu cuma butuh istirahat malam ini..."


As mencium tangan Mar dan mengecup kening perempuan yang kini telah menua dihadapannya.


Malamnya, Mar merasakan Kakinya kesemutan parah, hingga ia meringis sembari memegangi kakinya sendiri, sementara Sari memijatnya berharap bisa sedikit melegakan.


Air mata nya mengalir berlahan, sungguh ia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada ibunya.


Sementara As tak henti berdoa untuk kesembuhan Istrinya, sesekali terlihat mengusap keringat didahi Mar.


Pagi hari tiba dimana sang pengantin tengah dirias dan disampingnya Mar juga tengah didandani agar terlihat lebih segar dan cantik tentunya.


"Ma...bagaimana kondisi Mama?"


"Mama baik Dek, cuma kaki terasa dingin."


Jawab Mar.


Mendengar jawaban Mar barusan, ada lega dihati Sari meski tak dipungkiri hatinya masih merasakan sedikit kecemasan.


As memandang Mar sendu, ia tau istrinya tengah menyembunyikan rasa sakitnya demi Putrinya agar tidak kepikiran.


Satu jam berlalu, dan Akad nikah pun dimulai, senyum merekah mewarnai wajah Mar membuat Sari tenang dan melangsungkan Akad nikah dengan sakral, semua yang ada diruangan turut merasakan kebahagian yang tergambar jelas di wajah sepasang pengantin baru.


Resepsi sudah dimulai, pengantin diminta untuk naik ke atas pelaminan yang tersedia, dengan diantar kelima saudaranya, Sari dan suaminya duduk bersanding diatas kursi pelaminan, tamu mulai ramai berdatangan, sahabat dan kerabat mulai memenuhi kursi yang disediakan.


Ketika orang tua dari menantunya sudah bersiap untuk menyusul duduk dipelaminan mendampingi pengantin, sementara Mar masih duduk didalam ruangan, ia merasakan kakinya semakin terasa berat.


"Ma..udah ditunggu loh, kok Mama belum siap-siap?"


Ana menghampiri Ibunya yang masih duduk dikursi.


Dengan berat hati, Mar harus mengatakan bahwa ada masalah dikakinya.


"Na...Mama sulit sekali berdiri apalagi berjalan"


Deg..!!

__ADS_1


Ucapan Mar barusan bagai sambaran petir dihati Ana.


"Maksud Mama apa Ma?"


Tanya Ana semakin gugup dan mencoba memapah Mar untuk berdiri.


Gubrakkk !!!


Seketika itu juga Mar terjatuh dan Ana pun terhuyung.


"Ma...!!!"


Ana memekik memancing semua yang ada diruangan mendekat untuk melihat apa yang terjadi.


"Kenapa Ana? Apa yang terjadi?"


teriak As cemas.


"Mama gak bisa berdiri Pa,"


Suara Ana bergetar, sementara Eni sudah tergugu menangis menyaksikan Mar yang kembali didudukan diatas kursi oleh As.


"Ya Allah... ujian apa lagi ini,, semoga kami kuat menerimanya.."


Batin As.


"Jadi gimana ini, kita harus apa??"


Tanya Ana panik.


"Jangan panik sayang, kasian Adek, acara ini harus berjalan sampai akhir.."


Jawab Mar, dengan tetap mengulas senyum.


"Lalu...bagaimana dengan Mama hiks..hiks...?"


Eni terisak mencemaskan kondisi Ibunya.


"Mama baik-baik saja, cuma kaki terasa lemas"


As menarik nafas panjang kemudian tanpa aba-aba mengangkat tubuh Mar, menggendongnya keluar dan berjalan menuju pelaminan, melewati ratusan tamu tak peduli ratusan pasang mata memandang nya penuh kebingungan.


Sari yang menyaksikan Ayahnya tengah menggendong Ibunya terperangah, dengan tanda tanya yang menggantung di pikirannya.


Sampai di kursi pelaminan, As menaruh pelan Istrinya dikursi pelaminan, merapikan pakaian dan jilbab yang dikenakan Mar, sambil berbisik ditelinga Mar.


"Kau sudah cantik Ma.. bahkan sangat cantik...tersenyumlah..Aku sangat mencintaimu...temani Aku selalu, tetap berada disampingku, hingga kita sama-sama menua bersama."


Mar menatap Mata As yang berkaca-kaca, lalu tersenyum.


As tau, sesuatu yang menyakitkan tengah terjadi pada tubuh wanitanya, namun sebisanya ia menguatkan Mar, dan dirinya demi hari terindah sang buah hati.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2