Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 43 Adaptasi lagi


__ADS_3

"Pa... Masih jauh ya...."


Keluh Ana, yang berjalan kaki di samping As.


"Bentar lagi ya sayang....Udah dekat kok... sabar ya..."


Bujuk As yang tak tega melihat Ana sudah berpeluh.


"Hemm... Ana capek Pa..."


"Iya...Vin juga sudah pegal Pa..."


Rengek Vina hampir menangis.


"Maafin Papa ya sayang....sabar ya..."


As yang tengah menggendong Eni mengusap kepala Ana dan Vina bergantian.


Mar hanya diam menanggapi rengekan kedua Putrinya.


"Nah, itu didepan itu rumah kita...yuk, buruan masuk yuk...lomba ya... Siapa duluan nyampe, Papa kasih Permen"


Hibur As memberi semangat.


Ana yang kelelahan tak tertarik dengan challenge yang ditawarkan Papanya, begitupun dengan Vina.


Hal itu membuat Mar tersenyum menatap wajah As yang berubah masam, merasa taktiknya gagal.


Sesampainya didalam, Mar segera meletakkan Win yang tengah tertidur diatas tempat tidur. Sementara ketiga putrinya duduk berbaris di bangku tua didepan rumahnya.


"Pa...Ana nanti sekolah disini ya??"


Pertanyaan Ana membuat As terdiam dan saling pandang dengan Mar.


"Iya sayang,, Insya Allah secepatnya Ana daftar sekolah ya...."


Mar buru-buru menjawab, ia tidak ingin Ana bersedih, sementara As menunduk lesu.


"Ehm... Gimana perjalanan tadi? seru gak??"


Tanya As mengalihkan pembicaraan.


"Seru Pa...Vin senang deh naik kereta asyik, ya kan Eni??"


Jawab Vin sembari menoleh pada Eni yang mengangguk tersenyum.


"Ehmm... Oh ya Lim..makasih ya sudah mengantar mereka kemari,, Maaf lagi-lagi Aku merepotkan Kamu"


As menepuk pundak Salim.


"Ah..kau Bang, kayak sama siapa aja...jangan sungkan,, Aku selalu siap kalau kalian butuh bantuan"


Jawab salim.


Mar mengelilingi rumah tua tersebut, kemudian diikuti ketiga putrinya.


"Ma... Lihat itu Ma... Pisangnya ada yang warna kuning!!"


Seru Ana.

__ADS_1


"Wah... iya ya..udah siap di tebang berarti.."


Sahut Mar sumringah.


"Ini juga Ma... Ada banyak sayuran disini,, ada cabe, tomat, jagung"


Vin tak kalah heboh ketika mendapati semua tanaman As berbuah sangat lebat.


"Vin Mau petik??"


Tanya Mar.


"Mauuuuu...!!!!"


Seru ketiganya.


Dalam hitungan detik Mar beserta ketiga putrinya sudah Asyik diperkebunan kecil milik As untuk memanen sayuran yang sudah siap dipanen.


Menjelang malam,


"Pa... Kamu kerja apa disini?"


Tanya Mar sembari menemani Anak-Anaknya untuk bersiap tidur.


"Aku belum ada pekerjaan Ma, cuma kalau pagi, Aku pergi menangkap ikan, lalu Aku jual dipasar. Dan untuk Makan, Aku memanfaatkan apa yang bisa diambil dari kebun."


Mar merubah posisi tidurnya, telentang menatap langit-langit kamar, hatinya lagi-lagi dalam pergulatan.


Pikirannya menerawang jauh... memikirkan masa depan anak-anaknya.


"Ma... Maafkan Aku,, Aku tau kebingungan yang mendera pikiranmu.. Aku gagal jadi kepala keluarga yang baik.. maafkan Aku...!"


"Pa...Apa sebaiknya kita pulang saja kerumah Mak.."


Usul Mar.


"Kenapa?? Kamu tak betah disini??"


Tanya As.


"Bukan..Aku cuma khawatir tentang Anak-Anak"


"Gak Ma..!! Aku tidak mau menyusahkan mereka lagi, selain itu Aku juga Malu..!"


Mar menelan ludah dan kembali Diam.


Pagi perdana untuk Mar dan Keempat Anaknya tinggal dikampung.


As sudah bersiap pergi mencari ikan, Mar tengah menyiapkan sarapan, pisang goreng hasil kebun tanaman suaminya.


"Lim.. Maaf Aku tak bisa mengantarmu ke stasiun, sekali lagi terimakasih banyak."


Ujar As mengantarkan Salim kedepan pintu setelah sarapan.


"Gak apa-apa Bang. Ya sudah..Aku pamit ya..Bang, Kak.."


Salim berlalu menuju stasiun untuk kembali ke Kota.


"Papa mau kemana...??"

__ADS_1


Tanya Ana yang baru keluar dari kamar.


"Papa mau kesungai, mau cari ikan..Ana doain Papa ya...biar dapat banyak hari ini."


Jawab As menghampiri Ana.


"Kesungai?? Ana ikut ya....."


Ana terlihat Antusias mendengar sungai.


"Jangan ya sayang, sungainya deras..Ana dirumah Aja temani Mama, bantu Mama ya..."


Dengan muka ditekuk, ana mengangguk.


"Ma...Aku pergi ya..."


Pamit As, mencium kening Mar dan Keempat Anaknya.


Selepas As pergi kesungai, Mar mulai mengerjakan pekerjaannya, mulai membersihkan rumah, mencuci baju, memasak apa yang tersedia hingga ikut mengurus kebun kecil milik mereka.


Bagi Mar, hidup seperti ini, bukanlah hal yang sulit, bukan hal yang tabu juga baginya... karena jauh sebelum menikah dengan As, Mar sudah terbiasa hidup susah, bahkan yang lebih susah dari sekarang.


Begitupun dengan Anak-Anaknya, mereka terlihat sangat gembira, bermain, berlari kesana kemari, saling berkejaran sungguh tak ada beban yang mereka pikirkan.


Hanya saja.. Mar khawatir tentang Masa depan Anak-Anak mereka, yang awalnya sudah dirancang,, namun kembali harus memulai dari awal lagi.


Menjelang siang,


"Papa....!!! Yeay... Papa pulang...Apa itu Pa??"


Teriak Anak-Anak mereka dari depan pintu.


Mendengar hal itu, Mar yang sedang berada di dapur bergegas mematikan kompor dan berjalan menghampiri As.


"Ma... ini hasil ku hari ini, Alhamdulillah dapat banyak"


As menyerahkan beberapa lembar uang.


Mar menerimanya dengan hati besar.


"Besok, Aku akan mendaftarkan Ana sekolah"


Mar menatap As, meyakinkan ucapan yang baru saja terlontar.


"Serius Pa?!


"Ya..Aku masih ada uang tanah kemarin"


Mar memeluk As hangat.


"Makasih ya Pa..."


ujarnya lembut.


Hari-hari berlalu, Keluarga mereka semakin beradaptasi dengan lingkungan baru yang mengharuskan mereka hidup prihatin, hampir 5 bulan ini. Sulung Ana, sudah terbiasa bersekolah di sekolah barunya yang sangat jauh berbeda dengan sekolah nya waktu di Kota, namun hal itu tak membuat Ana berkesulitan untuk betadaptasi dengan teman-teman barunya, dikarenakan sifatnya yang gampang bergaul dan berbaur.


Pagi dini hari ini, As tak mendapati Mar di tempat tidurnya lagi, padahal ini masih terlalu pagi untuk beraktivitas.


As berpikir mungkin Istrinya sedang buang Air kecil, lalu As kembali memejamkan matanya, melanjutkan tidurnya yang masih ada waktu sekitar 2 jam lagi sebelum subuh.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2